Jika aku menipumu, aku adalah anak anjing.
Kemudian ia mencari topik pembicaraan dan berkata kepada Huanhuan, “Huanhuan, waktu itu aku datang ke rumahmu untuk menghadiri pesta, hari itu kamu benar-benar cantik.”
“Kalau tidak berdandan cantik, untuk apa aku mengadakan pesta?” Huanhuan malas berbicara dengan Pansisi.
Pansisi yang selalu tersenyum manis, wajahnya mulai terlihat canggung, lalu matanya tertuju pada kalung di leher Huanhuan dan bertanya dengan penuh rasa ingin tahu, “Eh… kalungmu itu unik sekali, beli di toko mana?”
“Rumah sakit!” jawab Huanhuan dengan senyum yang dipaksakan.
Kenapa Pansisi ini banyak sekali bicara, sebenarnya dia mau apa?
Rumah sakit? Wajah Pansisi tampak penuh tanda tanya, “Huanhuan, jangan bohongi aku, mana mungkin rumah sakit menjual barang seperti itu? Kalung itu memang aneh sekali, aku belum pernah lihat ada toko merek terkenal yang mengeluarkan model seperti itu, beritahu saja aku beli di mana?”
Benar-benar sok akrab, langsung saja mengganti panggilan jadi Huanhuan. Huanhuan merasa risih, menatap Pansisi dan berkata, “Ini memang beli di rumah sakit, kalau aku bohong, aku anak anjing.”
“Benar kok, kami memang beli di rumah sakit, aku dan Huanhuan beli bersama,” ujar Ji Yao sambil mengangkat gelang di pergelangan tangannya.
Akhirnya Pansisi percaya, ia memandang gelang di tangan Ji Yao dengan sedikit iri, “Bisa beritahu aku, rumah sakit mana?”
“Tidak bisa, karena ini satu-satunya, sudah tidak ada lagi,” kata Huanhuan dengan ekspresi sangat bangga.
Ekspresi Pansisi terlihat kecewa, tapi ia tetap tersenyum dan berkata pelan, “Sayang sekali, ya!”
Sayang apa? Ucapan Pansisi ini terasa aneh di telinganya. Huanhuan tidak lagi menggubris Pansisi, ia menunggu Ji Yao selesai makan siang.
Ji Yao termenung, nada bicara Pansisi barusan memang membuat orang bertanya-tanya. Gelang ini pengerjaannya kasar, bentuknya juga biasa saja, kenapa anak orang kaya seperti dia bisa memperhatikan hal seperti itu?
Memikirkan khasiat gelang itu, Ji Yao jadi ragu, apakah Pansisi ini tahu sesuatu, atau hanya karena dia merasa gigi binatang yang dipakai Huanhuan itu menarik?
Selera estetika orang kaya memang unik.
Pansisi tidak pergi lebih dulu, ia tetap menunggu Ji Yao selesai makan dan pergi bersama. Huanhuan dan Ji Yao berjalan-jalan sebentar di taman belakang kampus, Pansisi terus mengikuti, sesekali menimpali pembicaraan.
Orang yang melihat pasti mengira mereka bertiga satu kelompok, seperti geng kecil perempuan.
Sepanjang perjalanan, siswa-siswi kelas bawah yang bukan perempuan semua memandang Ji Yao dengan iri, bahkan ada beberapa yang berani memaki Ji Yao dengan kata-kata tidak pantas.
Ini bisa dibilang langsung terkenal gara-gara satu kejadian! Juara angkatan tidak banyak yang tahu, tapi gara-gara digosipkan dengan Qin Nan, namanya langsung melambung, hanya saja dengan reputasi buruk. Ji Yao hanya bisa tersenyum pahit.
Untunglah sebentar lagi ujian masuk perguruan tinggi, setelah masuk universitas, kejadian ini pun akan menjadi masa lalu.
Setelah istirahat siang, mereka mengikuti dua pelajaran di sore hari.
Dua jam terakhir adalah waktu belajar mandiri. Ji Yao sudah berjanji membantu Huanhuan belajar tambahan. Ia sudah menghitungkan kemungkinan Huanhuan diterima di universitas Qin berdasarkan peringkat nasional dan peluang masuk di setiap jurusan. Jika Huanhuan memilih jurusan yang paling sepi peminat, masih ada sedikit harapan, apalagi Huanhuan pernah mendapat penghargaan dalam lomba internasional guzheng, itu menjadi nilai tambah baginya.
Selama ia berusaha lebih keras di bidang akademik, masih ada peluang untuk masuk universitas Qin.
Biasanya Huanhuan suka belajar di toko kue kampus, sedangkan Ji Yao tidak begitu suka ke sana, sebab ia sangat suka makan kue, tapi kalau makan kue pasti gemuk, ia tidak mau tambah gemuk lagi, ia ingin kurus sebelum masuk universitas.
“Kita ke perpustakaan saja, di sana tenang,” Ji Yao menolak ajakan Huanhuan.
Huanhuan manyun, sangat tidak rela.
Tempat itu benar-benar tidak cocok untuknya, ia tidak suka tempat yang penuh buku.