Bab 50: Dia Sudah Bukan Menantu Tak Berguna Seperti Dulu Lagi
Serangan mendadak yang dilakukan oleh Lin Tingwei seketika membuat Shen Han menjadi pusat perhatian.
"Tingwei!"
Tian Shuyue menjerit, lalu segera memeluk putranya dan menatap Shen Han dengan marah.
"Apa yang kau lakukan pada anakku?!"
Shen Han hanya merasa geli. Jelas-jelas Lin Tingwei yang lebih dulu menyerang, bahkan melakukannya saat ia sama sekali tak waspada, tapi sekarang Tian Shuyue malah menuduhnya.
"Aku hanya memberinya sedikit pelajaran. Tenang saja, bagaimanapun juga kita masih keluarga, aku tidak sampai tega melukainya terlalu parah," jawab Shen Han tenang.
Mata Tian Shuyue memerah, "Bocah kecil yang baru naik daun! Jangan kira hanya karena ada yang membelamu, kau bisa berbuat seenaknya. Suatu hari nanti kau pasti akan menyesal!"
Seorang wanita mengucapkan kata-kata pedas seperti itu padanya, namun hati Shen Han tetap tenang, bahkan hampir tertawa.
"Aku menunggu," ucapnya.
Saat itu, Lin Deyong pun muncul. Di sisinya, ada Lin Desheng dan Lin Wan.
Tadi, Lin Wan terkejut ketika Shen Han mengeluarkan kotak hitam emas, dan reaksi pertamanya adalah mencari ayahnya untuk melaporkan kejadian "tidak biasa" itu. Siapa sangka, dalam beberapa menit saja, Lin Tingwei dan Shen Han sudah saling serang.
Yang lebih membuat Lin Wan terperangah, Lin Tingwei ternyata sama sekali bukan tandingan Shen Han!
Sejak kapan pecundang itu menjadi sehebat ini?
Mungkinkah inilah alasan ayah dan paman melarang mereka memusuhi Shen Han?
Melihat putranya tergeletak di tanah sambil meringis kesakitan, Lin Deyong nyaris ingin membunuh Shen Han.
Namun ia tetap ingat untuk mendahulukan kepentingan keluarga, menahan amarahnya, lalu dengan wajah kelam berjongkok dan membantu anaknya bangkit.
"Kakak, Tingwei terluka. Kami harus mengantarnya ke rumah sakit, jadi kami pamit dulu," ucap Lin Deyong dengan nada berat.
Lin Desheng mengangguk, "Silakan."
Lin Deyong dan Tian Shuyue pun membawa putra mereka meninggalkan tempat lebih awal. Saat melewati Shen Han, tubuh Lin Deyong sempat bergerak seolah hendak memukulnya.
Shen Han sama sekali tidak gentar. Jika Lin Deyong benar-benar berani bertindak, ia tidak keberatan mengirim pria itu menemani putranya di rumah sakit.
Pada akhirnya, Lin Deyong tidak melakukan apa-apa.
Shen Han bukan lagi menantu tak berguna yang dulu tak pernah diperhatikan. Tanpa perlu bergantung pada keluarga Su, kini ia punya orang kuat yang mendukungnya, bahkan keluarga Lin pun tak berani semena-mena terhadapnya.
Jika hubungan Shen Han dengan keluarga Han tidak segera diselesaikan, atau mereka belum menemukan kekuatan yang lebih besar daripada keluarga Han untuk menjadi sandaran, maka keluarga Lin tak mungkin lagi bisa menginjak-injak Shen Han seperti dulu.
Setelah keluarga Lin Deyong pergi, Lin Desheng berkata seolah-olah tak terjadi apa-apa, "Sudah tidak apa-apa, semua bisa bubar."
Para pebisnis dan sosialita yang menyaksikan kejadian itu pun segera bubar, kembali menikmati pameran mobil sport mewah.
"Shen Han, kau benar-benar keterlaluan! Bagaimanapun juga Tingwei adalah sepupumu, kenapa kau tega memukulnya!" Lin Wan menuding Shen Han dengan marah.
"Kalian salah paham, sepupu yang lebih dulu menyerangku. Aku hanya membela diri... setelah itu barulah aku sadar bahwa yang menyerang itu sepupuku," Shen Han dengan mudah melemparkan tanggung jawab pada Lin Tingwei.
Lin Ru tadi sempat ketakutan, kini setelah semua reda, barulah ia sadar dan berang.
Dalam hati Lin Ru, mana mungkin Shen Han bisa dibandingkan dengan keponakannya sendiri?
Maka Lin Ru pun langsung memerintahkan, "Kau harus ikut aku meminta maaf pada Tingwei! Waktu di Hotel Simu kau sudah membuat Tingwei celaka, sekarang malah memukulnya lagi, kau benar-benar lancang!"
Setelah berpikir sejenak, Lin Ru menambahkan, "Tidak cukup hanya meminta maaf! Kau harus menunjukkan penyesalan! Dengar tidak? Nanti walaupun Tingwei mau memukul atau memaki, kau tidak boleh melawan!"
