Bab 11: Setengah Batang Emas Berbentuk Harimau
Halaman (1/3)
Keesokan harinya.
Han Ruoli terbangun karena rasa lapar.
Ia bangkit, mengusap perutnya yang kosong. Dalam benaknya, kejadian kemarin terasa begitu samar hingga tak mampu ia ingat.
Namun, wajah tampan bak siluman itu terus terbayang dan tak bisa disingkirkan.
Apakah dia sudah pergi? Ia tidak tahu.
“Bedebah itu, bajingan tak tahu terima kasih! Aku sudah menyelamatkan nyawanya, tapi dia pergi begitu saja? Setidaknya tinggalkan sedikit uang, dong!”
Tiba-tiba Han Ruoli melihat sudut berwarna emas menyembul dari bawah bantal. Ia berjalan mendekat lalu mengambilnya.
“Setengah bongkah emas berbentuk harimau? Menarik.”
Bongkah emas itu dibuat dengan sangat indah. Berdasarkan pengalamannya selama bertahun-tahun sebagai pencuri harta karun, jika dugaannya benar, benda ini adalah tanda harimau—lencana militer yang mampu mengerahkan pasukan!
Pria itu jelas bukan orang sembarangan.
Dari luar terdengar suara ribut dan celotehan yang bising. Han Ruoli asal mengambil sehelai pakaian, lalu keluar.
Di depan pintu berdiri seorang pengasuh tua berusia sekitar empat puluh atau lima puluh tahun. Jepit rambut emas menghiasi kepalanya, sementara kain yang dikenakannya jelas bukan barang murahan—bahkan pakaiannya lebih bagus daripada milik Han Ruoli.
“Siapa kau?”
Han Ruoli merasa agak mengenal pengasuh tua itu, tetapi bukan dalam kesan yang baik. Perasaan itu sulit dijelaskan.
Ia sendiri tidak mengerti mengapa pemilik tubuh asli ini harus membenturkan kepalanya. Apakah mati karena membenturkan kepala terasa lebih nyaman?
Ia bukan hanya membenturkan kepalanya, tetapi juga kehilangan ingatan. Akibatnya, sekarang ia tak mengenal siapa pun dan benar-benar tampak seperti orang bodoh.
Halaman (2/3)
“Siapa aku? Hahaha! Kulihat kau benar-benar ingin dipukul, ya? Bahkan tidak tahu siapa aku?”
Pengasuh tua itu tertawa terbahak-bahak tanpa sedikit pun menjaga sikap.
“Kalau ada yang ingin kau katakan, cepat katakan. Kalau mau kentut, cepat kentut!”
Tubuh ini benar-benar lemah.
“Wah, rupanya kau sudah gatal dipukul karena sehari tidak dipukul!”
Pengasuh tua itu melangkah cepat menghampiri, mengangkat tangan hendak menampar Han Ruoli.
“Jangan pukul Nona!”
Suara seorang gadis yang jernih terdengar, lalu ia berdiri menghalangi Han Ruoli.
Plak!
Sebuah bekas tamparan segera muncul di wajah cantik gadis itu.
Han Ruoli tertegun. Gadis ini memberinya perasaan yang sangat akrab dan hangat.
Ia berbalik, lalu melayangkan tendangan tepat ke perut pengasuh tua itu.
Mata gadis yang tergeletak di tanah memancarkan sedikit keterkejutan.
“No... Nona, Anda...”
“Mulai sekarang, siapa pun yang berani menindasmu, balas pukul mereka!” kata Han Ruoli sambil membungkuk kepada pelayan itu.
“Nona... Qiyin...”
Qiyin belum sempat menyelesaikan ucapannya ketika tubuhnya ambruk.
“Qiyin! Qiyin!”
Han Ruoli berteriak memanggil gadis yang telah pingsan itu.
Namun Qiyin tetap tidak memberikan reaksi apa pun.
Halaman (3/3)
Kedua tinjunya terkepal erat. Tangan yang menggenggam itu bergetar kecil, nyaris tak terlihat.
Sepasang matanya yang ungu mulai berubah menjadi hitam pekat, lalu dari hitam berubah menjadi merah darah!
“Perempuan hina! Berani-beraninya kau memukulku? Kau sudah memberontak!”
Pengasuh tua itu segera bangkit, meraih sebatang tongkat, lalu menyerbu Han Ruoli.
Han Ruoli berbalik dan menampar wajah pengasuh tua itu. Tamparan tersebut dilayangkannya dengan segenap tenaga!
Darah merembes dari sudut bibir pengasuh tua itu.
“Pergi! Berani-beraninya kau menyentuh orangku?”
Kedua mata Han Ruoli memerah. Pemandangan itu membuat semua orang pucat ketakutan.
“Monster... monster! Lihat matanya!”
“Merah... matanya berwarna merah!”
“Perempuan hina, aku... aku adalah orangnya Nyonya Besar! Nyonya tidak akan mengampunimu!”
Sambil menutupi wajahnya yang terasa terbakar, pengasuh tua itu berlari dan terus mengancam.
Semua orang bergegas keluar dari halaman dengan panik. Hanya dalam beberapa detik, tak seorang pun tersisa.
Han Ruoli mengangkat sudut bibirnya dan tersenyum dingin. Mata merahnya perlahan kembali menjadi ungu. Namun, pandangannya tiba-tiba mengabur dan kedua kakinya mulai gemetar. Ia nyaris jatuh.
Han Ruoli memejamkan mata indahnya, menunggu rasa sakit menghampiri.
Namun, pada saat tubuhnya jatuh, rasa sakit itu tidak kunjung datang. Seolah-olah ada sepasang tangan yang menopang tengkuknya.
Sesaat sebelum matanya tertutup sepenuhnya, samar-samar ia melihat wajah yang asing sekaligus terasa akrab itu.
Lalu, kelopak matanya pun terpejam.