141 Badai Telah Reda
Angin ribut telah berlalu.
Oleh karena itu, Mu Zhaoxuan menekan amarah yang terusbergejolak di dalam dadanya. Dengan senyum yang bukan senyum, ia berkata kepada Wang Huan di hadapannya, "Tuan Muda Wang terlalu sungkan. Sekarang hari masih belum terlalu larut. Bukankah Tuan Muda Wang bilang ingin bermain kecapi bersama Yingwen? Lebih baik kita pergi sekarang."
Mendengar perkataan Mu Zhaoxuan, Hong Yingwen langsung berniat melayangkan protes, namun ia tiba-tiba ditarik oleh Qi Jue yang berada di sampingnya.
Sementara itu, Wang Huan merasa sedikit ragu atas usul Mu Zhaoxuan. Ia bukanlah orang bodoh; beberapa hari ini Mu Zhaoxuan selalu memperlakukannya dengan dingin dan acuh tak acuh... Mungkinkah ini sebuah jebakan? Namun, ketika melirik sekilas wajah tampan Hong Yingwen di samping, hati Wang Huan mau tidak mau mulai goyah, ditambah lagi dengan ekspresi Mu Zhaoxuan yang tampak menyunggingkan senyum tipis.
Mungkin perasaan berbahaya tadi hanyalah ilusinya saja. Akhirnya, Wang Huan mengangguk dan mengikuti Mu Zhaoxuan beserta rombongannya menuju halaman tempat tinggal wanita itu.
Sepanjang perjalanan, Hong Yingwen yang terus ditarik oleh Qi Jue hanya berjalan diam di belakang tanpa mengatakan apa pun, sambil menebak-nebak apa alasan Mu Zhaoxuan tiba-tiba mengubah sikapnya terhadap Wang Huan...
Namun, begitu mereka memasuki halaman tempat Mu Zhaoxuan tinggal, ia pun mengerti.
Begitu melangkah masuk ke dalam halaman, mereka melihat lengan baju hijau panjang Mu Zhaoxuan beribatan, menutup rapat pintu halaman kecil itu. Seketika itu pula, sesosok bayangan berwarna biru tua terlihat ditarik oleh sosok berpohon hijau, langsung diseret dan dibanting ke arah sebatang pohon besar di sudut halaman.
Punggung Wang Huan merasakan nyeri yang luar biasa. Menghadapi Mu Zhaoxuan yang memasang wajah garang di hadapannya, ia tidak bisa menahan keterkejutannya dan berseru, "Mu... Mu Zhaoxuan, apa yang ingin kau lakukan?"
Menekan leher Wang Huan, Mu Zhaoxuan menanggalkan senyumannya dan mengubah ekspornya menjadi amat garang. "Apa yang ingin kulakukan, apakah kau masih belum mengerti juga?"
"Mu Zhaoxuan, jangan bertindak gegabah. Aku ini tamu Pangeran Huaainan."
"Justru karena kau adalah tamulah maka hari ini aku melepaskanmu, tetapi..." Ucap Mu Zhaoxuan seraya menatap tajam ke dalam mata Wang Huan, "Mulai sekarang, jangan pernah muncul lagi di hadapanku."
Wang Huan tidak menyangka bahwa Mu Zhaoxuan yang biasanya bersikap dingin ternyata memiliki watak yang begitu ganas. Menyadari bahwa dirinya telah meremehkan Mu Zhaoxuan, Wang Huan segera tertawa basa-basi, "Nona Mu, kau pasti telah salah paham akan sesuatu."
"Apakah ini sebuah kesalahpahaman?" Menatap senyum di wajah Wang Huan—meskipun memiliki paras yang tampan dan terpelajar, Mu Zhaoxuan tetap merasakan gelombang rasa jijik di dalam hatinya. Ia menekan tangannya sedikit lebih kuat. "Jangan dikira aku tidak tahu siapa yang sedang kauincar. Jika bukan karena pertimbangan bahwa kau mengenal Mu Yuansheng dalam dua hari ini, aku sudah sejak lama menghabisimu. Serta kejadian barusan, kau juga melakukannya dengan sengaja, bukan?"
"Kau... Kau..." Wang Huan membuka lebar mulutnya, ingin bertanya bagaimana wanita itu bisa mengetahuinya, tetapi jika ia bertanya seperti itu, bukankah sama saja dengan mengakuinya secara langsung?
Selama dua hari ini di kediaman Pangeran Huaainan, ia telah mendengar banyak desas-desus tentang Mu Zhaoxuan yang dikenal sangat menyukai ketampanan.
