Bab 27: Syuting Seperti Ini Saja
Satu menit kemudian.
Zhang Zhiyue melangkah dengan punggung tegak di belakang Lin Yingzheng.
Dengan wajah penuh kebanggaan, ia menikmati perlakuan istimewa layaknya seorang ratu yang dikawal. Di bawah sorotan mata banyak orang, perempuan itu melangkah dengan tenang dan percaya diri memasuki aula pelayanan Kantor Urusan Sipil.
Kehadiran Tuan Muda Lin dari Jincheng bersama seorang wanita dengan penampilan yang mencolok di kantor catatan sipil adalah berita yang menggemparkan.
Tanpa perlu diperintah oleh Lin Fei, semua orang yang berada di sana tahu apa yang boleh dan tidak boleh dibicarakan.
Aula pelayanan itu tampak lengang. Hanya ada dua atau tiga staf yang berdiri dengan hormat, wajah mereka dihiasi senyum ramah, siap memberikan pelayanan eksklusif bagi tamu agung tersebut.
Tahap pertama, mengisi formulir.
Keduanya hanya membubuhkan tanda tangan di atas formulir kosong.
Tahap kedua, pengambilan foto.
Lin Yingzheng mengangkat tangan memberi isyarat ke depan. Zhang Zhiyue langsung paham dan melangkah dengan patuh ke tempat yang dituju.
Setelah Zhang Zhiyue duduk, Lin Yingzheng bergerak perlahan dan duduk di sampingnya.
Fotografer yang melihat ke arah lensa hampir putus asa.
Kedua orang ini, yang satu berwajah datar, sementara yang lainnya berekspresi terlalu berlebihan. Jika ia langsung menekan tombol rana, hasil fotonya pasti akan terlihat sangat mengerikan.
"Tuan Muda Lin, maaf, apakah Anda bisa sedikit tersenyum?" tanya fotografer itu sembari mengalihkan pandangan dari lensa, memberanikan diri untuk memberi saran.
Mendengar itu, Zhang Zhiyue merasa mendapat dukungan dan langsung berseru, "Mas fotografer, dia memang orangnya seperti ini, tidak bisa tersenyum."
Begitu kata-katanya usai, tatapan mata yang sedingin es langsung menyapu ke arahnya.
"Siapa bilang aku tidak bisa tersenyum?"
"Satu dunia pun tahu. Kalau tidak percaya, coba tunjukkan senyummu sekarang?"
Selain pria dan wanita yang sedang saling tatap di area pemotretan, orang-orang lain yang berada di sana memilih untuk memalingkan wajah, menjauh dari situasi yang canggung tersebut.
Mereka tidak berani membenarkan maupun membantah apakah Tuan Muda Lin bisa tersenyum atau tidak.
Termasuk Lin Fei dan Qiao Wenxuan.
Tuan Muda mereka yang biasanya bijaksana dan berwibawa, tindakannya hari ini benar-benar melampaui pemahaman mereka selama ini.
Karena terlalu banyak waktu terbuang di pintu masuk, kesabaran Lin Yingzheng menipis. Mata hitamnya menyipit sedikit, membuat suasana ruangan yang tadinya hangat karena pemanas mendadak terasa dingin menusuk.
Zhang Zhiyue merasa takut, tetapi demi harga diri, ia tidak mau kalah. Ia mengerucutkan bibir dan mengeluh, "Ini kan surat nikah, peristiwa besar dalam hidup. Masa permintaan kecil dariku saja tidak boleh?"
Setelah berkata demikian, ia memberikan contoh dengan memamerkan delapan gigi putihnya yang rapi.
Lin Yingzheng berkomentar tanpa ampun, "Apa ada yang pernah bilang kalau senyummu itu terlihat konyol?"
"Tidak ada. Semua orang bilang aku cantik dan menggemaskan. Semua orang menyukaiku."
"Mungkin mata mereka sedang buta."
"Kamu..." Zhang Zhiyue hampir meledak karena marah.
Entah kesalahan apa yang ia perbuat hingga membuat sang presiden berwajah dingin ini tidak pernah mengucapkan kata-kata manis kepadanya.
Benar-benar keterlaluan!
Padahal tadi ia sempat merasa tersentuh karena tindakan pria itu menghangatkan tangannya di pintu masuk dan berniat mengucapkan terima kasih.
Setelah beberapa kali berinteraksi, Lin Yingzheng mulai memahami watak Zhang Zhiyue yang akan langsung pergi jika merasa kalah berdebat.
Maka, saat melihat tanda-tanda wanita itu hendak berbalik, ia segera menahan bahunya agar tidak kabur.
"Foto begitu saja."
"Ba-baik, baik, baik," jawab fotografer itu tergagap sambil mengangguk cepat.
Akhirnya, setelah dua kali pengambilan gambar, proses tersebut selesai dengan susah payah.
Zhang Zhiyue berlari kecil ke depan kamera untuk melihat hasilnya sambil bergumam, "Meskipun orang itu tidak kooperatif, untungnya wajah asliku memang cantik, difoto dari sudut mana pun tetap terlihat bagus."
Lin Yingzheng meliriknya dengan tatapan rumit yang sarat akan cibiran, namun Zhang Zhiyue sengaja mengabaikannya.
Setelah sesi foto berakhir, tinggal satu tahap terakhir: penerbitan surat nikah.