Dokter Baize
Setelah mandi dan berganti piyama, malam itu Ji Yao tidur bersama Zhao Huanhuan. Kini mereka berdua berbaring di atas ranjang yang luas dan empuk.
“Kamu tinggal sendiri lagi? Aku tadi di jalan bertemu kakakmu, katanya dia tinggal di lantai bawah,” ucap Ji Yao sambil lalu.
Zhao Huanhuan sedang tengkurap di ranjang, membolak-balik catatan yang diberikan Ji Yao.
“Oh... iya, dia memang sudah lama tinggal di sini, dekat dengan kantornya,” jawab Zhao Huanhuan dengan nada acuh tak acuh.
Sepertinya hubungan Zhao Huanhuan dengan kakaknya itu juga tidak terlalu baik. Namun Ji Yao merasa Kakak Zhao tampak cukup peduli pada Zhao Huanhuan.
Haruskah ia mengatakan pada Zhao Huanhuan? Walaupun setiap hari Zhao Huanhuan selalu tampak ceria, tapi Ji Yao bisa merasakan bahwa sebenarnya Zhao Huanhuan tidak seceria namanya. Ia bisa menangkap aura murung dan sedih dari sahabatnya itu.
“Besok aku mau ke Pet Jaya, Yao Yao, mau ikut?” tanya Zhao Huanhuan tiba-tiba.
Ke Pet Jaya buat apa? Bukankah itu toko hewan peliharaan terbesar di kota?
“Tentu saja cari Bai Ze! Ada yang membocorkan di internet, katanya dia kadang-kadang ke klinik hewan itu. Besok kita datang saja, siapa tahu beruntung bisa ketemu.”
“Terus kamu nggak masuk sekolah?” tanya Ji Yao.
“Masuk dong! Absen dulu sebentar, habis itu bisa bolos,” Zhao Huanhuan mengedipkan mata pada Ji Yao, matanya penuh dengan kelincahan.
Ji Yao tersenyum paham, lalu mengambil ponsel dan membuka majalah sains terbaru. Setelah membaca beberapa saat, matanya terasa berat. Secara tidak sadar pikirannya melayang pada Daxian, tidak tahu saat ini Daxian sedang tidur atau bermeditasi.
Membayangkan Daxian bermeditasi dengan serius, sudut bibir Ji Yao terangkat membentuk senyum tipis.
Pada saat yang sama, Xiu Yi yang sedang bermeditasi bersama petir, tiba-tiba bersin.
Petir berkata cepat-cepat, “Kakak, ada yang sedang memikirkanmu.”
Xiu Yi melirik petir dengan dingin dan hanya berkata, “Diam!”
“Baik, Kakak.” Petir pun langsung diam.
Xiu Yi mengerutkan alis, sungguh bodoh...
Ia hampir saja bersin lagi, untung bisa ditahan. Apa benar ada yang sedang memikirkannya? Apakah Ayah dan Ibu Suci di Alam Dewa? Ia juga cukup rindu pada mereka.
Keesokan pagi, saat fajar baru menyingsing, Ji Yao sudah bangun, membereskan diri, lalu turun ke bawah. Di bawah, pengurus rumah sedang membagi tugas membersihkan ruangan.
Melihat Ji Yao turun, pengurus rumah segera menyapa, “Nona Ji, selamat pagi!”
“Bibi Wu, selamat pagi!” balas Ji Yao ramah, lalu melangkah keluar.
Saat itu baru lewat pukul enam pagi, langit sudah terang meski agak berawan. Ji Yao berdiri di taman atap vila, memandang ke luar dari ketinggian.
Sekelilingnya diselimuti kabut tipis, terasa sangat menenangkan seperti di alam dewa.
Ia menyusuri jalan setapak di taman, kebetulan berpapasan dengan Zhao Zhishen yang sedang jogging. Zhao Zhishen tampak sedikit terkejut melihat Ji Yao.
“Kamu bangun sepagi ini!”
“Kak Zhao, pagi!” Ji Yao mengangguk sopan.
“Huanhuan, biasanya tidak pernah bangun sepagi ini,” ucap Zhao Zhishen, matanya penuh senyuman saat menyebut adiknya.
Ia melirik ke arah vila, lalu bertanya pada Ji Yao, “Mau lari pagi bareng?”
Ji Yao menggeleng, “Tidak usah, aku ingin jalan-jalan saja di taman.”
Zhao Zhishen mengangguk, lalu kembali memakai headset dan melanjutkan larinya.
Ji Yao masuk ke dalam taman, menghirup udara dalam-dalam. Udara di tempat tinggi memang terasa segar, dan taman itu sangat indah. Ia melihat sebuah pohon kecil berbunga putih, lalu menyentuh kelopaknya yang bersih.
Saat itulah ia baru sadar pada pergelangan tangannya. Plester yang menutupi lukanya semalam sudah dilepas, dan bekas tanda lahir kemerahan kini berubah bentuk. Warnanya tipis, seperti kelopak bunga.