Hal lain mungkin tidak bisa ia pastikan, tetapi perihal paras rupa, Wang Huan masih memiliki rasa percaya diri yang tinggi.
Oleh karena itu, Wang Huan menekan rasa gentar di dalam hatinya, memaksakan senyum tanpa dosa di wajah tampannya, lalu berkata, "Ada apa pun bisa dibicarakan baik-baik. Nona Mu, lepaskan dulu cengkeramanmu." Sambil berkata demikian, Wang Huan menatap Mu Zhaoxuan dengan senyuman yang sangat lembut dan berpendidikan.
Hanya saja, melihat ekspresi tersenyum Wang Huan yang seolah paham betul dengan niat terselubungnya, Mu Zhaoxuan mendengus dingin.
Meskipun memiliki paras yang sangat tampan, lalu kenapa? Apakah pria itu mengira dirinya akan memaafkan segala perbuatannya hanya karena ketampanannya, seperti ia memaafkan si bodoh Hong Yingwen, sehingga ia bisa mengabaikan semuanya tanpa mempermasalahkannya?
Mendekati Wang Huan dengan tatapan tajam, Mu Zhaoxuan berkata dingin, "Hong Yingwen adalah orangku. Jika kau berani memiliki niat macam-macam padanya lagi, atau bahkan meliriknya sekali saja, aku bersumpah, tidak peduli dengan siapa pun kau memiliki hubungan baik atau seberapa kuat pendukung di belakangmu, aku tidak akan membiarkanmu pergi dengan selamat dari sini."
Setelah berkata demikian, melihat Wang Huan yang membelalakkan mata karena terkejut, Mu Zhaoxuan hanya melepaskannya dengan senyum penuh makna dan berkata, "Tuan Muda Kedua Wang, aku tidak sedang bercanda. Jadi, sekarang enyahlah dari hadapanku seketika."
"Kau... Kau..." Wang Huan sangat murka, namun melihat ekspresi ganas Mu Zhaoxuan, teringat akan hubungannya yang begitu dekat dengan Mu Yuansheng, serta berbagai rumor tentang Mu Zhaoxuan di kediaman ini, ia sadar bahwa di wilayah wanita ini, makhluk tersebut mungkin benar-benar sanggup melakukan apa saja.
Semakin ia berpikir, semakin ia merasa ketakutan. Tanpa berkata apa-apa lagi, Wang Huan langsung kabur pontang-panting. Bahkan saat melewati Hong Yingwen, ia menutupi wajahnya dengan lengan baju dan berlalu tergesa-gesa. Tanpa disadarinya, saat ia melangkah melewati Qi Jue, Qi Jue dengan sengaja mengibaskan lengan bajunya ke arahnya.
Hong Yingwen yang melihat kejadian itu dari samping segera mendekati Qi Jue dan bertanya dengan penuh rasa penasaran, "Paman Qi, apa yang baru saja kau lakukan padanya?"
Siapa sangka Qi Jue hanya tersenyum polos dan tak bersalah, "Memangnya apa yang bisa kulakukan?"
Melihat Qi Jue enggan menjawab, Hong Yingwen tidak mendesaknya lagi. Ia justru menarik lengan pria itu dan mendesak, "Kalau begitu, cepat periksa keadaan Zhaoxuan. Bukankah Ran Xiao bilang ingatan Zhaoxuan bisa dipulihkan?"
Mendengar ucapan itu, Mu Zhaoxuan mengesampingkan urusan Wang Huan dan membiarkan Qi Jue memeriksa nadinya.
Sesaat kemudian, setelah Qi Jue menuliskan resep obat, Hong Yingwen dengan riang gembira mengambil secarik kertas resep tersebut dan langsung menyuruh orang untuk meracik serta merebus obat bagi Mu Zhaoxuan.
Melihat betapa antusias dan bahagianya Hong Yingwen, Mu Zhaoxuan hanya duduk tenang mengamati kesibukannya kesana-kamari. Sorot matanya berpendar, entah apa yang sedang dipikirkannya.
Sore hari itu, setelah obatnya diracik, Hong Yingwen mencocokkan jenis dan takaran bahan obat satu per satu sesuai dengan resep yang diberikan Qi Jue, lalu pergi merbus obat itu sendiri. Setelah memastikan Mu Zhaoxuan meminum seluruh obatnya sampai habis, barulah ia pergi dengan perasaan berat hati.
Sebelum pergi, ia tidak lupa berpesan dengan penuh perhatian bahwa esok pagi ia akan datang lagi menjenguknya.
