Bab 85 3 Pembunuh Haus Darah
“Pei Feng, kau ini benar-benar menyembunyikan kemampuan, ya. Diam-diam menghanyutkan, sekalinya muncul langsung mengguncang semua orang, benar-benar seperti memanah dua burung dengan satu anak panah!” Di perjalanan pulang, Pei Feng jadi sasaran candaan semua orang.
“Kalian ini memang suka usil, ya? Pei Feng sudah menjomblo lebih dari dua puluh tahun, sudah saatnya dia cari pasangan buat menghangatkan tempat tidurnya. Udara sekarang makin lama makin dingin,” kata Pak Zhang, sopir yang tahun depan akan pensiun, jadi sekarang omongannya makin blak-blakan.
“Benar juga, kalau dia nggak buru-buru lepas status perjaka, bisa-bisa jadi perjaka terakhir abad ini,” sambung Da Shu, yang memang senang mengejek para jomblo seperti Pei Feng—itu hiburan tetap buat para pria yang sudah menikah.
Lin Jinghao menyetir dan berhenti di depan rumah sakit. Xia Mingyue masih belum bangun, malah mulai mendengkur pelan. Lin Jinghao tak ingin mengganggu, melihat waktu masih pagi, ia melepas jaketnya, pelan-pelan menyelimuti Xia Mingyue, lalu turun untuk membeli semangkuk mi daging sapi di warung makan. Setelah menghabiskan mi, ia membungkus satu porsi lagi untuk dibawa ke mobil.
Dalam tidur lelapnya, Xia Mingyue sepertinya mencium aroma sup daging sapi. Perlahan ia membuka mata, hal pertama yang dilihatnya adalah mi panas di atas dashboard, lalu menunduk dan melihat jaket Lin Jinghao di tubuhnya. Wajahnya tampak sedikit terharu.
“Maaf, semalam aku operasi sampai larut, jadi ketiduran,” ucap Xia Mingyue sambil duduk tegak. Jaket Lin Jinghao tak beraroma rokok seperti jaket pria lain, justru terasa hangat, membuatnya enggan melepas dan mengembalikannya.
“Kami tahu kamu operasi semalaman, masih dipanggil pagi-pagi ke tempat kejadian, seharusnya kami yang minta maaf,” kata Lin Jinghao sambil tersenyum. Sudah lama ia tak melihat wanita terbangun di sampingnya di pagi hari.
“Kamu lihat-lihat aku kenapa? Apa aku kelihatan jelek?” Xia Mingyue jadi gugup karena Lin Jinghao menatapnya. Ia belum sempat berdandan setelah bangun tidur.
“Tidak, kamu tetap cantik, mau dandan atau tidak,” jawab Lin Jinghao tersenyum.
Pipi Xia Mingyue memerah. Wajahnya yang biasanya pucat karena jarang terkena matahari, kini tampak makin berseri.
“Aku berangkat kerja dulu, akan kuusahakan hasilnya secepat mungkin. Terima kasih untuk sarapannya,” nada suara Xia Mingyue mendadak lembut, seperti gadis kecil, membuat Lin Jinghao sampai terheran-heran.
Sesampainya di kantor, Lin Jinghao memanggil Pei Feng dan Da Shu. Satu diminta mencari semua peserta acara ‘Arak-arakan Seratus Hantu’ semalam, satu lagi diminta mencari orang yang pernah muncul di kastil taman terbengkalai itu. Karena belum ada petunjuk, mereka hanya bisa melakukan penyelidikan secara perlahan.
Baru saja mereka pergi, Gu Qing masuk sambil manyun dan mengetuk pintu.
“Pak Lin, ada kasus pembunuhan, kenapa aku nggak diajak? Aku keberatan, loh.”
“Pei Feng nggak ngabarin kamu tadi pagi?” Lin Jinghao baru ingat, karena Gu Qing belakangan ini cuek padanya, ia malah lupa menyuruh Pei Feng mengajak ‘detektif’ satu ini.
“Enggak, aku pagi-pagi ke kantor, nggak lihat satu orang pun. Nggak ada yang kabarin aku,” keluh Gu Qing.
“Oh, tadi pagi memang kejadiannya mendadak, hari masih gelap, jadi kami nggak sempat panggil kamu. Maaf, lain kali pasti diingatkan,” ujar Lin Jinghao. Soal nona besar satu ini, ia memang tak kuasa.
“Terus, sudah dapat petunjuk nggak?” Meski tak ikut ke TKP, Gu Qing tetap tak bisa dilarang terlibat.
“Untuk saat ini belum ada petunjuk. Tapi, menurut para saksi, mereka melihat Count Dracula—seorang vampir—menumpahkan darah korban di ambang jendela, lalu mendorongnya dari kastil.”
“Vampir membunuh!” Mata Gu Qing berbinar-binar, jelas ia sangat tertarik dengan kasus ini.
“Iya, ada yang bilang begitu,” jawab Lin Jinghao, mengingat ucapan Pang Yu.
“Vampir membunuh, vampir membunuh...” Gu Qing menopang dagu, terus bergumam sambil mondar-mandir di ruangan.
“Pak Lin, menurut Anda, apa vampir benar-benar ada di dunia ini?”
Kalau soal hantu, Lin Jinghao sering bertemu, tapi hantu luar negeri, ia memang belum pernah.
“Vampir kan dari luar negeri, nggak mungkin muncul di Tiongkok, kan?” jawab Lin Jinghao.
“Iya, makanya aku rasa pasti ada yang menyamar jadi Count Dracula, dan orang ini pasti penggemar berat legenda vampir,” tebak Gu Qing.
“Lanjutkan.”
“Pelaku kemungkinan adalah salah satu peserta acara malam itu. Situasi saat itu—waktu, tempat, orang—semuanya mendukung untuk beraksi.”
