Bab 52 Aku Sedang Diawasi
Tepat saat pemuda itu hendak menyentuhnya, Luo Qiu langsung mencengkeram kepala Hao Xiangwen. Hao Xiangwen meronta-ronta sambil mengibaskan lengannya, tetapi sia-sia. Ia menatap Xia Anran dengan tatapan memelas dan mata berkaca-kaca.
Xia Anran menghela napas pasrah, melipat kedua tangannya di dada, lalu bertanya, "Jadi, ada apa mencariku?"
Terlihat pemuda itu mengenakan kemeja lengan pendek berbalut rompi hitam kecil di bagian atas, dipadukan dengan celana pendek hitam di bagian bawah. Ditambah tubuhnya yang memang kurus serta matanya yang besar, dari sudut mana pun ia terlihat seperti seorang gadis yang menyamar masuk ke sekolah khusus laki-laki.
Ia menyeka air mata di sudut matanya, lalu menatap Xia Anran dengan penuh tekad. "Aku ingin berguru kepadamu, ingin menjadi pria sejati di antara para pria."
"Pria sejati apa, yang kulihat kau ini hanya seorang femboy!" cibir Luo Qiu yang berdiri di samping tanpa ampun.
Seketika itu juga, Hao Xiangwen merasa seolah-olah ada sebuah anak panah yang menembus jantung kecilnya. Ah, sakit sekali.
"Guru..." gerutu Hao Xiangwen dengan nada merana menatap Xia Anran.
Xia Anran melambaikan tangannya tanpa daya. "Masalah ini tidak usah dibahas, kembalilah ke mana pun asalmu!"
Melihat ekspresi menggemaskan dari Hao Xiangwen, astaga, sebenarnya apa arti dari rasa frustrasi yang muncul entah dari mana ini?
Ia menoleh ke samping dengan tatapan hampa seolah hidupnya sudah berakhir. Huh, lelah sekali rasanya.
Luo Qiu melepaskan cengkeramannya, membuat Hao Xiangwen hampir terjatuh ke lantai. Luo Qiu hanya berdiri di samping dan sama sekali tidak berniat untuk membantunya berdiri.
Baginya, di dunia ini hanya ada dua jenis orang: Xia Anran dan orang-orang lainnya.
Hao Xiangwen berdiri dengan mantap, mengambil sehelai sapu tangan antah berantah dari suatu tempat, menggigitnya di antara bibirnya, lalu berkata dengan mata berkaca-kaca, "Guru, Anda benar-benar tidak akan memedulikaniku lagi?"
Xia Anran menarik sudut bibirnya membentuk senyuman. "Lalu, untuk apa aku harus memedulikanmu? Huh?"
Luo Qiu membatin dalam hati, Hei, Anran, apa kau sudah berubah menjadi sisi yang gelap?
Hao Xiangwen menunduk sambil meremas sapu tangan di tangannya, lalu berkata dengan suara pelan, "Ada orang yang menyergap di kamarku, aku tidak bisa kembali ke sana. Guru, bisakah Anda menampungku barang semalam saja?"
"Tidak bisa!" Luo Qiu menatap Hao Xiangwen dengan wajah kelam. Tubuh Hao Xiangwen langsung bergidik ngeri, lalu dalam sekejap ia bersembunyi di balik punggung Xia Anran.
Krek, krek.
Luo Qiu meregangkan persendian tangannya, menatap pemuda itu dengan wajah penuh niat membunuh, lalu berkata sambil menggeretakkan gigi, "Aku bahkan belum pernah tidur bersamanya, dasar pengganggu, atas dasar apa kau berani menyela."
Sambil berkata demikian, ia menerjang ke arah Hao Xiangwen. Tepat saat ia mencengkeram kerah baju Hao Xiangwen dan bersiap memberi pelajaran yang berharga, ia mendapati Xia Anran sedang menatapnya dengan senyuman 'penuh kebaikan' di wajahnya, lalu bertanya dengan aura yang begitu mengintimidasi, "Tadi anginnya terlalu kencang, aku tidak dengar dengan jelas. Coba ulangi kata-katamu."
Wanita itu melangkah maju selangkah demi selangkah. Aura dominannya begitu kuat hingga membuat Luo Qiu dan Hao Xiangwen berdiri mematung di tempat sambil gemetar ketakutan.
"Katakan, sebenarnya apa yang kalian inginkan?"
Ia melanjutkan pertanyaannya dengan wajah muram. Luo Qiu dan Hao Xiangwen langsung berlutut secara bersamaan di lantai, lalu menjawab dengan patuh.
"Semuanya menuruti Anran."
"Semuanya menuruti Guru."
Sepuluh menit kemudian.
Dengan sangat enggan, Luo Qiu meletakkan segelas air mineral di hadapan Hao Xiangwen yang duduk dengan patuh di atas sofa, lalu berkata, "Selesaikan urusanmu dan cepat enyah dari sini!"
Membiarkan orang asing masuk ke kamarnya adalah hal yang paling enggan ia lakukan setengah mati, tetapi membiarkan orang itu masuk ke kamar Xia Anran adalah hal yang jauh lebih tidak mungkin lagi.
Memikirkan hal itu, ia mendelik tajam ke arah Hao Xiangwen, membuat tubuh pemuda itu bergidik dan punggungnya terasa dingin.
Usai berkata demikian, ia berbalik dan meletakkan jus semangka khusus di hadapan Xia Anran, lalu berkata dengan lembut, "Cicipilah, bagaimana rasanya?"
Xia Anran mengucapkan terima kasih dengan nada datar, lalu bertanya, "Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau tidak bisa kembali ke kamarmu?"
Hao Xiangwen menoleh, langsung sadar dari lamunannya, lalu menelan ludahnya. "Aku merasa sedang dimata-matai."