Bab 125: Telepon dari Ibu Mertua
Setelah Lin Ru pergi, Nyonya Besar Lin baru menanyakan situasi spesifik kepada putranya.
Lin Tingjun menjelaskan secara garis besar informasi yang ia terima.
"Jangan khawatir, Perusahaan Su sekarang hanyalah ikan di atas talenan kita. Kamu bisa mengambilnya kapan pun kamu mau. Bahkan jika dia memecat karyawan perusahaan, kita bisa merekrut yang baru. Itu hal sepele, tidak perlu sampai merusak suasana hatimu," ucap Nyonya Besar Lin dengan lembut.
Lin Tingjun menggelengkan kepala. "Bu, kalau hanya masalah Su Dayuan, aku tidak akan khawatir. Masalahnya, aku dengar hari ini Shen Han juga pergi ke Perusahaan Su... Yang aku takutkan adalah Shen Han memberikan ide kepada Su Dayuan, jika itu terjadi, maka urusannya akan rumit."
"Kenapa lagi-lagi Shen Han itu?" Nyonya Besar Lin mengernyitkan dahi dengan jijik.
"Awalnya aku pikir setelah Su Dayuan meminta bantuan kepada Shen Han, Shen Han akan datang menemuiku demi menyelamatkan Perusahaan Su, sehingga aku bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk mengajukan syarat pembelian kembali vila. Aku sudah menunggu begitu lama, tujuannya agar Shen Han mau tunduk padaku, tak disangka dia malah..." Semakin banyak Lin Tingjun bicara, raut wajahnya semakin masam.
Nyonya Besar Lin tahu putranya pernah dipermalukan oleh Shen Han di vila dan masih belum bisa melupakan kejadian itu, itulah sebabnya ia memberikan perhatian berlebih pada Shen Han.
"Tingjun, Shen Han tidak layak ditakuti. Karena dia tidak tahu diri, maka beri dia pukulan telak," ujar Nyonya Besar Lin dengan elegan. "Kebetulan terakhir kali Shen Han menyinggung Xiao Qin, keluarga Xiang sudah memiliki kesan buruk terhadapnya. Jika kali ini dia bertindak sedemikian rupa dan kembali menghalangi rencana keluarga Xiang, mintalah keluarga Xiang untuk turun tangan memberinya pelajaran."
Keluarga Lin selalu pandai menggunakan tangan orang lain untuk menyingkirkan lawan, jadi usulan Nyonya Besar Lin sangat sesuai dengan prinsip keluarga mereka.
Namun, Lin Tingjun pada akhirnya merasa tidak rela. Ia sangat ingin membuat Shen Han memohon ampun dengan tangannya sendiri!
Sayangnya, realita sangat kejam. Bahkan Zhang Biao tidak bisa mendapatkan keuntungan apa pun dari Shen Han, apalagi dirinya yang seorang kutu buku lemah.
Memikirkan hal itu, meski enggan, Lin Tingjun terpaksa menekan harga dirinya untuk sementara.
Ia segera mencari pacarnya dan menghasutnya agar menghubungi keluarga Xiang untuk menghadapi Shen Han yang tidak bermain sesuai aturan.
Di sisi lain, setelah kembali ke rumah, Lin Ru mendapati rumahnya kosong melompong.
Hal ini membuat Lin Ru sangat kesal. Ia berinisiatif menelepon Su Dayuan.
Di dalam vila, Su Dayuan dan Shen Han sedang menyantap makan malam ketika ponsel Su Dayuan tiba-tiba berdering. Saat melihat nama Lin Ru di layar, ekspresi wajah Su Dayuan berubah sedikit.
Shen Han dengan tajam menangkap emosi tidak menyenangkan itu dan bertanya dengan santai, "Ibu mertua?"
Su Dayuan mengangguk.
"Baguslah, akhirnya Ibu menelepon Ayah. Cepat angkat, Yah," ujar Su Li dengan gembira.
Namun, di antara orang-orang yang hadir, hanya dia seorang yang merasa senang dengan telepon dari Lin Ru.
Su Yun'er terdiam, bahkan kecepatan makannya melambat. Ia diam-diam memasang telinga, mendengarkan setiap gerak-gerik ayahnya. Jika Ayah mengangkat telepon itu dan dibujuk oleh Ibu, apakah Ayah akan menuruti perkataan Ibu? Ibu pasti berpihak pada keluarga Lin. Jika itu terjadi, hubungan Ayah dan mereka akan kembali seperti dulu... Semakin memikirkannya, hatinya semakin gelisah hingga tak sanggup lagi menelan makanan.
Su Dayuan menatap ponselnya dengan bimbang cukup lama, lalu dengan hati-hati bertanya kepada Shen Han, "Apakah aku harus mengangkat telepon ini?"
