Bab 8: Mimbar Cermin (Delapan)
Jiang Yu kembali sadar setelah dua hari berlalu.
Sebagian besar murid yang mengikuti ujian kali ini sempat terpapar jaring laba-laba, namun kondisi Jiang Yu adalah yang terparah, itulah sebabnya ia sempat tak sadarkan diri.
"Racun di dalam tubuhmu hampir sepenuhnya bersih, tidak ada masalah lagi."
Orang yang bertugas merawat Jiang Yu adalah seorang murid perempuan dari Balai Medis Sekte Tianyan.
"Minum obat satu hari lagi, besok kau akan pulih sepenuhnya."
Ia menarik tangannya setelah memeriksa denyut nadi dan berkata dengan lembut, "Ujian baru saja usai, ada terlalu banyak pasien beberapa hari ini, tenaga di Balai Medis tidak mencukupi. Aku harus kembali membantu, nanti obatmu akan kuantar belakangan."
Jiang Yu sudah berbaring selama dua hari dan sangat ingin turun dari ranjang untuk berjalan-jalan. Terlebih lagi, jarak Balai Medis ke tempat tinggal murid tidak terlalu jauh. Ia berpikir tidak perlu merepotkan orang lain untuk bolak-balik.
"Tidak usah repot-repot, aku ikut bersamamu saja untuk mengambil obatnya."
Murid perempuan itu melihat Jiang Yu sudah pulih seperti sedia kala, jadi ia tidak menolak.
Keduanya kembali ke Balai Medis. Obat Jiang Yu perlu direbus, dan karena ia tidak memiliki kesibukan lain, ia pun duduk di kursi kecil dan membantu merapikan ramuan obat. Balai Medis dipenuhi orang; hampir semua yang berobat adalah murid yang terluka saat ujian. Hal seperti ini terjadi setiap tahun, dan tidak ada yang mengeluh. Lagi pula, dibandingkan dengan luka mereka sendiri, semua orang lebih memedulikan hasil ujian.
Kabarnya, murid yang tidak lulus akan dikumpulkan untuk dilatih kembali dan akan diuji lagi setengah bulan kemudian. Untungnya Jiang Yu sempat memetik Rumput Yang, meskipun akhirnya jatuh pingsan, ia dianggap telah lulus ujian. Ia tidak ingin pergi ke tempat berbahaya seperti alam rahasia itu untuk kedua kalinya.
Saat sedang asyik memilah ramuan di depannya, tercium aroma obat yang sedikit pahit. Sebuah mangkuk keramik kecil berisi cairan obat berwarna cokelat muncul di hadapannya, masih mengepulkan uap panas.
Jiang Yu meletakkan ramuan di tangannya lalu menerima mangkuk obat itu dengan kedua tangan.
"Terima kasih." Ucapnya sembari mendongak. Saat melihat siapa orang itu, ia tertegun sejenak, "Kenapa kau ada di sini?"
"Hanya lewat," sahut Xie Zhiyu datar.
Ia menyerahkan mangkuk obat itu, lalu mundur dua langkah dan berdiri bersandar pada bingkai jendela. "Apakah kepala Kakak Senior masih pusing?"
Perhatian yang tiba-tiba ini membuat Jiang Yu merasa sangat terkejut sekaligus tersanjung. Ia memegang tepi mangkuk, menatap Xie Zhiyu, lalu menggelengkan kepala.
"Sudah tidak pusing."
Sekarang baru bulan April, saat bunga pir sedang mekar-mekarnya. Dua pohon pir di luar Balai Medis yang bertahun-tahun disirami energi spiritual tampak sangat rimbun dengan bunga-bunga yang menebarkan wangi semerbak. Jendela-jendela Balai Medis terbuka lebar untuk sirkulasi udara. Xie Zhiyu berdiri di dekat jendela, ujung rambutnya tertiup angin dan beberapa kelopak bunga putih halus jatuh di bahunya. Cahaya matahari di luar jendela menyatu, memberikan kesan aura lembut yang samar pada sosok di sisi jendela itu.
