Bab 2: Dia Sudah Berdiri di Depanku
Halaman (1/3)
He Zhurai lebih dulu mandi dengan air dingin.
Orang yang pernah mati sekali membawa nasib buruk, dia takut jika bertemu lagi, dia akan menularkan sial itu kepada Ji Tingyu.
Mengenakan jubah mandi, ia keluar dari kamar mandi, mengangkat tangan merapikan rambut yang masih setengah basah, lalu berdiri di depan cermin memperhatikan tubuhnya sendiri.
Jejak waktu yang pernah tertinggal di tubuhnya lenyap tanpa suara bersama kematian, digantikan oleh lingkaran bekas luka yang tiba-tiba muncul di jari kelingking tangan kanannya, persis di tempat jarinya terputus di kehidupan sebelumnya.
Padahal jarinya masih utuh, namun bekas luka kecil itu seolah menjadi tanda lahir yang menetap di lekukan jarinya.
He Zhurai tak tahu apakah itu peringatan dari Yang Maha Kuasa, seperti batu kecil yang masih digenggamnya saat ia terbangun dari kematian.
Namun kali ini, ia tidak perlu lagi diingatkan oleh siapa pun.
"Xiao Yu, tunggulah aku..."
Ia menundukkan kepala, menyentuhkan batu itu ke bibirnya dan menciumnya pelan.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, He Zhurai membuka pintu dan membiarkan orang masuk.
Asisten pria beta berkacamata emas segera mulai melaporkan berbagai peristiwa besar dan kecil yang terjadi di Yicheng selama setengah tahun terakhir.
Waktunya He Zhurai sangat terbatas, cara ini bisa membantunya dengan cepat memahami dunia setelah hidup kembali.
Setelah menyelesaikan laporan resmi, sang asisten mendorong kacamatanya ke atas hidung dan berkata, "Selain itu, semalam putra mahkota dari Changmao Teknologi ketahuan bekerja paruh waktu sebagai gigolo di klub Bai Ma saat sedang tidak bekerja, setelah ketahuan ia mengamuk dan bilang itu hobinya."
Dia memberitahu He Zhurai bukan sekadar mengabarkan gosip, melainkan karena berada dalam lingkaran yang sama, harus selalu mengetahui pergerakan para mitra bisnis, agar ke depannya tidak menimbulkan kesalahpahaman atau permusuhan karena tidak tahu keadaan.
Dulu saat asisten bercerita soal ini, He Zhurai tak pernah bereaksi. Namun hari ini, untuk pertama kalinya ia bertanya, "Bagaimana dengan keluarga Ji?"
Asisten tertegun, "Bapak bilang apa?"
"Ada kabar apa dari keluarga Ji akhir-akhir ini?"
"Maksud Bapak keluarga Ji yang bergerak di bidang properti? Bapak tanya putra sulung atau pemiliknya?" sang asisten dengan percaya diri mendorong kacamatanya, seolah tidak ada gosip di Yicheng yang tidak ia ketahui.
Namun He Zhurai berkata, "Aku tanya tentang Tingyu, anak bungsu Ji Zhuoquan."
Suaranya tetap sedingin biasa, namun saat menyebut nama itu, ada kelembutan yang samar, seolah ia memanggil kekasihnya sendiri.
Asisten mengira dirinya salah dengar, sebab He Zhurai dikenal dingin, bahkan hubungannya dengan ayahnya pun tidak dekat. Selama tiga tahun menjadi asisten, ia belum pernah melihat He Zhurai peduli pada generasi muda di keluarga mana pun, apalagi memanggil seseorang hanya dengan namanya, tanpa menyebut marga.
Dengan hati-hati ia menjawab, "Tuan muda Ji jarang sekali berada di dalam negeri, perilakunya juga selalu baik, hampir tidak pernah ada skandal. Kalau pun mau dipaksa cari, ada satu, itu pun ada hubungannya dengan Bapak."
