Bab 22: Anak Anjing Penurut Sang Pemilik Kursi Roda (22)

O Fodder e o Vilão São o Verdadeiro Amor [Rápida Transmigração] Refil de tinta 3125kata 2026-08-01 00:33:45

“Sial, benar-benar waktu yang buruk untuk ketahuan!”

Di sudut jalan, Mo Yi menggeram kesal sambil mengepalkan tangan. Kurang sedikit lagi dia bisa mematahkan kaki Jiang Mingda. Kegagalan ini benar-benar membuatnya dongkol.

006 yang melihat itu buru-buru menenangkan, “Tuan rumah, bagaimanapun juga Jiang Mingda adalah seseorang yang terlahir kembali di dunia kecil ini. Keberuntungan orang seperti itu biasanya cukup baik untuk bisa menandingi tokoh utama pria dan wanita, jadi wajar saja jika dia cukup beruntung untuk bisa selamat kali ini.”

“Tidak apa-apa, kali ini kau sudah menghajarnya habis-habisan. Jika tidak berhasil, kita cari kesempatan lain saja untuk memberinya pelajaran.”

Saat mengatakannya, 006 merasa dirinya belakangan ini seolah ikut terpengaruh oleh tuannya. Mengapa dia juga mulai berpikir untuk menggunakan kekerasan? Ini tidak baik, dia adalah anjing yang selalu mencintai kedamaian!

Demi memberi pelajaran pada Jiang Mingda dan Liu Fu, Mo Yi membuang banyak waktu. Melihat langit yang sudah benar-benar gelap dan hampir tengah malam, perasaannya pun menjadi semakin tidak keruan. Semua ini gara-gara dua sampah itu, dia jadi terlambat pulang untuk tidur!

Sebelumnya, saat memperkirakan akan menunggu lama, Mo Yi sudah mengirim pesan kepada Bai Ren agar pulang lebih dulu setelah selesai bekerja dan tidak perlu menunggunya. Namun, pria itu tidak membalas.

Dia tidak tahu apakah Bai Ren marah karena dirinya tidak kunjung kembali, atau apakah pria itu sudah pulang ke kediaman keluarga Bai dan beristirahat. Hati Mo Yi diliputi kecemasan. Dia segera bergegas kembali ke kediaman lama keluarga Bai.

Saat itu, lampu di seluruh rumah sudah padam. Karena tidak enak melewati pintu depan, Mo Yi memutuskan untuk memanjat tembok. Dia masuk melalui jendela dapur, mencuri sedikit camilan untuk mengganjal perut, lalu dengan langkah pelan dan hati-hati kembali ke kamarnya.

Namun, baru saja dia menutup pintu dan menyalakan lampu, dia mendapati seseorang sudah lama menunggunya di sana. Bai Ren duduk di kursi roda, terdiam di sudut ruangan sambil menatapnya.

Pemandangan yang tidak terduga ini membuat jantung Mo Yi berdegup kencang. Seperti anak kecil yang melakukan kesalahan, dia menampilkan senyum canggung dan berkata, “Bai... Bai Ren, kenapa kau masih di kamark selarut ini?”

Kenapa dia muncul di kamarnya?

Mendengar itu, tatapan Bai Ren meredup. Sore tadi di kantor, saat Mo Yi izin pergi, dia pikir si bodohnya itu hanya sedang ingin jajan atau membeli camilan dan akan segera kembali. Namun, dia menunggu lama hingga semua orang di kantor pulang, dan Mo Yi tetap tidak muncul. Saat itulah Bai Ren benar-benar panik.

Sejak bersama, mereka belum pernah terpisah selama ini. Dia baru tahu ada urusan yang menahan Mo Yi setelah menerima pesan singkat. Tapi, urusan apa sebenarnya?

Bai Ren sebenarnya ingin menelepon atau terus mengirim pesan untuk mendesak Mo Yi agar segera pulang. Namun, dia tidak melakukannya. Dia hanya diam-diam pergi ke ruang pengawasan kantor untuk melihat rekaman CCTV. Dia hanya bisa melihat anak itu pergi dengan terburu-buru setelah meninggalkan gedung kantor, lalu menghilang dari jangkauan kamera.

Bai Ren merasa khawatir sekaligus tidak nyaman, sehingga dia memutuskan pulang dan menunggu di rumah. Berdiam diri di kamarnya sendiri hanya membuatnya semakin gelisah, jadi dia memilih menunggu di kamar Mo Yi.

Mengingat Liu Fu yang mengincar Mo Yi hari ini, hati Bai Ren dipenuhi pikiran kelam. Dia berpikir, mungkinkah si kecil itu terhasut oleh kata-kata Liu Fu dan merasa pria itu punya masa depan lebih cerah sehingga lebih baik ikut dengannya?

Liu Fu juga mengatakan bahwa Mo Yi mengikuti dirinya yang hanya seorang cacat. Padahal, dia sama sekali tidak benar-benar cacat! Kenyataannya, baik dari segi penampilan, fisik, maupun identitas asli, dia jauh melampaui Liu Fu ribuan kali lipat.

Mungkinkah si kecil pergi karena tidak tahu kebenarannya? Sama seperti saat dia muncul tiba-tiba dari langit, lalu pergi begitu saja.

Sepanjang malam, Bai Ren terus berpikiran buruk. Meskipun dia tahu banyak dari pikirannya itu tidak masuk akal, kesendirian di dalam kegelapan membuatnya terus memproduksi emosi negatif. Namun, di lubuk hatinya yang terdalam, ada suara yang membujuknya bahwa Mo Yi bukan orang seperti itu. Dia tidak akan meninggalkan dirinya hanya karena hal-hal duniawi. Justru karena itulah dia bisa menenangkan diri. Jika tidak, Bai Ren tidak akan bisa duduk setenang ini.