Meskipun ia memiliki prasangka terhadap istrinya, mereka tetaplah pasangan suami istri. Jika Lin Ru berinisiatif merendahkan diri, Su Dayuan mungkin tidak akan sanggup menolaknya.
"Angkat saja," jawab Shen Han datar. "Tapi Ayah harus tahu apa yang boleh dikatakan dan apa yang tidak." Ia hanya memberi petunjuk singkat tanpa menjelaskan terlalu jauh.
Su Dayuan mengangguk. "Aku mengerti."
Segera ia menjawab panggilan tersebut. Begitu tersambung, Lin Ru yang sudah lama diabaikan langsung meledak.
"Kamu mati ke mana saja! Rumah kosong tidak ada orang, ditelepon juga tidak segera diangkat. Apa kamu pergi bersenang-senang di luar?"
Serangan mendahului dari Lin Ru membuat Su Dayuan terkejut. Seolah-olah dialah yang meninggalkan rumah berhari-hari dan berbuat salah. Suara nyaring ibu mertuanya itu terdengar jelas oleh Shen Han. Shen Han tetap tenang, ingin melihat bagaimana ayah mertuanya menanggapi.
Di saat Su Dayuan tertegun, Lin Ru terus menderu seperti meriam, "Cepat pulang! Ada yang ingin aku bicarakan! Aku tidak tahu bagaimana isi otakmu, bisanya hanya melakukan hal-hal bodoh. Masalah hampir selesai, kamu malah datang mengacau..."
Akhirnya, Su Dayuan tersadar. Wajahnya menggelap. Ia mengira Lin Ru menelepon untuk meminta maaf dan berdamai, namun Lin Ru justru tidak menyebutkan sedikit pun "perbuatan baiknya" sendiri dan malah memutarbalikkan fakta!
"Tutup mulutmu, wanita beracun! Menurutku justru kamu yang bodoh, bodoh dan jahat! Jangan telepon aku lagi, aku tidak akan pulang. Kamu kembali saja ke keluarga Lin dan hidup bersama kakak serta keponakanmu itu!"
Su Dayuan menahan emosi cukup lama sebelum akhirnya mampu melontarkan kata-kata itu. Setelah mengatakannya, ia segera menutup telepon. Kemudian, ia menyadari semua orang menatapnya, wajah tuanya memerah. Ia tidak menyangka akan bertengkar dengan istrinya di depan para junior...
Shen Han mengacungkan jempol kepada ayah mertuanya dengan nada memuji, "Ayah, kerja bagus."
Begitu kata-kata itu terucap, Su Li berdiri dan memprotes Shen Han dengan kesal, "Apa maksudmu! Ayah dan Ibu bertengkar, kamu senang? Apa untungnya bagimu jika mereka berpisah?"
Tak disangka reaksi adik iparnya begitu keras. Shen Han sedikit menaikkan alisnya, tanpa bermaksud menutupi, ia berkata jujur, "Benar, aku memang tidak menyukai ibu mertuaku itu."
"Atas dasar apa kamu menghina Ibuku?" Su Li tampak marah, seolah ingin segera menerjang ke depan.
Su Dayuan dengan pasrah berkata kepada putranya, "Li, kenapa kamu melampiaskan kemarahan pada Shen Han?"
Su Li segera mengarahkan kemarahannya kepada ayahnya, "Kalau begitu, apa aku harus marah padamu? Rumah yang tadinya baik-baik saja, kenapa jadi seperti ini? Tidak bisakah Ayah duduk dan bicara baik-baik dengan Ibu, kenapa harus menyelesaikannya dengan cara seperti ini?"
"A'Li!" Su Yun'er segera berseru.
Baru saja ia hendak meminta adiknya tenang, sang adik sudah membanting sumpit dengan wajah penuh amarah, "Kalian semua sekarang hanya mendengarkan Shen Han! Bahkan Ayah harus meminta izin Shen Han untuk mengangkat telepon Ibu. Kalau begini terus, tidak akan ada lagi tempat untukku dan Ibu di rumah ini!"
Setelah mengatakan itu, Su Li menarik kursi dan meninggalkan ruang makan dengan penuh emosi.
Su Dayuan dan Su Yun'er menatap punggung Su Li dengan ekspresi panik. Shen Han menatap dengan pandangan redup, tidak menunjukkan emosi berlebih atas kata-kata tajam adik iparnya.
Su Yun'er berkata dengan wajah cemas, "Shen Han, jangan masukkan ke hati, A'Li masih anak-anak, dia belum mengerti hal-hal rumit seperti ini."
"Usia tujuh belas tahun, tidak bisa dibilang kecil lagi," ucap Shen Han tenang. "Alasan dia masih bertindak semaunya adalah karena dia terlalu dilindungi oleh keluarga dan belum pernah merasakan kerasnya kehidupan sosial."
