Bab Enam Belas: Kata-Kata yang Membakar
“Tak kusangka Saudara Ye berasal dari keluarga yang begitu terpelajar, hingga memiliki pemahaman yang mendalam dalam ilmu pil. Aku terlalu mudah percaya pada rumor hingga bersikap kurang sopan padamu, Saudara Ye. Sungguh aku merasa malu.” Hanya dengan satu tindakan tadi, Tang Yu sudah tahu bahwa reputasi Ye Yuan jauh dari kenyataan. Maka ia segera meminta maaf.
Di dalam hatinya, Ye Yuan diam-diam memuji Tang Yu. Walau berasal dari keluarga miskin, ternyata dia adalah pria yang jujur dan terbuka, layak dijadikan sahabat.
Dalam perjalanan ke sini, Tang Yu juga telah memperkenalkan dirinya, barulah Ye Yuan tahu bahwa Tang Yu ternyata juga murid Akademi Daya dan Pil. Tak heran ia disebut sebagai murid paling belakang.
Ye Yuan tersenyum, “Saudara Tang, kau tak perlu seperti ini. Dulu reputasiku memang tak baik, jadi bukan salahmu jika menilainya demikian. Soal kemampuanku dalam ilmu pil, sebenarnya tidak setinggi itu. Sejak kecil ayahku sering memaksaku belajar mengenali berbagai bahan obat, jadi aku hanya bisa mengenali beberapa saja.”
Kini Tang Yu tak berani lagi meremehkan Ye Yuan. Ia segera berkata, “Saudara Ye terlalu rendah hati. Silakan masuk.”
Tang Yu mengajak Ye Yuan masuk ke dalam kamar. Dari ranjang terdengar suara batuk yang lemah, jelas itu ayah Tang Yu, Tang Zong Huai.
“Yu’er... batuk... itu kau... batuk... sudah pulang?” Kondisi Tang Zong Huai tampak sangat buruk, baru bicara sudah batuk hebat, bahkan berusaha bangun dari ranjang.
Tang Yu segera mendekat untuk menopang ayahnya, “Ayah, sudah kukatakan jangan banyak bergerak.”
“Haha... batuk... Ayah kali ini... mungkin... batuk... sudah tidak akan bertahan lagi. Nanti... nanti kau... batuk... harus jaga diri baik-baik.” Jelas Tang Zong Huai sudah menyiapkan diri untuk mati.
Air mata Tang Yu langsung mengalir. Dengan suara tersendat ia berkata, “Ayah, tolong jangan bicara. Aku... aku pasti akan menyembuhkanmu! Aku sudah membawa pulang Rumput Enam Daun, akan segera kuolah menjadi Pil Pemulih Besar untukmu.”
Tang Yu hendak berdiri, namun Tang Zong Huai menahannya, “Tidak... tidak usah... batuk... tidak akan ada gunanya.”
Bukan karena ia tak percaya pada Pil Pemulih Besar, melainkan ia tahu anaknya tak mungkin mampu meracik pil tersebut. Daripada bahan obat itu terbuang sia-sia, lebih baik disimpan untuk anaknya.
“Batuk... Yu’er, ternyata... batuk... ternyata ada tamu, kenapa... tidak kau persilakan duduk?” Baru saat itu Tang Zong Huai menyadari ada orang lain berdiri di ambang pintu.
Mengingat Ye Yuan, semangat Tang Yu kembali bangkit. Ia berkata pada Ye Yuan, “Saudara Ye, kumohon selamatkan ayahku! Asal ayahku bisa sembuh, seumur hidup ini aku rela menjadi budakmu!”
Terlihat jelas, meski Tang Yu berasal dari keluarga miskin, ia memiliki harga diri yang tinggi. Ucapan seperti itu menunjukkan betapa dalam hubungan ayah dan anak ini. Merasakan hal itu, sisi lembut di hati Ye Yuan pun ikut tergerak.
“Kita sudah saling cocok, mengapa bicara soal jadi budak? Bantu baringkan paman, biar aku periksa dulu.” Ye Yuan pun tidak berpanjang kata, langsung duduk di tepi ranjang, sementara Tang Yu memberinya tempat.
Ye Yuan hendak memegang pergelangan tangan Tang Zong Huai, namun ia malah menarik tangannya, “Tak perlu... Anak muda... terima kasih.”
“Ayah!” Tang Yu panik melihat sikap ayahnya.
Ye Yuan tahu bahwa Tang Zong Huai tidak ingin merepotkan anaknya dan sudah pasrah ingin mati. Tentu, ada juga alasan lain, yakni ia tak percaya anak muda seperti Ye Yuan bisa melakukan apa-apa.
Ye Yuan tak merasa tersinggung. Ia memberi isyarat kepada Tang Yu agar tidak bicara, lalu berkata, “Paman, kalau dugaanku tidak salah, luka yang diderita berasal dari Badak Angin Besar, bukan?”
Mendengar itu, Tang Yu langsung bersemangat, “Saudara Ye benar-benar tajam, baru melihat saja sudah bisa menebaknya.”
Namun Tang Zong Huai tetap tak bergeming, hanya batuk beberapa kali lalu berkata terputus-putus, “Itu... Yu’er yang... memberitahumu, bukan? Tak perlu... repot-repot lagi.”
“Ayah, sungguh aku tidak memberitahu Saudara Ye, ia sendiri yang mengetahui!” Melihat ayahnya sudah ingin mati, Tang Yu benar-benar cemas.
