52 Interogasi di Kantor Polisi
"Itu barang milikmu, kan?" tanya seorang polisi wanita muda yang cantik.
Qi Yao mengangguk pelan. "Iya, itu milikku."
Polisi wanita itu tampak puas dengan jawaban dan sikap Qi Yao, lalu berkata, "Qi Yao, begini, pagi ini kami menerima laporan adanya penemuan mayat seorang siswi di kawasan perumahan Taman Pusat. Korban bernama Qi Wei, siswi kelas dua SMA, satu sekolah denganmu. Di lokasi kejadian, kami menemukan lencana milikmu. Jadi kami ingin menanyakan beberapa hal padamu. Berdasarkan penyelidikan awal, kalian sempat terlibat perselisihan di perpustakaan sekolah kemarin sore. Bisa ceritakan apa yang terjadi?"
Qi Yao tetap tenang dan menceritakan apa yang terjadi di perpustakaan kemarin, termasuk bagaimana Qi Wei akhirnya meminta maaf padanya.
Polisi wanita itu mengangguk mendengar penjelasan Qi Yao. Ia menatap Qi Yao dengan penuh penghargaan. "Terima kasih atas kerjasamanya. Tapi, untuk sementara waktu, lencana ini belum bisa kami kembalikan padamu."
Qi Yao mengangguk memahami. Ia masih sangat penasaran mengenai kematian Qi Wei.
Saat itu, Chen Jiawei menghampiri, duduk di kursi di sebelah Qi Yao, dan menyodorkan segelas air putih padanya. "Jangan khawatir, ini hanya pertanyaan rutin saja," ujarnya dengan nada penuh perhatian.
Qi Yao mengangguk. Ia samar-samar mendengar suara tangis dan jeritan dari luar. Pasti keluarga Qi Wei yang datang untuk mengenali jenazah. Benar-benar tragis!
"Bagaimana mungkin Qi Wei ditemukan di Taman Pusat? Kondisi keluarganya biasa saja, mustahil mereka mampu tinggal di kawasan elit itu. Tapi semua yang dipakainya barang bermerek. Gelang di pergelangan tangannya itu, aku pernah melihatnya di tangan Zhao Huanhuan. Kata Zhao, tidak mahal, hanya sekitar tiga juta lebih, bahkan sempat ingin memberikannya padaku."
Waktu itu Qi Yao terkejut mendengar harganya. Gelang sederhana bisa seharga tiga juta lebih, jadi ia menolaknya, dan itu sangat membekas dalam ingatannya.
"Anak muda, pengamatanmu cukup tajam. Benar, dia memang tidak mampu tinggal di sana. Tapi yang menanggung hidupnya jelas mampu. Sayangnya, kami tidak menemukan data pemilik apartemen di kantor pengelola, dan tidak ada petunjuk berarti di dalam rumah itu. Satu-satunya petunjuk hanya lencana milikmu, makanya kamu kami undang ke sini," kata Chen Jiawei sambil tersenyum.
Qi Yao terperangah. Ternyata dia disponsori seseorang? Pantas saja!
Polisi wanita yang tadi bertanya pada Qi Yao menggoda Chen Jiawei, "Tuan Muda Chen, tolong buatkan juga segelas air untukku. Kalau ada gadis cantik, langsung saja lupa sama kakaknya! Jangan menakuti gadis kecil itu."
Chen Jiawei menyerahkan segelas air yang ada di tangannya pada polisi wanita itu sambil tersenyum, "Mana berani, Kakak tetap yang paling cantik."
Qi Yao tertawa melihat tingkah mereka berdua.
Ia merasa polisi Chen Jiawei ini orangnya cukup humoris. Tak tahan, ia bertanya, "Dokter Bai sedang melakukan autopsi di dalam? Kenapa kau tidak ikut?"
"Kalau guru yang turun tangan, bukan urusan orang biasa," kata Chen Jiawei dengan nada misterius.
Selesai bertanya, Qi Yao melirik sekeliling dengan rasa ingin tahu. Ia melihat papan tulis putih di balik sekat kaca, beberapa foto dari lokasi kejadian tertempel di sana. Meski jaraknya lumayan jauh, tapi penglihatannya sangat tajam, entah kenapa akhir-akhir ini makin tajam. Sekilas saja, ia langsung melihat foto Qi Wei di tempat kejadian!
Apa yang ada di foto itu bukan lagi manusia, melainkan mayat kering yang menakutkan. Mata cekung, mulut menganga, rambut berantakan, seluruh tubuh seperti kulit abu-abu kebiruan yang menempel pada tulang belulang. Kalau bukan karena seragam sekolah itu, tak mungkin ia tahu itu Qi Wei.
Qi Yao terkejut, menutup mulutnya, matanya dipenuhi ketakutan. Pemandangan seperti itu biasanya hanya ada di film horor, tapi ternyata benar-benar terjadi di dunia nyata.
