Bab Lima Puluh: Membeli Mobil
Di dalam ruang interogasi, Er Gou melanjutkan ceritanya, “Wang Rui sangat senang mendengarnya. Dia menepuk dadanya dan berkata pada saya, ‘Saudara, asalkan aku dengar kabar Lin Xue sudah mati, aku pasti akan bayar penuh, uang itu sekarang buatku sama saja seperti tumpukan kertas tak berguna.’ Saya bilang, ‘Baiklah, berarti kita sudah sepakat.’”
“Kemudian, Wang Rui bercerita lagi tentang pengalamannya meracuni seorang pelukis di hotel dulu. Dia bilang, ‘Jangan pernah meninggalkan jejak di lokasi kejadian. Aku tertangkap gara-gara lalai meninggalkan jejak kaki.’ Saya menjawab, ‘Tenang saja, nanti saya carikan orang profesional, dijamin tak akan meninggalkan bekas apa pun.’”
“Setelah keluar dari penjara beberapa waktu yang lalu, saya mulai memperhatikan setiap gerak-gerik Lin Xue, tapi tak pernah dapat kesempatan bagus. Suatu hari, saya mendengar keributan di lantai bawah, awalnya suara perempuan, lalu suara laki-laki. Saya penasaran dan turun melihat. Baru sampai di ujung tangga, saya melihat seorang pria membawa pisau buah berlari keluar dari rumah Lin Xue. Saya tak sempat menghindar, langsung bertabrakan dengannya. Dalam hati saya berpikir, jangan-jangan benar ada orang yang membantu saya membunuh perempuan itu. Saya pun diam-diam ingin memastikan apa yang terjadi. Pintu rumah Lin Xue ternyata tidak tertutup. Saya mengintip dari celah pintu, ruang tamu kosong. Saya pun mengendap masuk, dan saat sampai di depan kamar tidur, saya melihat Lin Xue sedang berdiri di kamar mandi menatap ce