Bab Lima Belas — Bersujudlah, Panggil Aku Ayah!
Ketika Zhai Nan selesai mengenakan pakaian kaisar dan keluar, ia mendapati orang-orang di sekitarnya diam-diam menunjuk-nunjuk ke arahnya dan berbisik-bisik. Namun Zhai Nan sama sekali tidak memperdulikannya. Ia sengaja mengibaskan lengan bajunya dan berkata, “Jadi seorang ayah memang rasanya berbeda!”
Chen Feng dan yang lain mendengar itu lalu mendekat sambil tersenyum. Chen Ying’er memperhatikan Zhai Nan dari atas ke bawah, lalu berkata, “Xiao Nan, setelah kamu memakai pakaian itu, benar-benar mirip seorang kaisar.” Chen Feng pun mengacungkan jempol dan berkata, “Hari ini aku benar-benar kagum padamu.”
Yi Xin, si banyak bicara, mendekat dengan wajah penuh rahasia dan berbisik, “Nan, mulai sekarang kau adalah kakak kandungku. Tadi aku ngobrol dengan Kak Han selama lebih dari sepuluh menit, akhirnya aku dapat peran spesial. Bisa nggak kasih aku beberapa trik?”
Kasih kamu trik? Itu sama saja cari masalah sendiri! Zhai Nan sengaja meledek, “Bro, jangan bilang aku nggak mau bantu, tapi dengan model rambutmu yang bulat bak bakso itu, sungguh susah membantumu!”
Begitu mendengar ucapan Zhai Nan, semua orang langsung terbahak, hingga menarik perhatian orang lain di ruangan itu.
Namun di tengah gelak tawa tersebut, terdengar suara dengusan dingin yang sangat jelas, “Peran spesial yang langsung mati. Huh, tetap saja cuma figuran yang mati konyol!” Semua menoleh ke arah suara itu, dan ternyata yang berbicara dengan nada tidak puas itu bukan orang lain, melainkan si bajingan Bai Hongfei.
Yi Xin mendengus pelan, “Dasar pengecut yang hanya berani pada yang lemah.” Wang Yuan menambahkan, “Tenang saja, dengan Kak Han membelamu, Bai Hongfei juga tidak bisa berbuat apa-apa.” Namun Sun He yang dikenal berhati lembut menasihati, “Lebih baik jangan cari masalah.”
Namun Zhai Nan tak peduli, ia melambaikan tangan dan berkata, “Tak perlu takut, nanti aku akan membuat dia berlutut dan memanggilku ayah!” Mendengar itu, Bai Hongfei langsung menepuk meja dan berteriak marah, “Aku ingin lihat, apa alasannya aku harus berlutut padamu dan memanggilmu ayah!” Zhai Nan tak mau kalah, maju selangkah dan membalas, “Aku juga ingin lihat nanti kau berani tidak berlutut!”
Di ruang rias besar, suasana antara keduanya begitu tegang seperti dua pedang yang saling beradu, saat itu Zhang Si Janggut masuk sambil membawa janggut palsu, lalu berkata pada Zhai Nan, “Saudara, sudahi saja. Ayo cepat ikut aku, kita harus segera dandan. Sebenarnya, peran kaisar ini tadinya untuk orang tua, sekarang digantikan kau, jadi harus didandani seperti orang tua. Kak Han minta kau ke ruang rias pribadinya. Ayo, jangan berlama-lama di sini.” Selesai bicara, ia langsung menarik Zhai Nan pergi.
Saat Zhai Nan sampai di ruang rias kecil milik Han Xia, Han Xia sudah selesai berdandan dan sedang duduk menunggu. Penata rias pribadi Han Xia juga sudah menyiapkan semuanya untuk Zhai Nan.
Zhang Si Janggut meletakkan janggut dan wig palsu lalu pergi dengan tergesa-gesa. Kini, di ruang rias itu hanya tersisa Zhai Nan, Han Xia, penata rias, dan Xiao Yu, asisten Han Xia.
Zhai Nan pun duduk dengan santai di depan cermin rias, toh semua perlengkapan milik istrinya sendiri. Penata rias pun langsung mulai mendandaninya dengan cekatan.
Han Xia mengamati sebentar, lalu bertanya dengan santai, “Bagaimana, kamu percaya diri?” Zhai Nan yang punya keahlian aktor kelas dunia tentu tak gentar, ia langsung menjawab, “Kalau tak percaya diri, mana mungkin aku berani datang? Kau terlalu meremehkan suam—”
“Ehem!” Han Xia tiba-tiba berdeham keras.
Barulah Zhai Nan sadar, status mereka masih menikah diam-diam, tak boleh asal bicara. Ia tersenyum canggung dan segera meralat, “Kau terlalu meremehkan sahabat lamamu ini.”
Kata-kata “sahabat lama” itu ia ucapkan dengan suara sedikit dikeraskan, menandakan ketidakpuasannya dalam hati. Han Xia mendengus ringan, “Bagus kalau kau tahu sahabat lama. Kalau kau mempermalukan diri, aku juga ikut malu. Nanti jangan sampai grogi di depan kamera.”