Xie Zhiyu menunduk tipis, bulu matanya menjatuhkan bayangan samar di kelopak matanya. Ia mengangkat tangan untuk menepis kelopak bunga di bahunya, lalu kembali menatap Jiang Yu.
"Ada satu hal yang membuatku bingung dan menggangguku cukup lama, aku ingin bertanya pada Kakak Senior."
Pandangannya tertuju pada Jiang Yu sejenak, lalu bertanya, "Mengapa hari itu Kakak Senior memintaku untuk menjadi orang baik?"
Sebelum pingsan karena racun, pikiran Jiang Yu hanya dipenuhi oleh tugasnya. Karena takut tidak akan sadar lagi, ia mengatakan apa pun yang terlintas di benaknya. Namun kini ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Ia menjilat bibirnya, memperhatikan ekspresi Xie Zhiyu, lalu menimbang-nimbang jawaban.
"Apakah itu aneh? Sebagai murid Sekte Tianyan, bukankah seharusnya kita menjadi orang baik?"
Xie Zhiyu sedikit mengangkat alisnya, tidak membenarkan juga tidak menyangkal. Ia menatap Jiang Yu dengan penuh perhatian, matanya menyimpan rasa ingin tahu, lalu bertanya dengan suara lembut:
"Lalu menurut Kakak Senior, orang seperti apa yang bisa disebut sebagai orang baik?"
Ini bukan pertanyaan yang sulit dijawab. Jiang Yu berpikir sejenak, berusaha mencocokkan jawabannya dengan alur cerita aslinya.
"Memiliki hati yang mulia, mengasihani dunia, dan menolong sesama yang menderita."
"Mengasihani dunia, menolong sesama yang menderita?" Xie Zhiyu mengulangi delapan kata itu. Kemudian sudut matanya melengkung, seolah merasa kata-kata itu sangat menarik, ia pun tertawa tulus.
Setelah beberapa saat, ia menghentikan tawanya dan menoleh ke luar jendela. Di matanya yang hitam legam terpantul pemandangan bunga-bunga yang mekar lebat. Bunga pir sebenarnya sangat cocok dengan Xie Zhiyu; putih seperti salju, dingin dan elegan, menyendiri dari dunia. Namun, secantik apa pun bunga itu mekar, tidak ada bandingannya dengan pesonanya. Bahkan kupu-kupu pun lebih memilihnya.
Xie Zhiyu mengangkat tangannya, seekor kupu-kupu perak seukuran telapak tangan terbang mendekat dan hinggap di ujung jarinya. Ia menundukkan mata, menatap tenang kupu-kupu itu, lalu sesaat kemudian, sudut bibirnya terangkat membentuk lengkungan tipis.
Jiang Yu yang melihat itu tiba-tiba teringat pada laba-laba kecil beracun itu.
"...Jangan bilang kau juga bisa mengerti bahasa kupu-kupu?"
Xie Zhiyu tidak menjawabnya. Ia mengulurkan tangan ke luar jendela untuk membiarkan kupu-kupu perak itu pergi. Suaranya terdengar seolah terbang menjauh bersama kupu-kupu itu, samar dan tidak jelas.
"Angin mulai bertiup," ucapnya.
Dalam sekejap—angin musim semi menyapu dahan, memicu hujan bunga. Kelopak bunga putih yang beterbangan di langit tampak seperti salju yang turun di musim semi. Jiang Yu buru-buru meletakkan mangkuk obat dan menahan ramuan di depannya agar tidak berantakan tertiup angin.
Baru saja hendak membuka mulut, ia melihat dua murid berlari masuk dengan tergesa-gesa sambil memikul tandu.
"Beri jalan! Cepat minggir!"
Murid-murid lain segera menyebar, memberi mereka jalan.
"Ke mana Paman Guru Ouyang?"
"Pil peningkat energi tidak cukup, Paman Guru pergi ke gunung belakang untuk mencari tanaman obat, mungkin sebentar lagi kembali," jawab seseorang.
Kedua murid itu saling berpandangan dan segera mengambil keputusan.
"Kalau begitu, hentikan pendarahannya dulu, sisanya tunggu Paman Guru kembali."
