5, Mirip Anjing Namun Bukan Anjing
Dengan helaan napas ringan, Ji Yao tersadar dari kekecewaannya dan melangkah maju dengan penuh percaya diri. Samar-samar ia mendengar percakapan antara Su Yuying dan Qin Nan di belakangnya.
Su Yuying berkata, “Yang barusan menabrakmu itu Ji Yao, juara satu di sekolah kita.”
“Aku tidak kenal,” jawaban Qin Nan tetap dingin dan acuh.
Ji Yao menuju garasi, tempat parkir yang hanya dipenuhi mobil-mobil milik siswa biasa. Sekarang para orang kaya lebih sering naik pesawat, hanya orang-orang biasa sepertinya yang masih datang ke sekolah dengan mobil, itupun mobil paling murah.
Ia naik ke mobilnya dan langsung pulang. Dalam perjalanan, ia melewati sebuah toko hewan. Setelah berpikir sejenak, ia menepi dan memarkirkan mobil di pinggir jalan.
Toko itu cukup besar, ada pusat belanja hewan, klinik hewan, hingga salon. Semua kebutuhan untuk hewan tersedia di sana.
Ji Yao mendatangi seorang konsultan hewan, mengeluarkan ponsel, dan memperlihatkan gambar sambil meminta pendapat.
Konsultan itu mengamati dengan teliti, lalu mencari-cari di komputer cukup lama, kemudian menggeleng, “Saya juga tidak tahu itu campuran ras apa.”
“Mungkin bukan anjing, bisa jadi hewan liar. Saya sarankan bawa saja ke lembaga perlindungan satwa langka nasional,” saran sang konsultan dengan ramah.
Ji Yao mengucapkan terima kasih, lalu menuju bagian belanja. Ia membeli cairan pembersih bulu, makanan anjing, gunting bulu. Ia berniat memandikannya setelah pulang, siapa tahu setelah bersih kelihatan lebih bagus.
Apa pun itu, anjing atau bukan, yang penting dibersihkan dulu.
Tak lama setelah Ji Yao pergi, dokter hewan Bai Ze datang ke toko itu.
Toko hewan ini memang didirikan oleh Bai Ze, seorang dokter hewan yang sangat piawai. Sejak ia membuka toko ini, banyak wanita datang membeli hewan, terutama para sosialita dan gadis-gadis kaya, bahkan banyak yang setiap hari membawa hewan peliharaan mereka untuk diperiksa.
Untuk menghindari para wanita yang mengaguminya, Bai Ze biasanya hanya datang satu-dua kali sebulan, dan kedatangannya pun acak.
Hari ini, Bai Ze tiba-tiba datang, membuat para pegawai wanita di toko itu berdebar-debar, semua memikirkan cara untuk bisa berbicara dengannya. Namun Bai Ze langsung menuju ke arah klinik hewan tanpa memperhatikan tatapan penuh minat di sekitarnya.
Tiba-tiba, seorang gadis menghadang jalannya dan berkata dengan cepat, “Dokter Bai, saya ingin bertanya sesuatu.”
Bai Ze berhenti, tersenyum tipis, lalu melirik nama di kartu identitas yang tergantung di dada gadis itu, dan menyapa dengan ramah, “Xiao Lin, mau tanya soal apa?”
Xiao Lin adalah konsultan hewan yang tadi dimintai pendapat oleh Ji Yao.
Sebagai konsultan hewan, ia merasa gagal karena ada jenis hewan yang ia tidak ketahui. Kebetulan hari ini bertemu Bai Ze, ia merasa ini kesempatan emas untuk mengajak bicara idolanya.
“Ada seorang gadis yang tadi tanya saya soal jenis seekor hewan. Kelihatannya seperti anjing, tapi bukan anjing. Saya sudah cek semua data, tetap tidak tahu itu ras apa.”
Toko hewan ini hanya mempekerjakan konsultan lulusan terbaik, semua sudah mendapat pelatihan tinggi, dan komputer toko sudah berisi data seluruh spesies flora dan fauna dunia.
“Ada fotonya?” tanya Bai Ze.
Xiao Lin menepuk dahinya. Ia lupa meminta foto.
Melihat raut wajah kecewa Xiao Lin, Bai Ze tahu gadis itu pasti tidak punya fotonya. Mungkin hanya alasan agar bisa mengajak bicara.
Xiao Lin masih ingin bicara lebih lama, buru-buru menjelaskan, “Coba saya gambarkan saja. Hewannya seukuran anjing kecil, bulunya abu-abu gelap, matanya sangat aneh, ungu pekat seperti anggur, di kepala ada dua tanduk, ekornya panjang, bulunya lebat dan tebal, bentuknya memang aneh tapi mirip anjing.”
