Bab 146 Wang Ke Datang
"Sutradara Wang, kenapa Anda datang?"
"Wah, Xiao An." Wang Ke berbalik, menepuk bahu Lu An dan bertanya balik, "Kenapa, aku tidak boleh datang?"
"Bukan begitu, aku hanya merasa sedikit penasaran saja," lanjut Lu An. "Bukankah Anda sedang syuting film baru di selatan?"
Wang Ke menghela napas, merentangkan kedua tangannya dengan ekspresi tak berdaya, "Aku sebenarnya juga tidak ingin datang, tapi Lao Jiang terus memaksa agar aku datang hari ini."
"Pigi sana." Mendengar itu, Jiang Mou memutar bola matanya dan membalas dengan ketus, "Kalau begitu sekarang kau boleh pulang saja, akan ku pesankan tiket pesawat untukmu."
"Mana bisa begitu?" Wang Ke buru-buru melambaikan tangannya. "Aku sudah ambil cuti, bagaimana bisa langsung pergi begitu saja?"
"Hah," Jiang Mou mendengkus geli. "Sudahlah, karena Xiao An sudah datang, mari kita bicara di dalam ruangan."
"Baiklah, ayo, ayo, ayo." Wang Ke berjalan mendekat dan merangkul bahu Lu An, lalu membawanya menuju kamar sutradara.
Sementara itu, Zhou Zhu yang menyaksikan semuanya dari samping... kembali merasa iri!
Sutradara Jiang bersikap istimewa pada Lu An saja sudah cukup membuat heran, sekarang Sutradara Wang juga tampak sangat akrab dengan Lu An, dan terlihat sangat menghargai pemuda itu.
...
Begitu masuk ke dalam ruangan, Wang Ke langsung mencari tempat duduk yang nyaman dan berseru kepada Lu An, "Xiao An, ambilkan aku sebotol kola dingin!"
"Baik." Lu An menoleh kepada Jiang Mou dan bertanya, "Sutradara Jiang, Anda mau minum apa?"
"Ambilkan aku sebotol teh hijau saja."
"Baik."
Setelah mengantarkan minuman untuk kedua sutradara terkenal itu, Lu An duduk di sebelah Wang Ke dan tidak bisa menahan rasa penasarannya untuk bertanya lagi, "Sutradara Wang, kenapa Anda tiba-tiba datang?"
"Eh, Lao Jiang, kamu belum memberi tahu Xiao An?" Wang Ke menatap Jiang Mou dengan rasa ingin tahu.
"Memberitahu apa?" Lu An tampak sangat bingung.
"Belum." Jiang Mou meneguk teh hijaunya dan menjawab dengan sangat tenang, "Xiao An tidak sepertimu, dia bukan orang yang super sibuk."
"..."
"Xiao An, apakah kamu masih ingat tentang nominasi *The Shawshank Redemption* yang pernah kubicarakan sebelumnya?" Jiang Mou menatap Lu An dan bertanya.
Mata Lu An seketika berbinar.
Nominasi Festival Film Beruang Emas?
Jika begitu, artinya...
"Sutradara Jiang, maksud Anda..."
"Benar, undangan untuk Festival Film Beruang Emas sudah dikirimkan," ucap Jiang Mou dengan sangat tenang. "Kita diminta untuk menghadiri upacara penghargaan minggu depan."
Kabar ini datang bagaikan sambaran petir yang menghantam keras benak Lu An.
"Jadi, Sutradara Wang datang sekarang karena bersiap untuk menghadiri upacara penghargaan Beruang Emas?" Lu An mencoba menebak.
"Tepat sekali." Wang Ke menyandarkan tubuhnya ke belakang dengan penuh rasa bangga, lalu menikmati minumannya dengan nikmat. "Masih ada waktu sekitar seminggu lagi, setelah urusanku di sana selesai, aku pun datang lebih awal."
"Hm." Jiang Mou mengangguk, lalu menatap Lu An dan bertanya, "Xiao An, apakah kamu ingin pergi ke upacara penghargaan kali ini?"
"Ah?" Lu An terkejut. "Apakah aku juga boleh pergi?"
"Hahaha."
Jiang Mou dan Wang Ke tertawa bersamaan.
"Kamu kan penulis skenarionya, kenapa tidak boleh pergi?"
"Tentu saja, kalau kamu tidak mau pergi juga tidak apa-apa, nanti kalau menang, aku yang akan naik ke panggung untuk menerima penghargaan itu atas namamu," tambah Wang Ke sambil tersenyum lebar.
"Hm." Jiang Mou juga mengangguk serius. "Xiao An, terserah keputusanmu sendiri, mau pergi atau tidak, tidak masalah."
"Pergi, aku tentu saja ingin pergi." Lu An buru-buru berkata, "Besok aku akan langsung mengajukan izin kepada dosen pembimbing."
"Bagus." Jiang Mou mengangguk, lalu berkata, "Aku akan membereskan urusan kru film dalam beberapa hari ini, menghentikannya sementara, lalu minggu depan kita berangkat ke Berlin."