Keduanya dengan hati-hati meletakkan tandu di lantai dan menyeka keringat di dahi mereka. Jiang Yu melihat dengan penasaran. Meski sudah menyiapkan mental, ia tetap terkejut saat melihat orang di atas tandu.
Pakaian orang itu sudah basah oleh darah hingga warna aslinya tidak terlihat lagi. Tubuhnya penuh luka, dan separuh tubuhnya ditumbuhi sesuatu seperti sisik, bahkan tampak terus menjalar ke sisi lainnya. "Sisik-sisik" itu transparan seperti kaca, tumbuh dari kulit seperti rambut, membungkusnya dengan rapat.
Xie Zhiyu menyadari pandangannya, ia pun melirik ke arah tandu, lalu dengan sangat antusias menjelaskan untuk menghilangkan kebingungan Jiang Yu.
"Itu adalah 'Hua Liuli'."
Hua Liuli. Sesuai namanya, berarti berubah menjadi kaca. Kedengarannya mungkin romantis, namun kenyataannya ini adalah penyakit mematikan yang sangat aneh.
Dalam naskah aslinya, disebutkan bahwa di zaman kuno, langit runtuh dan bumi terbelah, dunia dalam kekacauan, energi murni dan energi kotor saling bercampur. Kaisar Pangu membelah langit dan bumi, membiarkan energi murni tetap ada, yang dikenal sebagai "Energi Spiritual", sementara energi kotor tenggelam ke dasar jurang gelap di bawah tanah.
Jurang gelap itu terletak jauh di dalam Wilayah Iblis, sehingga disebut "Jurang Iblis". Raja Iblis generasi pertama memasang segel di sana dan melarang siapa pun dari kaum iblis untuk masuk.
Namun, tiga belas tahun yang lalu segel itu longgar dan pecah tanpa alasan. Banyak iblis besar melarikan diri dari dasar jurang. Siapa pun yang terluka oleh iblis besar itu, tanpa terkecuali, akan ditumbuhi sisik seperti kaca, tubuh mereka menjadi rapuh seperti kaca, menahan rasa sakit yang luar biasa, dan sulit bergerak.
Kondisi ini tidak bisa sembuh, hanya bisa memperlambat pertumbuhan sisik. Dengan kata lain, siapa pun yang terinfeksi penyakit ini pasti mati, hanya masalah waktu saja. Bencana menyapu Wilayah Iblis dalam semalam, mayat bergelimpangan di mana-mana. Tanpa pilihan lain, Raja Iblis terpaksa meminta bantuan kepada Aliansi Kultivasi.
Wilayah Iblis berbatasan dengan dunia manusia. Jika dibiarkan, bencana akan segera menyebar ke dunia manusia. Ning Suifeng, Ketua Sekte Tianyan, segera memimpin para kultivator Aliansi untuk membantu. Mereka bekerja sama menyegel kembali Jurang Iblis. Pertempuran itu menelan korban besar, bahkan Ning Suifeng tewas di tangan iblis besar.
Wilayah Iblis merasa berhutang budi dan menandatangani perjanjian damai dengan Aliansi Kultivasi, berjanji untuk menjalin hubungan baik antara dunia manusia dan iblis selama seratus tahun. Namun, belum genap sepuluh tahun, segel itu kembali longgar. Wilayah Iblis curiga Aliansi Kultivasi sengaja melakukannya, sehingga mereka merobek perjanjian itu dan membiarkan kaum iblis melarikan diri ke dunia manusia, mengganggu rakyat.
Sejak saat itu, dunia manusia dipenuhi iblis dan rakyat menderita. Untuk mengakhiri malapetaka ini, satu-satunya cara adalah menyegel kembali Jurang Iblis. Sebagai jenius yang jarang ditemui dalam sepuluh ribu tahun di dunia kultivasi, beban berat ini tentu jatuh ke pundak Xie Zhiyu.
Jika semuanya berjalan lancar, ia seharusnya memimpin para kultivator untuk membasmi iblis, menyelamatkan dunia dari penderitaan, dan membawa kedamaian yang telah lama dinantikan dunia manusia, bukannya terjebak dalam cinta dan jatuh ke jalan iblis.
