Bab 078: Ulang Tahun Du Sisi
Hari ini Fang Henian berhasil menyelesaikan dua hal yang sangat penting baginya. Pertama, ia telah menuntaskan urusan penyerahan kepemilikan Rumah Obat Baicao, dan kedua, ia resmi mengurus perceraian. Bagi Fang Henian, kedua hal ini sama artinya: mengucapkan selamat tinggal pada masa lalu dan memulai kembali dari awal.
Keesokan harinya, Rumah Obat Baicao kembali buka. Semua berjalan sederhana, tanpa upacara pembukaan ataupun pengumuman ke sana ke mari. Segalanya tampak seperti sebelumnya, hanya saja kepemilikannya telah berpindah tangan dan kini Fang Henian akhirnya bisa bebas beraksi.
Pelanggan pertama yang datang bukan orang lain, melainkan Yang Qi. Ia mengambil sekumpulan obat-obatan yang ia butuhkan dari sana.
Hal ini sebenarnya bukan kabar baik bagi Rumah Obat Baicao. Stok yang ada memang terbatas, dan menjalankan usaha dengan persediaan sedikit tentu sulit. Namun Fang Henian justru penuh rasa percaya diri. Tindakan Yang Qi sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat, dan Fang Henian tahu Yang Qi tengah memberitahunya bahwa segala sesuatu akan berjalan seperti yang telah disepakati, sehingga tak ada lagi yang mengikatnya.
"Xiao Wang, tolong carikan dan susun semua kontak pemasok serta apotek besar di Kota Ruiyun."
Walau barang dan modal terbatas, Fang Henian masih punya jaringan yang baik dengan para pemasok. Pembayaran setelah barang diterima sudah menjadi hal biasa. Ia tak khawatir jaringan pemasoknya akan berubah setelah hubungannya dengan Keluarga Lou berakhir. Selama ini, jaringan itu ia rawat sendiri. Selain itu, kini ia punya hubungan yang lebih luas, yaitu relasi Shen Zhengfeng.
Kini Fang Henian benar-benar percaya diri dan sepenuhnya tenggelam dalam pekerjaannya.
Setelah mendapatkan obat dari Rumah Obat Baicao, Yang Qi segera menemui Shen Zhengfeng. Ia juga menyerahkan ramuan lain yang telah dikumpulkan sesuai instruksi sebelumnya. Setelah menerima semuanya, Yang Qi bersiap pergi ke Gunung Changbai untuk meracik obat, namun sebelum ia pergi, Shen Zhengfeng memanggilnya.
"Tuan Yang, ada satu hal mengenai Zhou Niannai yang perlu saya laporkan." kata Shen Zhengfeng. Melihat Yang Qi mengangguk, ia melanjutkan, "Setelah Zhou Niannai keluar dari rumah sakit, ia kembali menyelidiki arena tinju bawah tanah milik Zhuang Buyi. Kini penyelidikan itu telah memasuki tahap paling krusial. Kasus arena tinju bawah tanah ini melibatkan banyak pihak sehingga laporan Zhou terus tertahan. Namun, setelah kejadian terakhir, tampaknya pemerintah kota kini sangat memperhatikan Zhou Niannai dan sedang menangani kasusnya."
"Menurutmu, pemerintah kota akan lebih memihak Zhou Niannai atau Zhuang Buyi?" tanya Yang Qi dengan dahi berkerut.
"Biasanya, mereka akan memihak Zhuang Buyi. Tapi, setahu saya, kali ini tampaknya lebih condong ke Zhou Niannai, hanya saja mereka ingin meminimalisir dampak kasus ini," jawab Shen Zhengfeng.
Mendengar itu, Yang Qi mengangguk. "Bagaimana pun kelanjutan kasusnya, itu urusan mereka. Namun, keselamatan Zhou Niannai sangat penting. Usahakan kirim orang untuk mengawasinya."
"Baik," jawab Shen Zhengfeng. "Saya sudah menugaskan orang untuk mengawasinya, bahkan pemerintah kota pun sudah mengirim pengawal demi keselamatan Zhou Niannai. Kali ini mereka benar-benar memprioritaskannya."
Walau Shen Zhengfeng terlibat dalam kejadian sebelumnya, banyak detail yang tidak ia ketahui, seperti keterlibatan Tuan Hong, perhatian khusus dari dua pejabat tertinggi pemerintah kota, dan sebagainya. Ia pun merasa cukup penasaran.
"Jika ada perkembangan, kabari aku," kata Yang Qi.
