Bab 137 Pergilah
Liang Jiancheng bergerak sangat cepat, maju ke depan dan merengkuh tubuh Liang Qin. Gu Meilan, yang terkapar di tanah dengan separuh telinganya hancur tertembak, tak memedulikan rasa sakitnya. Ia mengangkat lengan, namun sebelum sempat menarik pelatuk, Liang Jiancheng sudah lebih dulu melindungi Liang Qin dengan sorot mata yang dipenuhi niat membunuh. Dua letusan senjata terdengar hampir bersamaan. Tubuh Liang Jiancheng tersentak, sementara Gu Meilan tewas seketika dengan peluru bersarang di antara kedua alisnya, matanya terbuka lebar seolah tidak rela menemui ajal.
Saat Liang Qin hendak menoleh, Liang Jiancheng berbisik lirih, "Jangan lihat."
Liang Qin tahu pasti, pria itu baru saja menghabisi nyawa Gu Meilan.
Mendengar suara tembakan, para pengawal dari Pasukan Yu bergegas masuk. Melihat Gu Meilan telah tewas di tangan Liang Jiancheng, salah seorang pengawal berkata dengan hati-hati, "Panglima, orang-orang dari Pasukan Jiangbei kemungkinan besar akan segera melacak tempat ini. Kita tidak boleh berlama-lama di sini."
Liang Jiancheng tidak menjawab. Ia hanya menarik tangan Liang Qin dan membawanya keluar dari pabrik itu.
"Liang Jiancheng!" Liang Qin mencoba melepaskan diri, namun tenaganya sama sekali tidak sebanding dengan kekuatan pria itu.
Liang Jiancheng membawanya masuk ke dalam mobil. Ia melarang para pengawal ikut serta, lalu menyalakan mesin. Mobil itu pun melesat bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya, menembus pekatnya malam.
"Mau kau bawa ke mana aku?" suara Liang Qin terdengar lemah dan parau. Matanya yang jernih berkaca-kaca di bawah sinar bulan. Ia tidak tahu apa rencana Liang Jiancheng, apalagi ke mana pria itu akan membawanya.
Keringat membasahi pelipis Liang Jiancheng. Profil wajahnya yang menyamping tampak tegas dan tampan. Ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Meski mendengar pertanyaan Liang Qin, ia tidak bersuara dan tetap fokus mengemudikan mobilnya.
Liang Qin yang kelelahan setelah seharian disiksa oleh Gu Meilan, ditambah dengan luka di tubuhnya, merasa lunglai. Ia duduk termenung menatap kegelapan malam yang tak bertepi, tiba-tiba muncul rasa gamang, seolah-olah jalan yang ditempuh Liang Jiancheng bersamanya adalah jalan tanpa arah tujuan.
"Hentikan mobilnya." Liang Qin menggertakkan gigi, menegakkan tubuh, dan mencoba merebut kemudi dari tangan Liang Jiancheng.
Liang Jiancheng menginjak rem, mobil pun berhenti di tengah padang rumput yang luas.
Liang Qin terengah-engah. Ia melirik ke luar jendela, sama sekali tidak tahu di mana mereka berada.
"Liang Qin," Liang Jiancheng memutar tubuhnya ke arah wanita itu. Liang Qin membalas tatapannya. Di bawah sinar rembulan, wajah Liang Jiancheng tampak pucat, entah karena kelelahan menyetir atau memang tampak letih.
"Ayo kita pergi," Liang Jiancheng melepaskan kemudi dan menggenggam tangan Liang Qin. "Hanya kita berdua. Berkendara lagi ke arah barat laut selama sehari semalam, kita bisa meninggalkan Jiangbei. Kita cari tempat di mana tidak ada seorang pun yang mengenal kita, dan kita jalani hidup yang tenang."
Liang Qin hendak melepaskan genggamannya untuk turun dari mobil, namun Liang Jiancheng menariknya dengan kuat ke dalam pelukan.
"Liang Qin, ikutlah denganku." Liang Jiancheng memeluknya erat. Suaranya rendah dan menusuk kalbu, seolah ia baru saja mendapatkan kembali sesuatu yang hilang dan kini mendekapnya dengan sangat posesif.
