Bab 57 Hantu di Dalam Cermin Bagian 5 Cara Memanggil Maria Berdarah
“Bang Jinghao, kamu ada di dalam? Ada masalah besar!” Tiba-tiba terdengar suara ketukan keras dari luar pintu. Lin Jinghao mendengarkan dengan saksama, itu suara Li Qing. Namun terdengar panik, seolah-olah sesuatu yang serius sedang terjadi.
Lin Jinghao menyapa Xia Mingyue sebentar sebelum menutup telepon. Ia berjalan ke pintu dan membukanya, Li Qing masuk dengan wajah penuh kecemasan.
“Ada apa, Li Qing? Apa yang terjadi?”
“Kelompok opera kita bermasalah lagi, pemeran baru Tujuh Bidadari juga melihat hantu di cermin.”
“Ada yang lihat hantu lagi? Orangnya tidak apa-apa kan?”
“Orangnya sih tidak kenapa-kenapa, cuma besok mungkin tidak bisa tampil lagi.” Begitu mendengar orangnya baik-baik saja, Lin Jinghao langsung merasa lega. Masalah bisa tampil besok atau tidak, itu urusan belakangan.
“Orangnya di mana? Ayo antar aku ke sana.”
“Orangnya tinggal di apartemenmu.” Wajah Li Qing memerah, sedikit malu.
Seperti kata pepatah, air mengalir ke sawah sendiri. Karena takut, anggota kelompok opera minta dicarikan tempat menginap di luar, dan Li Qing tentu saja membawa mereka ke tempatnya sendiri.
Delapan orang dari kelompok opera menyewa dua kamar: satu untuk dua perempuan, Xiao Hui dan Xiao Xian; satu lagi untuk lima laki-laki dan pemimpin kelompok.
Setiba di kamar, pemimpin kelompok sedang memarahi mereka, “Kalian kurang kerjaan, siang sudah ditakut-takuti hantu, malam-malam malah main ‘Bloody Mary’. Sekarang lihat, besok masih bisa pentas atau tidak, semua siap-siap makan angin!”
Kali ini, yang meringkuk di sudut sofa adalah Xiao Xian. Rambutnya basah menempel di dahi, kedua matanya yang besar menatap ke depan dengan ketakutan, seperti habis dirasuki hantu dan jiwanya dihisap pergi. Lima laki-laki lainnya berdiri berderet di tengah ruang tamu, menundukkan kepala, menerima omelan pemimpin.
“Pemimpin, ada apa sebenarnya?”
“Mereka ini, siang sudah takut sama hantu, malam-malam balik apartemen malah main ‘Bloody Mary’. Mau tahu apa beneran bisa lihat hantu di cermin atau tidak, akhirnya benar-benar lihat hantu!”
“Di kamar ini juga ada hantu?” Lin Jinghao terkejut.
‘Jangan-jangan ini ulah arwah Xiao Fu lagi!’ Lin Jinghao melirik ke arah para pemuda itu, semua memandang ke arah kamar mandi dengan tatapan gugup.
Pintu kamar mandi setengah terbuka, hanya menyisakan celah. Terdengar suara air mengalir, tak ada cahaya terang, hanya kilatan api kecil yang remang-remang seperti nyala api hantu, seolah-olah ada bayangan bergoyang di dalam.
“Bang Jinghao, jangan masuk.” Baru saja ia melangkah, merasa bajunya ditarik seseorang. Begitu menoleh, Li Qing menatapnya dengan wajah memelas.
“Tenang saja, lupa siapa aku? Hantu pun harus takut sama keberanian polisi.” Begitu Lin Jinghao bicara, Li Qing melepas tangannya. Ia tahu, tak mungkin ia bisa mencegah polisi yang penuh rasa keadilan ini.
Lin Jinghao melangkah ke pintu kamar mandi. Ia merasakan angin dingin berembus dari dalam, membuatnya bergidik.