"Ibu! Bukankah sepupu yang lebih dulu memukul Shen Han? Kenapa dia yang harus meminta maaf?" Su Yun'er, yang sebelumnya selalu diam saat dimarahi ibunya, kini dengan tegas membela.
"Bocah tak tahu diri, dipukul sepupu beberapa kali saja kenapa? Mana bisa dia dibandingkan dengan Tingwei?" hardik Lin Ru.
Sambil berkata, ia menoleh pada Lin Desheng, seolah meminta persetujuan, "Kakak, benar kan apa yang aku katakan?"
Semula ia kira sang kakak akan mendukungnya, namun Lin Desheng justru menatap Shen Han dengan ramah, "Memang Tingwei agak terlalu emosional. Kau tak perlu pikirkan."
Kemudian ia berkata pada Lin Ru, "Urusan anak muda, biarlah mereka selesaikan sendiri. Kita sebagai orang tua tak perlu ikut campur."
Lin Ru pun kebingungan, "Kakak, kau..."
Lin Desheng langsung memotong, "Cukup, adik. Jangan bicara lagi. Ini tempat umum. Jaga sikapmu, tadi kau ribut-ribut seperti itu, sungguh memalukan keluarga."
Dimarahi kakaknya, Lin Ru merasa kesal sekaligus tak paham, namun ia tak berani membantah. Meski hatinya penuh amarah, ia tidak berani melanjutkan.
Ia menatap Shen Han dengan penuh kebencian, lalu berkata pelan, "Nanti kita urus urusan kita. Yun'er, ayo pulang sekarang juga!"
Lin Ru pun hendak menarik Su Yun'er pergi.
Namun kali ini Shen Han menahan, berkata tenang, "Ibu, Yun'er datang bersamaku. Kami masih ada urusan, beberapa hari lagi kami akan pulang menjenguk ibu."
"Shen Han, maksudmu apa? Bahkan anakku sendiri pun aku tak bisa urus?" Lin Ru mulai naik pitam lagi.
Lin Desheng kini sudah paham, Su Yun'er adalah satu-satunya yang bisa menahan laju Shen Han. Jika kelak keluarga Lin tak mampu menemukan sandaran yang lebih kuat dari keluarga Han, bisa jadi mereka harus bergantung pada Su Yun'er untuk meredam sikap permusuhan Shen Han pada keluarga Lin.
Setelah menimbang-nimbang, Lin Desheng memutuskan untuk menenangkan Lin Ru.
Dengan nada tegas, ia berkata, "Adik, urusan rumah tangga anak muda, untuk apa kau repot-repot ikut campur? Menurutku, kau sebaiknya pulang lebih awal dan temani suamimu istirahat."
"Tapi, Kakak..." Lin Ru masih ingin membantah.
Namun Lin Desheng langsung menariknya pergi.
Lin Wan hanya bisa menatap ayahnya yang menarik bibinya pergi, lalu menatap Shen Han tanpa berkata-kata.
Beberapa saat kemudian, Lin Wan berkata dengan tak rela, "Tunggu saja! Kakakku sebentar lagi akan pulang, saat itu dia pasti akan membalas perbuatanmu demi Tingwei!"
Setelah berkata demikian, Lin Wan pun berlalu mengejar ayahnya.
Saat itu, Lin Wan sama sekali belum menyadari, ucapannya barusan akan sangat memengaruhi nasib keluarganya.
Dengan keluarnya seluruh anggota keluarga Lin, dunia Shen Han akhirnya tenang kembali.
Ia menoleh dengan penuh perhatian pada Su Yun'er, "Kau tidak terluka, kan?"
Su Yun'er menggeleng, wajahnya murung penuh kecemasan.
Dengan khawatir ia bertanya, "Apa aku sudah membuat ibu marah lagi?"
Shen Han mengelus kepalanya, "Jangan terlalu dipikirkan. Ibu marah-marah padaku juga bukan sehari dua hari. Kalau nanti aku sudah sukses bersama Kakek Han, prasangkanya pasti akan hilang."
Mendengar itu, Su Yun'er baru sedikit tenang dan menghela napas, "Semoga saja."
Saat itu, bahkan Su Yun'er sendiri tak sadar bahwa di lubuk hatinya, ia sudah menerima pernikahan dengan Shen Han.
Untuk mengalihkan perhatian Su Yun'er dan membuatnya kembali ceria, Shen Han mengajaknya melihat mobil-mobil sport yang dipamerkan.
Shen Han menunjuk ke arah kerumunan, mengajak Su Yun'er, "Lihat, di depan banyak orang berkumpul, pasti mobil itu luar biasa. Ayo kita lihat juga."
Su Yun'er tentu saja tidak keberatan.
Mereka pun berjalan ke depan, menyelip di antara keramaian hingga sampai di barisan paling depan. Di sana, mereka melihat sebuah mobil sport berwarna merah muda.
Di depan mobil itu, seorang gadis cantik bertubuh seksi sedang berpose menggoda, menampilkan tubuh indahnya dengan senyum menawan.
Tatapan Shen Han jatuh pada wajah model mobil tersebut, lalu ia terkejut dan mengangkat alis.
Dia?