Bab 102: Seekor Kucing Liar
Ye Zhao dan Yao Qian mendengarkan percakapan orang-orang itu dengan raut wajah yang tegang.
Wajah Yao Qian tampak sangat pucat. Dia menatap Ye Zhao, tidak tahu apa yang sedang dipikirkan pria itu saat ini.
Ye Zhao berdiri di tempatnya dengan sangat tenang. Matanya sedikit menyipit saat menatap kerumunan orang di depan, lalu tiba-tiba dia tersenyum.
"Yao Qian, pergilah dari sini. Jangan cemaskan tempat ini, hubungi polisi terlebih dahulu."
"Tidak bisa! Orang di sini terlalu banyak, kamu jangan bertindak gegabah!"
Yao Qian menyahut dengan cemas. Namun, Ye Zhao tetap tenang. "Tenang saja. Meski aku sangat ingin menyelamatkan Tuan Muda Zhou, aku tidak bodoh. Jika mereka menyerang bersamaan, aku memang tidak akan sanggup menghadapi mereka sendirian. Karena itulah aku memintamu mencari bantuan, mengerti?"
Ye Zhao berbicara dengan perlahan. Suaranya terdengar lembut namun penuh ketenangan saat meyakinkan gadis itu.
Yao Qian mengangguk dan berkata dengan gugup, "Baiklah, aku mengerti!"
"Cepat pergi!"
"Baik!" Yao Qian menyahut, lalu menatap Ye Zhao sekilas. "Kamu juga harus berhati-hati."
"Ehm."
Perhatian Ye Zhao sepenuhnya terpusat pada Zhou Shaoyang, sehingga dia tidak menyadari keanehan pada sikap Yao Qian.
Sementara itu, hati Yao Qian kacau balau. Dalam kepanikannya, dia tidak sengaja menginjak sebatang ranting kering.
*Krak!*
Bunyi patahan yang nyaring itu seketika membuat tubuh Yao Qian membeku di tempat. Darahnya terasa berdesir dingin.
"Siapa itu?!"
Seketika itu juga, semua orang di dalam ruangan menoleh ke arah luar secara bersamaan.
Ye Zhao dan Yao Qian segera berjongkok serendah mungkin.
Untungnya, area di sekitar mereka gelap gulita, sehingga orang-orang di dalam tidak bisa langsung menyadari keberadaan mereka.
Terlebih lagi, semak-semak liar setinggi manusia tumbuh lebat di sekeliling mereka, sehingga tubuh mereka tersembunyi dengan baik.
Yao Qian merasa sangat tegang, dan tak satu pun dari mereka berani bersuara.
Detik berikutnya, lima orang keluar dari dalam bangunan sambil mengumpat dengan kasar.
"Sialan, ada suara mencurigakan sedikit saja, kami berlima yang selalu disuruh memeriksa."
"Benar-benar merepotkan! Entah apa yang ada di dalam kepalanya!"
"Mana mungkin Ye Zhao berani datang kemari sendirian, kecuali dia sudah gila!"
"Kamu lupa? Waktu perayaan ulang tahun Chen Anhai, pria itu juga nekat menerobos masuk!"
"Gila! Dia benar-benar orang gila!"
Mereka terus mengumpat sambil melangkah maju.
Ye Zhao memungut beberapa kerikil di dekatnya lalu melemparkannya ke arah yang berlawanan.
*Tuk!*
"Siapa di sana?!"
Kelima orang itu serentak menoleh ke arah suara. Pada saat yang sama, Yao Qian segera merunduk dan menyelinap keluar dari semak-semak untuk melarikan diri.
"Ada suara di sebelah sana!"
"Ini taktik pengalihan, ada orang di sini!"
"Cepat kejar!"
Mendengar langkah kaki Yao Qian yang berlari, wajah kelima orang itu menegang dan mereka segera memburu ke arahnya.
Namun, baru berlari beberapa langkah, orang yang berada paling belakang tiba-tiba menegang dan tersungkur ke tanah.
*Buk!*
Suara jatuh yang keras itu mengejutkan keempat orang lainnya.
"Si Kelima, ada apa denganmu?"
"Cepat lihat lehernya!"
Seseorang berteriak dengan lantang. Ketika mereka melihat lebih dekat, tampak sebatang jarum perak menancap di leher Si Kelima.
Darah mengalir dari ketujuh lubang di wajah Si Kelima, napasnya kian melemah. Pemandangan itu sungguh mengerikan.
"Keparat! Siapa sebenarnya yang melakukan ini?!"
*Buk!*
Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, orang lain di sampingnya kembali tumbang.
Luka di tempat yang sama, dengan jarum perak yang sama pula.
Tiga orang yang tersisa segera berjongkok. Mereka menggenggam kapak erat-erat dengan waspada sambil mengawasi sekeliling dengan jeli.
"Bos, Si Ketiga juga tumbang!"
"Si Kedua, Si Keempat, kalian berdua periksa ke sana! Tidak peduli apa pun yang kalian lihat, asal mendengar suara mencurigakan, langsung tebas saja! Mengerti?"
"Mengerti!"
Keduanya menyahut, lalu melangkah perlahan menuju arah tempat persembunyian Ye Zhao...
Di balik sebuah batu besar, Ye Zhao memutar-mutar jarum perak di sela-sela jarinya sambil mendengarkan langkah kaki kedua orang itu yang kian mendekat.
Sementara itu, si Bos memutar ke arah lain untuk melakukan serangan menjepit.
Ye Zhao menyipitkan mata. Setelah mengambil keputusan, dia tiba-tiba mengibaskan tangan dan melesatkan jarum perak dari balik batu.
