Bab 31 Tak Memberinya Kesempatan untuk Mengaku Kalah
Bab 31
Tidak Memberinya Kesempatan untuk Mengaku Kalah
Di atas arena, pria itu memandang Anu dari tempat yang lebih tinggi dengan sikap merendahkan.
“Heh, bocah! Kalau sekarang berlutut dan memohon ampun, masih belum terlambat!”
Bocah ini bisa membunuh Cheng Yun semata-mata karena keberuntungan. Mungkin dia bukan tandingan Cheng Yun, tetapi Cheng Yun sudah mati. Bukankah gelar juara arena kali ini sudah pasti menjadi miliknya?
Saat hatinya mulai melayang-layang karena merasa menang, Anu bergerak. Tanpa gerakan yang berlebihan, ia mengerahkan seluruh tenaga spiritualnya ke tangan kanan, lalu melayangkan tinju ke arah pria itu.
Secara naluriah, pria itu hendak mengerahkan tenaga spiritual untuk bertahan. Namun, ia segera teringat bahwa lawannya hanyalah seorang bocah ingusan. Jika ia sampai melakukan itu, bukankah dirinya akan terlihat terlalu serius? Karena itu, ia bahkan tidak mengaktifkan pelindung dan bersiap menerima serangan lawan secara langsung, sekadar untuk mematahkan semangatnya.
Dalam sekejap, terdengar suara ledakan keras.
Tinju Anu menghantam perut pria itu.
Banyak orang yang berpikiran sama dengan pria tersebut menampakkan wajah mengejek. Namun, pada detik berikutnya, ekspresi mereka membeku.
Di atas arena, pupil pria itu melebar, dipenuhi ketidakpercayaan. Bagaimanapun juga, ia tidak dapat memahami bagaimana seorang pendekar tahap pertengahan Inti Emas seperti dirinya bisa gagal menahan satu pukulan dari seorang bocah.
Namun, serangan Anu belum berakhir. Tinju itu terus melaju ke depan. Terdengar suara retakan tulang, dan semua orang di bawah arena dapat melihat dengan jelas punggung pria itu menonjol akibat dorongan tinju yang terus menghantam.
Bola mata pria itu seketika memerah dan menonjol. Sesaat kemudian, tubuhnya roboh dengan suara menggelegar. Bahkan sampai mengembuskan napas terakhir, matanya tetap terbuka.
Semua orang di bawah arena terdiam cukup lama. Barangkali, inilah pertandingan yang berakhir paling cepat sepanjang sejarah. Ada yang bersukacita, tetapi lebih banyak lagi yang berduka, sebab mereka telah bertaruh bahwa pria itu akan menang.
Jika harus menyebut pemenang terbesar kali ini, orang itu tak lain adalah Han Qinxue. Besaran peluangnya memang sama, tetapi jumlah taruhan yang ia pasang terlalu besar. Setelah hasilnya dilipatgandakan, hampir seluruh batu spiritual yang dipertaruhkan di pihak lawan jatuh ke tangan mereka. Pihak penyelenggara yang menjadi bandar sama sekali tidak memperoleh keuntungan.
Han Chenyu juga sangat gembira. Meskipun kemenangan itu diperoleh lewat perjudian, batu spiritual hasil jerih payah sendiri tetap tampak begitu menyenangkan di mata. Seandainya tahu akan menang sebanyak ini, sejak awal ia pasti sudah mengeluarkan seluruh batu spiritual yang dimilikinya!
Namun, meskipun demikian, tetap tidak ada yang menganggap kemenangan Anu sebagai bukti kekuatannya sendiri. Mereka hanya menghela napas kagum atas keberuntungannya—ia kebetulan bertemu lawan yang terlalu sombong dan terlalu meremehkan musuh. Karena itu, segera saja orang lain kembali naik ke arena.
Seperti sebelumnya, Han Qinxue mempertaruhkan seluruh batu spiritualnya, termasuk hasil kemenangan tadi, pada Anu. Han Chenyu justru sedikit ragu. Ia juga khawatir Anu hanya menang karena lawannya lengah, dan keberuntungan semata telah membuat si kucing buta bertemu tikus mati!
Namun, setelah didesak keras oleh Han Qinxue, ia tetap mengeluarkan sebagian besar harta miliknya, hanya menyisakan sehelai celana dalam.
Anu menyerang dengan cepat dan kejam. Setiap gerakannya mengincar nyawa. Terkadang, lawannya bahkan belum sempat menggunakan teknik bela diri ketika sudah tewas di tangannya. Bahkan saat lawan mengerahkan jurus, Anu tetap hanya mengumpulkan tenaga spiritual pada tinju dan telapak tangannya untuk menghadapi serangan tersebut.
Seolah-olah ia sama sekali tidak memiliki teknik bertarung dan hanya mengandalkan serangan membabi buta. Namun, anehnya, serangan yang tampak tidak terlalu kuat itu justru membuat lawannya kewalahan. Orang-orang di bawah arena tak kuasa menahan diri untuk mengumpat dalam hati.
Sungguh keterlaluan!
Han Qinxue merasa tak berdaya. Memang, arena bawah tanah memiliki aturan: selama seseorang tidak mengucapkan kata menyerah, hidup dan mati tidak perlu dipersoalkan. Setelah pertandingan, kerabat maupun sahabat pun dilarang membalas dendam karena kematian tersebut.
Namun, Anu sama sekali tidak memberi orang lain kesempatan untuk mengucapkan kata menyerah, bukan?
Setelah beberapa pertandingan, batu spiritual milik Han Qinxue yang semula hanya sebesar bukit kecil telah berubah menjadi gunung besar. Jumlah orang yang bertaruh pada Anu semakin banyak, sementara semakin sedikit orang yang berani naik ke arena. Kerugian bandar terus berlipat ganda, hingga wajahnya berubah sepucat hati babi.
“Sejak kapan Sekte Han Yuan memiliki seorang jenius muda seperti ini? Tidak, seharusnya dia disebut orang aneh berbakat! Cara bertarungnya sungguh seperti permainan anak-anak!”
Tamat.