1. Bab 1: Dicium Paksa
Di dalam ruangan privat yang remang-remang, udara pengap dipenuhi aroma rokok dan alkohol. Musik diputar dengan volume maksimal, membuat telinga Zhang Zhiyue terasa hampir tuli.
Pria dan wanita bergoyang dengan liar di lantai dansa, meliukkan pinggang dan pinggul mereka. Bahkan manajer divisi yang biasanya selalu bersikap serius pun ikut terseret ke dalam kerumunan, dan akhirnya malah menjadi yang paling bersemangat.
Zhang Zhiyue benar-benar tidak tahan dengan lingkungan seperti ini. Kepalanya sudah pening karena mabuk, ditambah lagi dia terus-menerus dicekoki beberapa gelas besar bir. Akhirnya, dia berhasil melarikan diri dengan alasan ingin ke toilet.
Sialan, tempat seperti bar ini benar-benar bukan untuknya. Jika dia tidak segera pergi, dia pasti akan muntah.
Rekan-rekan kerjanya yang biasanya berlagak sopan dan berwibawa di kantor, begitu tiba di tempat seperti ini, benar-benar...
Dia berlari keluar melalui pintu belakang tanpa berani menoleh ke belakang, takut jika ada yang mengejarnya.
Wajah Zhang Zhiyue memerah padam dan kepalanya terasa sangat pening. Dia bersandar pada dinding, menghirup udara segar dalam-dalam.
"*Hik*."
Tengah malam, malam itu sangat dingin dan sunyi. Suara sendawa akibat alkohol terdengar sangat nyaring dan memecah keheningan.
Zhang Zhiyue menahan rasa tidak nyaman di dadanya, lalu menunduk untuk mengeluarkan ponselnya, bersiap memesan taksi untuk pulang.
Baru saja dia melangkahkan kaki, tiba-tiba sebuah kekuatan besar menerjangnya dari depan.
Tubuhnya seketika terkunci dalam sebuah dekapan yang kuat, dan punggungnya yang ramping kembali terhempas ke dinding.
Matanya yang terkejut langsung terbelalak lebar.
Sebelum dia sempat menyadari apa yang sedang terjadi, bibirnya yang sedikit terbuka langsung diserang oleh sesuatu yang dingin, menyapu setiap sudut mulutnya bagaikan badai yang mengamuk.
Secara refleks, dia meronta dan melawan dengan sekuat tenaga. Namun, alih-alih berhasil mendorong pria yang menindih tubuhnya, dia justru terkunci semakin erat.
Aroma yang mendominasi menyelimuti seluruh tubuhnya.
Ciuman pria itu semakin menuntut, gerakannya kasar, hampir seperti orang yang kehilangan akal.
Zhang Zhiyue, yang dicium hingga seluruh tubuhnya mati rasa, tidak bisa bergerak sedikit pun, dan pikirannya menjadi benar-benar kosong.
Kepanikan, kecemasan, dan ketakutan membuat isakan kecil lolos dari celah bibirnya.
Namun, suara itu justru terdengar seperti desahan penuh gairah.
Kedua tubuh mereka menempel erat, bibir mereka saling bertautan dengan intim, bahkan suhu malam yang dingin pun terasa menghangat beberapa derajat.
Cahaya temaram dari lampu jalan menyinari mereka, membuat keduanya tampak seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara dan tidak bisa menahan gairah mereka.
Saling memeluk dan mencium dengan begitu mesra.
Pemandangan seperti ini sudah sangat lumrah di sekitar area bar yang penuh dengan gemerlap kehidupan malam.
Bisa dibayangkan, jika mereka terus melanjutkannya, adegan berikutnya pasti akan menjadi sangat panas dan menggairahkan.
"Jangan dilihat. Cuma dua orang yang mabuk."
Di sudut jalan, seorang pria tinggi kurus berwajah bengis mendelikkan matanya yang dingin kepada rekannya yang sedang menatap dengan mata berbinar lapar.
"Cepat cari orang itu. Kalau tidak ketemu, kita berdua tidak akan selamat."
"Dia tertembak, tidak mungkin bisa lari jauh." Pria yang diperingatkan dengan keras itu menelan ludah, menggerakkan tubuhnya, dan dengan enggan mengalihkan pandangannya. "Cuih! Begitu urusan ini selesai, hal pertama yang akan kulakukan adalah mencari wanita untuk bersenang-senang!"
Setelah suara lirih dan tergesa-gesa itu mereda, kedua orang itu pun segera menghilang di kegelapan malam.
Setelah kedua pria berpakaian hitam itu pergi, satu atau dua menit berlalu, dan mereka tidak kembali lagi.
Malam terasa semakin sunyi, kesunyian yang mencekam.
Sadar bahwa cengkeraman pada tubuhnya perlahan melemah, Zhang Zhiyue akhirnya mengerahkan seluruh tenaganya dan mendorong pria itu dengan kedua tangannya.
Pria itu tampaknya tidak siap, sehingga dia terhuyung dan tubuhnya bergoyang tidak seimbang.
Sambil mengusap bibirnya yang terasa bengkak, Zhang Zhiyue merasa sangat marah, kesal, sekaligus malu.
Dicium tanpa alasan yang jelas, bahkan hampir melakukan adegan intim di pinggir jalan.
Meskipun dia memiliki kepribadian yang baik dan berparas cantik, bukan berarti dia bisa dimanfaatkan dan dirugikan begitu saja!
"Kamu... kamu... kamu..."
Zhang Zhiyue sangat ingin memaki pria itu habis-habisan, tetapi dia tidak memiliki pengalaman dalam hal sumpah serapah.
Jari telunjuk kanannya menunjuk ke arah pria itu cukup lama, namun dia tidak mampu melontarkan satu pun kalimat makian yang utuh.