Sikap cerewet pria itu sampai membuat Mu Zhaoxuan merasa pening. Ia seketika menarik kerah sang tuan muda hingga tiba di ambang pintu, lalu melemparkannya keluar tanpa ampun.
Interaksi tarik-menarik di antara keduanya membuat Qi Jue yang berdiri di samping terus mengusap dagunya sambil tersenyum sembunyi-sembunyi.
Hari itu, sekembalinya ke kediaman Hong, Qi Jue menceritakan seluruh rentetan kejadian hari itu kepada Tuan Besar Hong. Pria paruh baya itu pun tersenyum penuh arti dan berkata, "Akhir-akhir ini, frekuensi si anak nakal Wen'er membuat masalah sudah berkurang, dan tabiatnya juga jauh lebih stabil dibanding sebelumnya. Sudah saatnya ia ditempa lebih lanjut untuk melihat apakah ia bisa segera mengambil alih bisnis keluarga."
Saat keduanya tengah tertawa penuh kelicikan, sang tuan muda yang sedang berada di halamannya sendiri—sambil menantikan esok hari ketika sang pendekar wanita akan memulihkan ingatannya—tiba-tiba bersin tanpa sebab. Teringat bahwa dirinya telah berlarian seharian di luar dan mengeluarkan banyak keringat, ia memanggil Mingmo dan Mingxiu untuk menyiapkan air mandi. Kisah tentang bagaimana ketiganya bergosip ria membicarakan kejadian hari itu kemudian menjadi cerita lain di kemudian hari.
Kembali pada malam itu, di kediaman Pangeran Huaainan tempat Wang Huan sementara tinggal,suasana sama sekali tidak tenang.
Entah apa yang terjadi pada Wang Huan malam itu; selepas makan malam dan baru saja hendak beristirahat, sekujur tubuhnya tiba-tiba merasa kedinginan lalu berganti kepanasan, disusul oleh rasa gatal yang luar biasa. Hal itu membuatnya tidak bisa tidur nyenyak bagaimanapun caranya. Ia menduga dirinya telah terkena semacam guna-guna dari Mu Zhaoxuan hari ini. Ketika rasa gatal itu sudah tak tertahankan dan Wang Huan hendak menyuruh orang memanggil tabib, ia melihat sekelebat bayangan hitam melintas di dekat jendela. Suara mendesing terdengar, dan selembar kertas surat yang terlipat rapi menancap di rambutnya.
Wang Huan terkejut hingga menjerit dan jatuh merosot ke lantai. Dengan dibantu para pelayannya, ia bangkit dengan tubuh gemetar.
Sambil bergetar, ia membentangkan surat tersebut. Begitu melihat barisan kalimat yang tertulis di sana, parasnya langsung berubah pucat pasi. Ia buru-buru memerintahkan para pelayan untuk segera mengemas barang-barang, dan begitu fajar menyingsing keesokan harinya, ia tergesa-gesa pamit kepada Mu Yuansheng lalu kabur meninggalkan Kota Huaainan seperti orang ketakutan.
Wang Huan mengira ia akan aman sentosa setelah meninggalkan Kota Huaainan, namun rupanya ia terlalu cepat merasa lega.
Tidak sampai dua hari kemudian, orang-orang mendengar kabar bahwa di tengah perjalanan, Wang Huan entah telah menyinggung siapa hingga salah satu tangannya patah dipukuli orang.
Mendengar berita tersebut, Ning Yuanbao sedang merenungkan cara melepaskan diri dari Hua Yu yang menempel seperti benalu. Ia melirik Hua Yu penuh makna, tanpa suara menanyakan apakah perbuatan ini ulahnya.
Siapa sangka Hua Yu justru melompat karena murka, "Siapa sebenarnya yang berbuat?! Beraninya dia mendahuluiku!"
Ketika mereka bertanya pada Mu Zhaoxuan, wanita itu hanya menggelengkan kepala dengan tenang, sementara Hong Yingwen berdiri di samping sambil tertawa terpingkal-pingkal penuh kemenangan.
Ning Yuanbao berkata dengan penuh pemahaman, "Benar juga, jika itu ulahmu, bagaimana mungkin hukumannya hanya sebatas patah satu tangan."
Setelah itu, orang-orang pun mengesampingkan masalah tersebut. Hingga pada suatu hari di masa mendatang, ketika Mingxiu tak sengaja mendengar orang-orang memperbincangkan insiden itu, ia tertawa dan berkata, "Hari di mana Tuan Muda Wang kedapatan mencengkeram tangan Tuan Muda Ning, Tuan Muda kita sangat murka dan menyatakan bahwa siapa pun yang merunduk saudaranya tidak boleh dilepaskan begitu saja. Jadi, keesokan harinya begitu mendengar kabar Tuan Muda Wang pergi, ia menyuruh Mingmo untuk mengikuti secara diam-diam dan mencari kesempatan untuk menghajarnya habis-habisan."
