Sudah waktunya menurunkan berat badan.
Nanti aku akan tanya-tanya pada Dokter Bai Ze, apakah Dewa Agung punya potensi seperti itu, jangan-jangan dia hanya anjing bodoh tanpa bakat.
Akhirnya, aku menemukan Dewa Agung di atas meja tulis. Rupanya dia bersembunyi di bawah sebuah buku, pantas saja susah dicari. Sambil menggendong Dewa Agung, aku membelai bulunya dan berkata, "Dewa Agung, hari ini aku bertemu seorang dewa sungguhan, juga bertemu makhluk gaib sungguhan, rasanya seperti mimpi."
Xiu Yi mendengarkan dalam diam. Entah kenapa, ia sangat menyukai berbaring di pelukan Ji Yao seperti ini dan mendengar ocehannya yang panjang lebar.
"Walau sampai sekarang aku masih agak sulit percaya, tapi aku tahu semua yang kulihat bukanlah ilusi. Aku ingin berlatih menjadi dewa. Hanya dengan menjadi kuat, aku bisa melindungimu, juga ayah dan ibuku."
Xiu Yi menggerakkan telinganya, dalam hati ia membatin, gadis kecil ini punya tekad besar, padahal dirinya tak butuh perlindungan darinya.
Ji Yao mengungkapkan semua yang ia pendam pada Dewa Agung, hatinya jadi jauh lebih lega.
Setelah itu, ia mulai membuat jadwal harian. Segala sesuatu harus terencana, supaya bisa efisien dan membuahkan hasil. Mulai besok, ia akan mulai berolahraga dan menurunkan berat badan!
Keesokan paginya, saat langit masih remang, Ji Yao sudah bangun, mengganti pakaian olahraga, lalu membawa Dewa Agung keluar untuk lari pagi.
Di atap gedung ada lintasan hijau yang sangat cocok untuk berlari di pagi hari.
Sesampainya di atap, sudah ada cukup banyak orang yang berolahraga. Ji Yao mengikat Dewa Agung di bawah sebuah pohon, lalu bergabung dengan kelompok pelari pagi.
Bagi Xiu Yi, ini adalah kali pertama ia datang ke sini. Biasanya ia hanya diajak ke taman bawah untuk jalan-jalan sebentar, lalu pulang. Awalnya ia tidak mengerti kenapa tiap malam harus keluar jalan-jalan. Ia sungguh membenci dikalungi tali di leher, merasa sangat kehilangan harga diri, sampai akhirnya ia mengerti bahwa itu untuk memudahkannya.
Ia seorang dewa, butuh kemudahan apa lagi! Tiap malam di bawah, selalu ada beberapa anjing betina yang berebut perhatian darinya. Tapi hari ini, datang ke atas sini, justru lebih tenang.
Melihat Ji Yao berlari mengelilinginya berkali-kali, Xiu Yi justru merasa sedikit iba. Sebenarnya ia tidak seharusnya menerima usulan Bai Ze, membiarkan Ji Yao berlatih menjadi dewa. Toh ia sendiri belum akan pergi, menjaga Ji Yao beberapa tahun ke depan bukan masalah.
Tapi setelah beberapa tahun, siapa yang akan menjaganya?
Gadis yang telah dewasa pasti akan menikah.
Ji Yao pun pasti akan menikah! Setelah beberapa lama tinggal di dunia manusia, ia tahu bahwa gadis di sini akan mencari pasangan dan membangun keluarga setelah menyelesaikan pendidikan.
Beberapa tahun lagi, setelah Ji Yao selesai studinya, ia pasti akan menikah.
Membayangkan Ji Yao tersenyum hangat pada pria lain, tidur di ranjang yang sama, berbagi hari-hari dan cerita seperti Yao Mengqi dan Ji Xuan, Xiu Yi merasa amarahnya membuncah tanpa bisa dikendalikan. Amarah itu membakar dadanya, tapi ia tak tahu harus melampiaskannya ke mana. Ia meraung keras, gelombang energi yang kuat menyapu, membuat gedung pencakar langit di bawahnya bergetar selama beberapa detik.
Orang-orang yang sedang berlari panik dan berhenti, ada yang berteriak, "Gempa!" Namun gedung itu segera stabil kembali, dan orang-orang yang sempat tegang pun melanjutkan aktivitas mereka.
Xiu Yi tidak bisa mengendalikan amarah yang tiba-tiba muncul, bahkan ia kesal pada dirinya sendiri. Kenapa akhir-akhir ini suasana hatinya selalu naik turun? Apa yang terjadi padanya? Tubuhnya sudah begitu lemah hingga ia tak mampu mengendalikan emosinya.
Ia lalu menggigit putus tali yang mengekangnya, dan berlari masuk ke taman kecil di atap gedung. Ia butuh ketenangan.
Di dalam taman, suasananya sunyi dan sejuk. Aliran udara yang membawa energi spiritual perlahan masuk ke tubuhnya, mengalir ke seluruh bagian, menenangkan hatinya yang gelisah.
Xiu Yi pun duduk diam di atas sebongkah batu yang dingin dan licin, memejamkan mata, menyerap energi spiritual yang menyejukkan itu.