Bab 44 Anjing Memandang Rendah Orang Lain
Shen Han mengangguk setuju, “Benar juga, bagaimanapun status keluarga terpandang dan keluarga pengikut memang berbeda.” Shen Han memang sedikit iri, namun ia tak punya pikiran lain, jadi ia bermaksud mengembalikan undangan kotak hitam emas itu kepada Han Yan.
Tak disangka, Han Yan justru mendorongnya kembali sambil tersenyum, “Keluarga Han menerima dua undangan kotak hitam emas. Yang satu ini kami hadiahkan untuk Tuan Muda Sun. Pameran mobil yang diadakan keluarga Qiu di Kota Lian tak semegah yang di ibu kota, tapi tetap merupakan acara langka. Tuan Muda Sun, tak ada salahnya untuk melihat-lihat.”
“Diberikan padaku?” Shen Han terkejut, “Ini... tidak apa-apa?”
Han Yan menjawab dengan tenang, “Tuan Muda Sun, ingatlah, segala milik keluarga Han juga milik Anda. Besok di pameran mobil, silakan datang dan jika ada mobil yang Anda suka, ambil saja. Tak perlu khawatir soal uang.”
Mendengar itu, Shen Han serasa melayang.
Hebat, rupanya yang jatuh dari langit bukan sekadar roti pengganjal lapar, tapi roti isi daging mewah!
Begitu kembali ke Qingyuan Zhai dengan penuh semangat, Shen Han langsung ke kamar membangunkan Su Yun'er.
Su Yun'er sudah tidur hampir seharian. Saat terbangun dan melihat Shen Han, ia masih setengah sadar.
Belum sepenuhnya sadar, Shen Han sudah mendesaknya, “Yun'er, cepat bangun dan ganti baju, kita mau keluar!”
Su Yun'er masih bingung saat digiring ke kamar mandi untuk berganti pakaian, lalu dengan linglung mengikuti Shen Han keluar, dan akhirnya sampai di pusat perbelanjaan terbesar di Kota Lian.
Baru ketika Shen Han menariknya masuk ke butik pakaian “Elegan” yang sangat mewah, Su Yun'er tersadar dan buru-buru menarik tangan Shen Han.
Ia berbisik, “Kamu gila ya! Ini butik Elegan, kita masuk pun tak akan sanggup beli.”
Shen Han baru akan menjawab ketika seorang wanita cantik berdandan menor berjalan melewati Su Yun'er, menatapnya dengan tatapan meremehkan dan sinis.
Melihat itu, Su Yun'er jadi makin tak nyaman.
Meski keluarga Su cukup kaya di Kota Lian, Lin Ru tak pernah rela mengeluarkan uang untuk anaknya. Sebulan paling banyak hanya diberi uang jajan dua-tiga juta. Sementara satu baju di Elegan, paling murah pun seratus juta. Mana mungkin Su Yun'er sanggup?
“Ayo pergi, kita lihat-lihat di tempat lain saja.” Dengan pipi memerah, Su Yun'er menarik Shen Han keluar.
Tapi Shen Han tak bergerak sedikit pun.
Su Yun'er heran dan menoleh, “Shen Han?”
Kenapa seperti patung saja berdiri di sini?
Shen Han tersenyum memanjakan, berkata mantap, “Tak perlu khawatir, kan suamimu di sini.”
Bagi Shen Han yang berpikiran sederhana, memanjakan istri itu dimulai dari membelikan baju terindah dan termahal!
“Pelayan!”
Shen Han tiba-tiba berteriak.
Para pelayan butik Elegan yang mengenakan seragam kerja serempak menoleh.
Melihat pakaian murah yang dikenakan Shen Han dan baju kelas menengah yang dipakai Su Yun'er, sorot mata mereka serempak menampakkan rasa jijik.
Tak ada satu pun yang menghampiri mereka.
Setelah menunggu lama tanpa dilayani, wanita menor yang tadi memandang rendah Su Yun'er melintas di depan mereka dengan langkah anggun bersepatu hak tinggi, melemparkan kata-kata sinis, “Tak tahu diri.”
Orang miskin datang ke butik mewah, benar-benar tak waras.
Su Yun'er mencuit lengan Shen Han, “Ayo pergi saja…”
Wajah Shen Han sudah tak senang, ia berkata datar, “Beginikah pelayanan butik mahal? Menurutku ini toko penipu.”
