Bab Empat Puluh Enam: Tiga Kesalahan
Bagi mereka yang belum pernah memainkan gim itu, “SMA Negeri Pertama Tokyo” barangkali hanyalah sekolah unggulan, isinya paling-paling hanya anak-anak orang kaya atau pejabat, tidak ada yang istimewa. Namun bagi Ryuto yang telah menamatkan “Album Merah 2: Tak Ada yang Tersisa”, sekolah ini tak ubahnya sarang iblis, tempat bersemayamnya segudang monster yang cukup mengguncang Tokyo, Jepang, bahkan dunia.
Selain tiga nona yang segera dijuluki “Tiga Keluarga Besar”—dua tokoh utama perempuan dan satu lagi yang akan pindah seminggu kemudian—para murid lainnya pun bukanlah orang sembarangan. Contohnya, Akechi Goro, putra kedua Kepala Kepolisian Metropolitan Tokyo, yang di mata publik adalah siswa kelas tiga populer, namun di dunia maya dikenal sebagai “Detektif Siber” yang menghukum pelaku kejahatan di internet.
Pria ini mampu mengendalikan kekuatan jaringan bak mempermainkan tangan sendiri, memecahkan berbagai kasus pelik tanpa perlu keluar rumah, dan berkat latar keluarganya, identitasnya pun tertutup rapat. Dia benar-benar luar biasa.
Ada pula Takahara Masato, siswa kelas satu yang baru masuk. Di permukaan tampak pendiam dan tak pandai bergaul, namun diam-diam ia adalah “Iblis Bisnis” legendaris. Ia tak pernah menampakkan diri, cukup mengendalikan segalanya lewat ponsel, menjadi konsultan lima perusahaan terbuka sekaligus, membuat semua usaha itu berkembang pesat.
Dua tokoh luar biasa ini, di akhir cerita gim, menjadi kekuatan utama kelompok protagonis, ikut bersama tokoh utama dan Ruri menantang “Grup Tenmoku”. Barangkali demi membentuk tim yang sanggup mempengaruhi urusan negara sejak usia sekolah, penulisnya sengaja menciptakan murid-murid “BUG” semacam ini, yang kerap menuai kritik dari para pemain.
Namun bagi Ryuto yang kini benar-benar berada di dunia gim, keberadaan “BUG” macam ini justru memberinya banyak kemudahan.
Karena itulah, setelah memasuki “SMA Negeri Pertama Tokyo”, tiga tokoh penting yang harus ia dekati dan jalin hubungan baik adalah Akechi Goro, Takahara Masato, serta Yungane, putri kedua dari keluarga besar Tsukimi.
Dengan bantuan ketiga orang hebat ini, masa depan “Kelompok Naga” pasti akan berkembang pesat, sehingga target dua tahun dapat tercapai.
“Oh, begitu rupanya... Sungguh ide yang tidak buruk,” gumam Ruri sambil mengangguk setelah mendengar penjelasan Ryuto. Ia menganggap rencana itu masih masuk akal.
Meski ia tidak tahu kegunaan Akechi Goro dan Takahara Masato, ia cukup mengenal Yungane, putri keluarga Tsukimi. Yungane, bisa dibilang, jika bersedia membantu Ryuto, maka apapun yang dilakukan Ryuto pasti akan berjalan lancar—perempuan itu memang bak penyihir yang membawa keberuntungan.
Namun... tentu saja, segalanya tidak sesederhana itu.
Mendengar sampai di situ, Mai yang ada di samping mereka langsung tersenyum sinis, “Idemu bagus, tapi sayang, statusmu terlalu buruk. Selain nona besar yang berhati mulia, rasanya tak banyak orang yang mau bergaul denganmu, bukan?”
Ucapan Mai memang tidak enak didengar, namun begitulah realitanya.
Ryuto adalah putra ketua “Kelompok Naga”, calon pemimpin generasi kedua. Identitas yakuza semacam ini, di mata orang normal, selain dianggap anjing gila, takkan ada sebutan baik yang melekat padanya.
Karena itu, selain Ruri, kebanyakan orang pasti akan menghindari Ryuto sejauh mungkin.
