Bab Sembilan Puluh Tujuh: Tanah Tanpa Hukum. Sungai Pertarungan
“Arena Bawah Tanah Sungaizai... Arena memang mudah dipahami, tapi apa sebenarnya Sungaizai itu? Apakah di Tokyo ada jalan seperti itu? Kedengarannya tidak membawa keberuntungan,” tanya Yun Yan penuh rasa ingin tahu setelah mendengar syarat ujian dari Kakek Komaki.
Dalam mitologi kuno, dikisahkan bahwa setelah manusia meninggal, mereka akan pergi ke “Tiga Sungai Penyeberangan”, menaiki perahu Dewa Kematian dari tepi sungai menuju seberang. Area di tepi sungai tempat menunggu perahu Dewa Kematian itulah yang disebut “Sungaizai”.
Dengan kata lain, tempat ini adalah “pemberhentian terakhir sebelum mencapai seberang”, titik terdekat dengan alam baka. Nama yang sedemikian tidak menguntungkan, sulit dibayangkan ada orang yang akan menamainya untuk sebuah kawasan di kota besar. Bayangkan saja, tengah malam naik taksi pulang, lalu sopir bertanya di mana tempat tinggalmu, dan kau menjawab, “Ke Sungaizai, ya.” Bisa-bisa sopir itu langsung ciut nyalinya, mengira akan bertemu makhluk halus.
Namun kenyataannya, Sungaizai adalah tempat misterius di Tokyo yang hanya diketahui oleh segelintir orang, semacam legenda urban. Konon, di suatu sudut Taman Barat Tokyo, terdapat sebuah stasiun kereta bawah tanah yang telah lama ditinggalkan. Karena pembangunan di sekitarnya, stasiun itu terhimpit di antara toilet umum dan taman, entah mengapa tidak pernah dibongkar total.
Akhirnya, para gelandangan yang sering berkeliaran di taman itu pun menguasai tempat ini, memanfaatkan area bawah tanah yang luasnya hampir menyamai taman itu sendiri. Dipimpin oleh “Si Pedagang Bunga Sungaizai”, para gelandangan lantas menyulapnya menjadi taman hiburan bawah tanah khusus bagi orang kaya.
Konon, begitu memasuki mulut stasiun yang terlantar itu, pemandangan yang tersaji sungguh menakjubkan, seperti suasana jalan hiburan di masa lampau. Di jalan selebar sepuluh meter terhampar karpet merah menyala, tiap beberapa meter terpasang payung kertas merah tua yang memancarkan nuansa klasik. Pada pintu-pintu rumah kayu di kedua sisi jalan tergantung lentera kecil berwarna merah muda, dan dari luar bisa terlihat kamar-kamar separuh terbuka yang di dalamnya duduk banyak wanita berpakaian kabuki dan berdandan menor.
Jika harus menggambarkan suasana “Kawasan Bawah Tanah Sungaizai” ini dengan tepat, rasanya seperti dunia hiburan zaman Edo ratusan tahun lalu yang hadir kembali, hingga membuat orang merasakan arus waktu yang berbalik arah. Hanya saja, kini yang berlalu-lalang di jalan itu kebanyakan pria-pria paruh baya bermasker, mengenakan setelan jas mahal, rambut berminyak dan tampak berlimpah harta.
Seketika, suasana khas zaman Edo seolah lenyap, tergantikan oleh nuansa dunia modern yang jauh lebih kelam dan kotor.
Inikah yang disebut-sebut sebagai “Kawasan Bawah Tanah Sungaizai” dalam legenda? Dibangun sedemikian rupa, sungguh menakjubkan.
Tak lama kemudian, di bawah bimbingan Komaki Sotaro, Ryuto dan Yun Yan melewati banyak gang kecil, berputar mengelilingi toilet umum dan taman, akhirnya masuk lewat mulut stasiun kereta bawah tanah yang terbengkalai itu. Bahkan Ryuto pun hampir silau matanya oleh kemegahan dunia bawah tanah ini, sedangkan Yun Yan sudah begitu bersemangat hingga hampir berteriak kegirangan.
Ia menunjuk dengan jari yang gemetar ke sebuah payung kertas merah di sudut, di bawahnya terhampar sebuah ranjang. Dengan suara penuh semangat, ia bertanya, “Ryuto, itu... itu buat apa, ya?”
“Itu... mungkin tempat istirahat untuk pejalan kaki?” jawab Ryuto sambil menggaruk kepala, tidak terlalu yakin.