Menghadapi situasi ini, Ye Yuan mengernyit. Menyembuhkan orang harus dimulai dari hatinya lebih dulu. Jika Tang Zong Huai sendiri sudah tak ingin hidup, meski diberi ramuan dewa pun belum tentu bisa selamat. Menurut penilaian mata Ye Yuan, luka Tang Zong Huai memang parah, mungkin tak akan bertahan sampai besok. Jika dibiarkan, sekalipun ia kembali menjadi Kaisar Pil, belum tentu bisa menyelamatkan Tang Zong Huai. Bahkan sekarang, satu Pil Pemulih Besar pun belum tentu cukup.
Ye Yuan memutuskan bertindak tegas, “Sudahlah, Saudara Tang. Orang tak tahu berterima kasih seperti ini, untuk apa diselamatkan? Kalau memang dia ingin mati, biarkan saja.”
Tang Yu bingung, mendengar Ye Yuan menghina ayahnya, ia pun marah, “Ye Yuan, apa maksudmu? Ayahku sampai terluka begini semua demi aku, bagaimana bisa kau bilang ia tak berperasaan?”
“Hmph... Cara anak-anak seperti ini... takkan berhasil.” Tang Yu tak sadar, namun Tang Zong Huai, yang lebih berpengalaman, tentu bisa menebak maksud Ye Yuan.
Tentu saja Ye Yuan tak berharap semudah itu berhasil, ia hanya tersenyum dingin, “Begitu ya? Anggap saja itu cara anak-anak. Tapi nanti kalau Saudara Tang tewas di jalan, aku akan mencarimu di alam baka dan menuntutmu. Lihat saja kau bagaimana.”
Hati Tang Zong Huai yang semula tenang mulai bergetar, ia pun bertanya, “Kenapa kau berkata begitu?”
“Bukankah kau bilang ini hanya cara anak-anak? Kalau begitu, kenapa masih bertanya? Aku hanya datang karena Saudara Tang begitu berbakti pada ayahnya. Tapi tak kusangka, orang yang begitu berbakti punya ayah seperti ini. Tak usah diselamatkan pun tak apa, aku pamit.” Selesai bicara, Ye Yuan sungguh-sungguh berbalik hendak pergi.
“Tunggu!” Tang Zong Huai dan Tang Yu serempak menahan.
“Ada apa lagi, paman?” Ye Yuan mengabaikan Tang Yu, bertanya dingin.
“Aku ingin tahu... anak muda... maksud ucapanmu tadi... sebenarnya apa?” Kata-kata Ye Yuan tentang Tang Yu yang akan tewas benar-benar menggugah hatinya.
“Kau sendiri sudah sekarat, untuk apa tahu banyak? Hidup-matinya anakmu pun tak kau pedulikan, hanya memikirkan kematian sendiri. Kalau bukan tak berperasaan, apa lagi?” ejek Ye Yuan.
“Asal... asal kau jelaskan... aku... aku rela menerima pengobatanmu.” Karena terlalu banyak bicara, batuk Tang Zong Huai semakin parah.
Namun Ye Yuan tetap memandang rendah, tersenyum sinis, “Kau kira masuk Akademi Daya dan Pil, Tang Yu pasti akan punya masa depan cerah?”
“Bukankah... memang begitu?” Tang Zong Huai ragu.
“Tentu saja tidak! Akademi Daya dan Pil bukanlah surga seperti yang kau bayangkan, justru tempat yang sangat kejam. Aku yakin Saudara Tang tidak pernah menceritakan semua itu, bukan?” Ye Yuan melirik ke arah Tang Yu.
Wajah Tang Yu tampak canggung, namun ia tetap mengangguk, menandakan bahwa ucapan Ye Yuan benar. Tang Zong Huai yang paling mengenal anaknya tahu bahwa Tang Yu tak mungkin berbohong, hatinya pun jadi cemas.
Ye Yuan melanjutkan, “Memang benar, Akademi Daya dan Pil tempat berkumpulnya para jenius, tapi juga ajang persaingan paling sengit, bahkan lebih kejam daripada di luar sana! Lahirnya seorang jenius seringkali harus menginjak jasad jenius lain. Bakat Saudara Tang memang bagus, tapi tidak luar biasa, apalagi ia hanya rakyat biasa tanpa dukungan apa pun. Ia pasti akan jadi batu loncatan bagi orang lain! Suatu hari nanti ia akan tersingkir, dan sekalipun bertahan hidup, paling-paling hanya jadi pemburu binatang buas. Banyak sekali orang seperti itu di Akademi Daya dan Pil. Menurutmu, berapa banyak pemburu binatang buas yang bisa hidup tenang sampai tua?”
Tang Zong Huai sendiri adalah pemburu binatang buas, jadi ia tahu betul betapa sulit hidup seperti itu. Membayangkan anaknya akan bernasib sama, Tang Zong Huai merasa mati pun takkan tenang.
“A... anak muda, tadi... batuk... aku memang salah. Tolong... sembuhkan lukaku, aku... aku rela membayar harga apa pun.” Semula Tang Zong Huai tak ingin merepotkan anaknya, tapi kini ia sadar bahwa jika ia mati, justru anaknya akan menghadapi masalah lebih besar. Maka, bagaimanapun juga ia tak bisa mati sekarang.