Bai Ze mendengarkan dengan seksama, wajahnya menunjukkan tanda-tanda berpikir, namun ia tetap ragu. Ia belum yakin sepenuhnya.
“Kalau pelanggan itu datang lagi, segera hubungi asistennya saya,” kata Bai Ze, lalu langsung berjalan ke arah klinik.
Baru saja ia pergi, sekelompok pegawai wanita langsung mengerumuni Xiao Lin, bergosip ingin tahu apa yang terjadi.
Sementara itu, Ji Yao sudah memarkir mobil di garasi, naik lift dan menekan tombol lantai 20. Ia tinggal di lantai dua puluh dari delapan puluh lantai. Semakin tinggi lantainya, semakin mahal harganya. Orangtuanya membeli apartemen ini dengan cicilan yang masih berjalan sampai sekarang.
Sesampainya di rumah, waktu sudah menunjukkan pukul lima, biasanya ia sudah sampai pukul empat, tapi hari ini terlambat di jalan.
Dengan tergesa-gesa, ia masuk ke kamarnya. Ia masih memikirkan makhluk kecil yang kemarin ia bawa pulang. Ia tidak tahu apakah makhluk itu masih hidup atau tidak. Semalam ia hanya sempat membalut lukanya secara sederhana, lalu menaruhnya di dalam kotak kardus di bawah ranjang.
Ji Yao menarik kotak kardus itu keluar. Makhluk kecil itu sama sekali tak bergerak, tampak tak bernyawa. Sosis yang ia taruh di sampingnya juga utuh tak tersentuh.
Jangan-jangan sudah mati? Ji Yao merasa sedikit menyesal, seandainya semalam ia langsung membawanya ke dokter, mungkin lain ceritanya. Ia diam-diam mengucap belasungkawa dalam hati, berniat akan menguburnya sebentar lagi.
Tiba-tiba makhluk kecil di dalam kotak bergerak, kedua kakinya menendang-nendang. Ternyata belum mati.
Hati Ji Yao langsung membaik. Ia membawa kotak itu ke kamar mandi, meletakkannya di bangku kecil. Ia mencari baskom yang jarang dipakai, menyalakan pancuran air dengan suhu yang pas.
Lalu, ia mengangkat makhluk kecil itu ke baskom, membasuhnya dengan air pancuran. Ia ingin membersihkannya dulu sebelum mencari orang yang mau memeliharanya.
Setelah menempuh perjalanan jauh, terluka, sebagai seorang dewa suci, ia hampir saja mati. Xiu Yi sedang bermimpi aneh ketika tiba-tiba seluruh tubuhnya basah, merasa seperti tenggelam, sontak membuka mata dan menggerakkan keempat kakinya ke atas.
“Haha... akhirnya kamu bangun juga,” Ji Yao menatap makhluk kecil di tangannya yang berusaha menepis dengan empat cakar gemuknya, merasa sangat lucu.
Xiu Yi menoleh ke arah suara itu. Di hadapannya ada wajah putih dan lembut dengan senyum ceria, mata yang bersinar terang seperti langit malam di Gunung Penglai. Siapa gadis kecil ini, berani-beraninya memeluknya seperti itu? Benar-benar gadis yang tidak tahu malu.
Sebagai dewa suci, tubuh sucinya belum pernah tersentuh oleh wanita, ia menggerakkan keempat kakinya, berusaha keras melepaskan diri dari genggaman gadis itu.
“Eh, jangan bergerak dong, aku mau mandiin kamu biar bersih,” Ji Yao menaruh pancuran, lalu menepuk-nepuk pantat makhluk kecil itu.
Xiu Yi yang sedang berusaha lepas tiba-tiba tertegun oleh tindakan gadis itu. Sebuah suara dalam hatinya terus bergaung: pantatnya disentuh oleh orang lain, disentuh...
Merasa dipermalukan seperti itu, Xiu Yi marah, mengeluarkan suara geraman dari tenggorokannya, memperlihatkan gigi-gigi tajam, dan hendak menggigit lengan gadis itu.
Namun tiba-tiba gadis itu menahan mulutnya dan menggaruk dagunya. Aneh, rasanya sangat nyaman. Xiu Yi yang semula ingin menggigit, malah terlena dengan rasa nikmat itu, hampir lupa niatnya.
Manusia memang sulit dipahami, bisa dengan cepat menemukan kelemahannya. Ia ingin melawan, ingin mengembalikan martabat seorang dewa suci, tetapi sekarang ia terlalu nyaman untuk bergerak. Lalu, apa yang harus ia lakukan?