Aku sudah pindah kelas.
“Semua itu hanya kabar burung, jangan dipercaya.”
Zhao Huanhuan mengangguk, lalu berkata pada Ji Yao, “Kamu sadar nggak, semua rumor tentangmu di sekolah sudah hilang.”
Benar juga! Ia sudah merasakannya sejak pagi tadi saat datang ke sekolah. “Kamu tahu kenapa bisa begitu?”
“Mana aku tahu, aku juga mau nanya ke kamu. Apa kamu punya seseorang yang hebat di belakangmu, yang membantumu membersihkan semua gosip?” Zhao Huanhuan tertawa kecil, alisnya yang indah sedikit terangkat.
“Aku mana punya orang sehebat itu! Mungkin saja semua orang sudah menemukan hiburan baru.” Ji Yao tersenyum. Tiba-tiba ia teringat Qin Nan, dan kata-kata yang pernah diucapkannya. Setelah suasana mulai tenang seperti ini, semoga Qin Nan tidak lagi berulah dan berusaha merebut ‘dewa besar’ yang ia miliki!
Hari berlalu dengan cepat. Saat Ji Yao pergi ke garasi untuk mengambil mobil, ia sempat khawatir mobilnya akan dicoret-coret lagi. Namun tak disangka, tulisan cat di mobilnya sudah lenyap, bahkan mobilnya tampak lebih bersih.
Siapa sebenarnya yang begitu baik hati, sampai-sampai mencucikan mobilnya?
Segalanya terasa cerah setelah hujan, dan beberapa hari berlalu dengan damai. Rapat motivasi menjelang ujian masih diadakan tepat waktu setiap hari, dan ia tetap belum mendapatkan kesempatan berbicara di podium. Hanya saja, kini di sekelilingnya ada Pan Sisi. Gadis itu selalu bisa menemukan topik untuk mengajak Ji Yao berbicara. Lama-kelamaan, ia dan Zhao Huanhuan pun mulai terbiasa dengan keberadaan Pan Sisi.
Pagi itu, rapat motivasi kembali dimulai. Suhu udara semakin panas. Zhao Huanhuan mengeluarkan dua butir permen dingin, memberikan satu pada Ji Yao dan satu lagi pada Pan Sisi.
Ji Yao sedikit tertegun melihat tindakan Zhao Huanhuan. Meski kelihatannya ramah dan ceria, Zhao Huanhuan sebenarnya sangat sensitif dan tidak mudah menerima hal atau orang baru. Ia memberikan permen pada Pan Sisi, itu tandanya ia telah menerima kehadiran Pan Sisi.
Pan Sisi baru saja memasukkan permen ke mulut, matanya langsung berbinar dan wajahnya penuh kegembiraan. Ia berseru, “Wah! Permen ini benar-benar dingin dan segar! Huanhuan, permen dari keluargamu memang hebat.”
“Minggu depan akan mulai dijual di pasaran. Nanti aku akan kasih kalian masing-masing satu kotak besar,” kata Zhao Huanhuan dengan penuh semangat.
“Eh… lihat deh, itu di atas podium, bukankah itu Su Yuying!” seru seseorang di kerumunan.
Mendengar nama Su Yuying, hati Ji Yao tetap saja bergetar. Ia menengadah, dan di atas podium, Su Yuying dengan rambut merahnya berkibar ditiup angin, tampak sangat mencolok.
“Cepat sekali dia kembali ke sekolah! Padahal sempat dengar katanya kakinya patah,” ujar Zhao Huanhuan dengan nada kurang suka.
“Kudengar dia pindah kelas, sekarang di kelas satu,” Pan Sisi menimpali sambil melirik ke arah Ji Yao, memastikan ekspresi Ji Yao tetap tenang.
“Huh, dia mau pindah ke mana pun, asal jangan ke kelas kita, aku nggak peduli,” kata Zhao Huanhuan dengan nada sinis.
Pan Sisi tersenyum manis, “Huanhuan benar, aku juga nggak suka dia, dewi palsu.”
Ucapan itu benar-benar sesuai dengan selera Zhao Huanhuan, dan ia membalas Pan Sisi dengan senyum penuh persetujuan.
Ji Yao melihat interaksi antara Pan Sisi dan Zhao Huanhuan. Kini ia paham, mengapa Huanhuan bisa menerima kehadiran Pan Sisi. Pan Sisi tahu benar bagaimana mengambil hati orang lain, dan Huanhuan memang paling lemah dengan cara seperti itu.
Rapat motivasi segera berakhir. Zhao Huanhuan menggandeng lengan Ji Yao, Pan Sisi berjalan di samping mereka, bertiga menuju ruang kelas. Saat itu tiba-tiba sekelompok siswi berteriak histeris di koridor.
“Qin Nan!”
“Ya ampun, Qin Nan ganteng banget…”
“Idola…”
Kerumunan mulai membuat jalan. Tampak Qin Nan berjalan penuh percaya diri, satu tangan menenteng tas, satu tangan lain santai di saku celana, auranya seperti bintang, langkahnya gagah dan mempesona. Di belakangnya, dua pengawal mengikutinya, satu membawa kursi, satu lagi menggendong meja.