"Kau bisa melihat papan tulis itu dari sini?" Chen Jiawei memperhatikan gerak-gerik Qi Yao dan tampak terkejut. Dari tempatnya berdiri, ia hanya bisa melihat ada papan tulis dan beberapa foto.
Qi Yao mengangguk. Ia bukan hanya bisa melihat, bahkan sangat jelas. "Bagaimana Qi Wei bisa mati seperti itu? Wujudnya benar-benar aneh."
Tepatnya, bukan seperti akibat perbuatan manusia. Qi Yao tak sadar menggigit bibir bawahnya. Ia memang sering begitu saat berpikir atau gugup.
Sepengetahuannya, ia belum pernah mendengar ada kejadian kematian tidak wajar seperti itu.
Chen Jiawei mengangkat bahu. "Aku juga tidak tahu! Tunggu saja hasil autopsi dari guru!"
Di ruang autopsi sebelah, Bai Ze memakai masker, memegang alat-alat medis, dan sedang memeriksa jenazah dengan serius. Di sampingnya, sebuah buku catatan terbuka, penanya menulis sendiri tanpa ada yang menyentuh.
Xiu Yi telah berubah ke wujud manusia, berdiri di samping dengan tubuh transparan, menatap jenazah di hadapannya dengan serius. Cara pelaku sangat kejam, sebelum meninggal gadis ini disiksa parah, bahkan jiwanya pun ikut dilahap.
"Sudah bisa diketahui makhluk apa yang melakukan ini?"
Bai Ze mengambil sehelai sisik dengan penjepit. "Pelakunya baru saja berubah wujud, kekuatan belum besar. Melihat sisik ini, sepertinya dari jenis makhluk reptil."
Di dunia monster liar, ada banyak sekali spesies, ditambah lagi hasil persilangan yang tak terhitung jumlahnya. Menentukan makhluk apa yang persisnya membuat kekacauan, sungguh tak mudah. Tapi hari ini mereka mendapat petunjuk: sehelai sisik. Dengan itu, mereka bisa mencari lokasi persembunyian pelaku lewat Lonceng Pencari Monster.
Bai Ze mengeluarkan Lonceng Pencari Monster, mengubah sisik itu menjadi asap dengan kekuatan magis, lalu asap itu diserap ke dalam lonceng. Sesaat kemudian, lonceng itu menampilkan layar elektronik, di mana target samar-samar muncul.
Xiu Yi terbelalak. Sejak kapan alat dewa dari dunia abadi jadi secanggih ini? Mirip televisi atau komputer di dunia manusia.
Bai Ze melihat ekspresi penasaran Xiu Yi, lalu menjelaskan, "Sekarang dunia abadi juga makin maju, alat-alat magis pun sudah diperbarui."
Kalau begitu, begitu ia kembali ke dunia abadi, ia akan jadi orang tua jadul yang tak paham alat baru. Melihat alat-alat itu saja mungkin tak tahu cara memakainya! Xiu Yi mendadak merasa dirinya sangat ketinggalan zaman dan bakal diremehkan. Tidak bisa dibiarkan, ia harus belajar juga, supaya ketika kembali ke dunia abadi, setidaknya tak terlalu ketinggalan.
Mulai sekarang, saat Qi Yao belajar, ia juga harus ikut menyimak, agar cepat menguasai aturan-aturan di dunia manusia.
Target sudah terkunci, Bai Ze menutup kotak harta bendanya, mengangkatnya, lalu berkata pada Xiu Yi, "Tuan Yi, mau ikut berburu monster?"
Sebenarnya ia sangat ingin ikut, tapi kalau ia pergi, bagaimana dengan Qi Yao? Xiu Yi melirik Qi Yao di balik pintu kaca. Gadis kecil itu tampak sedang memikirkan sesuatu, gigi putihnya menggigit bibir merah hingga hampir berdarah.
"Ayo pergi! Kalau kau benar-benar peduli padanya, beberapa hal sebaiknya ia ketahui lebih awal," kata Bai Ze dengan makna tersembunyi.
Xiu Yi melirik Bai Ze sekilas. Ia pernah bilang tak rela? Bagaimanapun juga, ia pada akhirnya harus kembali ke Penglai, sementara Qi Yao hanyalah manusia biasa.
Begitu Bai Ze keluar, Chen Jiawei langsung menyambut, "Guru, bagaimana hasilnya?"
"Nanti aku akan bicara langsung dengan kepala kepolisian. Kau antar Qi Yao ke mobilku dan tunggu di sana," kata Bai Ze, sambil melirik Qi Yao dan sekilas ke tas punggungnya, tempat Xiu Yi bersembunyi.
Tuan Yi cepat juga gerakannya!