Bab 030: Obat Ajaib Berkhasiat Luar Biasa
Ketekunan dalam melaksanakan sesuatu adalah hal yang paling dihargai oleh Yang Qi, dan itulah keunggulan terbesar yang Yang Qi temukan pada diri Zhou Mi sejauh ini—suatu keunggulan yang sangat penting.
Setelah meneguk ramuan itu, yang rasanya pun sulit digambarkan, tak lama kemudian Zhou Mi merasakan reaksi pada seluruh tubuhnya. Reaksi itu terasa aneh, seolah-olah otot-ototnya bergerak sendiri, membuat bulu kuduknya meremang.
"Duduklah, jangan bergerak, semuanya akan baik-baik saja."
Ucapan Yang Qi membuat Zhou Mi merasa lebih tenang. Ia pun duduk di bangku panjang, mematung seperti boneka kayu.
Rasa mual akibat otot yang bergerak-gerak itu perlahan berubah menjadi sensasi nyaman, lalu Zhou Mi merasakan seluruh tubuhnya gatal-gatal dan kesemutan. Namun karena Yang Qi melarangnya bergerak, ia menahan diri meski ingin menggaruk.
Lambat laun, Zhou Mi mulai terbiasa dengan sensasi itu. Ia merasa jauh lebih baik, bahkan di mulutnya tersisa sedikit rasa manis.
Reaksi itu berlangsung lebih dari setengah jam—jauh lebih lama dibandingkan efek ramuan yang baru saja diminum Yang Qi. Tampaknya hal ini memang berkaitan dengan kondisi fisik masing-masing.
"Sudah... sudah selesai," kata Zhou Mi sambil menelan ludah, melaporkan kepada Yang Qi seperti takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan.
"Reaksinya sudah berhenti," jawab Yang Qi, lalu bertanya, "Sekarang bagaimana rasanya?"
"Sangat... sangat nyaman, rasanya seluruh tubuh penuh tenaga," jawab Zhou Mi sambil mengayunkan lengannya, tampak terkejut sekaligus gembira.
"Coba lari sebentar," kata Yang Qi.
Mendengar itu, Zhou Mi sudah tak sabar lagi, langsung berlari mengitari jalur pejalan kaki. Kecepatannya jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Setelah satu putaran, ia berhenti di hadapan Yang Qi, tak percaya pada dirinya sendiri.
"Bagaimana?"
"Bagus, sangat bagus! Rasanya luar biasa!"
"Sekarang coba latih tekhnik penguatan tubuh yang sudah aku ajarkan," perintah Yang Qi.
"Baik!"
Zhou Mi mulai berlatih teknik penguatan tubuh. Gerakannya jauh lebih selaras dari sebelumnya, bahkan telah menunjukkan keindahan dasar; setiap jurus terasa hidup, hasil dari kekuatan dan koordinasi yang telah mencapai tingkat tertentu.
Selesai satu rangkaian latihan, Zhou Mi tak menunggu ditanya, langsung berkata, "Rasanya jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Dulu banyak hal yang tidak kupahami, sekarang tiba-tiba semuanya jadi jelas. Aku bisa merasakan arah gerakan otot dengan lebih pasti."
"Bagus. Setelah pulang, cari gambar distribusi otot manusia, perhatikan baik-baik bentuk setiap otot. Itu akan membantumu menemukan titik kekuatan gerakan otot."
"Siap!"
"Silakan pulang. Malam ini tidur lebih awal, biarkan otot menyerap ramuan dengan baik. Besok porsi latihanmu akan bertambah."
Kata "latihan" dalam ucapan Yang Qi kini telah berubah menjadi "pelatihan", menandakan pengakuan atas kemajuan Zhou Mi saat ini.
"Siap!" Zhou Mi mengangguk, lalu pamit dan kembali ke rumah.
"Setelah minum beberapa porsi lagi, kekuatan, koordinasi, dan refleksnya seharusnya sudah cukup untuk bisa melempar batu dengan presisi. Ramuan penguat otot ini benar-benar sangat membantuku," pikir Yang Qi.
Setelah Zhou Mi pergi, Yang Qi juga berlatih teknik penguatan tubuh sebelum pulang ke rumah.
Kini nilai latihan [Penyimpanan Rahasia Tubuh] Yang Qi berada di level 2, sebesar tujuh persen, sedangkan [Kekuatan Psikis] level 2 baru lima persen. Yang terakhir ternyata lebih sulit dilatih.
Saat tiba di rumah, sudah hampir waktunya anak-anak kecil tidur.
"Yuyu, malam ini kamu yang terakhir mendengar kakak Yang Qi bercerita, bagaimana?" tanya Yang Qi pada seorang gadis kecil yang lemah lembut. Gadis itu mengangguk patuh, lalu berbaring di atas bantal sambil memperhatikan Yang Qi menidurkan anak-anak lain.