Mendengar itu, semua orang di butik menatap Shen Han dengan dahi berkerut.
Seorang pelayan yang paling dekat dengan mereka mendengus dingin.
“Maaf, Pak, butik kami hanya menyediakan busana berkelas. Sepertinya, tidak cocok untuk Anda.”
Wanita menor itu memandang jijik pada Shen Han, lalu menoleh pada pelayan itu dengan nada kesal, “Apa-apaan ini? Semua orang boleh masuk? Tak tahu ya, suasana belanja kami jadi terganggu.”
Pelayan yang tadi mengejek Shen Han segera membungkuk minta maaf pada wanita itu, “Maaf, Nona Fang, akan segera kami urus.”
Setelah itu, ia mendekati Shen Han dan Su Yun'er. Berdiri di hadapan mereka dengan wajah dingin, ia berkata, “Maaf, Pak, Anda telah mengganggu bisnis kami. Silakan pergi bersama pasangan Anda.”
Tadi Su Yun'er memang ingin pergi, tapi melihat sikap pelayan Elegan pada Shen Han, ia jadi kesal.
Ia berdiri di depan Shen Han, membela diri, “Kenapa Anda bilang kami mengganggu bisnis? Bukankah pintu toko memang untuk pelanggan masuk?”
Pelayan itu tampak tak sabar, “Benar, kami memang untuk pelanggan, tapi sepertinya kalian bukan benar-benar ingin membeli.”
Mendengar itu, Shen Han makin kecewa pada butik ini.
Toko yang hanya menilai orang dari penampilan, pasti barangnya juga tak sebaik itu. Buat apa buang waktu di sini?
“Yun’er, kita pergi. Tempat seperti ini tak pantas untukmu,” kata Shen Han sambil menarik tangan Su Yun’er.
Tak disangka, Su Yun’er justru berkata tegas, “Tidak, mereka sudah memandangmu rendah, aku harus membalikkan keadaan!”
Mendengar itu, Shen Han terkejut memandang punggungnya.
Wanita bodoh ini tadi ingin pergi, sekarang justru marah dan tak mau pergi?
Shen Han pun menyadari letak kekesalan Su Yun’er, ia pun tersenyum maklum.
Saat itu, Su Yun’er sedang menghitung berapa uang yang ia miliki.
Sebelumnya, ia meminjam sepuluh juta dari ibunya, ditambah satu juta dari Xu Lang, berarti ia punya sebelas juta lebih... Untuk satu baju, ia rela keluarkan semua!
Pelayan itu jelas merasa Su Yun’er hanya ingin membuktikan diri, ia pun mengejek, “Kalau memang sanggup beli, tentu saja kami tak akan mengusir tamu.”
Su Yun’er langsung menarik Shen Han masuk lebih dalam, “Beli ya beli, memang kenapa?”
Pelayan itu sudah yakin mereka hanya ingin pamer, apalagi barusan Shen Han ingin pergi, makin menguatkan dugaannya.
Pelayan itu pun berkata dingin pada Su Yun’er, “Nona, kalau belum yakin hendak beli, mohon jangan sentuh pakaian, takutnya kotor.”
Tatapan Shen Han langsung berubah dingin.
Ia menunjuk wanita menor itu, bertanya dengan nada tajam, “Lalu kenapa dia boleh pegang-pegang semua baju?”
Pelayan itu tersenyum palsu, “Karena Nona Fang adalah pelanggan lama kami. Semua tahu akhirnya ia pasti membeli, jadi ia boleh mencoba sepuasnya.”
“Kami juga pasti beli, tunggu saja!” sahut Su Yun’er dengan emosi.
Ia mempercepat langkah menuju bagian pakaian pria, tangan Shen Han ia tarik, memaksa pria itu ikut.
Pelayan itu pun tetap membuntuti mereka, seperti sedang mengawasi pencuri.
Su Yun’er yang kesal berbisik pada Shen Han, “Nanti kita pilih jas paling murah, jangan sampai mereka meremehkan kita.”
Shen Han tertegun, menunjuk hidungnya sendiri, “Untukku?”
Sambil mengawasi pelayan itu agar tak mendengar, Su Yun’er menjawab, “Tentu saja! Baju semahal ini untukku terlalu mubazir. Sekarang kamu sudah dalam perlindungan Kakek Han, nanti pasti sering ke acara-acara penting. Pas sekali punya jas yang pantas.”