Bab Seratus Dua Puluh: Sayang Sekali Jika Tidak Dimakan
Kau keterlaluan! Mu Qingyu yang basah kuyup tersiram bir, kemarahannya pun memuncak. Meski biasanya berwatak lembut, saat ini ia ingin sekali memberi pemuda bergaya eksentrik itu pelajaran.
Hua Yang melirik Mu Qingyu. Gaun yang basah itu menonjolkan lekuk tubuhnya yang sempurna, dan di bagian dada yang basah, pakaian dalam berbahan renda samar-samar terlihat.
Cih, merah ya. Cantik, bagaimana kalau temani kami minum beberapa gelas? Kalau kau melayani tuan muda ini dengan baik, kau pasti akan hidup mewah. Hua Yang menyapukan pandangannya ke tubuh Mu Qingyu dengan tatapan penuh nafsu.
Mu Qingyu mengernyit, matanya memancarkan rasa jijik yang hebat. Pemuda eksentrik ini bahkan belum cukup umur tapi sudah begitu bejat, apa jadinya nanti saat ia dewasa?
Wajah Ye Fan seketika menggelap. Ia berdiri di depan Mu Qingyu dan menatap Hua Yang dengan dingin.
Cih, mau jadi pahlawan kesiangan? Bocah, jangan sombong hanya karena kau punya sedikit kemampuan bela diri. Coba cari tahu siapa aku di luar sana! ejek Hua Yang dengan nada meremehkan.
Belum tumbuh bulu saja sudah berani memanggil dirimu tuan? Ye Fan mendengus sinis dengan nada mengejek.
Sialan, masih berani bilang aku belum tumbuh bulu? Brengsek! Hua Yang meraung kasar dan melayangkan tamparan ke wajah Ye Fan.
Hua Yang terbiasa dimanja sejak kecil. Belum ada yang berani bicara seperti itu padanya, apalagi ia paling benci disebut belum tumbuh bulu.
Melihat tamparannya hampir mengenai wajah Ye Fan, sudut bibir Hua Yang terangkat penuh kemenangan. Ia pikir bocah ini tidak hebat sama sekali. Saat berhadapan dengannya, bukankah ia harus tunduk?
Detik berikutnya.
Terdengar suara tamparan keras.
Tamparan itu bukan mengenai wajah Ye Fan, melainkan tangan Ye Fan yang lebih dulu mendarat di wajah Hua Yang.
Bugh! Hua Yang merasa wajahnya seperti dihantam palu besi besar. Ia memuntahkan darah segar dan terpelanting jauh.
Aaa! Hua Yang jatuh ke tanah sambil memegangi wajahnya dan menjerit histeris. Ketakutan luar biasa memenuhi benaknya; ia sempat mengira separuh wajahnya hancur oleh tamparan Ye Fan.
Sial! Kawan-kawan, hajar dia!
Melihat bosnya dipukuli, anak buah Hua Yang murka dan segera mengeluarkan pisau dari balik pinggang mereka.
Aaa! Ada pembunuhan!
Suasana menjadi kacau. Orang-orang di sekitar berlarian panik. Dalam sekejap, tak ada lagi bayangan orang di sana. Bahkan pemilik kedai yang ketakutan langsung membawa dompetnya dan ikut melarikan diri.
Para preman itu menerjang ke arah Ye Fan dengan pisau terhunus.
Tidak jauh dari sana, pemuda yang sebelumnya ditampar Ye Fan mengambil sebotol bir di meja, menegaknya, lalu berjalan mendekat sambil membawa botol tersebut.
Berhenti! seru Mu Qingyu. Ia sangat benci pada preman-preman muda yang hobi membawa senjata tajam.
Ye Fan mendengus kesal. Ia tadinya berniat menahan diri, tapi dalam situasi seperti ini, bagaimana mungkin? Ia pun mengambil dua botol bir dan maju menyambut mereka.
Dengan satu gerakan, ia menghindari sabetan pisau dan menghantamkan botol bir ke dahi salah satu preman tanpa ragu.
Prak! Botol pecah, dahi preman itu terluka dan ia pun jatuh terkapar.
Sisanya mengeroyok Ye Fan.
Ye Fan melayangkan tendangan, membuat salah satu preman terpelanting dan jatuh dengan posisi yang mengenaskan.
Ye Fan bergerak cepat di antara para preman. Kurang dari setengah menit, semua pengikut Hua Yang sudah terkapar di tanah, mengerang kesakitan dan tak mampu bangkit.
