Bab 30: Jadi, kau akan menolak?
Ia segera tersadar, lalu mundur setengah langkah dengan cepat. Sambil membungkuk, ia berterima kasih, “Terima kasih!”
Shangguan Yue merasakan tangannya tiba-tiba kosong. Sudut bibirnya melengkung penuh geli. Namun, dari balik tubuhnya tampak sosok lain yang serupa sedang menatap Luo Qiu. Ia menegur, “Luo Qiu, bisakah kau bersikap lebih lembut kepada Xia? Bagaimanapun juga, kami semua teman sekelas.”
“Benar. Pertemuan adalah takdir, jadi kau harus menghargainya.” Shangguan Yue ikut menimpali.
Luo Qiu memasukkan kedua tangannya ke saku, lalu berjalan menuju meja belajar. Dengan suara dingin, ia berkata, “Aku belum sampai pada titik harus menerima nasihat dari kalian!”
Sambil berkata demikian, Luo Qiu meraih ponsel dari dalam meja belajar dan memasukkannya ke saku.
Sesampainya di depan pintu, ia melirik Xia Anran dari sudut mata, melontarkan ejekan dingin, lalu berbalik meninggalkan ruang kelas.
Xia Anran memandangi punggung Luo Qiu yang semakin menjauh, dengan perasaan campur aduk.
Saat itu, Shangguan Ming mendekat dan memperkenalkan diri, “Aku kakaknya, Shangguan Ming.”
Begitu ia selesai berbicara, pemuda lain di sampingnya menyahut, “Aku adiknya, Shangguan Yue.”
Keduanya menyampirkan lengan di bahu satu sama lain, lalu berkata serempak, “Kami adalah dua saudara kembar yang melegenda.”
Xia Anran tertawa kering dua kali dengan canggung. Ia mengalihkan pandangan ke samping dan berkata, “Salam kenal, aku Xia Anran!”
Setelah itu, Shangguan Ming mendekat dan berdiri di sisi kiri Xia Anran, menyangga dagu dengan tangan sambil mengamatinya. Shangguan Yue melakukan hal yang sama dari sisi kanan.
Xia Anran baru hendak mencari alasan untuk pergi ketika keduanya saling berpandangan, lalu berkata serempak, “Benar, kita pasti pernah bertemu di suatu tempat sebelumnya!”
Seketika, tubuh Xia Anran menegang. Dengan suara kecil dan gugup, ia berkata, “Hehe, mungkin kalian salah orang. Itu… aku masih ada urusan, jadi…”
Sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya, Shangguan Ming sudah berkata, “Daripada menunggu hari yang tepat, bagaimana kalau kita makan bersama hari ini?”
Apa-apaan ini? Kenapa tiba-tiba mengajaknya makan? Xia Anran sama sekali tidak ingat pernah memiliki hubungan sebaik itu dengan mereka.
Jangan-jangan mereka ingin mengerjainya? Atau mengancamnya agar tidak membocorkan kejadian yang dilihatnya hari itu?
Begitu memikirkan hal tersebut, Xia Anran merasa seluruh tubuhnya tidak enak. Ia langsung melambaikan tangan dan menolak tegas, “Tidak perlu! Aku benar-benar ada urusan nanti.”
Namun, Shangguan Yue malah berkata dengan penuh minat, “Katanya ada restoran Jepang yang sangat enak dan cita rasanya autentik. Biasanya orang harus memesan tempat sebulan sebelumnya. Kebetulan sekali, reservasinya tepat untuk hari ini.”
Xia Anran menelan ludah. Pandangannya sempat berkilat ragu, tetapi ia tetap bersikeras, “Aku benar-benar ada urusan.”
Sayangnya, mereka seolah-olah tidak mendengar perkataannya. Shangguan Ming melanjutkan, “Beruntung sekali, Yue. Kau berhasil mendapatkan tempat di sana. Hebat juga kau!”
“Tentu saja. Memangnya kau pikir aku ini siapa? Kalau melewatkan kesempatan kali ini, reservasi tercepat berikutnya baru tersedia sebulan lagi.” Sambil berbicara, Shangguan Yue diam-diam mengamati Xia Anran dari sudut mata. Kilatan perhitungan melintas sesaat di matanya.
Melihat Xia Anran mulai bimbang, Shangguan Ming menambahkan, “Katanya ramen di sana luar biasa lezat. Kuahnya nikmat dan rasanya sangat autentik.”
Shangguan Yue yang berdiri di samping ikut menimpali, “Sushinya juga mendapat banyak pujian. Semua bahan yang digunakan berkualitas tinggi—salmon, tuna, kakap, telur ikan, dan daging kepiting. Rasa seperti itu bahkan tidak bisa dibeli dengan uang di tempat lain.”
“Benar. Bahkan ada orang yang sengaja pindah sekolah hanya demi bisa menikmati masakan di restoran itu. Mau bagaimana lagi? Syarat untuk berkunjung ke sana memang luar biasa ketat!”
Shangguan Yue mengangkat kedua tangan dengan pasrah. Mereka saling berpandangan dan tersenyum, lalu berbalik menatap Xia Anran sambil bertanya serempak, “Jadi, kau benar-benar ingin menolak, Xia?”