“Wah, aku belum pernah lihat tempat istirahat di pinggir jalan seperti ini. Ryuto, ayo coba duduk!” seru Yun Yan sambil melompat kegirangan, menarik Ryuto untuk duduk bersama di bawah payung itu, berniat memotret dengan ponsel.
Namun Kakek Komaki datang sambil tersenyum, mengingatkan, “Memang benar untuk tempat istirahat, tapi bukan istirahat biasa. Tempat ini dulunya dipakai oleh wanita hiburan zaman Edo dan para tamunya untuk urusan bisnis sementara.”
“Wanita hiburan dan tamu-tamunya?” Ryuto langsung merinding mendengarnya, sedangkan Yun Yan masih penasaran, “Wanita hiburan itu pekerjaannya apa? Menari?”
“Bukan menari, tapi menjajakan diri.”
“Menjajakan... diri?”
“Wanita hiburan, zaman dulu disebut pelacur. Kadang mereka melayani tamu di bawah payung kertas merah di tepi jalan, untuk menarik pelanggan lainnya.”
Menjajakan diri? Pelacur? Melayani di jalanan? Berbisnis?
Yun Yan menatap payung kertas merah di atas kepalanya, lalu melihat dirinya dan Ryuto yang duduk di ranjang itu. Otaknya seolah tidak mampu langsung mencerna kenyataan ini. Tiga detik kemudian, pipi Yun Yan langsung memerah, ia buru-buru menarik Ryuto bangkit dari ranjang dan menghapus seluruh foto di ponselnya.
Melihat kepanikan Yun Yan, Ryuto tertawa, “Kak Yun Yan, kamu tidak apa-apa?”
“Ti... tidak apa-apa, tapi bukankah ini terlalu... aneh? Di pinggir jalan seperti ini? Apa mereka tidak malu?”
Sebenarnya Yun Yan bukan tidak tahu tentang profesi wanita hiburan. Namun melihat langsung ranjang di pinggir jalan dan payung merah itu tetap saja mengguncang pandangannya tentang dunia.
“Begini, kalau kamu tidak bisa memahami, itu justru menandakan hidupmu sangat bahagia,” ujar Ryuto sambil menepuk bahu Yun Yan, tersenyum menjelaskan.
Bagi seseorang sepertinya—lahir dari keluarga berkecukupan, tak pernah kesulitan uang, apalagi sampai kelaparan—menjual tubuh demi uang memang terasa sangat memalukan. Namun bagi mereka yang mungkin sejak lahir sudah terbuang di pinggir jalan dan tidak punya apa-apa selain tubuh sendiri, urusan seperti itu sudah menjadi hal biasa, meski dianggap hina oleh kebanyakan orang.
Dalam ancaman kelangsungan hidup, harga diri dan martabat menjadi barang yang tak bernilai. Dunia seperti inilah yang dijalani para wanita hiburan, juga mereka yang hidup di bawah bayang-bayang masyarakat seperti para anggota dunia kelam. Setiap orang di dunia bawah tanah ini sudah berjuang sekuat tenaga untuk bertahan hidup, tidak ada lagi ruang untuk memikirkan hal lain.
Dunia seperti itu jelas tidak normal, tapi tetap nyata adanya. Bukan hanya di zaman Edo, bahkan di dunia modern yang tampak gemerlap pun masih ada kenyataan seperti itu.
Mendengar penjelasan Ryuto, Yun Yan terdiam. Ia bukan tidak mengerti, justru makin ia pahami, makin ia sadar bahwa ia ternyata tidak tahu apa-apa. Seperti kata Ryuto, hidup Yun Yan memang sangat bahagia, sehingga ia tak pernah merasakan kerasnya hidup, tak pernah tahu pedihnya menunduk demi sesuap nasi.
Mungkin karena latar hidupnya yang jauh dari kenyataan itulah, novel-novel yang ditulis Yun Yan sering kali melayang terlalu bebas, mengawang-awang menembus batas imajinasi, hingga terasa seperti mengorbit antara matahari dan Mars.
Karena itu, perjalanan ke Sungaizai kali ini memang memperkaya pengetahuan Yun Yan. Terutama ketika mereka sampai di tengah kawasan itu, di mana berdiri sebuah kandang besi raksasa seperti arena gladiator. Di sekelilingnya, banyak orang kaya minum-minum dan bercakap-cakap sambil bersorak-sorai mendukung dua pria kekar yang bertarung di dalam kandang. Inilah “Arena Bawah Tanah Sungaizai”.