He Zhurai segera menoleh.
"Beberapa hari lalu, ulang tahun ayah Bapak yang ke-60, tuan muda Ji menelepon untuk mengucapkan selamat, tapi caranya kurang sopan, membuat ayah Bapak sangat marah."
"Oh ya? Apa yang dikatakannya di telepon?"
"Di telepon sebenarnya tidak ada yang spesial, karena saat menelpon, ayah Bapak tidak sempat mengangkat, jadi tuan muda Ji meninggalkan pesan setelah bunyi 'beep', mengucapkan selamat ulang tahun, mendoakan agar segera masuk nirwana, dan bilang hidup sampai 60 tahun itu tidak mudah, jadi harus hati-hati jangan sampai mati..."
Selesai berbicara, asisten buru-buru menunduk, takut bosnya marah dan melampiaskan kemarahan padanya.
Tak diduga, He Zhurai malah tertawa pelan, "Ternyata dulu dia juga bisa galak... kenapa tidak sekalian buat He Shifeng mati kaget saja."
"Hah?" Asisten terkejut sampai matanya hampir meloncat keluar.
He Zhurai sudah memalingkan wajah, tatapannya kembali dingin, "Hubungi sekretaris ayahku untukku."
"Baik. Tadi pagi nyonya Dong akan mengadakan konferensi pers, apakah Bapak tetap ingin hadir?"
Nyonya Dong bernama Dong Lin, ibu tiri He Zhurai.
"Apa lagi yang akan dilakukannya?"
Halaman (2/3)
"Nyonya Dong menggandeng mayoritas pemegang saham untuk menolak rencana pembangunan resor elektronik yang Bapak ajukan, kecuali Bapak mengakui di konferensi pers bahwa mesin pencari 3ce yang baru Bapak luncurkan adalah hasil rancangan anaknya, dan Bapak telah mencuri hasil karyanya, maka ia baru akan memerintahkan para pemegang saham itu untuk setuju."
He Zhurai teringat bahwa di kehidupan sebelumnya memang terjadi hal itu, dan demi rencana resor, ia akhirnya menyetujui permintaan tersebut, karena bagi dirinya, desain sebuah mesin pencari bukanlah kehormatan yang besar, sedangkan anak Dong Lin sangat membutuhkannya.
Namun keputusan kecil itu justru membawa masalah tak berujung di kemudian hari.
"Kapan konferensi pers dimulai?"
"Satu jam lagi."
"Panggil aku sepuluh menit sebelum dimulai, dan belikan aku tiket pesawat tercepat ke Niville."
Menurut waktu di kehidupan sebelumnya, saat ini Ji Tingyu berada di wilayah perang Niville, dan perhatian He Zhurai sudah melayang jauh ke sana.
"Aku akan berada di luar negeri untuk sementara waktu. Sebelum aku kembali, kau tidak perlu bekerja, gaji tetap dibayar, cuti tanpa batas. Dan soal yang tadi kutanyakan, jangan ceritakan pada siapa pun."
Asisten hampir saja berteriak kaget, dalam hati ia berharap semoga bosnya tidak pernah kembali seumur hidupnya.
-
Setelah asisten pergi, He Zhurai mengingat kembali, di kehidupan sebelumnya pada waktu ini ia bahkan belum bertemu Ji Tingyu, juga tidak tahu bahwa ia pernah mengucapkan doa "semoga cepat masuk nirwana" pada ayahnya.
Namun He Zhurai yakin, semua ini memang layak diterima oleh He Shifeng.
Saat muda, He Shifeng pernah mengejar ibu Ji Tingyu. Setelah ditolak, ia terus menerus mengganggu dan menggunakan banyak cara licik, menyebabkan nama baik ibu Ji rusak hingga tak bisa tinggal di dalam negeri.
Ucapan selamat ulang tahun kali ini pasti karena Ji Tingyu merasa kesal dan membalaskan dendam untuk ibunya.