“Kenapa bukan tunawisma atau pecandu yang bersembunyi di sana?” tanya Lin Jinghao.
“Tunawisma tidak mungkin repot-repot menyamar jadi Count Dracula untuk membunuh orang. Pecandu, jika melihat orang asing, pasti sembunyi, bukan malah muncul membunuh. Dan soal topeng, mana mungkin kebetulan di TKP? Kecuali... sudah direncanakan.”
“Sudah direncanakan!” Ucapan itu menyadarkan Lin Jinghao. Dari kasus ini, kecuali benar-benar ada vampir, pembunuhan spontan nyaris mustahil. Jadi, tersangka utama adalah semua peserta acara malam itu.
Namun, acara itu diadakan lewat undangan daring, semua peserta mengenakan topeng dan tidak saling kenal. Taman terbengkalai itu pun tak terpantau kamera. Mencari semua pesertanya terasa mustahil!
“Pak Lin, Anda merasa sulit menemukan mereka, ya?” Gu Qing seolah bisa membaca pikirannya.
“Sebenarnya, kita bisa minta bantuan polisi siber untuk melacak alamat IP mereka lewat internet. Dengan begitu, semua peserta bisa ditemukan.”
“Benar juga. Ayo segera hubungi Pei Feng, suruh dia minta bantuan polisi siber!” Lin Jinghao langsung menyuruh Gu Qing menelpon.
Begitu Gu Qing keluar, telepon Lin Jinghao berbunyi. Dari Xia Mingyue.
“Pak Lin, setelah saya periksa, korban benar-benar mati karena gigitan. Di leher korban ada dua bekas gigitan dalam, itu adalah luka fatalnya,” ujar Xia Mingyue. Ini di luar dugaan Lin Jinghao. Jika pelaku hanya menyamar sebagai vampir, obsesi itu sungguh sudah kelewatan.
“Satu lagi, saya menemukan kemungkinan pelaku memang meminum darah korban. Sepertinya, dia benar-benar seorang penggemar darah!”
“Apa? Kenapa nggak sekalian bilang pelakunya memang vampir saja?”
“Pak Lin, jangan lupa, dalam novel Lu Xun juga ada yang makan mantou dicampur darah, katanya untuk menyembuhkan penyakit.”
“Itu masa feodal, Xia Mingyue. Sekarang sudah modern, masih ada orang seperti itu?” Lin Jinghao merasa Xia Mingyue agak berlebihan.
“Tapi jangan lupa, sekarang orang kaya malah makin percaya takhayul. Di kota kecil pegunungan seperti ini, apa saja bisa terjadi. Bagaimana menurutmu?” Sepertinya memang ada bukti bahwa seseorang meminum darah korban, makanya Xia Mingyue begitu yakin.
“Biar aku cerna dulu.” Lin Jinghao hendak menutup telepon, namun suara lembut Xia Mingyue terdengar, “Mienya pagi ini enak sekali, terima kasih.”
Setelah menutup telepon, Lin Jinghao sempat berkeringat dingin. Ini benar-benar Xia Mingyue yang ia kenal?
“Kabar baik, Pak Lin!” Belum sempat Lin Jinghao berpikir, instruktur masuk dengan wajah sumringah.
“Kabar baik apa?” Baru kali ini Lin Jinghao melihat instruktur begitu semangat.
“Dari info atasan, desa kita, gara-gara pertumbuhan ekonomi beberapa tahun terakhir melampaui tingkat kota, akan segera naik status jadi kota tingkat kabupaten!”
“Apa bagusnya?” Lin Jinghao tak peduli urusan politik, jadi tak paham maksud instruktur itu.
“Pak Lin, kalau sudah jadi kota tingkat kabupaten, kantor kita otomatis naik kelas, kamu bisa saingan sama Zhang Tao dari kepolisian kota!” nada bicara instruktur agak berlebihan.
“Kenapa aku harus saingan dengan Zhang Tao?” Lin Jinghao tertawa, ia memang tak pernah berpikir untuk bersaing dengan siapa pun.
“Pak Lin, jujur saja, kalau disuruh pilih antara kamu dan Zhang Tao, aku lebih suka kerja bareng kamu. Nona Gu juga pasti lebih suka begitu.”
“Kamu ngomong apa sih?” Pembicaraan mengarah ke Gu Qing lagi, Lin Jinghao sampai mengernyit.
“Pak Lin, kamu benar-benar polos! Orang lain mati-matian ingin mendekat ke Nona Gu, sedangkan kamu, sudah di depan mata, malah pura-pura nggak tahu.”
“Instruktur...”
“Aku tahu kamu orangnya bersih, tak mau dianggap naik jabatan berkat wanita. Tapi coba pikir, sekarang kalau nggak ada koneksi, mana bisa naik pangkat? Katanya ‘kalau punya orang dalam, sepuluh tahun lebih mudah’, kamu nggak paham?”
“Instruktur, aku benar-benar nggak ada pikiran ke sana,” Lin Jinghao tak tahu harus bilang apa.
“Pak Lin, kamu masih muda, masa nggak punya ambisi?” Instruktur hanya menggeleng tak habis pikir dan keluar dari kantor.
Sebenarnya, seluruh percakapan itu didengar Gu Qing yang sedang membawa sesuatu ke ruangan kepala kantor. Ia pura-pura tak mendengar dan berlalu.
Lin Jinghao jatuh terduduk di kursi. Disuruh bersaing demi kekuasaan, ia lebih suka memecahkan kasus ini. Kasus tanpa petunjuk ini malah terasa makin rumit.
‘Apa benar, di dunia ini ada orang yang hidup dengan meminum darah sesama manusia?’