Kini, bagi anak-anak, setiap malam tertidur ditemani cerita kakak Yang Qi sudah menjadi kebiasaan. Mereka merasa segar setiap kali bangun, dan juga sangat menikmati cerita-ceritanya, meski sering kali belum habis mendengarkan sudah terlelap. Namun, mereka sangat suka cara bicara kakak Yang Qi yang kini semakin pintar.
"Yuyu, menurutmu malam ini kakak Yang Qi harus bercerita tentang apa?" Setelah menidurkan semua anak, Yang Qi mendekati gadis kecil terakhir itu dan bertanya sambil tersenyum lembut.
"Apa pun cerita kakak, Yuyu pasti suka," jawab Yuyu dengan manis.
Yuyu adalah gadis yang sangat cantik, terutama saat tersenyum; matanya melengkung seperti bulan sabit. Ia juga anak yang paling penurut dan baik hati di antara semuanya. Bukan hanya untuk Yang Qi, tapi bagi siapa pun, Yuyu adalah sang putri di rumah kecil itu. Namun, gadis secantik itu mengidap penyakit aneh yang mirip dengan miastenia gravis. Ia sangat mudah lelah, kadang mengangkat tangan pun sulit, bahkan menelan makanan saja menjadi masalah besar. Ia hanya bisa minum bubur, bahkan kadang harus mengandalkan makanan cair. Yuyu juga satu-satunya anak yang tidak bisa bersekolah dengan normal dan seringkali membutuhkan bantuan untuk bergerak.
"Malam ini kakak ceritakan kisah rumput ekor anjing, ya," kata Yang Qi sambil membaringkan tubuh Yuyu dengan hati-hati.
"Dahulu kala, hiduplah seorang gadis kecil yang bermain di ladang. Di ladang itu tumbuh banyak sekali bunga rumput ekor anjing. Ia pun memetik bunga itu dengan gembira, makin lama makin banyak, hingga tak sadar ia jauh dari rumah dan akhirnya tersesat. Ia ketakutan, menangis dan berteriak, tapi karena terlalu jauh, orang dewasa tak mendengarnya. Akibatnya, tangisannya justru menarik perhatian serigala. Serigala itu menculiknya ke dalam hutan, tapi tidak memakannya. Ternyata, anak-anak serigala baru saja diculik binatang lain, sehingga serigala itu memperlakukan gadis kecil itu seperti anaknya sendiri...
...Musim semi berikutnya, gadis kecil itu berhasil keluar dari hutan. Ia tiba-tiba berlari karena melihat hamparan rumput ekor anjing yang melambai-lambai dari tepi hutan hingga ke kejauhan. Rumput-rumput itu seolah-olah mengajak gadis kecil itu pulang: ‘Pulanglah, pulanglah, ayah dan ibu menunggumu di rumah!’ Akhirnya gadis kecil itu mengikuti jejak rumput ekor anjing dan kembali ke kampung halamannya. Karena itulah, rumput ekor anjing juga disebut rumput pulang."
Kali ini, Yang Qi menceritakan kisah itu sampai tuntas, lalu tersenyum dan bertanya, "Yuyu, menurutmu apa pesan dari cerita ini?"
"Hmm?" Yuyu mengedipkan mata beningnya dan berkata serius, "Cerita ini mengajarkan bahwa anak-anak tidak boleh sembarangan bermain jauh. Dan... di dunia ini, orang baik lebih banyak dari orang jahat, bahkan di antara serigala pun ada yang baik. Seperti Yuyu, meski ditinggalkan orang tua, tapi masih bisa diasuh nenek."
Selesai berkata, ia buru-buru menjulurkan lidah dan berkata malu-malu, "Yuyu tidak bermaksud menyamakan nenek dengan serigala, kok."
Mendengar itu, Yang Qi hanya tersenyum lebar. Anak kecil ini memang sangat lucu dan cerdas.
Sambil mengelus kepala Yuyu, Yang Qi tertawa dan bertanya, "Yuyu yang pintar, tahu tidak apa yang pertama kali dilakukan si gadis kecil setelah pulang ke rumah?"
"Pasti langsung memeluk ayah dan ibunya sambil menangis," jawab Yuyu dengan mata menyipit, tampak ada harapan dan kesedihan yang melintas di matanya.
Melihat itu, Yang Qi merasa iba. Ia mengangguk dan tersenyum, "Benar. Gadis kecil itu menangis sampai tertidur."
Dalam kalimat itu, Yang Qi menyisipkan sedikit hipnosis, namun tidak membuat Yuyu tertidur lelap, hanya agar ia sedikit mengantuk.