"Anak serigala kecil." He Zhurai mengelus batu kecil di telapak tangannya, mencoba membayangkan seperti apa Ji Tingyu saat marah.
Ekspresi wajahnya seperti apa? Suaranya terdengar seperti apa? Apakah matanya akan menyipit atau menatap galak?
Namun bagaimana pun ia mencoba, ia tak bisa membayangkan adegan itu.
Karena di kehidupan sebelumnya, sebelum mereka sempat menikah, Ji Tingyu sudah tertimpa musibah, tubuhnya penuh luka, kepribadiannya berubah drastis, menjadi penakut dan kaku seperti anak kucing yang pernah dianiaya, dan sampai sekarang He Zhurai belum pernah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi saat itu.
Jika dihitung, sejak jatuh cinta padanya hingga benar-benar kehilangannya, He Zhurai hanya pernah melihat dirinya di saat terbaik, yaitu remaja tangguh di puncak gunung salju, menunggang kuda sambil bertanya padanya dari keluarga mana ia berasal.
Untungnya, kini ia tidak perlu hanya mengandalkan imajinasi.
Tak lama setelah asisten pergi, sekretaris ayahnya menghubungi He Zhurai, ia menggunakan sedikit cara untuk mendapatkan rekaman pesan suara ucapan selamat ulang tahun Ji Tingyu untuk He Shifeng.
Kini rekaman itu terdiam di dalam ponsel, namun He Zhurai tak kunjung berani memutarnya.
Sudah genap setahun ia tak mendengar suara Ji Tingyu...
Seolah ingin menghukumnya, selama tiga tahun pernikahan, Ji Tingyu tak meninggalkan satu pun jejak suara atau gambar di rumah.
Saat rindu sudah sampai ke batas kegilaan, He Zhurai tak punya apa-apa, tak bisa mendengar suaranya, tak bisa melihat wajahnya, hanya ada segumpal bulu kering dan batu kecil yang hangus terbakar.
Ia pernah mencoba menenggak alkohol hingga mabuk, berharap bisa bermimpi tentangnya. Tapi Ji Tingyu tak pernah mau datang ke dalam mimpinya.
Kalaupun datang, yang hadir hanyalah mimpi buruk, He Zhurai berkali-kali bermimpi tentang kematiannya.
Ia bermimpi Ji Tingyu merangkak di genangan darah dengan dua kaki patah, bermimpi ia berubah menjadi anak kucing yang hangus terbakar.
Kadang-kadang, anak kucing itu "murah hati" berbicara padanya, ketika ia begitu hancur sampai ingin mengakhiri hidup, bertanya padanya, "Kak Zhuo, kenapa kau memperlakukanku seperti ini, bukankah kau menyukaiku..."
"Aku terbakar sakit sekali, tolong, tolong selamatkan aku..."
Bertahun-tahun, malam-malam tanpa tidur itu mimpi buruk itu terus menyiksa He Zhurai hingga mati, namun kematian bukanlah pelepasan. Berapa pun waktu berlalu, setiap kali mengingat mimpi itu, dadanya terasa perih seakan terkoyak.
Ia bersandar di kepala ranjang, jari-jarinya mencengkeram ponsel begitu kuat hingga tulangnya bergetar.
Saat ia akhirnya memutar rekaman pendek milik Ji Tingyu itu, mengangkat ponsel ke telinga, ia hampir saja berhenti bernapas karena gugup.
Halaman (3/3)
Lalu, terdengar suara yang setengah tersenyum setengah mengejek, mengalun perlahan, "Halo, apa kabar, aku Ji Tingyu."
He Zhurai tiba-tiba menutup mata, setetes air jatuh dari pupil biru esnya, seolah lautan sedang menangis.
Xiao Yu... aku sangat merindukanmu...
-
Sepuluh menit sebelum konferensi dimulai, asisten datang menjemput sesuai perintah, namun kamar itu kosong melompong.
