Rencana terbuka? Ini sama saja memaksa bajingan ini!
Sebuah kunci biru dimasukkan, dan pintu sel terbuka dengan sangat mudah.
Tanpa sempat memikirkan apa pun, Zhang Dabiao segera menerobos masuk dan menggendong Lu Yue di punggungnya.
Pemilik penginapan itu tertegun sejenak, "Kalian... kalian berencana keluar bagaimana?"
Zhang Dabiao tersenyum, "Mau bagaimana lagi, sialan, tentu saja dengan cara bertarung keluar!"
Lin Zhong memimpin di depan, sementara Zhang Dabiao menggendong Lu Yue di belakangnya.
Dua tembakan berturut-turut meletus saat Lin Zhong merobohkan dua penjaga, lalu langsung menerobos maju menuju gerbang utama.
"Cepat!" teriak Lin Zhong dari depan.
Sekarang adalah saatnya mengandalkan kecepatan. Ini sudah larut malam, dan sebagian besar tentara Jepang seharusnya sedang tidur. Selama mereka bisa menerobos sebelum musuh sempat bereaksi, maka semuanya akan baik-baik saja!
Lin Zhong menggunakan dua pistol Desert Eagle emas di tangannya untuk merintis jalan, hanya butuh beberapa rentetan tembakan untuk menghabisi para tentara boneka tersebut.
Sekelompok sampah, keberadaan mereka pun tidak ada gunanya.
Tidak butuh waktu lama, mereka bertiga sudah mendobrak sampai ke ambang gerbang utama penjara.
Lin Zhong menunduk dan melirik jam tangannya. Belum ada tiga menit. Waktu ini sangat pas; bahkan jika tentara Jepang mendengar suara tembakan, mereka pasti tidak akan sempat tiba tepat waktu.
Dan pada saat itu, mereka sudah lama keluar dari gerbang kota.
Namun, tepat saat rencana berjalan lancar dan mereka hampir keluar dari gerbang penjara, tiba-tiba Lin Zhong mendengar suara derap langkah kaki.
*Tep, tep, tep, tep, tep...*
Lin Zhong terkejut, "Suara sepatu lars tentara Jepang. Gawat!"
Begitu ia mendongak, ratusan tentara Jepang dengan senjata teracung sudah mengepung dan memblokade pintu gerbang penjara.
Seorang perwira Jepang bernama Sanya melangkah maju dengan angkuh ke pintu utama penjara, menatap lurus ke arah Lin Zhong dan kawan-kawan dengan senyum licik di wajahnya.
"Yoshi, nyali kalian... sangat besar," ucap Sanya.
Lin Zhong menggertakkan giginya.
"Keparat, ternyata mereka sudah lama menunggu di sini."
Ini bisa dibilang sebagai intrik yang terang-terangan, sebuah jebakan yang disengaja. Lantas, mengapa harus takut?
Meskipun tahu ini adalah sebuah lubang maut, Lin Zhong tetap akan melompatinya. Nyawa manusia harus diselamatkan. Jangankan Kabupaten Zeshui yang kecil ini, bahkan Kota Taiyuan pun akan ia terjang tanpa ragu.
"Banzai! Tangkap mereka hidup-hidup!" Sanya mengangkat pedangnya tinggi-tinggi sebagai aba-aba. Selama mereka bisa menangkap orang-orang ini, petunjuk mengenai giok kekaisaran pasti akan didapatkan.
Pemilik penginapan di sampingnya langsung berlutut di tanah, "Yang Mulia, saya... saya ini sepupu kepala penjara, rakyat yang sangat taat..."
*Dor!*
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Lin Zhong mengirimnya menghadap leluhurnya dengan satu tembakan.
"Bajingan!"
"Zhang Dabiao, kembali ke dalam sel! Aku yang akan berjaga di sini, jangan biarkan satu pun tentara Jepang berani masuk, sialan!" bentak Lin Zhong dengan suara serak.
"Baik, aku akan segera kembali membantumu!"
Ia tadinya berniat mengeluarkan senapan Gatling api biru, namun mendapati kenyataan...
