Bab 25: Sang Jenderal Besar yang Sejati
Halaman (1/3)
"Astaga, lihatlah dirimu. Setiap kali aku melihat gadis cantik, orang pertama yang terlintas di pikiranku adalah dirimu. Namun, coba lihat dirimu sendiri, sampai saat ini belum ada satu pun yang kau taksir. Sudahlah, aku tidak akan mencampuri urusanmu lagi. Tapi, menurutku gadis itu cukup baik. Nanti aku akan bertanya pada putraku saat pulang, apakah dia tertarik atau tidak. Para bujangan ini memang sudah waktunya untuk segera mendapatkan pasangan."
Setelah profesor tua itu selesai bicara, Yin Zhenqing menyahut dengan suara rendah, "Sebaiknya Anda tidak perlu repot-repot memikirkan hal itu. Mungkin gadis itu sudah memiliki seseorang yang ia sukai."
Tentu saja, dia sendiri sudah pernah menanyakannya secara langsung.
"Lalu kenapa? Siapa yang tidak pernah menyukai seseorang? Namun, hasil akhir adalah yang terpenting, bukan?" Pak Tua itu seolah baru pertama kali menyadari bahwa Yin Zhenqing berbicara lebih banyak dari biasanya, ia pun tak kuasa menahan diri untuk menggoda.
"Terserah saja!" Yin Zhenqing menatap ke luar jendela lalu berkata, "Baiklah, masih ada dokumen yang harus kuselesaikan, aku pergi dulu."
"Sudah kubilang, lukamu belum sembuh, tidak bisakah kau beristirahat dengan tenang selama beberapa hari?"
"Tidak apa-apa..." Ucap Yin Zhenqing sebelum melangkah pergi dengan lebar.
Profesor tua itu menggelengkan kepala sambil menghela napas, "Keras kepala semua." Hal ini mengingatkannya pada putranya yang juga memiliki watak keras kepala serupa, membuatnya semakin merasa gemas karena tak bisa berbuat apa-apa.
...
Waktu berlalu begitu saja, hari pun berakhir tanpa terasa...
Saat petang, Song Xinci pergi ke kantin untuk mengambil jatah makan seperti biasanya dengan membawa kotak makan dan peralatan makan yang baru dibagikan. Karena di tempat ini, setiap orang harus mencuci sendiri peralatan makan mereka setelah selesai bersantap.
Namun, saat hendak mengambil makanan, melihat antrean yang begitu panjang di setiap loket, ia pun mulai mengantre.
Hanya saja, di saat seperti ini, ia tiba-tiba merasa cukup takut untuk bertemu pria itu. Sejujurnya, ia tidak melakukan kesalahan apa pun, namun entah mengapa, setiap kali melihatnya, ia merasa gugup hingga tak mampu berbicara dengan lancar.
Halaman (2/3)
Mungkin, hatinya memang sudah sedikit goyah.
Song Xinci mengusap perutnya yang mulai lapar dan terus mengantre. Loket yang ia tuju awalnya sangat ramai, namun tiba-tiba orang-orang di depannya menyingkir. Melihat barisan di depannya kosong melompong, Song Xinci tertegun dan menggaruk kepalanya.
"Satu porsi makanan..."
Suara berat terdengar dari belakangnya. Song Xinci tersentak dan segera menoleh. Saat itulah ia menyadari bahwa di loket tersebut kini hanya tersisa dirinya dan pria bertubuh tegap di belakangnya.
"Kau, kau duluan saja..." Melihat orang-orang lain memberi jalan, Song Xinci pun segera melangkah mundur.
Dalam hati ia bergumam heran, betapa luar biasanya pria ini hingga membuat orang-orang dengan sukarela memberinya jalan.
Yin Zhenqing meliriknya sekilas, lalu mengulurkan tangan mengambil nampan milik Song Xinci dan meletakkannya di atas meja saji.
"Beri lebih banyak daging," perintahnya.
"Siap, Komandan." Prajurit yang bertugas di balik loket tertegun sejenak, lalu dengan sigap menyendokkan porsi daging yang besar beserta berbagai macam sayuran yang tampak lezat.
"Sudah cukup, sudah cukup, terima kasih. Saya tidak akan sanggup menghabiskannya," ujar Song Xinci buru-buru. Ia segera mengambil nampannya yang telah penuh dan bergegas menuju tempat duduk. Menyadari tatapan penasaran orang-orang di sekitarnya, ia merasa wajahnya memanas.
Yin Zhenqing mengambil makanannya dan mencari tempat duduk, namun kali ini ia tidak duduk di samping Song Xinci, melainkan di meja sebelah.
Song Xinci makan dengan sangat cepat, sepanjang waktu ia merasa seolah ada hantu yang sedang mengawasinya.
Saat itu, Gui, yang makan di sisi lain, membawa mangkuknya dan duduk tepat di hadapan Song Xinci.
Halaman (3/3)
"Xinci, ada apa ini? Apa kau kenal dengan Komandan itu?"
Begitu mendengarnya, Song Xinci langsung membantah dengan tegas, "Tidak kenal."
Pria di meja sebelah tampak bermuka masam sambil terus menyantap makanannya. Hatinya terasa sesak; tidak kenal, padahal sebelumnya gadis itu bahkan sempat berada di dalam pelukannya.
"Oh, tapi Komandan itu cukup tampan, ya," bisik Gui.
Song Xinci melirik ke arah meja di seberang, lalu mengangguk, "Oh! Lumayan." Namun baginya, wajah seseorang tidak bisa mencerminkan isi hatinya.
Setelah selesai makan, hari sudah gelap. Song Xinci mencuci mangkuknya lalu kembali ke asrama untuk beristirahat.
Malam itu, cahaya bulan masih bersinar terang, namun Song Xinci tidak bisa memejamkan mata sama sekali. Ia mengira Yin Zhenqing telah menghilang dari hidupnya, namun tak disangka mereka dipertemukan kembali.
Sungguh, ia benar-benar tidak berani menghadapi pria itu.