Apakah itu bekas luka? Bentuknya seperti kelopak bunga, untung saja tidak jelek.
Ia menggerak-gerakkan pergelangan tangannya, tidak merasa ada yang aneh, jadi tidak terlalu dipedulikan.
Setelah berkeliling, ia kembali ke dalam vila. Zhao Huanhuan baru bangun, rambutnya masih berantakan, sedang berbaring di sofa menonton berita hiburan.
Di televisi, sedang ditayangkan kabar terbaru tentang film Li Yue Ru. Seorang wartawan bertanya, “Nona Yue Ru, benarkah anak Anda, Qin Nan, sedang berpacaran dengan teman sekelasnya?”
Li Yue Ru tersenyum manis, “Anak sudah besar, sudah punya pendapat sendiri. Kami sebagai orang tua tidak bisa terlalu banyak ikut campur, jadi saya benar-benar tidak bisa menjawab pertanyaan Anda.”
...
“Wow! Bagaimana ya Li Yue Ru bisa merawat diri, kulitnya lembut banget, kelihatan masih seperti remaja...” Zhao Huanhuan terkagum.
Memang terlihat sangat muda, para bintang perempuan tentu punya cara tersendiri untuk merawat diri, tapi belum pernah ada yang perawatannya sebaik Li Yue Ru. Bahkan gosip mengatakan, dia berperan sebagai teman sekelas anaknya pun masih pantas.
“Nanti kalau kamu rajin tidur lebih awal dan bangun pagi, kamu juga akan selalu awet muda,” ujar Ji Yao sambil tersenyum.
Bibi Wu sudah menyiapkan sarapan. Ia memanggil, “Huanhuan, Nona Ji, ayo sarapan.”
Zhao Huanhuan meregangkan badan, lalu bertanya pada Bibi Wu, “Bibi, ayahku pagi ini datang tidak?”
“Pak Tua tidak datang, Tuan Muda yang datang. Dari pagi sekali sudah jogging,” jawab Bibi Wu sambil tersenyum, lalu menunjuk susu kedelai dan cakwe di atas meja, “Itu tadi juga dibawakan Tuan Muda pagi-pagi sekali.”
Zhao Huanhuan melirik susu kedelai dan cakwe di meja, lalu mendengus, “Buang saja, aku nggak mau makan. Siapa tahu itu beracun!”
Bibi Wu tampak menyesal, “Sayang sekali kalau dibuang, itu kan makanan favorit Nona!”
“Kalau kamu sayang, ambil saja buatmu!” kata Zhao Huanhuan sambil mengambil sepotong roti dan menggigitnya dua kali, lalu bergumam kesal, “Semuanya pura-pura, tukang bohong.”
Ji Yao tidak berkomentar, berpura-pura tidak mendengar apa-apa lalu duduk dan mulai sarapan.
Selesai sarapan, Zhao Huanhuan berangkat ke sekolah. Ji Yao menyetir pulang, menunggu sampai siang untuk bertemu lagi dengan Zhao Huanhuan di depan Pet Jaya.
Kali ini ia berniat membelikan beberapa baju untuk Daxian. Melihat anjing peliharaan di rumah Zhao Huanhuan mengenakan baju-baju lucu, Ji Yao merasa itu sangat menggemaskan.
Entah Daxian di rumah baik-baik saja atau tidak, dan apakah ayah sudah menyiapkan buah-buahan untuknya.
Dengan sedikit kekhawatiran pada Daxian, Ji Yao buru-buru pulang.
Begitu masuk rumah, ia berseru ceria, “Daxian, tuanmu pulang!”
Xiu Yi pun segera melompat keluar dari kantong ransel Ji Yao, masuk ke kamar, berubah ke bentuk aslinya, dan berbaring manis di ranjang kecil yang sudah disiapkan Ji Yao untuknya.
Begitu membuka pintu kamar, Ji Yao langsung melihat Daxian berbaring manis di atas tempat tidurnya.
“Daxian, tuanmu sudah pulang, kamu kangen tidak?” Ji Yao mengangkat Daxian, menarik kedua kaki depannya, lalu menatapnya dari dekat.
Tidak kangen! Bukankah ia selalu mengikuti ke mana pun Ji Yao pergi.
Melihat Daxian yang tampak lesu, Ji Yao mengira Daxian marah karena ia tidak menemaninya, lalu muncul ide nakal. Ia menggelitik ketiak Daxian.
!!!... Gadis kecil ini, berani-beraninya menggelitik ketiakku, benar-benar semakin keterlaluan...
Geli sekali... hahaha...
Xiu Yi tidak tahan, akhirnya tertawa juga...
Ji Yao pun melihat seekor anjing yang sedang tertawa terpingkal-pingkal.
Daxian tertawa sampai matanya menyipit seperti bulan sabit, dengan deretan gigi putih yang rapi dan tajam.