Bab 139: Apa yang Ditanam, Itulah yang Dituai
“Teman seperti apa? Bisa diandalkan?” tanya Shen Han balik sambil mengangkat sebelah alis.
Leng Shisan tanpa sadar memperlihatkan raut angkuh. “Tentu saja! Kemampuannya bahkan tidak kalah dari kami—kalau bukan lebih unggul!”
Mendengar itu, Shen Han langsung menaruh minat besar pada teman Leng Shisan tersebut.
“Baik, aku sudah mengerti. Kalau begitu, ikut aku.”
Meski baru sebentar berinteraksi dengan Leng Shisan, dalam waktu singkat sehari itu Shen Han sudah bisa melihat bahwa wanita tersebut bukanlah orang yang membabi buta merasa yakin pada diri sendiri.
Karena Leng Shisan begitu percaya pada temannya, orang itu pastilah bukan sosok biasa dan memiliki kemampuan yang cukup untuk melindungi mereka.
Kalau begitu, membawa mereka kembali ke vila tidak perlu terlalu dikhawatirkan.
Bagaimanapun juga, karena keluarga Xiang yang mengutus para pembunuh untuk mengejar Yao Xihe, Shen Han tidak bisa mengesampingkan kemungkinan bahwa keluarga Xiang juga telah mengincarnya. Jika ia menempatkan kedua kelompok itu secara terpisah, kekuatan pengamanan pasti akan terbagi, dan sangat mungkin ia mampu menjaga satu pihak tetapi mengabaikan pihak lainnya.
Kini, dengan kedatangan teman Leng Shisan yang kuat, ia bisa dengan tenang menempatkan kedua kelompok itu di vila. Dengan begitu, keselamatan Yao Xihe dan yang lainnya maupun keselamatan Su Yuner dan yang lainnya akan sama-sama terjamin.
Setelah mengambil keputusan, Shen Han tidak lagi menunda. Ia membawa Leng Shisan, Xiao Yuan, dan Yao Xihe kembali ke vila.
Saat mereka tiba, malam sudah larut.
Barulah saat itu Shen Han teringat pada istrinya. Seharusnya dia sudah tidur, bukan?
Namun Shen Han tidak tahu bahwa setelah kepergiannya, Su Yuner sama sekali tidak bisa memejamkan mata.
Ia mengira Shen Han pergi menemui “kekasihnya”. Bagaimana mungkin ia bisa tidur?
Karena itu, Su Yuner duduk sendirian di balkon terbuka lantai dua, membiarkan angin malam yang dingin menerpa tubuhnya sembari mengosongkan pikiran.
Tiba-tiba, dari kejauhan terdengar suara sebuah mobil mendekat.
Su Yuner segera berdiri, matanya berbinar penuh harap. Mungkinkah Shen Han sudah pulang?
Malam ini Shen Han ternyata tidak menunggu sampai dini hari untuk kembali…
Dengan bersemangat, Su Yuner mencengkeram pagar balkon sambil memperhatikan mobil itu semakin dekat. Pada akhirnya, mobil tersebut benar-benar masuk ke halaman vila mereka.
Kini Su Yuner yakin bahwa Shen Han berada di dalam mobil itu.
Ia baru saja hendak turun untuk menyambut Shen Han ketika tiba-tiba menyadari bahwa ada orang lain di dalam mobil.
Sesaat kemudian, seorang wanita berambut panjang turun dari mobil.
Begitu melihat wanita itu, jantung Su Yuner berdebar keras.
Shen Han benar-benar membawa kekasihnya pulang ke vila?
Dengan tak percaya, Su Yuner menatap ke bawah. Tak lama kemudian, dua orang lainnya turun dari mobil. Salah satunya adalah Tuan Muda Keempat Yao yang dikenalnya.
Seketika, harapan baru kembali muncul dalam hati Su Yuner.
Tuan Muda Keempat Yao adalah ahli dalam urusan asmara. Mungkin wanita itu adalah temannya?
Memikirkan hal itu, Su Yuner menuruni tangga dengan hati gelisah.
Sesampainya di ujung tangga, ia kebetulan berpapasan dengan Shen Han dan rombongannya yang baru masuk ke rumah. Mendengar suara dari lantai atas, Shen Han mendongak sekilas.
“Yuner, mengapa kau belum tidur?”
Shen Han menatap istrinya dengan heran. Wanita itu keluar dengan mengenakan mantel yang disampirkan di bahunya.
Saat itu Su Yuner sudah berganti kembali ke piyama biasa. Namun demikian, begitu melihatnya, pikiran Shen Han tanpa dapat dikendalikan kembali memunculkan bayangan mesra beberapa jam sebelumnya.
Tatapan matanya pun menghangat, memancarkan gairah dan kelembutan yang tak pernah ia tunjukkan kepada orang lain.
“Kau sedang menungguku?” tanyanya dengan nada yang tampak biasa, tetapi menyimpan rasa iba.
Su Yuner tersenyum malu-malu. “Aku tidak tahu kapan kau akan pulang, jadi aku tidak bisa tidur. Karena itu, aku duduk sebentar di balkon. Begitu melihatmu pulang, aku langsung tahu.”
Sambil berbicara, Su Yuner sudah turun ke ruang tamu.
Diam-diam ia mengamati dua wanita asing di belakang Shen Han, lalu bertanya seolah-olah tidak terjadi apa-apa, “Siapa mereka?”
“Teman yang baru kukenal belum lama ini,” jawab Shen Han santai. “Mereka sedang menghadapi sedikit masalah, jadi aku ingin meminta mereka tinggal di rumah kita selama beberapa hari.”
Hati Su Yuner terasa bimbang. Ia mencoba menyelidik, “Kukira mereka teman Tuan Muda Keempat.”
