Bab 29: Beraninya Kau Mengkhianatiku?
Halaman (1/3)
Sari Wulan sedang berbicara dengan penuh semangat ketika tiba-tiba terdengar raungan menggelegar, membuat jantungnya seakan berhenti berdetak selama beberapa saat.
Ada apa dengan direktur utama berwajah garang ini?
Mengapa setiap kali marah, dia selalu menyuruhnya diam?
Matanya melotot begitu lebar—apa dia hendak memakannya?
Sari Wulan menepuk-nepuk dadanya yang masih berdebar, lalu diam-diam melirik sang direktur utama dari sudut mata.
Sepasang mata hitam pekat dan dalam itu dipenuhi badai amarah yang bergulung-gulung. Ketika menyadari ada tatapan yang mengarah kepadanya, pria itu sedikit mencondongkan tubuh. Sari Wulan sontak ketakutan dan menyandarkan tubuhnya ke belakang.
“Apa yang hendak kaulakukan?”
Setelah mengucapkannya dengan suara gemetar, ia mendongak dan berhadapan dengan wajah garang yang kini tampak jauh lebih besar.
Meskipun gelap dan menakutkan, pria itu tetap saja tampan.
Bibir tipisnya yang sempurna bergerak sedikit. Kalimat yang meluncur darinya terasa sedingin lemari pembeku berjalan.
“Apa maksudmu dengan ‘benar-benar menikah nantinya’? Jangan-jangan kau ingin menduakan aku?”
“Menduakanmu?” Sari Wulan tertegun. Ia bahkan tak sempat lagi mengagumi ketampanan pria itu. Matanya berkedip-kedip besar. “Bukankah ini hanya pernikahan pura-pura?”
Pengulangan kata “pernikahan pura-pura” itu membangunkan pria yang nyaris kehilangan kendali atas emosinya.
Seandainya bukan demi membuat ibunya tenang dan bersedia menjalani operasi, kejadian di kantor catatan sipil tadi tidak akan pernah terjadi.
Surat nikah itu memang sah, tetapi pernikahannya sendiri benar-benar palsu.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Namun, setiap kali membayangkan suatu hari nanti perempuan di hadapannya melakukan ciuman atau bahkan sesuatu yang lebih intim dengan pria lain, amarahnya langsung berkobar hingga ingin membunuh pria itu.
Perempuan yang pernah diciumnya telah diberinya tanda kepemilikan.
Ciumannya, juga dirinya, adalah miliknya.
Kalaupun ia tidak menginginkannya, ia tetap tidak akan membiarkan pria lain menikmatinya.
Begitu pikiran itu muncul, benaknya langsung dipenuhi rasa cemburu yang tak terkendali.
Bahaya kian mendekat. Ketika Sari Wulan menyadarinya, bibirnya telah dibungkam rapat.
Ini sudah ketiga kalinya ia dicium paksa. Dengan panik, ia menggeliatkan tubuhnya.
Pendingin udara di dalam mobil terasa sangat hangat. Begitu naik ke mobil, ia sudah melepas mantel dan membuka kancing teratas blusnya. Kini, sedikit saja ia meronta, sebagian besar lehernya yang seputih salju langsung terlihat. Bagi mata pria yang dipenuhi amarah, pemandangan itu seolah-olah merupakan undangan tanpa suara.
Karena hidangan lezat sudah tersaji di depan mulut, untuk apa ia bersikap sungkan? Jangan sampai pria lain mendapat kesempatan.
Meskipun wajah perempuan kecil itu biasa saja, rasa ciumannya ternyata cukup menyenangkan—sesuatu yang jarang terjadi karena biasanya ia mudah merasa jijik.
Terlebih lagi, bibir mungil inilah yang terus-menerus mengucapkan “pernikahan pura-pura”. Ia harus menerima hukuman!
Suara isapan yang berat membuat telinga terasa panas. Sari Wulan, yang dicium hingga kehilangan arah, hanya mampu merintih dan terisak dengan putus asa, pasrah menanggung tuntutan mendadak sang pria yang begitu mendominasi.
Suhu di dalam mobil terus meningkat.
Penyekat di antara kursi depan dan belakang telah dinaikkan sejak awal, sehingga pengemudi di depan tidak dapat mendengar suara apa pun dari belakang.
Bahkan jika mendengar sedikit, Johan hanya akan berpura-pura tidak mendengarnya.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Setelah bertahun-tahun hidup menahan diri, pria itu sama sekali bukan orang yang tidak memahami urusan asmara. Reaksi naluriah tubuhnya membuatnya semakin tak puas hanya dengan menguasai sepasang bibir merah perempuan itu.
Telapak tangannya yang berjari-jari tegas bergerak turun, lalu menutupi dua puncak yang menjulang. Sentuhan ringan saja ternyata sudah cukup membuat pikirannya beriak.
Melihat tubuh perempuan itu yang kurus dan mungil, bagian-bagian yang semestinya berisi ternyata sama sekali tidak mengecewakan.
Lembut, padat, dan kenyal.
“Ah...”
Bagian tubuh yang tak pernah disentuh siapa pun itu tiba-tiba ditaklukkan oleh seorang pria asing. Sari Wulan menjerit kaget sekaligus malu. Suaranya, ketika sampai ke telinga sang pria, justru terdengar seperti penegasan atas tindakannya. Menembus lapisan pakaian yang tipis, tangannya mulai meremas dengan kuat.
“Jangan... jangan...”
Sari Wulan mulai menangis dan meratap.
Bagian bawah tubuh pria itu telah menegang keras. Rasa nyeri akibat gairah yang membengkak menuntut pelepasan, membuatnya sama sekali tak mampu mendengar permohonan perempuan itu.
Hanya ada satu pikiran dalam benaknya: memiliki perempuan ini sepenuhnya, agar ia tak mungkin lagi menikah dengan pria lain.
Selama tiga puluh satu tahun hidup melajang, bukan berarti tidak ada perempuan yang secara sukarela menawarkan diri kepadanya—termasuk dua tunangannya yang meninggal sebelum sempat melangsungkan pernikahan.
Demi merayunya, perempuan-perempuan itu telah menggunakan segala cara, bahkan sampai memberinya obat secara langsung. Namun, ia tetap tak pernah merasakan minat sedikit pun.
Dan kini, ia benar-benar kehilangan kendali.
Jari-jarinya yang panas bertumpu di pinggang perempuan itu. Dengan sedikit tarikan, pakaian yang menghalangi dapat disingkirkan, sehingga rahasia yang tersembunyi di baliknya bisa dijelajahi lebih jauh.
Halaman (3/3)