"Liang Jiancheng, aku ini milik Xie Chengdong. Kita tidak akan pernah bisa bersama lagi." Liang Qin mendorong tubuh pria itu dan kembali duduk di kursi penumpang. Menatap pria di hadapannya, ia merasakan kesedihan sekaligus kegelian.
"Liang Qin..." Liang Jiancheng kembali mencengkeram tangannya.
"Dulu saat kita di Chuan-Yu, bagaimana perlakukanmu padaku?" kelopak mata Liang Qin perlahan memerah, suaranya makin parau. "Kau memukul dan memaki diriku. Bahkan saat aku mengandung anakmu, kau tidak pernah peduli. Baru setelah aku bersama Xie Chengdong, kau datang berulang kali mencariku dan memaksaku pergi. Tidakkah kau merasa dirimu konyol?"
Setelah Liang Qin selesai bicara, ia hendak turun dari mobil lagi. Liang Jiancheng memeluknya dari belakang. Ujung jari pria itu gemetar tipis. Ia menggerakkan bibirnya, suaranya begitu rendah hingga nyaris tak terdengar, "Liang Qin, beri aku satu kesempatan lagi."
Liang Qin meronta, membiarkan air mata membasahi pipinya. "Lepaskan aku! Anakku, ibuku, suamiku, mereka semua ada di Jiangbei. Aku harus kembali, aku harus mencari mereka!"
"Ya, mereka semua ada di Jiangbei," suara Liang Jiancheng terdengar sangat lirih. Ia perlahan menarik kembali tangannya. Liang Qin tidak menoleh sedikit pun, ia membuka pintu mobil dan turun.
Liang Jiancheng menatap punggungnya, lalu tiba-tiba ia memanggilnya.
Liang Qin berhenti melangkah dan akhirnya menoleh.
Liang Jiancheng turun dari mobil dengan langkah sedikit tertatih. Saat itu hari sudah mulai terang. Liang Qin melihat guratan wajah pria itu tampak lembut. Sosoknya yang tinggi berdiri tegak di sana, lalu bertanya, "Liang Qin, apakah kau kedinginan?"
Liang Qin mengatupkan bibirnya, menahan tangis sekuat tenaga.
Liang Jiancheng melepas mantel militernya, melangkah maju beberapa tindak, lalu menyampirkannya ke bahu Liang Qin.
"Lewati bukit ini, di bawah sana ada rumah penduduk." Liang Jiancheng menatap wajah Liang Qin, tersenyum tipis, dan berucap dengan suara serak, "Pergilah, Liang Qin."
Liang Qin berbalik dan melangkah lebar menuju bukit. Air mata bercucuran di pipinya tanpa henti. Ia tidak repot-repot menghapusnya, hanya tahu bahwa ia harus pergi dan memang sudah seharusnya pergi. Ia terus melangkah tanpa henti, menahan napas karena takut jika ia berhenti, ia tidak akan memiliki kekuatan lagi untuk terus berjalan.
Saat menuruni bukit, ia akhirnya terisak keras. Ia membenci dirinya sendiri. Ia tidak mengerti mengapa ia merasa begitu sedih, sampai akhirnya ia melihat kepulan asap dari dapur di kaki bukit. Ia kehilangan seluruh kekuatannya dan ambruk ke tanah.
Ia masih mengenakan mantel Liang Jiancheng. Mantel itu seolah masih menyimpan suhu tubuh pria tersebut. Liang Qin terengah-engah, jemarinya secara tidak sengaja menyentuh ujung mantel, namun ia terperanjat saat merasakan sesuatu yang lengket.
Hatinya berdegup kencang. Dengan bingung, ia menatap telapak tangannya sendiri yang telah berlumuran darah.
Ia tertegun sejenak sebelum akhirnya melepaskan mantel itu dengan panik. Ia melihat sebuah lubang peluru yang nyata pada kain mantel tersebut, dan area di sekitarnya telah basah kuyup oleh darah.