“Ah, mana mungkin aku seberuntung itu sampai bisa berteman dengan wanita cantik seperti mereka? Hanya orang seperti Shen Han yang mampu membuat wanita cantik sedingin gunung es ini memandangnya dengan cara berbeda,” kata Yao Xihe dengan nada masam.
Jelas sekali ia masih mengingat kejadian ketika Shen Han menganggapnya sebagai beban. Karena itu, sekarang ia melontarkan candaan yang terasa menyengat.
Tatapan Su Yuner meredup. Ia tersenyum tipis dengan susah payah. “Benarkah?”
“Yuner, aku masih harus mengurus beberapa hal. Kau kembali ke kamar dan beristirahatlah,” kata Shen Han penuh perhatian setelah menyadari ada lingkaran hitam samar di bawah mata istrinya.
Namun, di telinga Su Yuner, kalimat itu memiliki makna lain.
Ia terdiam cukup lama sebelum mengangguk patuh. “Baik.”
Kemudian ia berbalik dan naik ke lantai atas.
Karena berbagai kejadian tak terduga datang bertubi-tubi, Shen Han tidak sempat memperhatikan banyak hal. Wajar jika ia tidak menyadari keanehan Su Yuner.
“Tuan Muda Keempat, bawa mereka ke lantai dua. Biarkan mereka menempati kamar di sebelah kamarmu.”
Shen Han juga tidak punya waktu untuk melayani mereka lebih jauh. Setelah berkata demikian, ia hendak menghubungi Tuan Hei.
“Eh, hanya begitu saja?” Xiao Yuan buru-buru berseru.
Shen Han mengerutkan kening. “Apa masih ada urusan?”
“A-aku… kami sampai sekarang belum makan apa pun. Apa kau tidak berniat menjamu kami?”
Setelah mengucapkan itu, wajah Xiao Yuan memerah. Sepertinya ia tidak terbiasa meminta makanan kepada orang lain.
“Kalian belum makan malam hari ini?” Shen Han bertanya heran.
Leng Shisan menjawab singkat, “Saat Xiao Yuan keluar membeli makanan, dia tersesat. Dia berkeliaran di luar seharian dan tidak berhasil membeli apa pun.”
Shen Han terdiam.
Apakah kedua wanita ini bodoh?
“Kalian bisa memesan makanan lewat aplikasi!” kata Shen Han sambil memijat keningnya.
“Benar. Mereka bahkan tidak tahu cara memesan makanan lewat aplikasi! Saat aku bangun, hari sudah malam. Perutku lapar setengah mati, tetapi tidak ada makanan sedikit pun! Aku baru hendak mengajari mereka memesan makanan ketika para pembunuh itu datang,” ujar Yao Xihe dengan nada penuh kepedihan.
Mendengar itu, Shen Han benar-benar kehabisan kata-kata. Ia hanya bisa membangunkan Si Botak dan memintanya memasak untuk ketiga orang tersebut.
Sementara itu, Shen Han menemui Liu Keenam dan memberitahunya bahwa ia masih ingin bekerja sama dengan Tuan Hei.
“Bos, bukankah kita saja sudah cukup? Mengapa masih perlu menambah orang?” tanya Liu Keenam dengan bingung.
Wajah Shen Han muram. “Semakin banyak orang, semakin tenang hatiku.”
“Oh, ya. Aku juga punya beberapa barang untukmu. Bawa dan bagikan kepada yang lain.”
Sambil berkata demikian, Shen Han berjalan ke sisi mobil dan mengambil sebuah kantong plastik hitam dari bagasi.
Liu Keenam membukanya. Di dalamnya ternyata terdapat lebih dari sepuluh senjata api.
“Wah! Selama dua tahun bekerja di bawah Tuan Hei, aku bahkan belum pernah menyentuh satu senjata api sungguhan. Tak kusangka, baru beberapa bulan mengikuti Bos, aku sudah bisa dipersenjatai.”
Mendengar seruan Liu Keenam, Shen Han berpesan, “Pelurunya tidak banyak. Kalian harus menghematnya dan jangan menggunakannya sembarangan kecuali dalam keadaan genting.”
“Tenang saja, Bos!”
Liu Keenam mengamati ekspresi Shen Han dengan hati-hati. “Ngomong-ngomong, Bos tiba-tiba mengeluarkan semua senjata ini. Jangan-jangan Bos kembali menyinggung tokoh besar?”
Shen Han tidak menyangkalnya. Bagaimanapun, sangat mungkin para pembunuh itu akan menemukan jalan sampai ke sini.
“Keluarga Xiang. Mereka telah menyerang temanku, dan aku khawatir vila ini akan menjadi sasaran mereka berikutnya.”
Melihat raut wajah Shen Han yang serius, Liu Keenam justru berusaha menghiburnya.
“Kalau sudah terjun ke dunia ini, mana mungkin kita tidak pernah terluka? Sejak mulai menjalani kehidupan seperti ini, aku sudah tahu akan tiba waktunya membayar semua akibatnya. Bos sudah menyinggung keluarga Lin, jadi seharusnya Bos memang sudah bersiap secara mental. Jadi, untuk apa terlalu banyak berpikir? Lagi pula, dengan kemampuan Bos, berapa pun jumlah musuh yang datang, semuanya bukan masalah!”
Shen Han meliriknya sekilas. “Kesadaranmu cukup tinggi juga.”
Namun, ia sendiri bukan bagian dari dunia hitam. Jika bukan karena selalu ada orang yang mencari masalah dengannya, ia juga ingin menjalani hidup dengan tenang.
Sayangnya, dunia ini seolah tidak pernah bersedia membiarkan seseorang mendapatkan apa yang diinginkannya.