Sialan, benda itu sedang dipinjam oleh Yan Shuangying.
Bertarung sampai mati!
Ia segera mengganti pistolnya dengan dua pucuk senapan serbu AK.
Tentara Jepang menyerbu bagaikan air bah, masing-masing mengacungkan bayonet, jelas-jelas bermaksud menangkap mereka hidup-hidup.
"Banzai!"
Baiklah, kalau begitu jangan salahkan aku jika bertindak kejam!
*Dadadadadadada...*
Lin Zhong seorang diri menjaga pintu keluar blok sel, membantai musuh dengan dua senjata di tangannya.
Sanya terpaku. Dari mana pula datangnya senjata-senjata ini, sialan!
"Serbu!"
Ia sangat membenci orang di hadapannya sampai ke tulang sumsum, namun ia tetap merasa sayang untuk menggunakan artileri.
Zhang Dabiao berlari keluar dari dalam sel. Saat melihat pemandangan di hadapannya, matanya hampir copot karena terkejut.
Belum sampai lima menit, sebagian besar tentara Jepang telah bertumbangan.
"Pegang ini, untukmu," kata Lin Zhong sambil melemparkan senapan AK kepada Zhang Dabiao.
Bagi Zhang Dabiao yang baru pertama kali menggunakan benda ini, terjangan sentakan senapannya membuat bahunya terasa ngilu dan kebas.
AK-47.
Setengah jam berlalu, tentara Jepang telah mundur ke luar gerbang penjara, dan tidak ada seorang pun yang berani maju lagi.
Sanya menggertakkan giginya. Sialan, ini benar-benar seperti melihat hantu! Hanya dua orang, tapi berhasil menghabisi lebih dari seratus tentaranya!
"Keparat!"
"Pasukan artileri, bersiap untuk menembak!"
Sanya meraung marah. Kalaupun arah ledakannya sedikit meleset, paling-paling nanti mereka tinggal menyelamatkan orang yang dicari itu.
...
Di luar kota, Zhou Weiguo telah lama memimpin resimen artileri dan resimen tank bersembunyi di dalam hutan.
Chen Qing mendekat, "Komisaris Politik, mari kita bertindak sekarang. Ada suara tembakan, pasti Kepala Resimen dan yang lainnya sudah mulai bertempur!"
Zhu Zi juga mengangguk setuju, "Benar, Komisaris Politik. Jika kita tidak segera bertindak, saya khawatir Kepala Resimen akan benar-benar dalam bahaya."
Zhou Weiguo tersenyum tipis, "Kalian begitu tidak percaya pada kepala resimen kalian?"
Chen Qing dan Zhu Zi tertegun sejenak. Kalau soal percaya atau tidak, orang yang paling mereka percayai di dunia ini tentu saja adalah Lin Zhong.
Lin Zhong seorang diri mampu menahan ribuan pasukan—itulah penilaian para prajurit di dalam resimen terhadap dirinya.
Zhou Weiguo berkata, "Meskipun aku baru bergabung tidak lama, aku sangat percaya padanya. Kabupaten Zeshui yang kecil ini tidak akan mampu menahan Lin Zhong!"
Kedua orang di belakangnya mengangguk. Kalau begitu, mereka tinggal menunggu sinyal!
"Tentara Jepang keparat, asal Kepala Resimen mengalami sedikit saja luka, batalyon artieriku akan meratakan seluruh kabupaten ini menjadi berkeping-keping!" ucap Zhu Zi dengan gigi kertak. Nyawa Kepala Resimen adalah sesuatu yang tidak boleh diinjak-injak oleh siapa pun di dunia ini.
Siapa pun tidak boleh! Siapa pun, sama sekali tidak boleh!
Begitu suarar suar meluncur ke udara, itulah saatnya untuk melakukan penyerangan!
...
Di pintu masuk sel, Sanya telah mulai menyiapkan mortir.
Tiga pucuk mortir dipasang berdampingan di atas tanah.
Zhang Dabiao mulai merasa panik, "Kepala Resimen, bagaimana ini? Orang-orang Jepang ini benar-benar tidak tahu aturan perang, mereka mau pakai meriam!"