Faktanya, Shen Han sangat memahami psikologi adik iparnya. Di rumah, Lin Ru adalah pemegang kendali mutlak, sementara Su Dayuan dan Su Yun'er selalu patuh. Sebaliknya, Su Li sebagai anak laki-laki adalah kesayangan Lin Ru, sehingga status Su Li justru yang tertinggi di keluarga Su. Sudah terbiasa dimanjakan, ia tentu tidak bisa menerima perubahan sikap ayah dan kakaknya.
Begitu Su Dayuan dan Su Yun'er tidak lagi mengikuti rencana Lin Ru, status Su Li di rumah akan terpengaruh. Terlebih lagi, Shen Han adalah ancaman terbesar baginya. Bagaimana mungkin Su Li bisa menerima "orang luar" menggantikan posisinya di rumah?
Ia membela Lin Ru sekarang sebenarnya demi mempertahankan posisi intinya di keluarga. Su Dayuan dan Su Yun'er mungkin tidak memikirkan alasannya, tetapi Shen Han melihat masalahnya dengan mudah.
Justru karena itulah dia mengatakan Su Li belum pernah merasakan pahitnya dunia. Tuan muda yang dimanja harus belajar tumbuh dewasa, dan inilah momen yang tepat. Tidak mungkin membiarkan Su Li terus terlindungi oleh keluarga dan berpikir dunia berputar sesuai keinginannya, itu hanya akan mencelakainya.
Oleh karena itu, ketika Shen Han melihat Su Dayuan dan Su Yun'er ingin membujuk Su Li, ia menatap keduanya dengan tegas.
"Jika kalian ingin melihat A'Li hancur di masa depan, teruslah memanjakannya. Dia sudah tujuh belas tahun, tahun depan dia sudah dewasa. Apa kalian ingin terus menuruti dan membiarkannya seumur hidup? Jika begitu, bagaimana dia bisa menghadapi kesulitan sendiri nantinya! Orang di luar sana tidak akan menuruti perkataannya hanya karena dia anak keluarga Su."
Kata-kata itu masuk akal, ditambah dengan ekspresi Shen Han yang sangat serius, keduanya terdiam membatu.
Setelah duduk tertegun di meja makan cukup lama, Su Dayuan yang kelelahan berdiri dan berkata, "Aku lelah, ingin istirahat di kamar. Kamar mana yang boleh aku tempati?"
Ia bertanya dengan sangat hati-hati. Terlihat jelas bahwa Su Dayuan masih khawatir Shen Han menyimpan dendam atas kejadian sebelumnya dan tidak mengizinkannya menginap. Su Yun'er menatap Shen Han dengan cemas, takut Shen Han akan mengeluarkan kata-kata tidak enak karena sedang tidak senang.
Shen Han menyadari perasaannya dan hanya bisa menghela napas pahit. "Kenapa kamu tegang sekali? Apa kamu masih tidak tahu aku orang seperti apa?" bisiknya pelan.
Su Yun'er segera mengalihkan pandangan karena malu. Hati Shen Han justru semakin sesak. Istrinya sempurna dalam segala hal, namun sifat yang selalu memihak keluarga asalnya membuatnya sangat tersiksa.
"Di lantai dua masih ada dua kamar kosong, Ayah pilih saja satu," ucap Shen Han datar, lalu beranjak pergi.
Su Dayuan menatap punggung Shen Han dengan bingung, "Ada apa dengannya?"
Su Yun'er merasa bersalah, ia merasa perubahan suasana hati Shen Han ada hubungannya dengan dirinya. Namun, ia tidak bisa menjelaskan pada ayahnya, jadi ia tersenyum, "Tidak apa-apa, mungkin dia juga lelah. Ayah, tempat tidur sudah disiapkan, Ayah langsung masuk saja. Nanti aku bawakan pakaian Ayah."
Su Yun'er selalu berharap suatu hari nanti seluruh keluarga bisa tinggal bersama lagi, jadi ia diam-diam sudah menyiapkan perlengkapan hidup orang tuanya. Mengenai hal ini, ia tidak berani memberi tahu Shen Han karena takut suaminya tidak senang.
"Lantai dua kan tempat tinggalmu dan Shen Han, apa Ayah tidak mengganggu kalian jika naik ke atas? Kurasa aku di lantai satu saja, di sebelah kamar A'Li," usul Su Dayuan bimbang.
Wajah Su Yun'er memerah. Ia berpura-pura tidak mengerti sindiran ayahnya dan berusaha bersikap wajar, "Tidak apa-apa, Ayah tinggal di lantai dua saja. Di lantai satu selain kamar A'Li, kamar lainnya sudah ada penghuninya."
Ketiga belas bawahan itu harus tinggal di vila, tentu saja kamar harus disiapkan untuk mereka. Untuk menempatkan mereka, Shen Han sengaja membeli beberapa ranjang besi tingkat dan meletakkannya di kamar-kamar lantai satu agar mereka punya tempat tidur, bukan lagi tidur di lantai seperti sebelumnya.