......
"Kakak Senior tadi berkata, mereka yang 'mengasihani dunia dan menolong sesama yang menderita' adalah orang baik," bisik Xie Zhiyu pelan.
Ia melirik murid di atas tandu, lalu mengalihkan pandangan kembali ke arah Jiang Yu, tersenyum ringan dan bertanya, "Jika sekarang aku membunuhnya, apakah itu bisa dianggap sebagai orang baik?"
Jiang Yu mengerutkan kening, tanpa berpikir panjang ia segera membantah.
"Tentu saja tidak." Ucapnya dengan ekspresi serius, "Membunuh orang itu tidak benar."
"Tapi Hua Liuli tidak bisa disembuhkan. Setelah terinfeksi, seluruh tubuh akan merasakan sakit yang tak tertahankan sampai sisik menutupi seluruh tubuh dan mati lemas."
Xie Zhiyu berbicara sembari menunduk, lalu melanjutkan pertanyaannya dengan santai: "Dia sedang menanggung penderitaan seperti itu, hidup lebih buruk daripada mati. Jika aku membunuhnya, bukankah aku sedang membebaskannya dan menolongnya dari penderitaan?"
Jiang Yu: "......"
Bagaimana ia harus menjawab ini? Baru saat itulah Jiang Yu sadar bahwa ia telah dijebak oleh logika Xie Zhiyu. Jika menjawab tidak, berarti ia menyangkal standar orang baik yang ia katakan sebelumnya. Namun jika menjawab ya, bukankah secara tidak langsung ia membenarkan bahwa membunuh adalah perbuatan baik.
Jiang Yu berpikir sejenak, lalu dengan cerdik mengalihkan pembicaraan untuk menghindari pertanyaan itu.
"Hua Liuli tidak bisa disembuhkan, maka masalah harus diselesaikan dari akarnya. Misalnya, dengan menyegel iblis besar tersebut agar tidak ada lagi yang terinfeksi. Itu baru yang dinamakan benar-benar menolong sesama dari penderitaan."
Xie Zhiyu justru tertawa setelah mendengarnya. Karena tidak mendapatkan jawaban yang diinginkan, ia pun tidak lagi membahas topik tersebut dengannya.
Tepat saat itu, seekor bangau kertas terbang masuk dari luar jendela dan hinggap di bahu kanan Xie Zhiyu. Ia mengambilnya, menyentuh kepala bangau kertas itu dengan ujung jarinya, dan tanpa berusaha menyembunyikannya dari Jiang Yu, ia menampilkan isi pesan tersebut.
Energi spiritual yang membungkus bangau kertas itu menyebar, lalu berkumpul kembali sedikit demi sedikit, membentuk beberapa karakter besar di udara:
【Ada makhluk jahat di Yuzhou, segera pergi.】
"Apa ini?" tanya Jiang Yu.
"Hanya sebuah tugas," Xie Zhiyu menatapnya tenang selama beberapa detik, lalu mengusapnya untuk memulihkan bangau kertas itu.
Sepertinya ada alur cerita seperti ini dalam naskah aslinya. Setelah ujian murid selesai, Xie Zhiyu dikirim ke Yuzhou untuk menyelesaikan tugas, dan Jiang Jinyue kebetulan pergi ke Yuzhou bersama Song Wuxu karena urusan pribadi.
Inilah alur cerita yang memicu kemunculan pemeran utama pria ketiga. Xie Zhiyu yang sedang menjalankan tugas secara tidak sengaja memergoki Jiang Jinyue bersama dua pemeran utama pria lainnya, memicu rasa cemburu di hatinya, yang menjadi bibit kegelapannya di masa depan.
Jiang Yu segera waspada. Meskipun ia berhasil mencegah keduanya menjalin hubungan di alam rahasia, masalah perasaan tidak ada yang bisa memastikan. Siapa yang tahu apakah aura pemeran utama wanita Jiang Jinyue akan tiba-tiba bekerja dan membuat Xie Zhiyu jatuh cinta pada pandangan pertama meski alur ceritanya sudah berubah.