Baguslah, baguslah.
"Memangnya kalau putri kenapa? Mau mengajak berkelahi?" tantang Han Ruoli.
"Kau... jangan kira aku tidak berani menghajimu. Asalkan aku mengadu kepada ayahanda Kaisar, apakah kau pikir kau masih bisa hidup sampai besok?" Sembari membawa-bawa nama ayahandanya, aura Lan Feng mendadak melonjak tinggi.
"Oh, silakan pergi sana, cepatlah pergi." Alih-alih merasa takut, Han Ruoli justru mendesak Putri Lan Feng untuk segera pergi.
"Kau... apa kataku? Aku tidak sedang bercadar denganmu. Jika kau berani mengusikku, aku akan benar-benar mengadu pada ayahanda!"
Mendengar ucapan Han Ruoli yang menyuruhnya pergi, Lan Feng hampir meledak karena amarah yang tertahan di dadanya.
Perempuan jalang ini pasti sangat yakin bahwa dirinya tidak akan berani melapor pada sang ayahanda. Lagipula, jika hubungan antara dirinya dan sang ayahanda merenggang hanya karena masalah sepele seperti ini, bukankah itu sangat merugikan?
"Keluar, lalu belok kiri, belok kanan lagi, belok kiri lagi, dan belok kanan sekali lagi. Selamat jalan, tidak perlu diantar." Han Ruoli menunjukkan senyuman khasnya dan bersiap mengusir tamu tersebut.
"Kau! Aku akan pergi mengadu pada Kakak Moqian!"
Memikirkan hal itu, kemarin ia baru saja membatalkan pertunangannya dengan Kakak Moqian dalam keadaan marah besar, sehingga pria itu pasti menyimpan rasa kesal. Jika saat ini ia pergi dan memperkeruh keadaan...
"Aduh, itu justru lebih bagus. Selain mengadu kepada mereka, apa lagi keahlianmu?"
Jika pria keparat itu berani membantu Lan Feng, maka benda berharganya itu tidak perlu lagi diselamatkan.
Ia justru bisa mencari kesempatan untuk menyunat pria itu.
"Arghhhhh!" Putri Lan Feng mencengkeram kepalanya karena frustrasi.
"Amboi, amboi." Melihat Lan Feng yang tampak begitu kesal, Han Ruoli berbicara dengan nada jenaka menyerupai seorang biksu tua.
"Lain hari aku akan datang lagi untuk membereskanmu! Tunggu saja pembalasanku!"
Setelah melontarkan kalimat ancaman tersebut, Putri Lan Feng langsung pergi meninggalkan tempat itu.
Han Ruoli menghela napas, lalu melanjutkan sarapannya yang sempat tertunda.
————————
Sambil terus mengunyah makanannya, Han Ruoli bertanya, "Qiyin, bagaimana urusan yang kusuruh?"
Qiyin mengangguk penuh percaya diri. "Nona, saya sudah pergi ke rumah bordil sesuai dengan permintaan Anda. Dan benar saja, saya menemukan banyak perempuan malang yang dipaksa masuk ke sana."
Han Ruoli hanya tersenyum tipis, lalu mendengarkan Qiyin melanjutkan perkataannya.
Qiyin sempat berhenti sejenak sebelum meneruskan, "Lalu saya menebus mereka semua, dan memberikan penawaran yang sesuai dengan instruksi Anda. Hasilnya, mereka semua langsung menyetujuinya tanpa ragu!"
Semakin bercerita, Qiyin menjadi semakin bersemangat. Beberapa hari yang lalu, sang nona menyuruhnya menyamar sebagai seorang pria untuk pergi ke rumah bordil, bahkan meminta para wanita di sana untuk melayani mereka satu persatu.
Setiap kali bertemu dengan wanita yang cerdas, Qiyin diperintahkan untuk mencatat nama mereka, lalu menebusnya untuk dijadikan orang kepercayaan.
"Bagus. Uang kita sepertinya masih tersisa cukup banyak. Pergilah ke sebuah desa kecil di luar Kota Kekaisaran dan beli sebidang tanah yang subur di sana."
Desa di luar Kota Kekaisaran itu adalah tempat pertama kalinya ia tiba setelah menyeberangi dimensi ini. Sepanjang perjalanan tadi, ia telah mengamati dengan cermat bahwa lingkungan di sana sangat asri, hanya saja para penduduk desa tidak menyadari perubahan iklim yang sedang terjadi.
"Di luar Kota Kekaisaran? Desa kecil di sana sangat miskin, Nona. Kenapa kita tidak mencari tempat yang lebih makmur saja?"
Qiyin merasa bingung.
"Bukankah jauh lebih menguntungkan jika kita bisa mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya? Kenapa tidak kita lakukan?"
Han Ruoli sudah membayangkan pemandangan di masa depan di mana ia bisa hidup dikelilingi oleh para wanita cantik.
Mengembangkan kekayaan menggunakan uang adalah cara yang hanya dipahami oleh orang cerdas.
Qiyin mengangguk paham meskipun masih setengah mengerti. Baginya, apa pun yang dikatakan oleh sang nona pasti adalah hal yang benar, jadi ia hanya perlu melaksanakannya.
Saat Qiyin hendak melangkah keluar, ia mendengar suara Han Ruoli yang mengingatkannya dari belakang, "Qiyin, ingatlah satu hal. Pastikan untuk membina hubungan baik dengan para penduduk setempat, dan penuhi segala permintaan yang mereka ajukan sebisa mungkin."
"Baik."
Usai berkata demikian, Qiyin melangkah keluar dari kamar.
Kemampuan kerja Qiyin kali ini benar-benar membuat Han Ruoli terperangah. Sebelumnya, ia mengira Qiyin pasti akan menghadapi berbagai kesulitan yang sulit diatasi.
Namun kenyataan membuktikan bahwa kemampuan Qiyin sebenarnya sangat luar biasa, hanya saja selama ini potensinya terkekang oleh status sosialnya sehingga tidak bisa berkembang dengan baik.