Bab 58, Menghasilkan Uang, Bagaimana Cara Menghabiskannya
Bagian 58: Menghasilkan uang, menghasilkan uang, bagaimana caranya
Mu Shiyi menatap Yun Zhuo, mengggodanya, "Tidak diberi upah pun tidak apa-apa, kau bisa menebusnya dengan hal lain!"
"Tebusan apa?" tanya Yun Zhuo pelan.
Mu Shiyi memberi isyarat dengan jarinya ke arah Yun Zhuo.
Meskipun hatinya waspada, demi menghemat uang, Yun Zhuo tetap mendekat.
Mu Shiyi berbisik di telinganya, "Cium aku sekali!"
Mendengar itu, Yun Zhuo langsung melompat berdiri, wajahnya memerah, dan memarahinya, "Cih, mimpiku yang indah!"
Lalu ia berkata dengan penuh harga diri, "Aku akan catat sendiri!"
Yun Zhuo tidak tahu apakah pemilik tubuh aslinya bisa membaca atau tidak. Kalaupun tidak bisa, tidak masalah; ia akan menggambar lingkaran dan segitiga sebagai gantinya.
Sempurna.
Yun Zhuo berbalik hendak pergi, tetapi Mu Shiyi menarik tangannya, "Benar-benar tidak mau mempertimbangkannya? Cium aku sekali, aku akan mencatat pembukuan untukmu secara gratis, dan juga membantumu mengerjakan pekerjaan kasar!"
"Sudahlah, kau sekarang ini sedang cedera, masih mau membantuku bekerja kasar. Kalau sampai terjadi sesuatu padamu, aku tidak akan mampu menggantinya!"
Yun Zhuo ingin menarik tangannya.
Namun, meskipun Mu Shiyi tidak mengerahkan tenaga, ia tetap tidak bisa menariknya lepas.
"Mu Shiyi, lepaskan aku dulu!"
Mu Shiyi melepaskan tangannya lalu mendesah, "Sayang sekali!"
"Ah, aku memang sudah tua, sekarang sudah tidak ada daya tarik lagi bagi Zhuo Zhuo!"
"Huh!"
Yun Zhuo tidak sabar melihat Mu Shiyi bersandiwara. Di dalam hatinya ia merasa jijik, dan tidak berani melihat dada terbuka pria itu.
Ia berbalik dan keluar ruangan untuk sibuk dengan urusannya sendiri, berusaha agar pikirannya tidak melayang pada godaan itu.
Karena berencana mengumpulkan buahprem untuk diasinkan, tempayan besar tentu saja sangat diperlukan.
Ia berniat pergi ke ibu kota kabupaten besok.
"Fuxi, berapa lama kira-kira surat keterangan kependudukanku dan Pingting bisa selesai?"
"Sekitar lima atau enam hari!"
Yun Zhuo kini sudah punya perkiraan di dalam hatinya.
Namun, sebelum sempat pergi ke ibu kota kabupaten, pemilik rumah makan datang bersama beberapa orang.
Semula, pemilik rumah makan membawa pulang buahprem itu hanya sebagai hidangan penutup penyegar setelah makan dan tidak berniat menjualnya untuk mencari untung. Namun, seorang pedagang keliling dari luar daerah kebetulan mencicipinya dan merasa rasanya sangat lezat, sehingga ia ingin membeli resepnya.
Sebagai perantara, sang pemilik rumah makan membawa serta pedagang keliling tersebut.
"Buahprem asin ini sebenarnya sangat sederhana, kuncinya ada pada bumbu dan hal-hal yang perlu diperhatikan, pembuatannya pun tidak sulit!"
Seseorang datang untuk membeli, dan Yun Zhuo tentu tidak akan pelit menolaknya.
Ia sekarang adalah seorang wanita miskin yang bahkan masih berhutang sepuluh tael perak kepada Mu Shiyi.
Setelah melalui proses tawar-menawar, ia masih boleh membuat dan menjualnya sendiri di wilayah kabupaten tetangga. Sementara sang pedagang keliling bisa membawa resep itu ke tempat lain, dan pria itu juga boleh menjual resep tersebut kepada orang lain.
Artinya, semakin banyak tempat yang ia kunjungi, semakin banyak pula uang yang bisa ia dapatkan dari penjualan resep itu.
Jika tidak laku, risikonya ditanggung sendiri.
Dari harga penawaran awal lima puluh tael, Yun Zhuo berhasil menawiknya hingga kesepakatan tercapai di angka seratus lima puluh tael.
Bagi Yun Zhuo, seratus lima puluh tael adalah jumlah kekayaan yang sangat besar.
"Tunggu sebentar, aku masih punya resep lain, kau mungkin ingin melihatnya!"
"Resep apa?" tanya Hu Yicheng penuh semangat.
"Jus arbila, manisan arbila. Hanya saja, musim arbila belum tiba sekarang, tunggu sampai musimnya tiba, Anda bisa datang lagi!"
Yun Zhuo kembali melempar umpan.
Hu Yicheng tentu saja tertarik.
Barang-barang kecil seperti ini tampaknya tidak bernilai jika dijual satuan, tetapi tujuannya bukanlah menghasilkan uang dari membuat dan menjual barangnya, melainkan menghasilkan uang dari menjual resepnya.
Setiap kali ia pergi ke suatu tempat, ia bisa menjualnya sekali.
Itulah keuntungan terbesar.
"Kalau begitu, aku akan datang lagi saat musim arbila tiba!"
Yun Zhuo mengangguk.
Ia mendiktekan resep pembuatan buahprem asin, dan Hu Yicheng menulisnya sendiri.
Resepnya sangat sederhana. Selama mengetahui langkah-langkahnya dan mencoba beberapa kali, pasti akan berhasil.
Jika resep itu ia jual kepada orang lain, mungkin tidak akan laku seratus tael perak, tetapi delapan atau sepuluh tael pasti masih ada orang yang mau membelinya.
Sekarang musim buahprem akan segera tiba, membeli resep itu sekarang masih bisa memberinya keuntungan.
Pemilik Rumah Makan Juyuan yang melihat hal itu juga merasa iri. Namun, Yun Zhuo harus membuat dan menjual barangnya sendiri, sementara ia datang untuk membeli produk jadi buahprem asin. Alasan utamanya adalah ia ingin menjalin hubungan baik dengan Mu Shiyi. Oleh karena itu, meskipun sedikit merepotkan dan harganya lebih tinggi, ia tetap bersedia memberikan muka kepada Nyonya Jenderal, yaitu Yun Zhuo.
Setelah urusan bisnis selesai, Hu Yicheng dan pemilik Rumah Makan Juyuan pamit undur diri.
Yun Zhuo mengerjap-ngerjapkan matanya memandangi perak di tangannya, lalu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.
Ia menciumi kepingan perak itu beberapa kali sambil bersuara gembira, di dalam hatinya sudah merencanakan bagaimana cara menggunakan uang tersebut. Perasaannya begitu lega, ia bersenandung kecil sambil menarik Pingting untuk berputar-putar menari bersama.
Mu Shiyi memandangi Yun Zhuo yang begitu gembira hingga tampak sedikit konyol, di balik rasa pasrahnya, seulas senyum terukir di dalam matanya.
Asalkan dia bahagia.
Jika dia bahagia, kondisi tubuhnya pun akan lekas pulih.