64. Bab 64: Apa Artinya Mata Anjing Memandang Rendah Orang
Terlebih lagi, ia dianugerahi kulit yang bagus secara alami. Tanpa riasan pun, ia sudah tampak cantik jelita dan bersih. Menurutnya, semua produk kosmetik mengandung racun, dan terlalu sering merias wajah tidak baik untuk kesehatan kulit.
Alih-alih memakai kosmetik, jauh lebih baik jika sering menggunakan irisan mentimun dan pisang untuk dijadikan masker wajah.
Setelah merapikan diri, Song Xinci mengambil kunci, menyambar tasnya, lalu turun ke lantai bawah. Ia melirik waktu di ponselnya, lalu dengan cepat melangkah keluar dari ruang tamu dan meninggalkan rumah.
Ia mengulurkan tangan untuk mengunci pintu, kemudian berjalan keluar rumah dengan gesit. Saat itu hari masih pagi, jadi ia berjalan santai menyusuri kompleks perumahan.
Karena ia baru saja pindah, ia masih belum begitu akrab dan hafal dengan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, ia berjalan pelan-pelan sambil mengamati keadaan agar tidak tersesat di dekat rumah sendiri saat harus bepergian nanti.
Sebab, semua rumah di sini benar-benar tampak serupa. Selain letaknya yang berbeda, rasanya tidak ada bedanya lagi. Jangan sampai nanti ia salah masuk rumah, tentu itu akan merepotkan.
Pada saat itu, di lantai bawah, seorang wanita tinggi berkacamata tampak sedang menuntun seekor anjing, berjalan-jalan santai di area kompleks. Jelas sekali bahwa wanita itu juga hendak pergi keluar seperti dirinya.
Wanita tersebut melirik pakaian Song Xinci dengan sudut matanya, dan seketika memasang tatapan meremehkan.
Ia sama sekali tidak percaya bahwa di perumahan mewah berkelas tinggi seperti ini, seseorang seperti Song Xinci yang mengenakan pakaian murah dari pasar malam mampu tinggal di sini.
Tentu saja Song Xinci tidak bodoh. Setelah melirik berbagai merek ternama yang melekat di tubuh wanita itu, urat di dahinya pun berkedut.
Dirinya tidak pernah mencari masalah atau memprovokasi siapapun, untuk apa wanita itu memandangnya dengan jijik? Song Xinci adalah tipe orang yang tidak suka mencari perkara, dan ia sama sekali tidak peduli dengan pandangan orang lain.
Bagi Song Xinci, ia sama sekali tidak tertarik pada barang-barang mewah. Pakaian yang bagus dan nyaman dikenakan adalah hal yang paling realistis.
Song Xinci memegang ponsel di satu tangan, sementara tangan yang lain menggenggam tali tasnya, lalu berjalan santai menuju ke luar kompleks perumahan.
"Cih... si miskin..." Suara wanita dari belakang terdengar begitu jelas.
Song Xinci menghentikan langkahnya dan mengorek-ngorek telinganya dengan jari.
"Telingaku ini sepertinya benar-benar bermasalah. Pagi-pagi buta begini sudah mendengar suara lalat yang berdengung kesana-kemari, benar-benar berisik..." Usai berucap demikian, sudut bibir Song Xinci menyunggingkan senyum nakal, lalu ia melangkah pergi dengan langkah lebar.
Wanita di belakangnya justru tertegun sejenak. Ia mendongak untuk mengamati sekeliling, dan tiba-tiba menyadari bahwa orang itu sedang mengumpat dirinya. Seketika itu juga, ia merasa sangat marah.
"Hei, wanita di depan sana, berhenti! Kamu bilang siapa yang lalat?"
Song Xinci pura-pura tidak mendengar dan terus melangkah lebar. Ia benar-benar malas meladeni orang-orang yang memandang rendah orang lain seperti itu.
"Gadis sialan di depan, bergesaslah berhenti!" Wanita itu berlari beberapa langkah sambil menuntun anjingnya, tetapi ia lupa bahwa dirinya sedang mengenakan sepatu hak tinggi setinggi tujuh inci. Akibat ulahnya sendiri yang mencari celaka, pergelangan kakinya terkilir dan ia pun jatuh tersungkur dengan keras ke tanah.
Mendengar suara benturan itu, Song Xinci tidak kuasa menahan perasaan senangnya melihat kesusahan orang lain. Rasakan itu! Sudah kubilang perbuatan buruk pasti akan mendapat balasan!
Begitu cepat!
Mendengar suara jatuhnya saja sudah terasa sangat memuaskan.
Tanpa sadar ia menoleh dan mendapati wanita itu terjatuh ke tanah dengan wajah meringis kesakitan.
"Aduh, Nona, Anda tidak apa-apa?" Song Xinci pura-pura terkejut.
"Wanita jalang, bukan urusanmu! Ini semua gara-gara kamu, kalau tidak, mana mungkin aku terjatuh." Wanita itu bangkit dengan gigi gemeretak karena menahan geram. Sembari berdiri, terdengar suara kain robek, membuat Song Xinci melirik ke arahnya.
Jelas sekali rok ketat bermerek milik wanita cantik itu robek, memperlihatkan celana dalamnya.
Astaga, masih sempat-sempatnya memakai celana dalam berenda, pikir Song Xinci dengan nakal.
"Anu... Nona, rok Anda robek. Kelihatannya itu merek terkenal dan sangat mahal, sayang sekali..." Song Xinci melirik sejenak lalu berkomentar dengan nada menyesal, seolah-olah belum pernah melihat rok sebagus itu hancur sia-sia.
"Tentu saja, ini rok bermerek Chanel." Wanita itu berkata dengan bangga, tetapi ia segera merasakan embusan angin dingin di bagian bawah tubuhnya. Ketika ia menunduk untuk melihat, roknya ternyata benar-benar robek hingga pakaian dalamnya terlihat. Seketika itu juga, wajah wanita tersebut berubah menjadi sangat pucat dan buruk.
"Yah, pakaian merek terkenal ternyata tidak begitu kuat ya. Untung saja aku tidak memakainya. Kalau sampai celana pendekku yang kelihatan, wah, benar-benar... Aduh! Barang dari pasar malam justru jauh lebih baik, kuat dan ekonomis." Song Xinci menghela napas, lalu berbalik dan pergi dengan perasaan gembira yang meluap-luap di dalam hatinya.
Makanya, jangan berani meremehkan orang lain jika tidak ingin dipermalukan.