Bab Tujuh Puluh Lima: Iblis Bisnis yang Tak Menjunjung Etika
Saat ini, sosok yang mengamati Gao Yuan dari kegelapan secara diam-diam tak lain adalah Ryudo dan Meiji. Setelah melirik wajah yang sudah membuatnya muak dalam dua hari terakhir, Meiji tak bisa menahan diri untuk berkomentar, “Gao Yuan Zhengren... dari penampilannya, dia sama sekali tidak terlihat seperti orang yang begitu kejam.”
“Kalau dilihat dari luarnya, kau juga tidak terlihat seperti orang yang begitu cakap, jangan menilai orang dari penampilan, bro,” balas Ryudo. Berbeda dengan Meiji, setiap kali Ryudo menatap Gao Yuan, tatapannya seperti melihat induk ayam bertelur emas.
Faktanya, Gao Yuan Zhengren memang layaknya induk ayam bertelur emas, hanya saja dari sudut pandang tertentu, telur yang dihasilkannya beracun.
Dalam dua hari ini, Ryudo telah meminta Meiji untuk menyelidiki Gao Yuan dengan saksama, dan mereka pun memperoleh cukup banyak informasi tentangnya. Meski Ryudo sudah tahu dari isi permainan tentang aktivitas gelap Gao Yuan, namun karena tidak dijelaskan secara detail di sana, ia tetap membutuhkan rincian yang lebih nyata.
Dan Meiji, yang memang layak menyandang julukan “Detektif Siber”, segera berhasil mengungkap segalanya tentang Gao Yuan setelah Ryudo memberinya petunjuk arah penyelidikan.
Gao Yuan Zhengren, lima belas tahun, laki-laki, ayahnya adalah direktur eksekutif perusahaan gim raksasa “Neraka Nintendo”, anak ketiga di keluarga, dua kakaknya berprestasi gemilang dan telah bekerja di perusahaan keluarga.
Dalam kondisi seperti ini, Gao Yuan Zhengren tumbuh menjadi anak yang kurang diperhatikan dan tidak terlalu mudah bergaul. Baik di rumah maupun di sekolah, jarang ada yang benar-benar peduli padanya. Karena itu, sejak tiga tahun lalu, Gao Yuan mulai mencoba menjelajah dunia sendiri.
Arah yang ia pilih adalah sebagai konsultan manajemen, dan sejak awal ia sudah membuat gebrakan yang menggemparkan. Pada usia dua belas tahun, berkat naluri bisnis tajam dan metode tak pilih cara, ia berhasil menyelamatkan sebuah perusahaan yang nyaris bangkrut, hingga mendapat julukan “Iblis Bisnis”.
Kini, ia telah menjadi konsultan manajemen rahasia di lima perusahaan yang sudah melantai di bursa, hanya melayani para pemilik tertinggi. Meski tak pernah menampakkan diri, para pemilik perusahaan itu sangat mempercayainya, sebab selama mengikuti arahan Gao Yuan, perusahaan pasti meraup untung besar.
Namun meski ia mampu memperbaiki kondisi perusahaan, seperti kata Meiji, cara-cara manajemennya hanya bisa disebut “kejam”. Ada pepatah, dunia bisnis itu seperti medan perang, namun itu hanya perumpamaan saja. Para pebisnis di lingkaran Tokyo umumnya masih menjaga etika dan harga diri, tidak sampai melakukan hal-hal keji.
Namun di tangan Gao Yuan, semuanya benar-benar seperti makna harfiahnya: pertarungan bisnis yang dijalankan layaknya perang sungguhan, menggunakan segala cara demi kemenangan.
Sebagai perbandingan:
Strategi bisnis tradisional di lingkaran bisnis Tokyo:
Menganalisis kelemahan manusia dan celah hukum, mengatur strategi dari jauh, mengkonversi nilai menjadi sumber daya, didukung teknologi canggih, spionase, peretas, dan rencana pendukung lain demi membuka jalan ekspansi perusahaan secara terstruktur.
Strategi bisnis gaya Gao Yuan:
Menyuruh kurir menaruh obat pencahar di dispenser air perusahaan saingan, mengirim preman masuk ke kantor lawan untuk merebut stempel perusahaan, menyuap satpam agar memanjat pagar dan memotret diam-diam pabrik pesaing, atau menyewa preman supaya mondar-mandir di lingkungan perusahaan lawan.