"Jangan-jangan bangunan sel ini bisa runtuh berkeping-keping karena beberapa tembakan meriam itu."
Ini adalah penjara peninggalan Dinasti Qing yang sudah tua dan kurang perbaikan.
Lin Zhong menggertakkan giginya, "Baiklah, mau main meriam, ya? Tidak tahu aturan, bukan?"
"Kalau begitu, jangan salahkan aku."
Sambil berkata demikian, ia memanggul sebuah peluncur roket RPG di bahunya!
Zhang Dabiao terperanjat kaget, "Ya ampun!"
"Kepala Resimen, apakah engkau ini seorang pesulap?!"
Dalam benak Zhang Dabiao, tampaknya hanya para pesulap yang ia tonton di masa kecilnya yang bisa memunculkan berbagai benda secara misterius. Saat ini ia sangat curiga bahwa Lin Zhong dulunya adalah seorang pesulap.
Lin Zhong tersenyum, "Bagaimana cara atasinya?"
"Tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh satu tembakan RPG!"
"Jika masih ada, maka tambahkan satu tembakan lagi!"
Sambil berbicara, bahkan sebelum tentara Jepang sempat mengisi amunisi meriam mereka, Lin Zhong telah menarik pelatuknya.
*Bum!*
*Dor!*
Sebelum tentara Jepang sempat bereaksi, Lin Zhong kembali memasukkan amunisi dan menarik pelatuknya untuk kedua kalinya!
*Bum!*
Dua tembakan peluru roket tersebut menghancurkan gerbang penjara beserta para prajurit artileri Jepang menjadi berkeping-keping!
Sanya dengan cepat menjatuhkan diri ke tanah, berkat itu ia berhasil lolos dari maut.
Sanya merangkak bangkit dengan penampilan yang sangat berantakan, wajahnya penuh dengan keheranan dan keterkejutan, "Baka!"
"Dari mana sebenarnya keparat ini berasal..."
Sanya tersenyum dingin. Tidak masalah, masih ada pasukan dalam jumlah besar yang sedang dalam perjalanan kemari, setidaknya ada seribu orang. Bahkan jika harus menguras tenaga, mereka pasti bisa melelahkan kedua orang ini sampai tak berdaya.
Melihat semakin banyak tentara Jepang yang berdatangan, kulit kepala Lin Zhong pun mulai terasa agak merinding. Tampaknya keparat-keparat ini benar-benar mengerahkan kekuatan besar. Secara normal, jumlah penjaga di dalam sebuah kota kabupaten tidak akan melebihi satu kompi, tetapi ini sudah hampir mencapai seribu orang.
Sanya maju dengan angkuh dan berteriak, "Yang Mulia!"
"Cepat letakkan senjata kalian, Kekaisaran memperlakukan tawanan dengan baik!"
*Cih!*
Zhang Dabiao tidak dapat menahan diri untuk meludah.
Perlakuan baik pada tawanan, katanya? Mereka berbicara tentang perlakuan baik di dalam penjara seperti ini, lihat saja bagaimana Lu Yue disiksa, lalu berani-beraninya berbicara tentang perlakuan baik pada tawanan.
"Keparat ini benar-benar menjijikkan, aku sudah tidak tahan lagi, Kepala Resimen!" maki Zhang Dabiao.
Lin Zhong melangkah maju, menyapu pandangannya ke sekeliling kerumunan musuh. Seribu lebih tentara Jepang memblokade tempat ini dengan rapat.
Jepang ternyata masih tetap tidak tahu malu seperti biasanya, mengerahkan seribu orang hanya demi menangkap dua orang.
"Baguslah, tadinya aku tidak ingin membuat keributan besar. Cukup biarkan aku menyelamatkan orang dengan baik dan semuanya selesai."
"Kalian sendiri yang memaksa."
Sambil berucap demikian, Lin Zhong mengangkat tangannya dan melepaskan tembakan ke udara. Sebuah suar berwarna merah muda melesat ke angkasa.