Barulah pada saat itu orang-orang menyadari bahwa dalang di balik layar yang sebenarnya adalah Hong Yingwen.
Mendapati semua orang menatapnya, Tuan Muda Besar Hong dengan pongah mengipas-ngipaskan kipas kecilnya dan berkata dengan nada bangga, "Jangan dikira singa yang sedang tidak mengaum adalah seekor kucing penyakitan. Beraninya merunduk orang di wilayahku, tentu saja aku tidak boleh melepaskannya."
Namun, itu adalah cerita untuk nanti. Kembali ke pagi hari saat Wang Huan berpamitan untuk pergi.
Langit baru saja menyingsing, dan hamparan bumi masih diselimuti lapisan kabut tipis. Wang Huan, yang tersiksa sepanjang malam tanpa bisa tidur secuil pun, akhirnya bisa sedikit bernapas lega.
Menatap kereta kuda yang semakin mengecil dan menjauh, Hong Jingwan bersandar di sisi Mu Yuansheng dan bertanya, "Pangeran, bukankah kemarin pagi Tuan Muda Wang mengatakan akan tinggal selama dua hari lagi? Mengapa pagi ini ia pergi begitu tergesa-gesa?"
Mu Zhaoxuan hanya tersenyum samar, memasang ekspresi seolah ia pun tidak tahu menahu, dan menjawab, "Mungkin, ia tiba-tiba memiliki urusan mendesak."
Ketika keduanya berbalik masuk ke dalam kediaman, Mu Yuansheng melirik sekilas ke arah halaman tempat tinggal Mu Zhaoxuan dengan pandangan penuh arti. Tampaknya selama dua hari ini ia telah melewatkan sesuatu.
Begitu mendengar berita kepergian Wang Huan, Mu Zhaoxuan tidak menunjukkan reaksi berlebihan; ia hanya mengangguk kecil sebagai tanda mengerti.
Sementara itu, Tuan Muda Besar Hong yang sejak pagi sudah datang berlari karena tidak sabar menahan rasa penasarannya, sama sekali tidak peduli dengan kepulangan Wang Huan. Ia membelalakkan matanya lebar-lebar, menatap lekat-lekat kepada Mu Zhaoxuan, lalu bertanya dengan hati-hati, "Bagaimana... Apakah kau... sudah mengingat kembali masa lalu?"
Mendengar pertanyaan Hong Yingwen, raut wajah Mu Zhaoxuan sulit ditebak emosi seperti apa yang sedang bergolak di baliknya.
Melihat Mu Zhaoxuan yang terdiam hening, hati Hong Yingwen langsung terasa mencelos, "Mungkinkah... masih belum bisa mengingatnya?"
Menatap Hong Yingwen dengan sorot mata yang sulit diartikan, Mu Zhaoxuan terdiam sejenak sebelum bertanya, "Jika aku benar-benar tidak bisa mengingatnya, apakah kau akan keberatan?"
Benar dugaannya... ternyata memang belum mengingatnya... Harapan yang tadinya memenuhi dadanya seketika pupus. Hong Yingwen mau tak mau terdiam. Namun, melihat Mu Zhaoxuan yang berada tepat di hadapannya, kemelut di hati Hong Yingwen mendadak lenyap. Seolah merasa lega, ia tersenyum dan berkata, "Jika tidak bisa diingat ya sudah tidak apa-apa. Yang terpenting adalah kau masih ada di sini. Jika kau ingin tahu tentang masa lalu, aku bisa menceritakannya satu persatu padamu."
Menatap senyuman Hong Yingwen, di dalam bola matanya yang berwarna gelap terpancar kehangatan yang melimpah. Dari dalam tatapan itu, Mu Zhaoxuan dapat melihat dengan jelas bayangan dirinya sendiri. Ia pun balas menatap Hong Yingwen dengan lembut, "Kalau begitu, kau harus menceritakan semuanya padaku secara detail tanpa ada yang terlewat."
Tersenyum lebar, Tuan Muda Besar Hong mengangguk penuh semangat.
Secara tiba-tiba, sebuah gagasan melintas di benaknya. Sang tuan muda mengusap dagunya, merenungkan bahwa kini Mu Zhaoxuan sudah melupakan masa lalu yang memalukan itu, bukankah ini adalah kesempatan emas baginya untuk membentuk kembali citra dirinya yang "gagah perkasa"?