Bab 16: Mulai Jatuh Cinta, Namun Tak Menyadarinya
Halaman (1/3)
Melihat air matanya, dia seketika menjadi kikuk. Dia merogoh saku, mengeluarkan tisu, lalu mengusap air mata di wajahnya.
Gerakannya kaku, seolah-olah baru pertama kali melakukan hal semacam itu.
Song Xinci tertegun. “Aku... aku bisa sendiri...”
Dia menerima tisu dari tangannya, mengusap pipinya, lalu mundur beberapa langkah.
Sebenarnya, untuk apa pria ini datang kali ini?
Kalau dia merasa bersalah dan menganggap dirinya telah menyakiti Song Xinci, sebenarnya tidak perlu. Kejadian malam itu hanyalah kecelakaan, bahkan bagi dirinya sendiri semua itu terasa begitu tidak nyata.
“Kau tidak melakukan kesalahan apa pun. Aku hanya tidak ingin berurusan lagi denganmu.”
Dia sangat memahami bahwa keberadaan pria ini terlalu kuat. Dia sudah kehilangan kesuciannya dan tidak ingin sampai kehilangan hatinya juga.
Kalau sampai begitu, bukankah itu berarti dia benar-benar telah mengkhianati calon suaminya? Apa yang telah terjadi saja sudah cukup membuatnya merasa bersalah.
“Begini, maaf sudah membuatmu melihat hal memalukan. Tapi lain kali, jangan mencium seorang gadis sembarangan tanpa persetujuannya. Bagaimana kalau gadis itu sudah menyukai orang lain?”
“Kau sudah menyukai seseorang?” tanyanya dengan suara berat.
“Eh?” Song Xinci tertegun.
Apakah dia menyukai seseorang? Dia sendiri tidak tahu. Selama ini, dia tidak pernah menyukai siapa pun.
Namun, kalau dia menjawab tidak, bukankah itu akan membuatnya kehilangan muka?
Terlebih lagi di hadapan pria ini.
“Eh?... Iya... iya, aku sudah menyukai seseorang!”
Halaman (1/3)
Untuk pertama kalinya, Yin Zhenqing merasa sangat ingin menghajar seseorang.
Sial.
Rasa sesak yang mengganjal di dalam hatinya membuatnya tak mampu berkata apa-apa.
Dengan wajah menggelap, Yin Zhenqing berkata, “Kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal? Kalau kau sudah mengatakannya, aku tidak akan menyentuhmu...”
“Siapa yang tahu? Memangnya kau menyesal telah menyentuhku? Maaf, tapi kalau menyesal, kenapa baru sekarang? Memangnya aku datang sendiri ke hadapanmu dan memintamu menyentuhku? Aku juga merasa sangat kesal! Aku hanya turun untuk membeli buah, lalu dipukul sampai pingsan. Setelah itu, pasti aku sudah kehilangan akal sehat.”
Song Xinci merasa dadanya begitu sesak.
Jelas-jelas dialah yang dirugikan, tetapi mengapa seolah-olah semuanya menjadi kesalahannya?
Yin Zhenqing terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata, “Jadi begitu?”
Sebelumnya, dia terus merasa gugup dan gelisah. Dia tidak tahu harus berkata apa ketika bertemu wanita ini. Bahkan, dia sempat memikirkan segala macam hal, termasuk mengajukan laporan pernikahan. Namun, dia sama sekali tidak menyangka bahwa wanita ini ternyata tidak pernah menganggap kejadian itu serius.
Dia merogoh saku dan mengeluarkan sebuah kalung. Setelah mengernyit, dia menarik tangan Song Xinci lalu meletakkan kalung itu di telapak tangannya.
“Anggap saja sebagai kenang-kenangan. Aku melihatnya saat sedang lewat dan merasa kalung ini cocok untukmu, jadi aku membelinya.”
Setelah berkata demikian, dia berbalik dan pergi dengan langkah lebar. Begitu masuk ke mobil, dia langsung menginjak pedal gas dan melaju pergi.
Setelah berkendara cukup jauh, barulah dia tak kuasa mengembuskan napas panjang.
Tatapan penuh tuntutan dari wanita itu membuatnya merasa seolah-olah sedang melarikan diri.
Halaman (2/3)
Tak disangka, Tuan Muda Kedua Yin juga bisa mengalami hari ketika dia melarikan diri dengan panik.
Dia tidak tahu sudah berapa lama berkendara ketika tiba-tiba menghentikan mobil. Saat menoleh, dia mendapati setangkai mawar di kursi penumpang. Kelopak bunganya telah berguguran.
Sesaat, dadanya terasa begitu sesak.
Sudah menyukai seseorang? Peduli amat kalau dia menyukai seseorang!
Gadis itu sudah menyukai orang lain, lalu untuk apa dia marah? Lagipula, gadis itu tidak pernah mengatakan bahwa dia menyukainya. Malam itu pun dia dibawa ke sana oleh anak buahnya.
Mungkin saja gadis itu memang tidak bersedia. Kalau tidak, dia tidak akan menunjukkan ekspresi seperti tadi. Dalam sekejap, pria yang biasanya tanpa ekspresi itu membayangkan berbagai macam kemungkinan.
Dengan perasaan gelisah, dia kembali menginjak pedal gas dan melaju pergi...
Melihat pria itu mengemudikan mobilnya hingga menghilang, Song Xinci membuka telapak tangannya. Di sana terbaring sebuah liontin berbentuk apel, dengan sesuatu seperti berlian yang berkilauan di atasnya.
“Apa-apaan ini?” gumamnya.
Dia memandangi kalung di telapak tangannya. “Mungkin setelah ini kami tidak akan pernah bertemu lagi.”
...
Yin Zhenqing muncul dalam hidupnya seperti bunga yang hanya mekar sesaat, lalu menghilang tanpa jejak.
Hal itu bahkan membuat Song Xinci bertanya-tanya apakah pria itu benar-benar pernah hadir dalam hidupnya.
Setelah itu, kehidupan Song Xinci kembali seperti semula.
Halaman (3/3)