Ia berjalan ke depan kamar mandi dan mengetuk pelan, "Tuan He, Anda di dalam?"
Tak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi, "Tuan He?"
Tetap tak ada suara, asisten pun keluar dengan heran.
Sementara itu, di balik pintu kamar mandi, He Zhurai bersandar pada dinding, menengadah, kedua mata terpejam rapat, jakunnya bergerak cepat seolah menahan sesuatu dengan paksa.
Rekaman suara Ji Tingyu terus mengalir lewat earphone bluetooth, menggelitik gendang telinganya. He Zhurai menggigit bibir, otot dada kotaknya yang indah menegang sampai ke lengan panjangnya, butiran keringat menetes di pelipisnya yang berurat.
Pada usia dua puluh lima tahun, Ji Tingyu memang tidak pandai memaki orang, ucapannya hanya itu-itu saja.
Namun nada suaranya yang penuh kemarahan, di telinga He Zhurai terdengar seperti manja, bahkan setiap kali si omega kecil merasa dirinya garang, makin sering ia mendengarnya, urat di pelipis He Zhurai makin menegang.
Alpha dengan level tertinggi memang lebih mudah dilanda hasrat, apalagi ia sudah menahan diri dua kehidupan lebih dari sepuluh tahun, bila benar-benar terlepas dari belenggu... atau benar-benar kehilangan kendali, ia akan meledak bagai gunung berapi.
Ponsel bergetar, suara dering seperti memanggil maut, asisten menelepon tanpa henti.
Hingga saat terakhir, He Zhurai mendadak mencabut earphone dan menggenggamnya erat, hasrat yang tertahan empat tahun dan luka kehilangan yang tak pernah pulih meledak seketika, dari kerongkongannya lolos desahan parau yang dalam, alisnya yang tegang akhirnya mengendur.
Ia mendongak, menyandarkan kepala di daun pintu, lalu mengangkat tangan menjawab telepon.
"Mengerti." Suaranya tetap dingin dan datar.
Namun di matanya tak ada kepuasan, melainkan tekad dan keyakinan membara setelah bertahun-tahun gagal meraih sesuatu yang benar-benar diinginkan.
Ini adalah kesempatan yang ia bayar dengan nyawanya, apapun caranya, ia akan meraihnya.
Kali ini ia ingin memberikan kehidupan paling indah dan bahagia untuk Ji Tingyu, juga ingin jiwa dan raga, setiap inci kulit, setiap tulang, semuanya sepenuhnya menjadi miliknya.
-
Setelah tiga ronde bermain game puzzle, barulah He Zhurai keluar dari kamar.
Setelan jas garis hitam yang dikenakannya menambah kesan dingin nan menawan, layaknya seorang gentleman paling elegan. Saat ia merapikan dasi, lengkungan tulang pergelangannya membuat siapa pun ingin memegang dan membelai.
Tak akan ada yang percaya ia baru saja melakukan sesuatu di kamar mandi, hanya aroma musk samar di tubuhnya membuat asisten mengangkat alis.
Konferensi pers sudah dimulai, He Shifeng, Dong Lin, dan para pemegang saham duduk di meja berbicara.
Begitu He Zhurai melangkah masuk, para jurnalis langsung mengerubunginya laksana gelombang, kilatan kamera berderak tak putus-putus.
Ia memang terlahir sebagai pusat perhatian, tak perlu diragukan lagi.
Aura bangsawan berasal dari ibunya yang berdarah campuran, sepasang mata biru es bagaikan peninggalan dewa yang tertinggal di dunia, pernah ada yang berseloroh bahwa mata He Zhurai adalah lautan terkecil di dunia, namun cukup untuk menenggelamkan setiap beta dan omega yang berani menatapnya.
Sedangkan para alpha, sudah lama gentar melihat wujud serigala abu-abu yang menjadi bentuk aslinya.
"Maaf." Suara He Zhurai penuh tekanan menggema dari mikrofon, seketika seluruh ruangan hening.