Bab Tiga Puluh Sembilan: Kaos Kaki Bau
Entah apakah setiap perempuan memang terlahir dengan naluri untuk menata dan merapikan segalanya? Begitu pikiran untuk membantu Lyu An membereskan kamarnya muncul di benak Zhao Yunqing, ia pun tak bisa menahan diri lagi. Merubah kamar yang tadinya berantakan menjadi tempat yang sesuai dengan seleranya sendiri, bukankah itu hal yang menyenangkan?
Memikirkan hal itu, Zhao Yunqing pun tak ragu lagi. Ia segera bangkit, mengelilingi seluruh kamar agar lebih mengenal sudut-sudutnya, supaya pekerjaannya nanti bisa berjalan dengan lancar.
…
Sementara itu, Lyu An membeli satu botol besar air mineral 1,5 liter dan satu botol kecil air mineral 500 mililiter di toko serba ada. Ia sempat berpikir sebentar, lalu akhirnya memutuskan untuk membeli satu botol minuman bersoda juga. Walaupun Zhao Yunqing bilang ia tidak mau minum minuman manis lagi, bagaimana kalau nanti tiba-tiba ingin? Hal seperti itu siapa yang bisa menebak.
Dengan membawa air itu, Lyu An kembali ke kamar. Begitu pintu dibuka, ia melihat Zhao Yunqing sedang berjongkok di lantai, memegang kantong plastik merah yang tampak penuh, sepertinya berisi banyak pakaian.
“Sial…” Melihat Zhao Yunqing refleks hendak membuka kantong plastik itu untuk melihat isinya, Lyu An menghirup napas dingin, buru-buru berseru keras, “Yunqing!”
Suara tiba-tiba itu membuat Zhao Yunqing terkejut, kantong plastik di tangannya pun ikut terlepas dan jatuh ke dalam koper.
“Pak, kenapa sih? Hampir saja jantungku copot!” Zhao Yunqing menoleh ke belakang dan melihat Lyu An berdiri di belakangnya, sambil menepuk-nepuk dadanya dan mengeluh.
“Kamu lagi ngapain?” tanya balik Lyu An.
Kantong plastik merah yang tadi dipegang Zhao Yunqing itu, isinya adalah… pakaian dalam miliknya!
“Aku lagi bantuin kamu beres-beres,” jawab Zhao Yunqing dengan nada wajar, “Aku lihat barang-barangmu berantakan banget, makanya aku mau bantu supaya lebih rapi. Gimana, aku hebat, kan?”
Wajah Zhao Yunqing penuh ekspresi menunggu pujian.
Lyu An terdiam sejenak, akhirnya hanya bisa berkata pasrah, “Iya, kamu hebat sekali. Sini, minum air dulu.”
“Gak apa, aku belum haus. Biar nanti aja minumnya, setelah selesai beres-beres,” ujar Zhao Yunqing, lalu kembali mengambil kantong plastik merah tadi.
“Tunggu dulu.” Lyu An meletakkan air di ambang pintu, lalu cepat-cepat berjalan ke arah Zhao Yunqing. “Biar aku saja yang bereskan pakaian ini.”
“Pak, coba lihat deh isi koper kamu, semua bajunya asal-asalan dilipat. Aku rapiin, pasti muat lebih banyak.”
Lyu An mengulurkan tangan, menahan kantong plastik merah yang terjatuh ke dalam koper itu, sambil berkata, “Baju lainnya boleh kamu bantu, tapi yang ini biar aku saja.”
“Hah? Kenapa?”
Saat itu Zhao Yunqing sama sekali belum sadar ada masalah besar.
Bagaimana harus menjelaskan? Masa iya harus bilang kalau dalam kantong itu ada semua pakaian dalamnya? Rasanya… terlalu canggung.
Lyu An pun agak menyesal, seandainya tadi ia datang lebih lambat, mungkin takkan begini. Kalau hanya Zhao Yunqing sendirian di kamar, walaupun melihat isi kantong itu, ia bisa saja pura-pura tidak tahu. Tapi sekarang, setelah dirinya datang, tak mungkin lagi berpura-pura.
Ditengah sorot mata penuh tanya dari Zhao Yunqing, tiba-tiba Lyu An mendapat ide, “Yunqing, isinya cuma kaus kaki dan kakiku gampang berkeringat, jadi…”
Ia memberikan tatapan ‘kamu pasti mengerti’ pada Zhao Yunqing.
