Bab Dua Puluh Sembilan: Universitas (Majulah!)
Baik Jiang Mou maupun Wang Ke telah bertahun-tahun berkecimpung di dunia hiburan, sehingga suasana di dalam ruangan menjadi jauh lebih santai berkat usaha mereka. Perasaan gelisah yang sempat dirasakan oleh Lü An akibat perselisihan sebelumnya pun perlahan-lahan memudar.
“Xiao An, aktor yang berselisih denganmu di lokasi syuting hari ini sudah aku suruh pulang,” ujar Jiang Mou setelah ponselnya bergetar dan ia melirik layarnya, lalu menoleh kepada Lü An.
“Eh?” Lü An terkejut, tak menyangka Jiang Mou mengambil keputusan seperti itu.
Sebenarnya, setelah dipikir-pikir, kejadian sore tadi memang lebih banyak salahnya ia sendiri. Walaupun Jiang Mou memberinya kepercayaan sebagai sutradara, hasil karyanya jelas belum layak tayang di film, dan ia sendiri terlalu perfeksionis hingga wajar saja jika ada yang mengeluh. Bahkan, kalau ia menempatkan diri sebagai aktor, ia mungkin akan merasa orang itu hanya sedang menyuarakan kebenaran.
Namun, bagi Lü An, itu tetap terasa sebagai bentuk tantangan. “Sutradara Jiang, bukankah ini kurang baik?” Lü An ragu-ragu bertanya.
“Apa yang kurang baik?” Jiang Mou tersenyum memandang Lü An.
“Kejadian tadi sore juga ada tanggung jawab di pihak saya, tak bisa semuanya dibebankan pada orang itu.”
Belum sempat Jiang Mou menjawab, Wang Ke lebih dulu angkat bicara, “Xiao An, kalau kelak kamu benar-benar menyutradarai film, harus ingat satu hal: sutradara adalah pemimpin di dalam tim. Tidak boleh ada yang menantang. Wajar jika ada perbedaan pendapat, tapi bila ada yang terang-terangan menentang sutradara saat proses syuting, yang harus kamu lakukan hanya satu: tindak tegas tanpa ragu.”
Tatapan Lü An pada Wang Ke agak tercengang, tak menyangka sosok yang selama ini terkesan lembut itu mendadak menunjukkan wibawa yang begitu kuat sehingga Lü An sedikit tak terbiasa.
“Benar, apa yang dikatakan Wang Ke tepat,” Jiang Mou pun mengiyakan, “Sutradara adalah jiwa dari sebuah tim, tidak boleh mudah dipengaruhi.”
Setelah itu, Jiang Mou dan Wang Ke seolah-olah menjadi guru, membagikan banyak pengetahuan dan detail seputar dunia penyutradaraan kepada Lü An. Bahkan, pada akhirnya, Jiang Mou memutar hasil rekaman syuting sore tadi dan mulai menganalisis serta menjelaskan satu per satu adegan yang bermasalah. Wang Ke pun sesekali menambahkan pendapatnya.
Lü An mendengarkan dengan penuh perhatian. Diajari langsung oleh dua sutradara papan atas adalah kesempatan langka. Setiap ada hal yang belum ia pahami, Lü An pasti bertanya.
Awalnya, Jiang Mou menjawab dengan sabar, namun lama-kelamaan alisnya mulai mengerut. Wang Ke, meski nada bicaranya tidak banyak berubah, senyumnya sudah jauh berkurang.
Soalnya, pertanyaan Lü An terlalu… mendasar.
Begitu mendasarnya, sampai-sampai keduanya merasa mengajari Lü An adalah pemborosan, bahkan sedikit merendahkan mereka sendiri. Materi-materi itu jelas merupakan pengetahuan dasar di bangku kuliah, namun kini harus dijelaskan oleh dua sutradara besar. Ibarat membunuh ayam dengan golok sapi.
Akhirnya, Jiang Mou tak bisa lagi menahan diri dan memutuskan untuk menghentikan sesi itu.
“Xiao An,” ucap Jiang Mou sambil menepuk bahu Lü An, nada suaranya penuh makna, “Sepertinya banyak hal dasar tentang dunia penyutradaraan yang belum kamu pahami.”