"Yuyu sayang, minumlah obat ini," kata Yang Qi sambil mengeluarkan sebotol ramuan penguat otot yang sudah diencerkan—hanya sepersepuluh porsi dari yang biasa.
Dengan lembut, Yang Qi membantu Yuyu meminum seluruh isi botol itu. Tak lama kemudian, ramuan mulai bereaksi; Yuyu secara refleks menggerakkan tangannya, mungkin karena merasa gatal. Melihat itu, Yang Qi segera menggunakan hipnosis agar Yuyu tidak menggaruk, supaya kulitnya tidak terluka.
Setelah reaksi itu berakhir, Yang Qi memeriksa tubuh gadis kecil itu. Ia dapat merasakan perubahan pada otot-otot Yuyu, barulah ia membiarkan Yuyu tertidur lelap dengan hipnosis.
Namun, di benaknya, tidak terdengar notifikasi tugas "menyembuhkan penyakit anak-anak di rumah besar" telah selesai. Tampaknya, ramuan kali ini belum mampu menyembuhkan penyakit Yuyu sepenuhnya, dan masih membutuhkan beberapa kali lagi.
Untuk pertama kali, Yang Qi tidak terlalu peduli apakah tugas itu selesai atau tidak. Baginya, bisa menyembuhkan penyakit anak-anak itu sudah merupakan anugerah terbesar dari daftar kekuatan super miliknya.
Kembali ke toko buku, ia menyendiri, menikmati hari yang terasa begitu penuh dan memuaskan.
Namun, selalu ada saja orang atau hal yang merusak suasana, seperti Lu Liangjie. Malam itu, anak itu belum juga tidur dan mengirimkan pesan yang sangat panjang.
Inti pesannya kira-kira begini: dia pindah ke sekolah baru dan jatuh cinta pada dewi sekolah yang baru pula. Semuanya berjalan mulus, dalam hitungan hari saja sudah hampir berhasil, tinggal selangkah lagi dan hidupnya yang selama belasan tahun hanya mengandalkan tangan kanan bakal berubah. Katanya, dewi kota metropolitan itu memang terbuka dan ramah, hanya saja sedikit galak, dan punya keunikan: sangat gemar sastra klasik. Barusan, sang dewi mengirim pesan: "Jalur bunga belum pernah disapu tamu, pintu reyot baru pertama kali kubuka untukmu." Si murid baru, Lu Liangjie, pun tanya ke Yang Qi apa maksudnya.
Begitu membaca bait puisi itu, Yang Qi tak tahan untuk tidak berkomentar, memang luar biasa galak.
"Jalur bunga dan pintu reyot di situ bisa diartikan si cewek atau bagian tubuhnya, sedangkan tamu dan engkau itu maksudnya kamu atau bagian tubuhmu juga. Kalau sampai sekarang kamu masih tidak ngerti maksud 'disapu' dan 'dibuka', mendingan kamu mampus saja!"
Yang Qi mengirimkan balasan itu, sambil dalam hati mencibir: sehebat apapun, apa bisa menjamin benar-benar 'belum pernah' dan 'baru pertama kali'?
Ah, biarkan saja.
Bersama orang tercinta, lakukanlah hal-hal membahagiakan, tak perlu tanya itu takdir atau bencana!
Tak lama kemudian, balasan pun datang: "Astaga, satu kata terakhir kamu itu sudah menjelaskan semuanya! Tapi, aku harus balas apa dong?"
Yang Qi berpikir sebentar, lalu membalas, setelah itu melempar ponselnya jauh-jauh.
"Pacu kereta panjang, terjang celah pegunungan Helan!"
...
Keesokan harinya, di taman.
"Hari ini bagaimana rasanya?"
"Rasanya tenaga meningkat banyak, lari lebih cepat, semua terasa lebih mudah," jawab Zhou Mi ketika ditanya Yang Qi.
"Kalau begitu, mari kita uji."
Yang Qi melakukan beberapa tes pada Zhou Mi, dan hasilnya segera terlihat. Saat ini, daya tahan Zhou Mi setara dengan pelari jarak jauh tim atletik sekolah, kekuatan eksplosifnya setingkat dengan pelari cepat, dan dalam hal refleks, koordinasi, serta kekuatan, ia melampaui atlet SMA.
Setelah tes selesai, keduanya kembali berlatih. Yang Qi tak terburu-buru, begitu juga Zhou Mi.
"Anak muda, jurus-jurus yang kalian latih itu terlihat sangat istimewa."
Akhirnya, seorang kakek yang sejak beberapa hari lalu memperhatikan mereka, tak tahan untuk tidak mendekat. Tubuh sang kakek masih sangat bugar, matanya memancarkan kecerdasan yang tersembunyi—bukan seperti lansia pada umumnya.
ps: Kalau sudah sampai di sini dan merasa kisah ini menarik, silakan koleksi bukunya, ya.