“Ah, jijik!” Begitu mendengar penjelasan itu, Zhao Yunqing langsung mengernyit. Terbayang betapa tadi sudah sempat memegang kantong itu dengan tangannya, ia jadi merasa tangannya kotor.
“Pak, aku mau cuci tangan dulu,” kata Zhao Yunqing sambil berdiri dan berjalan ke kamar mandi.
“Baiklah.” Mendengar itu, Lyu An merasa lega. Begitu Zhao Yunqing masuk ke kamar mandi, ia harus segera mencari cara untuk menyembunyikan pakaian dalamnya.
Setelah memastikan Zhao Yunqing benar-benar masuk ke kamar mandi, Lyu An langsung mengedarkan pandangan ke sekeliling. Awalnya ia berniat membuang pakaian dalam itu ke dalam lemari, tapi ingat bahwa nanti Zhao Yunqing pasti akan membantu merapikan pakaian, jadi itu bukan pilihan yang baik.
Akhirnya pandangannya jatuh pada sofa! Menyembunyikan pakaian dalam di balik bantal sofa, lalu mengambilnya kembali setelah Zhao Yunqing pergi, itu adalah rencana yang sempurna.
…
Di dalam kamar mandi, Zhao Yunqing membuka keran air. Ia semula hendak langsung mencuci tangan, namun saat akan melakukannya, ia malah mengangkat tangannya ke hidung dan menghirup dalam-dalam.
Begitu sadar akan apa yang baru saja ia lakukan, wajah Zhao Yunqing mendadak memerah. Walaupun tahu pintu kamar mandi sudah dikunci, ia tetap refleks menoleh ke pintu, memastikan tak ada orang di luar.
Setelah yakin pintu terkunci rapat dan tak ada bayangan orang di luar, ia baru menghela napas lega. Saat tangannya menyentuh air mengalir, ia pun berpikir, sepertinya tak ada bau aneh di tangan tadi. Lalu ia tersadar lagi, kenapa ia malah mikir begitu?
“Pak, ada tisu toilet?” tanya Zhao Yunqing sambil keluar dari kamar mandi dengan kedua tangan basah, menatap ke arah Lyu An.
“Oh, ini,” jawab Lyu An, yang saat itu sedang mengeluarkan perlengkapan mandi dari dalam koper, lalu menyodorkan selembar tisu.
“Makasih, Pak.”
Setelah mengeringkan tangan, ia meletakkan tisu di meja teh, lalu berkata, “Pak, aku lanjut beresin baju ya.”
“Iya, silakan,” kata Lyu An, yang merasa lega karena pakaian dalamnya sudah aman tersembunyi. “Makasih banyak, nanti siang aku traktir makan besar.”
“Janji ya!” seru Zhao Yunqing dengan riang.
[Pemberitahuan: Zhao Yunqing senang, perkembangan naskah ‘Aku Bukan Dewa Obat’ bertambah 5% (total 45%).]
“Janji!”
Zhao Yunqing pun mengeluarkan pakaian Lyu An satu per satu dari koper, menepuk-nepuknya agar rapi, lalu menggantungnya di gantungan baju di dalam lemari.
“Pak, bajumu gak banyak, jadi aku gantung aja ya. Nanti mau pakai yang mana, tinggal ambil,” ujarnya.
“Baik,” jawab Lyu An, yang sedang menata barang-barang kecil lainnya. Selama bertahun-tahun hidup, ia selalu merasa barang-barang miliknya tak banyak. Tapi baru sadar, saat beres-beres, ternyata banyak sekali barang yang tersembunyi di sudut-sudut tak terlihat.
Keduanya pun mengobrol sambil membereskan kamar. Mirip sekali seperti pasangan muda yang baru mulai hidup bersama, menata rumah kecil mereka dengan penuh kehangatan.
Semuanya terasa begitu damai dan indah.
Sampai akhirnya, Zhao Yunqing menemukan satu kantong plastik putih dari dalam koper. Karena penasaran, ia pun membukanya.
Lalu…
“Pak, kenapa di sini ada lagi kantong kaus kaki bau kamu?” teriak Zhao Yunqing keras-keras. Kali ini… memang benar-benar bau!