Suaranya serak
Saat terbangun kembali, hari sudah berganti.
Han Ruoli siuman dari rasa pegal di sekujur tubuhnya, bersandar di dalam dekapannya yang hangat.
Ia mulai mencoba berkomunikasi dengan Jimat Biru menggunakan indra spiritualnya.
[Keluar kau, sialan!]
Han Ruoli berteriak di dalam pikiran.
[Hm... Ada apa?]
Jimat Biru menjawab dengan santai, suaranya terdengar seperti bayi yang baru bangun tidur.
[Masih punya muka bertanya ada apa? Kau sendiri tidur dengan pulas!]
Reaksi Han Ruoli terlalu berlebihan hingga tubuhnya sempat berkedut pelan.
Ia melirik pria itu dengan waspada. Bulu matanya yang lentik tampak seperti tertanam di atas matanya, melengkung dengan indah.
Setelah memastikan pria itu tidak terbangun, Han Ruoli baru melanjutkan komunikasinya dengan Jimat Biru.
[Ah! Aku merasakan kembali aura panjang umur!]
Jimat Biru tidak bisa menahan diri untuk tidak berseru, merasa energi dan semangatnya hari ini jauh lebih baik.
[Panjang umur kepalamu.]
Setelah menggerutu demikian, Han Ruoli berniat bangkit untuk mengambil air. Tenggorokannya terasa begitu kering sekarang.
Sial, lain kali ia harus menotok titik bisu pria itu terlebih dahulu sebelum melakukannya. Jika tidak, siapa yang sanggup menghadapi hal seperti ini setiap kali?
Ia merangkak keluar dari selimut dengan pelan, lalu berjalan dengan kaki telanjang dan ujung jari kaki menginjak lantai menuju meja kayu cendana.
Di atas meja tersaji sepiring kue kacang merah, dan di sampingnya terdapat kendi air.
Seolah-olah semua itu telah disiapkan khusus untuknya.
Ia mengulurkan tangan mengambil kendi air itu. Airnya masih hangat, pas sekali saat diminum.
Melirik cangkir teh kecil di dekatnya, ia merasa repot jika harus menuangkannya satu per satu, jadi ia langsung mendekatkan mulut kendi ke bibirnya, sambil menyuap sepotong kue kacang merah.
Sebuah tangan tiba-tiba melingkar di pinggangnya, aroma mint yang familier langsung menyelimuti tubuhnya.
"Ada apa?"
Suara serak pria itu terdengar samar-samar. Han Ruoli menoleh, sepasang mata hitam pekat miliknya menyimpan makna yang dalam.
Han Ruoli berkata dengan nada kesal, "Tenggorokanku sakit!"
Pria itu terkekeh pelan, menyadari suara memang terdengar agak serak. Ia menumpukan dagunya di bahu Han Ruoli dan berbisik di dekat telinganya, "Salahmu sendiri, Little Li, rasanya terlalu nikmat. Ini yang dinamakan... menimpa kaki sendiri dengan batu."
Suaranya tidak begitu keras, namun suara yang lirih itu bagaikan racun mematikan yang meresap ke lubuk hati.
"Teori apa pula itu."
"Aku akan memohon kepada Ayah Kaisar untuk memajukan tanggal pernikahan kita."
Ucapannya yang tiba-tiba membuat Han Ruoli terpaku, wajahnya seketika merona merah seperti baru saja dibedaki.
Melihatnya tersipu malu, pria itu berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Aku akan memberimu pernikahan yang terbaik."
"Si... siapa yang mau menikah denganmu!"
"Kau mau."
"Enak saja, aku sama sekali tidak..."
"Jika tidak menikah denganku, lalu kau mau menikah dengan siapa lagi?"
...
Keduanya bermanja-manjaan di dalam kamar sepanjang pagi, barulah pria itu dengan rela melepaskannya pergi.
Kediaman Perdana Menteri.
Han Ruoli duduk di depan meja, wajahnya sesekali merona merah dan sesekali tersenyum sendiri secara sembunyi-sembunyi.
Pikirannya penuh dengan kata-kata yang diucapkan pria itu tadi.
Tiba-tiba sepasang tangan menempel di keningnya.
"Nona, Anda sakit ya?" Qiyin meraba kening Han Ruoli, lalu meraba keningnya sendiri.
"Tidak panas, lalu kenapa?" gumam Qiyin kebingungan.
Sejak nonanya kembali, Qiyin merasa ekspresinya sangat aneh.
Wajahnya mirip seperti seorang gadis yang sedang jatuh cinta.
Han Ruoli langsung menguasai ekspresinya kembali, "A... aku tidak apa-apa."
Begitu Han Ruoli bersuara, Qiyin menjadi semakin curiga. Sambil memiringkan kepalanya, ia bertanya, "Nona, kenapa suara Anda jadi serak?"
"A... aku sepertinya kebanyakan makan, hehe." Han Ruoli mencari alasan secara sembarangan sambil tertawa canggung.
"Kebanyakan makan?" Qiyin mengerutkan kening.
Apa hubungannya suara serak dengan kebanyakan makan?
"HIK!"
Takut Qiyin tidak percaya, Han Ruoli bahkan sengaja bersendawa.
"Nah... sekarang sudah percaya, kan."