“Sutradara Jiang…” Lü An merasa malu dan agak tak enak hati, “Menyutradarai film adalah impian saya. Tapi karena keterbatasan kondisi saya, saya tak punya kesempatan kuliah dan mempelajari ilmu ini dengan benar di universitas.”
“Kamu belum pernah kuliah?” tanya Wang Ke, sedikit terkejut.
Awalnya, saat tahu Lü An adalah seorang penulis naskah, ia mengira Lü An lulusan jurusan sastra. Ternyata, bahkan kuliah pun tidak.
“Benar,” Lü An mengangguk dengan jujur, “Waktu ujian masuk perguruan tinggi, nilai saya tak cukup untuk masuk universitas negeri unggulan, dan kebetulan tak punya biaya, jadi saya masuk ke sekolah kejuruan.”
Meski terlihat tenang, dalam hati Lü An tetap menyimpan banyak penyesalan. Universitas, betapa indahnya masa-masa yang sering digambarkan dalam buku-buku. Betapa ia ingin merasakannya.
“Belum pernah kuliah…” Jiang Mou merenung sejenak, lalu bertanya, “Mau tidak, kuliah?”
“Eh?” Lü An agak terkejut dengan pertanyaan mendadak itu.
“Belajar secara serius tentang penyutradaraan di universitas,” kata Jiang Mou. “Kamu berminat?”
“Benarkah bisa?” Lü An menahan rasa gembira yang membuncah, bertanya dengan nada tak yakin.
Seolah takut ucapan Jiang Mou hanya terbang begitu saja.
“Seharusnya tidak ada masalah,” kata Jiang Mou. “Nanti malam aku akan telepon teman dulu.”
“Luar biasa! Terima kasih, Sutradara Jiang!” Lü An berdiri dan membungkuk dalam-dalam pada Jiang Mou.
Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kerja sama. Jiang Mou sudah sangat baik mau membimbingnya. Tak disangka, Jiang Mou bahkan bersedia membantunya kuliah.
Hal ini sungguh di luar dugaan Lü An.
“Aku cukup yakin, sekitar delapan puluh persen bisa,” lanjut Jiang Mou. “Tapi aku belum kontak siapa-siapa, jadi belum pasti. Nanti kalau sudah dapat universitasnya, mungkin kamu harus keluar biaya lebih, sekitar beberapa juta.”
“Baik, saya siap, Sutradara Jiang,” Lü An langsung menyanggupi tanpa ragu.
Lagipula, beberapa tahun terakhir Lü An sudah menabung banyak dari usaha warung mi miliknya, belum lagi honor besar dari naskah ‘Penebusan Shawshank’. Lü An kini memang belum kaya raya, tapi hidupnya sudah jauh lebih baik.
“Kalau begitu, bagus. Sekarang sudah malam, kamu pulanglah dan istirahat. Nanti malam aku telepon, besok aku kabari hasilnya,” ujar Jiang Mou.
“Baik, terima kasih, Sutradara Jiang.”
Saat Lü An hendak pergi, Wang Ke tiba-tiba memanggil, “Xiao An.”
“Ada apa, Sutradara Wang?”
“Aku ingat sore tadi kamu bilang punya storyboard sendiri untuk naskahmu. Boleh aku lihat?” tanya Wang Ke.
Syuting sore tadi meskipun banyak kekurangan, beberapa penanganan adegan oleh Lü An justru membuat Wang Ke mendapat sedikit inspirasi. Awalnya ia kira Lü An punya wawasan estetika tajam karena lulusan sastra. Setelah tahu Lü An bahkan tak pernah kuliah, Wang Ke pun makin penasaran.
“Tentu, boleh.” Lü An segera meminta alamat surel Wang Ke dan langsung mengirimkan storyboard yang ia dapat dari toko.
“Saya pamit dulu. Sampai jumpa, Sutradara Jiang, Sutradara Wang.”
Setelah Lü An pergi, Jiang Mou segera keluar ruangan untuk menelepon, sementara Wang Ke membuka email berisi storyboard dari Lü An.
Entah berapa lama, Jiang Mou kembali masuk dan melihat Wang Ke menatapnya dengan mata berbinar.
“Ada apa?” tanya Jiang Mou, heran.
“Kalau urusan kampus Lü An belum kelar, biar dia masuk almamaterku saja.”