Ryuto tentu memahami hal ini, namun tetap saja ia harus mencobanya. Bagaimanapun, waktu yang ia miliki hanya dua tahun, ia harus segera membawa “Kelompok Naga” ke jalur yang benar.
Maksud “jalur yang benar” adalah, selain mengandalkan cara lama seperti pungutan perlindungan, ia harus mencari sumber pendapatan baru.
Menurut Ryuto, jika “Kelompok Naga” terus menempuh cara lama, mustahil mereka bisa berkembang.
Gambaran masyarakat tentang yakuza Jepang yang gagah berani, rantai emas besar, jam tangan emas, makan sate tiga kali sehari, itu hanyalah ilusi semata.
Hukum Jepang memang mengakui yakuza sebagai entitas legal, namun itu bukan berarti mereka bebas melakukan kejahatan.
Bahkan, sejak diberlakukannya Undang-undang Penanggulangan Organisasi Kekerasan, yakuza kini telah terjepit di tepi jurang.
Walaupun legalitas mereka diakui, banyak sekali pembatasan keras yang diberlakukan.
Contohnya, anggota “kelompok kekerasan tertentu” tidak boleh membuka rekening bank.
Pengembang properti atau agen perumahan berhak menolak atau membatalkan kontrak tempat tinggal anggota kelompok tersebut kapan saja.
Siapa pun yang terlalu sering bergaul dengan mereka, misalnya makan bersama, berkumpul, bepergian, atau main golf berulangkali, akan masuk daftar hitam.
Banyak peraturan serupa, yang akhirnya benar-benar menekan kekuatan organisasi itu hingga di ambang kehancuran.
Tanpa rekening bank, tak bisa bekerja sama dengan perusahaan resmi, orang biasa pun enggan mendekat agar tidak terseret masalah.
Pembatasan sekeras ini membuat kelompok besar itu benar-benar terisolasi dari masyarakat.
Mengapa aktivitas “Kelompok Naga” kebanyakan hanya di sekitar “Distrik Kamuro”? Karena hanya di tempat inilah yakuza tidak dipandang sebelah mata.
Tokyo memang luas, namun tak ada ruang bagi yakuza di sana. Inilah kenyataan yang membuat Kiryu Kazuma dan Fujiki Yoshio tak ingin Ryuto terjun ke dunia yakuza.
Yakuza Jepang adalah industri yang sekarat, kumpulan manusia lemah yang hidup dalam bayang-bayang gelap nan rapuh.
Jika suatu hari nanti “Distrik Kamuro” musnah, maka “Kelompok Naga” akan kehilangan seluruh sumber penghasilan. Membubarkan mereka semudah membalik telapak tangan, tanpa perlu mengerahkan satu pasukan pun.
Sebenarnya, kondisi “Kelompok Naga” sekarang sudah dijelaskan dengan gamblang oleh penasihat Fujiki semalam pada Ryuto.
Namun Ryuto tetap teguh memilih meneruskan warisan itu, bukan karena ia menyukai dunia yakuza, melainkan karena ia tak punya pilihan lain.
Untuk menggunakan “Sistem Ubah Takdir Lewat Uang”, ia butuh dana yang sangat besar, hingga miliaran.
Tanpa “Kelompok Naga”, impian Ryuto mengumpulkan dana raksasa dalam dua tahun demi meningkatkan atribut dan membeli perlengkapan, jelas mustahil.
Ia hanyalah seorang pelajar SMA; mana mungkin bisa menghasilkan miliaran yen dalam waktu sesingkat itu, bahkan bermimpi pun tak masuk akal.
Karena itu, apapun risikonya, Ryuto harus membawa “Kelompok Naga” ke jalur baru—pendapatan besar, berkelanjutan, dan tidak dikejar hingga musnah.
Demi tujuan itu, ia mutlak membutuhkan tiga “BUG”—eh, tiga rekan istimewa tersebut.
Memikirkan hal itu, Ryuto menengadahkan kepala, meneguk habis tehnya, lalu meletakkan cangkir di atas tatakan.
“Terima kasih atas jamuannya, aku permisi dulu.”
Sebelum pergi, Ryuto tersenyum pada Ruri dan Mai, memberi isyarat salam perpisahan, lalu berjalan menuju atap gedung sekolah.