Setelah itu, ia mengeluarkan sebotol ramuan penguat otot dan sebotol ramuan penguat darah, meminta Shen Zhengfeng meminumnya secara terpisah setiba di rumah. Lalu, tanpa ragu, di depan Shen Zhengfeng, ia memanggil mobil perang ilusi dan mengendarainya ke langit menuju Gunung Changbai.
Shen Zhengfeng sudah beberapa kali melihat pemandangan itu, namun tetap saja ia terperangah. Melihat dua botol ramuan di tangannya, ia tidak lagi memikirkan apakah itu legal atau tidak. Setiba di rumah, ia mengunci diri di kamar, berpikir sejenak, lalu membuka dan meminum satu botol.
Setengah jam kemudian, Shen Zhengfeng bangkit dari lantai dengan wajah penuh kegembiraan dan ketidakpercayaan. Ia melompat, meninju udara, merasakan sekujur tubuhnya penuh kekuatan. Ia benar-benar terpukau oleh efek ajaib ramuan itu. Ia pernah bertarung di garis depan, tubuhnya penuh luka, namun semua luka luar itu kini sembuh total—hanya karena meminum ramuan pemberian Yang Qi!
Tanpa pikir panjang, ia langsung menenggak botol kedua.
Setengah jam kemudian, ia kembali bangkit. Kegembiraan kali ini berlalu lebih cepat, lalu ia terdiam dalam-dalam. Semakin ia pikirkan, semakin ia merasa Yang Qi sangat mengerikan dan misterius. Namun, ia juga semakin bersyukur atas segala keputusan yang diambil selama ini.
Tak dapat dipungkiri, berada di sisi Yang Qi sangat berbahaya karena ia sama sekali tak bisa menebak tindakannya. Ada sebuah ungkapan yang menggambarkan perasaan Shen Zhengfeng pada Yang Qi: mendampingi raja bagaikan mendampingi harimau. Meski menakutkan, sepanjang sejarah, tetap saja banyak orang yang berlomba-lomba untuk mendampingi sang raja. Siapa pun pasti ingin meraih kesempatan itu, termasuk Shen Zhengfeng saat ini.
Shen Zhengfeng duduk lama, hingga akhirnya terkejut saat telepon berdering. Setelah mendengarkan, ia segera menghubungi Yang Qi. Ia mendapat kabar bahwa investigasi Zhou Niannai terhadap arena tinju bawah tanah milik Zhuang Buyi telah membuahkan hasil. Pemerintah kota telah memutuskan untuk memberi perhatian khusus pada kasus ini. Jika penyelidikan benar-benar dilakukan, Kota Ruiyun pasti akan terguncang hebat.
Telepon Yang Qi tidak tersambung. Shen Zhengfeng mencoba beberapa kali lagi, tetap saja nihil. Ia tentu tak tahu bahwa Yang Qi tengah berada di Gunung Changbai tanpa sinyal.
Hingga malam hari, ponsel Yang Qi akhirnya kembali terhubung ke jaringan, dan Shen Zhengfeng pun berhasil memberi tahu kabar tersebut. Dalam waktu setengah hari, Shen Zhengfeng menerima beberapa informasi penting: pertama, banyak dojo bela diri milik Zhuang Buyi diperintahkan tutup, kedua, banyak pejabat Kota Ruiyun dipanggil ke Komisi Disiplin untuk dimintai keterangan, termasuk yang paling tinggi jabatannya adalah Wakil Kepala Kepolisian Kota Ruiyun. Hal ini menunjukkan betapa luas pengaruh Zhuang Buyi di kota itu dan seberapa besar kepentingan yang tercipta dari arena tinju bawah tanah serta bisnis lain milik Zhuang Buyi.
Mendengar informasi itu, Yang Qi tidak terlalu mempermasalahkan, ia hanya peduli pada keselamatan Zhou Niannai.
Keesokan paginya, Yang Qi sempat melihat berita dan memang benar, banyak sekali laporan tentang hal itu. Saat olahraga pagi, ia bertanya pada Zhou Mi tentang kondisi ayah Zhou Mi belakangan ini. Zhou Mi hanya tahu bahwa beberapa hari ini ayahnya tampak serius namun sesekali tertawa keras, membuatnya bingung sendiri.
“Ngomong-ngomong,” kata Zhou Mi sebelum beranjak usai olahraga pagi, sedikit malu-malu, “tadi malam aku tiba-tiba ditelepon Sisi. Katanya, ayahnya mau mengundangku makan malam.”
Mendengar itu, Yang Qi tertawa keras. “Jangan-jangan kau melakukan sesuatu sama Sisi sampai ayahnya tahu dan sekarang mau cari masalah denganmu? Kuperingatkan, ayahnya itu Kapten Reserse Kriminal, jadi hati-hati saja!”