Zhai Nan mengibaskan tangan, “Tenang saja. Pasti ada yang grogi, tapi aku bukan salah satunya.”
Han Xia mengernyit heran, tidak paham maksud ucapan Zhai Nan, tapi ia tak menanggapinya lagi.
Setelah Zhai Nan selesai didandani, Sutradara Wang datang dan bertanya, “Kak Han, di sana semua sudah siap, bisa mulai sekarang?” Han Xia melirik Zhai Nan, “Kamu sudah siap?”
Zhai Nan pun langsung berdiri, membusungkan dada, mengangkat kepala, penuh wibawa, semua aura kaisar terpancar jelas. Meski wajahnya didandani seperti orang tua, namun sorot matanya tajam menyala. Penampilannya memang terlihat renta, tapi di balik itu masih terasa kegagahan seekor harimau tua yang belum kehilangan taring. Meski usia menua, namun wibawanya sebagai penguasa tak berkurang sedikit pun.
Sutradara Wang melihat penampilan Zhai Nan, langsung berseru kagum, “Bagus! Inilah kaisar yang kucari! Kak Han memang tidak salah pilih orang, aura kaisar tua yang kamu tampilkan benar-benar luar biasa!”
Han Xia di sampingnya pun terkejut, tidak menyangka Zhai Nan bisa memerankan kaisar itu dengan begitu mendalam. Namun mendengar pujian Sutradara Wang, ia sengaja berkata, “Menurutku biasa saja, yang penting nanti jangan grogi.”
Zhai Nan melirik dengan sinis, grogi? Aku punya keahlian aktor kelas dunia, lebih hebat dari Bai Hongfei yang cuma bisa akting setengah-setengah. Lihat saja nanti bagaimana aku beraksi!
Namun Sutradara Wang sama sekali tak khawatir dengan ucapan Han Xia, ia malah bertanya pada Zhai Nan, “Sudah baca naskahnya? Perlu aku jelaskan lagi?”
Zhai Nan melambaikan tangan dan menjawab, “Tak perlu, tadi Kak Han sudah memberiku naskahnya. Aku tahu, nanti kena tikam langsung mati, pasti seru matinya.”
Sutradara Wang langsung merasa pusing, dalam hati bergumam, “Kalau sesederhana itu, buat apa aku repot-repot jadi sutradara?”
Han Xia pun hanya bisa memutar bola matanya, lalu segera menyuruh, “Sudah, ayo kita coba sekali dulu.”
Sutradara Wang hanya bisa menggumam pelan, lalu mengikuti mereka keluar.
Saat mereka tiba di lokasi syuting, semua sudah siap. Lampu, kamera, alat perekam suara, para aktor, dan tentu saja Bai Hongfei, si anak “murahan”, juga sudah ada di sana.
Tanpa basa-basi, Zhai Nan langsung duduk di atas kursi naga, menatap Bai Hongfei yang berdiri paling depan, dengan senyum penuh kemenangan di wajahnya. Sementara Bai Hongfei di bawah sana menggigit gigi menahan kesal.
Han Xia duduk di sebelah Zhai Nan, menyamar sebagai dayang istana. Ketika itu, Asisten Sutradara Zhao mendekati Sutradara Wang dan bertanya, “Sutradara Wang, boleh mulai?”
Sutradara Wang memandangi Zhai Nan yang tersenyum licik, sempat ragu sejenak, lalu mengambil pengeras suara dan berkata, “Jangan direkam dulu, kita coba dulu satu kali, baru syuting beneran. Semua siap! Satu, dua, tiga, mulai!”
Sesuai alur naskah, setelah aba-aba mulai, seharusnya kepala kasim besar berteriak, ‘Baginda tiba!’ Lalu para menteri berseru memuja, serentak berlutut. Kaisar mempersilakan mereka bangun, baru setelah itu mereka berdiri. Kemudian Han Xia melakukan aksi pembunuhan, kaisar tewas di tempat, istana pun kacau. Han Xia yang berperan sebagai pembunuh wanita melarikan diri, Bai Hongfei yang berperan sebagai putra mahkota mengejar.
Sedangkan Zhai Nan, cukup mendapat satu adegan mati, lalu bisa pulang.
Begitulah alur syuting normalnya, hanya saja kini ada Zhai Nan sebagai variabel baru, karena itu Sutradara Wang ingin sekali mencoba adegan dulu. Bagaimanapun, Zhai Nan belum pernah syuting, dan peran kaisar itu hanya demi menghormati Han Xia.
Meski Han Xia cukup berpengaruh, tapi syuting film menggunakan rol film asli yang mahal. Sutradara Wang tak ingin membuang-buang uang hanya untuk Zhai Nan, jadi harus dicoba dulu, biar Zhai Nan bisa lebih terbiasa.
Namun saat Sutradara Wang baru saja berteriak, “Mulai!” dan sebelum kasim besar di sampingnya sempat bicara, Zhai Nan sudah berdiri tegak, mengacungkan tangan ke arah Bai Hongfei dan berteriak lantang, “Berlutut, panggil aku ayah!”