Hua Yang, yang awalnya memegang pisau berniat menusuk Ye Fan, tidak menyangka anak buahnya sudah tumbang sebelum ia sempat mendekat.
Bocah ini... benar-benar... tangguh!
Ye Fan mengalihkan pandangan ke Hua Yang dan berjalan mendekat.
Mengingat tamparan Ye Fan sebelumnya, separuh wajah Hua Yang bahkan masih mati rasa. Ketakutan yang hebat menyelimutinya. Merasa akan habis dihajar jika tetap di sana, ia berbalik dan lari terbirit-birit.
Sialan, tunggu kau! Aku akan membuatmu menyesal! teriak Hua Yang sambil lari.
Ingin lari? Ye Fan mengernyit.
Kak Fan, sudahlah, biarkan saja. Mu Qingyu melangkah maju dan menarik tangan Ye Fan.
Ye Fan pun enggan mengejar. Ia mengancam para preman yang terkapar, Kalian punya waktu sepuluh detik untuk menghilang dari hadapanku!
Para preman itu gemetar ketakutan, segera bangkit, dan melarikan diri tunggang-langgang.
Kak Fan, ayo kita pergi, ujar Mu Qingyu khawatir.
Untuk apa? Makanan baru saja datang, kita makan sampai kenyang dulu.
Kak... Kak Fan, jangan makan lagi, mereka pasti akan memanggil bala bantuan.
Tidak apa-apa, mereka butuh waktu untuk memanggil orang. Ayo duduk, mumpung orang-orang sudah pergi, ini namanya makan gratis. Rugi kalau tidak dimakan, ujar Ye Fan sambil tertawa kecil.
Mu Qingyu terdiam, tak tahu apa yang dipikirkan Ye Fan. Namun, melihat suasana sudah sepi dan ia tahu kemampuan Ye Fan, ia akhirnya duduk dan melanjutkan makan.
Sekitar lima atau enam menit kemudian.
Tiba-tiba, selusin pria bertato yang membawa parang muncul dari pinggir jalan dengan tampang garang.
Itu dia! Bocah itulah yang memukulku! Hua Yang menunjuk Ye Fan dengan wajah bengkak.
Berani memukul adik Tuan Hao? Sialan, cincang bocah itu! gerombolan pria bertato itu menyerbu.
Mu Qingyu terkejut bukan main.
Lihat, inilah akibat membiarkan mereka pergi, ujar Ye Fan sambil mengangkat bahu.
Kak... Kak Fan, apa yang harus kita lakukan? Mu Qingyu mulai ketakutan karena jumlah mereka banyak dan semuanya bersenjata tajam.
Jangan takut, ada aku di sini, ucap Ye Fan sambil meletakkan sumpitnya.
Tunggu... tu... tunggu sebentar. Pria bertato dengan wajah penuh bekas jerawat dan tinggi 185 cm tiba-tiba menghentikan mereka.
Ada apa, Kak Gou? tanya salah satu anak buahnya.
Ja... jangan lukai... ga... gadis itu. Pria itu ternyata gagap. Ternyata ia menahan mereka karena terpesona pada kecantikan Mu Qingyu.
La... laki-lakinya... cincang, perempuannya bawa ke luar untuk di... di... Pria yang dipanggil Kak Gou itu semakin gagap karena panik.
Kak Gou, perempuan itu dibawa ke luar untuk di... diapa? tanya anak buahnya polos.
Ba... bawa ke luar... ha... hajar sampai mati! seru Kak Gou akhirnya.
Paham Kak Gou, laki-lakinya cincang, perempuannya hajar sampai mati! Ayo maju!
Kak Gou hebat! sorak Hua Yang kegirangan dengan senyum kejam. Ia ingin Ye Fan tahu apa artinya menyesal!
Gerombolan itu pun menyerbu ke arah Ye Fan dan Mu Qingyu.
Qingyu, kau bersembunyilah di dalam, bisik Ye Fan.
Ia segera bangkit dan menerjang gerombolan preman itu.
Melihat Ye Fan tidak lari malah maju, para preman itu tertegun. Apakah bocah ini gila?
Pria bertato yang gagap itu mengayunkan parangnya sambil berteriak, Cincang dia!
Mu Qingyu yang bersembunyi di samping menahan napas, berdoa agar Ye Fan selamat. Kak Fan, kau sangat hebat, kau pasti baik-baik saja, bukan?
Pria bertato itu jelas bukan pemula; serangannya sangat cepat dan langsung mengarah ke titik vital Ye Fan. Sayangnya, level seperti itu di mata Ye Fan bahkan tidak pantas disebut sampah.