0155 Bab Masuk Mimpi: Sang Putri Memelihara Pemain Guqin yang Dingin dan Sombong (40)
"Beginilah, sebenarnya menurutku aku dan Yang Mulia Putri bisa dibilang senasib, Yang Mulia... tidak bisa bersatu dengan orang yang dicintai."
"Sedangkan aku tidak memiliki seorang pun yang dicintai, tetapi aku selalu didesak untuk segera menikah, sampai kepalaku pusing dibuatnya."
"Lebih baik Yang Mulia berpasangan denganku saja, pura-pura menjadi kekasihku."
"Dengan begitu, aku tidak perlu lagi mendengarkan desakan menikah, dan Yang Mulia juga tidak perlu khawatir dicurigai orang lain. Dengan cara ini, kita berdua sama-sama memiliki alasan yang jelas."
Su Chi menatap Pei Xingchuan, seolah sedang menebak apa sebenarnya niat di balik perkataan pria itu.
Apakah segalanya benar-benar sesederhana itu?
Su Chi sama sekali tidak tahu, dan tidak pernah menduga, bahwa di dunia ini tidak selalu ada motif tersembunyi dan pertimbangan kepentingan yang rumit. Alasan sebenarnya hanyalah karena Pei Xingchuan telah jatuh hati padanya.
Usai melontarkan kalimat itu, Pei Xingchuan terus mengamati ekspresi wajah Su Chi. Tatapan mata mereka saling terpaut di antara hamparan langit dan bumi yang luas dan berputar, seolah di dunia ini hanya tersisa satu sama lain, dan di mata mereka hanya ada bayangan satu sama lain.
Su Chi merenungkan dengan serius kelayakan dari rencana tersebut.
Lalu ia menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh Pei Xingchuan memang sejalan dengan tujuannya.
Hal ini akan sangat membantu rencana yang telah ia susun.
Su Chi mengatupkan bibirnya rapat-rapat, berusaha keras mengabaikan debaran aneh di lubuk hatinya, dan hanya menganggap Pei Xingchuan sebagai seorang pria bodoh yang bisa dimanfaatkan. Ia pun berkata:
"Kalau begitu, terjadilah seperti yang Kanjeng Pangeran inginkan."
"Kerja sama yang baik."
————————
Su Chi sama sekali tidak berniat membiarkan masalah ini diketahui oleh orang lain terlebih dahulu.
Ia berencana untuk memulainya dari urusan antara Ye Feiyan dan Suyue.
Malam itu juga, Suyue datang ke kediaman Pangeran Wali.
Suyue adalah pelayan pribadi Su Chi, dan tugasnya tentu saja adalah melayani serta merawat Su Chi.
Sepanjang hari, suasana hati Suyue terasa begitu ringan, gembira, dan berbunga-bunga. Setiap kali membayangkan dirinya akan segera berhasil memasuki kediaman keluarga Ye dan menjadi orang kepercayaan di sisi Ye Feiyan, ia merasa sangat bahagia. Meskipun posisi yang diberikan oleh Ye Feiyan bukanlah kedudukan yang tinggi, ia tidak peduli. Baginya, asalkan bisa tetap berada di sisi Ye Feiyan, tidak peduli apa pun bentuknya dan apa pun statusnya, itu jauh lebih baik daripada tinggal di sisi Su Chi dan hanya menjadi seorang pelayan rendahan.
Namun, sang putri ini tetap harus dibujuk dan dilayani dengan baik.
Bagaimanapun juga, Su Chi lah yang telah memberikannya kesempatan emas ini.
Jika bukan karena Su Chi, bagaimana mungkin ia bisa mendapatkan peluang sebaik ini?
Sebenarnya, ada satu hal yang masih mengganjal di benak Suyue.
Yaitu, mengapa Su Chi rela melepaskan kesempatan sebaik itu untuk diberikan kepadanya?
Tentu saja Suyue tahu betapa besar rasa cinta sang putri kepada Ye Feiyan, tetapi pada akhirnya ia justru menyerahkan kesempatan berharga itu begitu saja. Mengapa bisa demikian?
Suyue tidak mampu menemukan jawabannya, namun kata-kata Su Chi berikutnya dengan cepat memperjelas apa sebenarnya yang sedang terjadi.
Begitu melangkah masuk ke dalam kamar, Suyue melihat sosok gadis jelita yang sedang duduk di atas ranjang.
Di hadapan publik, Su Chi menyebarkan kabar bahwa dirinya mengalami cedera akibat terjatuh, itulah sebabnya ia untuk sementara tinggal di kediaman Pangeran Wali. Namun, ketika Suyue mendekat, ia sama sekali tidak melihat tanda-tanda luka gores di tubuh sang gadis; bahkan, Su Chi terlihat semakin memesona dari sebelumnya.
Alangkah sempurnanya hidup jika ia memiliki kecantikan seperti Su Chi.
Sejujurnya, Suyue merasa sangat iri pada sang putri. Kendati demikian, sejak hari kelahirannya, takdir telah menetapkan bahwa jurang pemisah di antara mereka bagaikan langit dan bumi.
Untungnya, ia juga akan segera bersatu dengan Ye Feiyan.
Ia kini telah menjadi wanita milik Ye Feiyan.
Mengingat hal itu, Suyue tidak kuasa menahan rasa bangganya, merasa bahwa kemewahan dan kekayaan kini berada dalam genggamannya.