Meski begitu, kejadian kali ini kembali memberinya rasa tidak berdaya, perasaan yang sama seperti saat dirinya masih kecil dan tidak bisa mengendalikan nasibnya sendiri, hanya bisa diatur oleh orang lain. Perasaan ini sungguh buruk, namun di sisi lain, hal ini membuatnya sadar betapa pentingnya Mo Yi bagi dirinya.

Bahkan sempat terlintas keinginan untuk mengurung Mo Yi agar hanya bisa dilihat olehnya dan tetap berada di sisinya. Namun, mengingat kemampuan bela diri yang luar biasa dan kecepatan belajarnya yang tinggi, mungkinkah dia benar-benar bisa mengurung Mo Yi?

Mungkin karena alasan itulah dia tidak menelepon untuk menginterogasi. Saat melihat orangnya kembali, Bai Ren bahkan sudah menyingkirkan semua kabut di matanya dan memutuskan sikap seperti apa yang harus ia ambil.

Oleh karena itu, ketika Mo Yi bertanya kenapa dia ada di sana, pria itu sengaja menunjukkan ekspresi rapuh. “Aku pikir... kau pergi.”

Suara Bai Ren parau, dengan raut wajah yang begitu kesepian, membuat hati sang pemuda mencelos. Dia segera melangkah maju dan menggeleng, “Bagaimana mungkin? Aku tidak akan pergi, aku sudah kembali.”

“Aku tahu, syukurlah kau kembali,” ujar Bai Ren sambil tersenyum, meski matanya menyiratkan rasa cemas dan pedih. “Hanya saja, kau belum pernah pergi selama ini. Tadi siang di kantor, Liu Fu mengatakan banyak hal. Aku pikir... aku pikir kau juga jijik karena aku cacat dan ingin meninggalkanku.”

“Jangan dengarkan kata-kata si idiot itu! Bagaimana mungkin aku merasa jijik padamu!” Mo Yi teringat ucapan Liu Fu dan merasa sangat marah, menyesali kenapa tadi dia tidak memukul orang itu lebih keras.

Dia menggenggam tangan Bai Ren dengan cemas, berjongkok di hadapannya, dan berjanji dengan sungguh-sungguh, “Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Bai Ren. Percayalah, kita akan selalu bersama! Aku... aku akan selalu menjagamu!”

Melihat ketulusan di mata pemuda itu, Bai Ren mengangguk dan menarik Mo Yi ke dalam pelukannya. Baru saat memeluknya, dia merasa hatinya yang gelisah kembali tenang. Si bodoh ini benar-benar telah mengisi jiwanya dan menjadi sosok yang sangat penting. Seseorang yang ingin ia pertahankan di sisinya dengan cara apa pun.

Berada dalam pelukan Bai Ren dengan posisi setengah berjongkok tentu terasa canggung. Namun, Mo Yi tidak memberontak, karena dia juga menyukai kedekatan ini. Pelukan intim di antara keduanya memberinya rasa bahagia yang istimewa.

Setelah cukup lama, Bai Ren melepaskan pelukannya. Mo Yi berdiri, namun kakinya kesemutan hingga ia terhuyung sedikit, untungnya pria itu sigap menahannya.

“Maaf, aku menunggumu sampai larut dan mengganggu istirahatmu. Ini salahku, aku terlalu banyak berpikir,” ucap Bai Ren dengan nada penuh penyesalan, yang justru membuat Mo Yi merasa semakin bersalah.

“Bagaimana bisa, ini salahku. Aku berjanji tidak akan pergi terlalu lama lagi.”

Mo Yi berdiri di belakang kursi roda Bai Ren, berniat mengantarnya kembali ke kamar. Namun, Bai Ren menahan tangannya dan bertanya dengan ragu, “Xiao Mo, bolehkah aku tidak pergi?”

Pipi pria itu sedikit memerah saat menengadah menatap Mo Yi. Wajahnya yang biasanya terlihat tegas kini tampak lembut karena posisi yang rentan ini.

Mo Yi tertegun sejenak, lalu melihat Bai Ren menatap tempat tidur besar di kamarnya yang cukup untuk dua orang. Dia berpikir Bai Ren pasti sangat menyayanginya hingga ingin berada di tempat yang lebih dekat. Hatinya pun dipenuhi rasa senang yang luar biasa. Baginya, Bai Ren juga yang terpenting, dia pun sangat ingin berada sedekat mungkin dengan pria itu.

Tanpa ragu, Mo Yi mengangguk dengan senyum cerah. Dia langsung menggendong Bai Ren dan membaringkannya ke atas tempat tidur. Bai Ren sudah mengenakan baju tidur, jadi dia tidak perlu dibantu lagi. Mo Yi pun segera mencuci muka dan menyikat gigi di kamar mandi sebelum naik ke tempat tidur.

Keduanya berbaring berdampingan. Kamar kembali hening. Setelah lampu dimatikan, Mo Yi masih bisa melihat wajah Bai Ren di bawah cahaya bulan, lalu tanpa sadar tersenyum bodoh.

Bai Ren tidak menyangka rencananya berjalan semulus ini. Melihat pemuda di depannya yang tampak polos, dia mengacak-acak rambutnya. Keduanya saling tersenyum, dan setelah Mo Yi mengucapkan “Selamat malam”, dia pun tertidur dengan nyenyak.

Namun, dia tidak tahu bahwa setelah napasnya menjadi teratur, pria di sampingnya kembali membuka mata. Bai Ren menatap Mo Yi dalam-dalam, mendekat, lalu memeluknya erat. Setelah mencium keningnya, dia menghela napas puas dan tertidur dalam pelukan satu sama lain.