"Baik." Wang Ke mengangguk. "Lao Jiang, kalau begitu hari ini kamu tidak jadi syuting film?"
"Hari ini?" Jiang Mou mengerutkan kening sejenak untuk berpikir, lalu menjawab, "Lupakan saja, tidak bisa syuting. Tunggu sampai kita kembali dari Berlin saja baru dibahas lagi."
"Baguslah kalau begitu." Wang Ke merasa sangat puas mendengar kabar itu, lalu menyenggol lengan Lu An dan berkata, "Dengar kan, Lao Jiang tidak syuting hari ini."
"Ah, ya." Lu An masih belum mengerti maksud Wang Ke.
"Kamu tidak perlu tinggal di lokasi syuting untuk belajar membuat film hari ini, apa kamu senang?" lanjut Wang Ke bertanya.
"Eh, senang."
"Dan kamu juga mendapat kesempatan pergi ke Berlin untuk menghadiri upacara penghargaan, apakah kamu sangat gembira?"
"Hm."
"Kebahagiaan ganda seperti ini, bagaimana kalau kita pergi bermain game online untuk merayakannya?"
"Eh, ah?" Belokan topik yang mendadak dari Wang Ke ini membuat Lu An tidak sempat bereaksi.
Mana ada orang merayakan sesuatu dengan pergi main game?
"Kamu tidak menolak, itu artinya kamu setuju," ucap Wang Ke sambil tersenyum.
"Ayo, ayo, ayo, kita main game."
Wang Ke langsung bangkit berdiri dan mengulurkan tangan untuk menarik Lu An dari sofa.
Saat hendak keluar pintu, Wang Ke tiba-tiba teringat sesuatu dan bertanya kepada Jiang Mou, "Lao Jiang, biaya internetnya ditanggung, kan?"
Jiang Mou sama sekali tidak ingin mempedulikan Wang Ke.
Ketika ditarik secara paksa oleh Wang Ke hingga hampir meninggalkan kawasan studio film, Lu An baru sadar bahwa dirinya akan dibawa oleh Wang Ke ke kafe internet untuk bermain game.
Namun, bagaimana dengan Zhao Yunqing?
Zhao Yunqing tidak bekerja paruh waktu hari ini, dan sebentar lagi dia akan datang ke lokasi syuting.
Memikirkan hal itu, Lu An menghentikan langkahnya dan berkata kepada Wang Ke, "Sutradara Wang, tunggu sebentar, aku mau menelepon dulu."
"Menerima telepon?" tanya Wang Ke dengan bingung. "Telepon siapa?"
"Pacarku, mau memberitahunya."
"..." Wang Ke berkata dengan nada jijik, "Punya pacar itu benar-benar merepotkan, mau main game saja harus lapor dulu. Kalau kataku sih, lebih baik lekas putus saja."
"..." Lu An tidak bisa berkata apa-apa. Saat baru saja membuka aplikasi untuk mencari nomor Zhao Yunqing dan belum sempat menelepon, dari jauh dia melihat Zhao Yunqing sedang berjalan mendekat.
Sepertinya tidak perlu menelepon lagi, Lu An menyimpan ponselnya dan melambaikan tangan kepada Zhao Yunqing.
"Paman." Zhao Yunqing mempercepat langkahnya dan menghampiri Lu An.
"Yunqing." Lu An mulai berbicara, mula-mula memperkenalkan Wang Ke, lalu mengatakan bahwa Sutradara Wang ingin mengajaknya ke kafe internet untuk bermain game, serta menanyakan apakah Zhao Yunqing ingin ikut.
"Boleh." Zhao Yunqing menggosok-gosok kedua tangannya dengan antusias. "Sejak kamu datang ke lokasi syuting dan aku mendapat pekerjaan paruh waktu, aku sudah lama sekali tidak bermain game dengan puas."
"Baguslah."
Sementara itu, Wang Ke di sampingnya juga tampak sangat gembira. "Ayo, ayo, ayo, makin banyak orang makin seru."
"Sutradara Wang, apakah kita perlu mencari beberapa orang lagi?" tanya Zhao Yunqing tiba-tiba di tengah perjalanan menuju kafe internet.
"Hm, boleh saja." Wang Ke tentu saja tidak akan menolak. "Namanya juga main game, tentu saja makin banyak orang makin menyenangkan."
"Baiklah, kalau begitu aku akan menelepon Mengmeng dan bertanya apakah dia mau ikut."
Setengah jam kemudian, rombongan Wang Ke yang terdiri dari lima orang telah menduduki satu deret komputer.
"Lima orang di warung internet berbaris bersama, tapi tidak pernah menang sekalipun," sindir Wang Ke sambil tertawa.
"Yang penting senang," balas Lu An.
Setelah masuk ke dalam permainan, Wang Ke mendapati bahwa orang-orang yang bermain bersamanya langsung memilih posisi dalam hitungan detik, dan menyisakan posisi *top laner* untuknya...
Tiba-tiba dia merasa pemandangan ini terasa sedikit... familier.