Si Kedua dan Si Keempat yang melihat kilatan itu segera menjatuhkan diri ke tanah sambil berteriak dengan bersemangat, "Kami melihatnya! Dia di belakang batu!"
"Serang! Tebas dia sampai mati!"
Si Bos berteriak geram lalu berlari mendekat.
Si Kedua dan Si Keempat mengertakkan gigi dan ikut merangsek maju dengan cepat.
Saat mereka bertiga tiba di titik yang sama, tiga kapak telah terangkat tinggi. Ketika mereka saling bertatapan, mereka menyadari bahwa mereka hampir saja saling menebas rekan sendiri!
"Mana orangnya?!"
Si Bos berteriak lantang sambil menunduk mencari-cari dengan teliti.
Di sekeliling mereka memang terdapat jejak rumput yang terinjak.
"Aku..."
Belum sempat kalimat itu selesai, sebatang jarum perak melesat dari semak-semak yang tak jauh dari sana. Jarum itu langsung menancap di leher Si Keempat, membuatnya langsung roboh ke tanah tanpa sempat bersuara lagi.
"Si Keempat!"
Si Bos dan Si Kedua berteriak panik dengan wajah murka. Secara bersamaan, mereka melemparkan kapak di tangan mereka ke arah semak-semak tersebut.
*Plak! Plak!*
Detik berikutnya, sepasang tangan terjulur keluar dari balik semak-semak dan menangkap kedua kapak tersebut dengan mudah.
Keduanya seketika tertegun.
Dari balik rerumputan, sosok Ye Zhao perlahan-lahan menampakkan diri dengan jelas.
"Kamu... Ye Zhao!"
"Kusarankan kalian berdua diam saja. Karena sekali kalian bersuara, kepala kalian akan langsung terpisah dari tubuh."
Ye Zhao berbicara dengan santai, namun kilatan dingin terpancar jelas di matanya.
Si Bos dan Si Kedua tidak ada yang berani bersuara. Mereka hanya bisa saling pandang dengan cemas.
Keduanya mengangguk pasrah. Ye Zhao kemudian melangkah maju perlahan, berniat menodongkan kapak ke leher mereka.
Namun, begitu Ye Zhao bergerak, keduanya tiba-tiba merunduk dan hendak melayangkan pukulan. Naas bagi mereka, si Bos justru menyaksikan kepala Si Kedua terpenggal dan melayang di udara, dengan darah yang menyembur deras ke wajahnya.
Tubuh si Bos seketika membeku bagai ditotok, tidak berani bergerak sedikit pun.
Tubuh Si Kedua yang kini tanpa kepala roboh ke tanah dengan suara berdebum. Darah segar terus menyembur dari pangkal lehernya, menyajikan pemandangan yang amat mengerikan.
"Ada apa di sana? Bagaimana situasinya?!"
Dari dalam gedung terbengkalai itu, seseorang bertanya melalui HT karena mereka tidak kunjung kembali.
Si Bos memegang HT dengan kedua tangannya yang gemetar. Dia ingin sekali berteriak meminta tolong, tetapi dia melihat Ye Zhao sedang menatapnya dengan tatapan jenaka sekaligus mengancam.
Pada saat itu, HT di tangannya terasa bagaikan bara api yang sangat panas.
"Katakan pada mereka tidak ada apa-apa, hanya seekor kucing liar. Tanya mereka apakah mereka mau memakannya."
Ye Zhao berbisik dengan santai.
Si Bos mengangguk cepat dan langsung mengulangi kata-kata Ye Zhao ke HT-nya.
Suara dari seberang HT mengumpat kasar, menanyakan siapa yang sudi memakan kucing liar, lalu menyuruhnya segera kembali.
Setelah itu, sambungan HT terputus.
Si Bos memejamkan matanya dengan pasrah.
Ye Zhao terkekeh kecil sambil menimang-nimang kapak di tangannya. "Kau tidak dengar apa katanya tadi? Cepat kembali ke sana."
"..."
***
Dua puluh menit kemudian.
Di dalam gedung, orang-orang tampak duduk di kursi, di sofa, bahkan ada yang berbaring santai di lantai.
Pemimpin mereka yang bernama Chen Tianhao melayangkan tinjunya ke wajah Zhou Shaoyang sambil mengumpat, "Kalau kau tidak mau menelepon, aku akan terus menghajarmu! Kita lihat seberapa keras kepala dirimu!"
"Tenang saja, Ye Zhao pasti akan menyadari kalau pria ini menghilang. Tunggu saja sebentar lagi, mungkin dia sendiri yang akan datang menyerahkan diri!"
"Kalau dia berani datang, aku akan langsung menghabisinya saat itu juga!"
Chen Tianhao terus mengumpat, sementara anak buahnya berulang kali mengangguk setuju.
Tak lama kemudian, Liu San berjalan kembali dengan ekspresi tegang.
Chen Tianhao berteriak keras, "Kalian berlima benar-benar tidak berguna! Bagaimana bisa kalian dipermainkan oleh seekor kucing?!"
"Jangan-jangan itu kucing liar betina!"
"Kucing liar yang suka mencakar!"
"Hahaha!"
Gelak tawa pun pecah di ruangan itu saat mereka melihat Liu San berjalan mendekat selangkah demi selangkah.
Namun, menyadari mata Liu San yang terus melirik ke sana kemari dengan panik, ekspresi Chen Tianhao langsung berubah. Dia membentak, "Ada apa dengan matamu? Kenapa melirik-lirik seperti itu!"
Belum sempat Liu San menjawab, wajahnya sudah pucat pasi bagai mayat. Sebuah kapak tiba-tiba meluncur dari balik punggungnya dan langsung menyayat lehernya.
"Brengsek!"