Bab 49: Pangeran Pewaris yang Membalas Dendam (19)
Mungkin karena harus menghadapi pembunuh dan kemudian pingsan akibat racun, hal-hal tersebut tetap menguras banyak tenaga Mo Yi. Oleh karena itu, tidak lama setelah mengobrol dengan Bai Yao, ia jatuh tertidur.
Bai Yao menatap Mo Yi yang berada di dalam pelukannya dengan perasaan cemas yang masih menggelayut di hatinya. Ia lantas melepaskan jubah luarnya, berbaring di sisi pemuda itu, dan terus memperhatikan wajahnya yang tengah terlelap.
Melihat napasnya yang teratur serta pipinya yang kembali merona, barulah ketegangan di hati Bai Yao sedikit demi sedikit mereda.
Namun, hari masih terlalu pagi. Setelah tidur sejenak, Mo Yi terbangun karena rasa lapar.
Mengingat mereka berjanji untuk bertemu di rumah makan itu, Mo Yi bahkan hampir tidak menyantap sarapannya pagi tadi. Bebek saus delapan harta dan kaki babi masak merah itu bahkan belum sempat ia cicipi!
"Bai Ren, aku lapar!" Sambil mengusap perutnya, Mo Yi bangkit duduk dan berkata kepada pria di hadapannya.
Mendengar itu, Bai Yao mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa memanggilku Bai Ren? Bukankah kamu sudah tahu bahwa namaku Bai Yao?"
Bagai sambaran petik di siang bolong, pria itu memperhatikan ekspresi terkejut di wajah Mo Yi, membuat suasana hatinya seketika menjadi jauh lebih baik.
Ia mencubit dagu pemuda itu, membuka bibirnya, mengecup ujung lidah Mo Yi, lalu bangkit duduk dan melompat turun dari ranjang. Mengenakan jubah luarnya, ia pun melangkah keluar kamar.
Hanya menyisakan Mo Yi yang menjulurkan lidahnya sambil menatap pintu kamar yang tertutup rapat, merasa sangat kebingungan memikirkan bagaimana caranya Bai Yao bisa tahu bahwa dirinya telah mengetahui identitas aslinya. Padahal ia hanya pingsan sebentar saja!
Tidak lama kemudian, Adipati Ningguo melangkah masuk ke dalam