Ia mendorong pintu kamar mandi, uap panas langsung menyambut. Dalam remang-remang cahaya, tiba-tiba muncul sesosok wajah hantu di atas ‘api hantu’. Di dahinya tertulis dua aksara merah darah: Xiao Fu.
Lin Jinghao spontan merinding. Setelah menenangkan diri dan menajamkan pandangan, ternyata ‘api hantu’ di kamar mandi adalah dua batang lilin yang ditiup angin, diletakkan di kanan-kiri cermin.
Karena pintu terbuka, uap mulai menipis. Lin Jinghao meraba, menyalakan lampu kamar mandi. Begitu lampu menyala, ia tercengang melihat bak mandi penuh dengan ‘air darah’ berwarna merah. Otaknya seketika kosong, ‘ini sudah ketiga kalinya ia melihat bak mandi penuh merah.’
“Ah!” Saat Lin Jinghao hendak memeriksa lebih lanjut, tiba-tiba terdengar jeritan perempuan dari luar.
Lin Jinghao menoleh, hampir menabrak seseorang, ternyata Li Qing. Ia berdiri terpaku di pintu dengan mulut terbuka karena ketakutan.
Memang, perempuan biasanya begitu. Semakin takut, semakin penasaran ingin mendekat melihat, lalu akhirnya menjerit menutup mata sendiri.
Lin Jinghao buru-buru menutupi pandangan Li Qing dengan tubuhnya, dan menariknya ke samping.
“Kamu kembali saja dulu, biar aku yang urus.” Li Qing mengangguk tanpa suara, kakinya seperti terpaku di lantai, tak bisa bergerak.
Lin Jinghao menggelengkan kepala, lalu masuk lagi ke kamar mandi. Uap panas mulai hilang, bayangan hantu di cermin makin jelas, dua aksara merah Xiao Fu setelah terkena air seperti darah menetes ke bawah.
Lin Jinghao mengeluarkan ponsel, kembali menelepon Xia Mingyue. Setelah beberapa saat, akhirnya Xia Mingyue menjawab, tampaknya ia sudah tidur.
“Komandan Lin, kamu ini tidak membiarkan orang tidur ya? Ada apa lagi?”
“Aku mau tanya, anak muda sekarang suka main ‘Bloody Mary’, sebenarnya aturan mainnya bagaimana? Kamu pasti tahu kan?” Lin Jinghao yakin orang yang bisa bernegosiasi dengan pelukis kematian seperti Yin Jie pasti tahu legenda Bloody Mary.
“‘Bloody Mary’? Komandan Lin, jangan-jangan ada yang benar-benar main? Bagaimana hasilnya? Mary muncul dari cermin? Ada yang mati?”
“Aduh, aku di sini ada beberapa anak muda, malam-malam tidak tidur malah main Bloody Mary, tidak ada yang menakutkan mereka, mereka sendiri yang ketakutan.” kata Lin Jinghao tanpa daya.
“Aturan main Bloody Mary itu, seseorang harus masuk kamar mandi jam dua belas malam, matikan lampu, letakkan dua lilin di kiri dan kanan cermin, lalu nyalakan. Gunakan lipstik merah, yang melambangkan darah dan balas dendam, tulis nama pemain dan temannya, bisa juga tidak menulis nama sendiri, minimal satu nama. Kemudian, dengan khidmat menghadap cermin dan ucapkan ‘Aku percaya Mary’ tiga kali. Katanya akan terjadi hal-hal aneh, air di bak mandi akan berubah jadi merah. Konon, ada yang sampai mati, ada yang ditarik Mary masuk ke cermin, bahkan ada yang melihat darah keluar dari sela-sela keramik di dinding...
Permainan ini bukan sembarangan! Mary membenci semua orang, dia tidak percaya siapa pun. Larangan terbesar adalah mengatakan ‘percaya padamu’ pada Mary. Karena Mary dikenal sebagai roh jahat, jangan harap dia akan menolongmu.”