Menyuruh aktor bekerja sama dengan stasiun televisi untuk membuat sandiwara di depan kantor lawan dengan efek filter menyeramkan, menyewa pasukan buzzer untuk membunuh reputasi lawan habis-habisan, atau kalau perlu, menculik petinggi perusahaan saingan dan menghajar mereka malam-malam dengan karung di kepala.
Singkatnya, pertarungan bisnis ala Gao Yuan benar-benar “pertarungan”, bukan seperti yang dibayangkan, yang penuh adab dan kecanggihan. Kalau bisa main kekerasan, tak perlu pakai otak; kalau sudah pakai otak, jangan takut masuk bui. Yang penting bisa menekan lawan dan meraup untung, urusan lain siapa peduli, bodoh amat.
Dengan metode bisnis yang begitu kejam ini, para pemilik perusahaan yang dibantu Gao Yuan selalu berada di ambang penjara, dan pantat mereka harus selalu siap diberi pelicin, menanti perhatian teman satu sel.
Namun baginya hal itu tidak penting, toh yang masuk penjara itu bosnya, bukan dirinya. Paling-paling ganti perusahaan, lanjut lagi. Nyawa bos bukan urusannya, yang penting dapat uang, kalau harus siap-siap pungut sabun juga tidak masalah. Memangnya semudah itu cari uang?
Tentu saja, Gao Yuan tidak semata-mata mengandalkan cara-cara kotor. Berbagai metode bisnis legal yang berada di batas hukum pun ia kuasai dengan baik, hanya saja ia lebih suka memakai cara-cara sederhana dan langsung.
Kenyataannya, baru kemarin Gao Yuan memerintahkan salah satu perusahaannya untuk menyewa perusahaan bernama “Mali Hati Finansial” guna menagih utang secara kasar.
Perusahaan “Mali Hati Finansial” di permukaan hanyalah perusahaan keuangan biasa, namun sebenarnya adalah kelompok penagih utang yang terdiri dari anggota geng kekerasan. Kelompok seperti ini berada di batas antara legal dan ilegal, menggunakan cara-cara menyakitkan namun sia-sia untuk dilaporkan polisi.
Selain menagih utang, mereka juga menjalankan usaha lain di bidang keuangan, seperti penipuan telepon, penipuan daring, atau menjadi pengedar uang palsu.
Di zaman sekarang, perusahaan keuangan yang berada di batas legalitas seperti ini sangat umum, banyak yakuza yang bertransformasi ke bidang semi-legal seperti ini. Singkatnya, mereka adalah para sampah yang mengeruk untung dari menindas orang baik.
Namun, apa pun yang bisa dimanfaatkan, akan dimanfaatkan oleh Gao Yuan. Bahkan sampah sekalipun, di tangannya tetap bisa memberi hasil yang baik.
Yang paling penting, ia selalu bersembunyi di balik telepon. Apa pun yang dilakukan perusahaannya, tak ada yang bisa melacaknya...
“Gao Yuan Zhengren, orang yang kemarin menyuruh ‘Mali Hati Finansial’ menagih utang dengan kekerasan, itu kau, bukan?”
Begitu Gao Yuan baru saja keluar dari gerbang sekolah dan sampai di sudut yang sepi, sebuah tangan kekar tiba-tiba merengkuhnya seperti hantu.
Hah? Seketika, tubuh Gao Yuan membeku.
Tak mungkin! Ada orang yang tahu bahwa akulah dalang kejadian kemarin?
Dalam sepersekian detik, Gao Yuan perlahan menoleh dan mendapati wajah bengis berambut pirang yang sangat dikenalnya. Tubuhnya gemetar hebat.
Itu adalah Kiryu Ryudo, anak geng yakuza yang sangat terkenal di “SMA Negeri Tokyo Pertama”.
Gao Yuan cukup tahu tentang Ryudo dan kelompok “Seperti Naga”. Namun yang paling membuatnya syok adalah rahasianya bisa langsung dibongkar Ryudo barusan! Hal ini membuat hatinya terasa membeku.
Ia segera menarik napas dalam-dalam dan memaksakan senyum pahit. “Aku... aku tidak tahu apa yang kau bicarakan.”
“Perusahaan yang kau suruh kemarin untuk menagih utang dengan kekerasan itu adalah di bawah perlindungan ‘Seperti Naga’. Dengan kata lain, orang yang telah kau dan perusahaanmu singgung adalah aku... Sudah paham apa akibatnya, kawan?”
Sambil berpura-pura ramah merangkul pundak Gao Yuan, wajah Ryudo menampilkan senyum “hangat”.
Namun, bagi Gao Yuan, senyuman itu terasa lebih mengerikan dibanding iblis dari neraka paling dalam.