“Mana ada!” Zhou Mi langsung memerah, “Aku dan Sisi tidak melakukan apa-apa, benar-benar tidak ada!”
“Kalau begitu, kenapa kau malu dan wajahmu sampai merah?”
Yang Qi tertawa lagi. Zhou Mi pun makin memerah lalu buru-buru pergi sarapan bersama Du Sisi.
Hari itu, Yang Qi terpaksa harus ke kampus. Sudah beberapa hari absen, ia pun menghabiskan waktu di perpustakaan seharian, lalu pergi ke rumah Yang Zhirong untuk mengerjakan satu set soal. Akhirnya, sang guru tua itu puas, sehingga tidak akan menyulitkannya jika nanti harus izin lagi.
Keluar dari kantor akademik, ia dihadang seorang gadis tangguh—siapa lagi kalau bukan Du Sisi. Setelah beberapa candaan tentang apa saja yang dilakukan Yang Qi belakangan ini, Du Sisi masuk ke inti pembicaraan: “Mau atau tidak, pokoknya malam ini kau harus luangkan waktu makan malam di rumahku.”
“Wah, sudah makin pinter sekarang, bisa mengolah kata ‘luang’ sedemikian rupa,” goda Yang Qi. “Bukankah malam ini ayahmu yang mengundang Zhou Mi makan? Kenapa aku juga harus ikut, apa kau takut ayahmu bakal ‘mengerjai’ Zhou Mi dan kau butuh aku buat jadi penengah?”
“Dasar bocah, semuanya kau ceritakan ke dia,” Du Sisi melirik kesal. “Bukan, bukan ayahku yang undang dia makan. Hari ini ulang tahunku, aku memang enggak mau rayain di luar, jadi aku undang teman-teman makan di rumah. Aku cuma nakut-nakutin Zhou Mi, pengen lihat reaksinya.”
Di akhir kalimat, telinga Du Sisi mulai bersemu merah.
“Hari ini ulang tahunmu?” Yang Qi menggaruk kepala. “Kalau begitu, aku harus siapkan hadiah besar buatmu.”
Ia hendak pergi, tapi Du Sisi buru-buru menahan, “Jangan buru-buru, aku belum kasih alamatnya!”
Yang Qi tertawa, “Aku mau siapkan hadiah, makanya harus cepat. Siapa tahu aku bisa menangkap Zhou Mi, masukkan ke kotak kado, terus kuberikan padamu.”
“Pergi sana!” Du Sisi malah jadi semakin merah, “Dia bukan punyamu, kenapa kau mau memberikannya padaku?”
“Baik, baik, dia bukan punyaku, dia punyamu, puas?”
Du Sisi gemas sampai menghentakkan kaki. Biasanya, ia tidak pernah terlihat begitu manja.
“Ngomong-ngomong, ulang tahunmu kali ini, kenapa tidak sekalian kenalkan Zhou Mi ke orang tuamu dengan status yang ‘itu’?” goda Yang Qi.
Mendengar itu, Du Sisi langsung mengumpat dan buru-buru menyebutkan alamat sebelum lari terbirit-birit. Biasanya, ia tak pernah kalah argumen dengan Yang Qi, kali ini benar-benar ia kena sasaran.
Yang Qi berpikir sejenak, tetap saja bingung hendak memberi hadiah apa untuk Du Sisi. Ia ingin menghubungi Zhou Mi, tapi karena Du Sisi tidak bilang apa-apa soal ulang tahun, ia pun tidak enak bertanya. Setelah berpikir-pikir, akhirnya ia menelepon Chen Xiaoxiao. Mendengar kabar itu, Chen Xiaoxiao pun berkata ia juga belum membeli hadiah dan mengajak Yang Qi untuk memilih bersama. Tentu saja Yang Qi setuju.
Di depan gerbang kampus, mereka bertemu lalu naik taksi menuju salah satu pusat perbelanjaan di Kota Ruiyun.
Kebersamaan dewa cowok dan dewi kampus di taksi, tentu saja jadi bahan gosip yang cepat tersebar.
Sebenarnya, Yang Qi punya banyak barang yang sangat berharga bagi orang lain, bukan karena ia pelit, tetapi tidak pantas diberikan sebagai hadiah ulang tahun. Ia ingin tetap sederhana dan tidak ingin menyaingi si ‘tuan rumah’. Barang-barang itu bisa diberikan kapan saja di waktu lain.
Akhirnya, ia mengikuti saran Chen Xiaoxiao dan membeli hadiah yang tidak terlalu mahal.
Baru saja selesai membeli hadiah, ponsel Yang Qi berdering. Kali ini, yang menelepon adalah Kakek Hong Qianshou.