“Dokter Xia, kamu tahu banyak sekali, jangan-jangan kamu sendiri pernah coba?”
“Kok kamu tahu? Komandan Lin, aku memang ingin sekali mencobanya suatu hari, ingin tahu apa yang akan terjadi?” Lin Jinghao merasa Xia Mingyue hampir kehilangan akal sehat, membicarakan ini saja sudah begitu bersemangat.
“Kalau kamu mau tahu ini cuma lelucon atau bukan, caranya gampang. Coba sentuh saja yang muncul itu, atau cek air di bak mandi, apakah benar-benar darah.” Saran Xia Mingyue membuat Lin Jinghao teringat sesuatu, ia mengulurkan tangan, menyentuh ‘hantu’ di cermin.
Begitu uap hilang, bayangan hantu yang jelas tadi perlahan memudar, dan di tempat yang disentuh, muncul bekas tangan.
“Komandan Lin, cium baunya,” kata Xia Mingyue.
Lin Jinghao mendekatkan tangan ke hidung, mencium aroma yang sangat dikenalnya.
“Itu bau sabun, kan?” tanya Xia Mingyue dari seberang telepon.
“Iya, memang seperti bau sabun.”
“Komandan Lin, itu berarti ada yang menggores cermin dengan sabun. Saat suhu normal, gambar itu tidak tampak. Tapi kalau ruangan jadi panas, gambar dari sabun akan muncul, dan lipstik yang dipanaskan akan mirip darah. Air di bak juga pasti diberi zat pewarna merah, begitu kena air, seluruh bak jadi merah.”
Sambil Xia Mingyue menjelaskan di telepon, Lin Jinghao membuktikannya satu per satu di kamar mandi. Benar saja, tulisan merah di cermin adalah lipstik, air ‘darah’ di bak ternyata hanya cairan merah.
“Terima kasih, Dokter Xia. Nanti aku pasti balas budi.” Selesai bicara, Lin Jinghao langsung menutup telepon sebelum Xia Mingyue sempat menjawab.
“Pemimpin, waktu kejadian ini, semua orang ada di sini?”
“Iya, kami semua bersama, kecuali pemimpin dan Xiao Ming yang keluar membakar uang kertas arwah.”
“Li Qing, sebelum mereka masuk, ada orang lain yang masuk kamar ini?”
“Sebelumnya… aku sempat membantu Hui Jie masuk. Tapi Hui Jie merasa kamar ini tidak enak, lalu pindah ke kamar lain.”
“Hui Jie!” Ini sungguh di luar dugaan Lin Jinghao.
“Bagaimana, pemilik apartemen, semuanya baik-baik saja?” tanya pemimpin kelompok dengan cemas.
“Tidak apa-apa, sepertinya ada yang iseng, bayangan hantu di cermin itu digambar pakai sabun.”
“Siapa yang iseng begitu? Kalian, ya?” Pemimpin kelompok langsung membentak.
“Bukan kami, kok. Kami dari tadi memang bersama.”
“Xiao Xian, tulisan merah di cermin itu kamu yang buat pakai lipstik?” tanya Lin Jinghao pada Xiao Xian yang masih duduk di sofa. Kini ia terlihat sudah tenang.
“Tulisan itu memang aku yang bikin, mereka yang minta. Air di bak juga aku yang isi. Sebenarnya kami cuma ingin memanggil Xiao Fu dari cermin, minta maaf, supaya dia tidak ganggu pertunjukan besok. Tapi begitu tulisan selesai, aku bilang tiga kali ‘Mary, aku percaya padamu’. Saat menoleh, di cermin muncul bayangan orang. Kubalikkan kepala, air bak sudah merah. Aku langsung lari ketakutan.”
Setelah tahu semua hanya ulah manusia, Xiao Xian pun mulai tenang kembali.