Wajah Liang Qin seketika berubah pucat pasi, tak ada lagi warna kehidupan. Ia memegang mantel itu, tangannya gemetar hebat tanpa kendali, disusul oleh gigi yang bergemeletuk, hingga akhirnya seluruh tubuhnya menggigil hebat.
Ia tidak tahu bagaimana caranya bangkit berdiri, hanya merasa sekujur tubuhnya membeku dan pandangannya berkunang-kunang. Ia berjalan terhuyung-huyung kembali ke tempat tadi.
Dari kejauhan, terlihat sesosok tubuh terkapar di atas rerumputan.
Dengan tatapan kosong, Liang Qin berlari menuju Liang Jiancheng.
Saat itu hari sudah terang benderang. Liang Qin baru menyadari pakaian yang dikenakan Liang Jiancheng hampir seluruhnya basah oleh darah.
Ia jatuh tersungkur ke tanah, air mata berjatuhan tanpa henti. Ia memeluk tubuh Liang Jiancheng, mengguncang-guncangnya seraya memanggil namanya, "Liang Jiancheng..."
Mungkin karena guncangan itu, Liang Jiancheng perlahan membuka mata. Saat melihat Liang Qin di hadapannya, ia menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya.
"Kenapa kau tidak mengatakannya?" Liang Qin menatap matanya. Sanggul rambutnya telah terurai, dan air mata telah mengaburkan penglihatannya. "Kenapa kau tidak mengatakannya? Kenapa kau tidak bicara? Mengapa kau melakukan ini!?"
"Liang Qin, ini... hutangku padamu," suara Liang Jiancheng sangat rendah, nyaris tidak mampu lagi berucap.
"Jangan bicara lagi, aku akan turun ke bawah mencari bantuan." Liang Qin menoleh ke sekeliling, namun yang terlihat hanyalah daratan luas yang sunyi, tidak ada seorang pun di sana. Ia menyelimutkan kembali mantel itu ke tubuh Liang Jiancheng, lalu bangkit hendak pergi.
Liang Jiancheng menahan pergelangan tangannya.
"Tidak perlu, percuma," suara Liang Jiancheng serak saat mengucapkan kata-kata itu.
Liang Qin merasa kepalanya seolah meledak. Seluruh tenaganya seakan terkuras habis. Ia duduk di sana, menatap luka di tubuh Liang Jiancheng dengan tatapan kosong.
Ia berusaha menutup luka itu dengan tangannya secara sia-sia. Ia memejamkan mata, air mata mengalir deras dari sudut matanya.
"Untuk apa kau menangis?" Liang Jiancheng tersenyum. "Jika aku mati, tidak akan ada lagi... orang yang mengganggumu. Dunia ini juga akan jatuh ke tangan Xie Chengdong. Liang Qin... kau seharusnya senang."
Setelah mengatakan itu, Liang Jiancheng terbatuk hebat. Tubuhnya terasa semakin dingin, dan darah yang terus mengalir keluar seolah merenggut seluruh sisa kehangatannya.
"Jangan bicara lagi." Liang Qin menarik kembali tangannya. Ia menatap kehidupan yang perlahan memudar dari tubuh Liang Jiancheng. Ia tidak lagi berkata-kata, hanya mendekap tubuh pria itu.
Sudut bibir Liang Jiancheng masih menyisakan senyum tipis. "Liang Qin, apakah kau masih ingat, dulu... di Chuan-Yu, saat aku ditikam di aula... kau ada di sampingku, aku bertanya padamu..."
"Aku ingat semuanya," suara Liang Qin terdengar lembut. "Aku ingat semuanya."
"Maafkan aku, Liang Qin." Liang Jiancheng perlahan memejamkan mata. Menghirup aroma tubuh Liang Qin, ia merasakan ketenangan dan kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Aku memaafkanmu," Liang Qin terisak. Ia menundukkan wajahnya dalam-dalam, berbisik di telinga Liang Jiancheng, "Aku memaafkanmu atas segalanya."
"Bagus," Liang Jiancheng tersenyum tipis, lalu mengeluarkan beberapa kata terakhir yang samar dan tidak jelas.
Liang Qin, aku mencintaimu.