Tiada seorang pun di dunia ini yang sanggup menolak semua itu.
Namun, di luar dugaannya, raut wajah Su Chi mendadak berubah menjadi jauh lebih dingin saat melihat kehadirannya.
Dengan tatapan tajam dan membeku, Su Chi menatap Suyue yang baru saja melangkah masuk, lalu berseru dingin:
"Berlutut."
Mendadak mendengar perintah itu, Suyue merasa kebingungan dan kehilangan arah. Ia sama sekali tidak mengerti apakah dirinya telah berbuat suatu kesalahan, hingga Su Chi tiba-tiba menyuruhnya berlutut.
Terlebih lagi, sang putri tampak begitu murka.
Meskipun diliputi kabut kebingungan, Suyue tidak berani membantah sepatah kata pun. Secara refleks ia langsung menjatuhkan diri untuk berlutut, lalu menatap Su Chi sambil bertanya dengan nada penuh ketidaktahuan:
"Hamba tidak tahu dosa apa yang telah hamba perbuat hingga membuat Yang Mulia murka. Mohon Yang Mulia Putri berkenan mengampuni hamba."
Meski berucap demikian di bibir, di dalam lubuk hatinya Suyue merasa sangat tidak terima.
Ia telah mencari tahu sebelumnya; meskipun Ye Feiyan dan Su Chi telah dijodohkan sejak kecil, Ye Feiyan sama sekali tidak memiliki perasaan pada Su Chi. Jangankan pertunangan mereka yang kini telah dibatalkan, Suyue tahu persis bahwa orang yang sebenarnya dicintai oleh Ye Feiyan adalah putri dari kediaman perdana menteri.
Suyue telah merencanakan semuanya dengan matang. Untuk saat ini, ia memang harus menuruti segala perintah Su Chi, tetapi begitu ia dan Su Chi sama-sama menginjakkan kaki di kediaman jenderal, situasinya akan berubah drastis.
Seorang wanita yang telah menikah, tentu harus tunduk kepada keluarga suaminya.
Suyue sangat yakin bahwa Ye Feiyan pasti akan tetap menikahi Liu Ruyan untuk dijadikan penghuni kediaman jenderal. Ketika saat itu tiba, ia akan mencari perlindungan di balik kekuasaan Liu Ruyan, sehingga ia tidak perlu lagi menanggung amarah dan kesewenang-wenangan dari sang putri.
Suyue sudah tidak sabar lagi menyongsong masa depan tersebut.
Tanpa perlu melirik pun, Su Chi tahu persis apa yang sedang berkecamuk di dalam benak pelayan berhati ganda itu. Ia mendengkus dingin dan hendak membuka mulut, ketika tiba-tiba pintu kamar terdorong terbuka dari luar.
Pez Xingchuan lah yang datang.
Suyue yang tadinya bersimpuh di lantai segera mengangkat kepala secara diam-diam begitu mendengar suara langkah kaki. Alangkah senangnya hatinya ketika melihat sosok yang masuk adalah Pei Xingchuan.
Tentu saja Suyue tahu bahwa pria itu adalah Pangeran Wali.
Meskipun reputasi sang pangeran di luar sana tidak begitu baik, hal itu sama sekali tidak menyurutkan niatnya untuk mencuri perhatian di hadapan Pei Xingchuan.
Oleh karena itu, ketika Pei Xingchuan berjalan melewati sisinya, Suyue sengaja menyesuaikan posenya agar tampak semakin rapuh dan menyedihkan. Leher jenjangnya ditegakkan dengan anggun, sementara wajahnya menampilkan ekspresi tak berdaya dan teraniaya, seolah-olah Su Chi sedang melampiaskan amarah buta padanya tanpa alasan yang jelas.
Namun, di luar dugaannya, pria itu sama sekali tidak memedulikannya. Jangankan melirik, Pei Xingchuan bahkan berjalan melewati dirinya begitu saja tanpa sudi memandangnya sedetik pun. Seluruh perhatian dan curahan hatinya terpusat sepenuhnya pada mangkuk obat di tangannya serta sang gadis jelita yang tengah duduk di atas ranjang.
Dengan sangat berhati-hati, Pei Xingchuan meletakkan mangkuk obat yang dibawanya ke atas meja di samping ranjang. Bukan karena ia menyayangkan bahan-bahan berharga yang digunakan untuk meracik obat tersebut, melainkan karena ia tidak sanggup membiarkan sang gadis menunggu lebih lama lagi.
Setelah meletakkan obat itu, Pei Xingchuan sekilas melirik ke arah sosok yang sedang berlutut di lantai. Suyue menyadari tatapan sang pangeran yang singgah pada dirinya—meskipun hanya sepersekian detik—namun itu sudah cukup membuatnya diliputi kegirangan yang luar biasa. Berharap Pei Xingchuan akan membela atau mengatakan sesuatu untuknya, ia semakin mempertajam ekspresi malang dan tertindas di wajahnya agar mengundang belas kasihan.
Akan tetapi, di luar segala prediksinya, kalimat pertama yang meluncur dari bibir Pei Xingchuan ditujukan sepenuhnya kepada Su Chi.
Mendengar ucapan pria itu, Suyue merasa seolah disambar petir di siang bolong, tertegun dalam ketidakpercayaan yang mendalam.