Hati-hati
Wajah Qin Nan tampak sangat buruk. Ia menatap Ji Yao dengan sorot mata dingin. Entah kesurupan apa dirinya hari ini hingga mengucapkan semua perkataan itu. Ia bahkan merayu gadis biasa-biasa saja ini, tetapi gadis itu sama sekali tidak tersipu atau gugup; matanya pun tidak memancarkan sedikit pun kilau.
Ia tidak percaya bahwa dirinya benar-benar tidak memiliki tempat di hati Ji Yao.
Dengan satu tangan, Qin Nan mencengkeram pergelangan tangan Ji Yao, lalu menjepit gadis itu di antara lengannya dan dinding.
Dalam naskah drama, adegan menahan seseorang di dinding seperti ini merupakan adegan yang paling disukai para aktris. Setiap kali aktris yang beradu peran dengannya sampai pada bagian ini, tak seorang pun dari mereka yang tidak tampak malu-malu sekaligus gembira.
“Lepaskan aku!” kata Ji Yao dengan wajah sedingin es. Tangannya mengepal, lalu menekankan tinjunya ke dagu Qin Nan.
Benar-benar pengecualian. Qin Nan merasa selama bertahun-tahun ini ia telah sia-sia berakting. Mungkin gadis di hadapannya memang terlahir dengan satu bagian otak yang kurang.
Di dalam Batu Langit Kosong, Xiu Yi mendengar suara seorang pria asing. Ketika menoleh, ia menyadari bahwa pria itu adalah pemuda yang selama ini mengganggu Ji Yao. Kini pemuda itu bahkan hendak mencelakai Ji Yao. Tanpa berpikir panjang, Xiu Yi melompat keluar dari Batu Langit Kosong dan menghantam dada Qin Nan dengan keras.
Qin Nan merasakan kekuatan telapak tangan yang dahsyat menghantam dadanya. Serangan itu datang terlalu mendadak sehingga ia tidak sempat menghindar dan terpaksa menerima hantaman tersebut secara langsung.
Dadanya terasa nyeri. Ia mengerang tertahan dan memuntahkan sedikit darah.
Qin Nan mundur beberapa langkah. Ia melihat seberkas cahaya putih melesat keluar dari gelang di pergelangan tangan Ji Yao. Sesaat kemudian, kepulan asap tipis berubah menjadi telapak tangan raksasa yang kembali bersiap menghantamnya.
Ji Yao melihat Qin Nan memuntahkan darah dan merasa masalah ini mulai menjadi serius. Ia segera berdiri di depan Qin Nan, mengangkat tangan untuk mencegah serangan itu.
“Dewa Agung, hentikan!”
Xiu Yi segera menghentikan tangannya. Ia tidak mengerti mengapa Ji Yao mencegahnya. Qin Nan jelas-jelas terus mengganggunya, tetapi mengapa Ji Yao malah membelanya? Entah mengapa, Xiu Yi merasa agak tidak senang.
“Yao-Yao, minggirlah. Biar kuhajar pemuda kurang ajar ini sampai keluar!”
“Dewa Agung, jangan membuat masalah!” Dengan lantai setinggi ini, kalau dia dihantam sampai jatuh ke luar, bukankah itu sama saja dengan membunuh orang?
Pikiran Ji Yao mulai melantur. Ia tidak mau menanggung perkara pembunuhan.
Meskipun tidak melihat siapa pun di hadapannya, Qin Nan tahu bahwa yang disebut Ji Yao sebagai Dewa Agung pastilah anjing berkekuatan gaib yang pernah dilihatnya. Rupanya makhluk itu bersembunyi di sini.
Bahkan bisa berbicara! Nada suaranya juga cukup menarik.
“Yao-Yao? Panggilan itu lumayan. Yao-Yao, kau sebenarnya tidak tega menyakitiku, bukan?” Saat mengucapkan itu, Qin Nan memasang senyum penuh godaan.
Ji Yao hampir memutar bola mata. Dengan jengkel, ia berkata, “Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya tidak mau terseret perkara hukum karena kematian seseorang.”
Setiap ekspresi kecil Ji Yao tak luput dari pandangan Qin Nan. Menarik. Tampaknya kehidupan membosankan yang selama ini dijalaninya akan menjadi lebih menyenangkan.
Qin Nan berjalan menuju jendela, lalu tersenyum miring kepada Ji Yao. Dengan suara rendah ia berkata, “Aku tidak percaya kau sama sekali tidak memedulikanku.”
Begitu selesai berkata, Qin Nan melompat keluar jendela dan menghilang ke dalam malam.
Ji Yao menjerit kaget, “Qin Nan!”
Ia membungkuk di ambang jendela sambil mengulurkan tangan ke luar, seolah-olah hendak menangkap seseorang yang jatuh.
Angin berembus kencang disertai suara dedaunan yang bergemerisik. Seekor binatang terbang raksasa muncul di tengah malam di luar jendela. Qin Nan berdiri dengan mantap di atas punggungnya. Wajahnya yang tampan tampak begitu jelas dalam kegelapan, tanpa sedikit pun terlihat suram. Pada saat itu, ia tampak luar biasa.
“Kau tetap mengkhawatirkanku,” ujar Qin Nan dengan senyum puas karena berhasil mempermainkannya. Namun, sesaat kemudian wajahnya berubah serius. “Akhir-akhir ini, berhati-hatilah.”
Setelah berkata demikian, Qin Nan menghilang ke dalam malam.
Ji Yao terus memikirkan kalimat terakhir Qin Nan. Seolah-olah ia mulai memahami tujuan sebenarnya pemuda itu datang malam ini: untuk memastikan apakah dirinya masih hidup.
Ketika Qin Nan menyuruhnya berhati-hati, apakah itu ada hubungannya dengan kejadian yang berlangsung di jamuan makan keluarga Qin Nan tempo hari? Apakah itu berkaitan dengan siluman kecil yang bertekad membunuhnya?
Jika ia menyuruhnya berhati-hati, seharusnya ia tidak datang mengusiknya.
Ji Yao berdiri di dekat jendela dengan tatapan kosong.
“Dia begitu menyebalkan, tetapi kau benar-benar mengkhawatirkannya?” kata Dewa Agung dengan nada tidak puas setelah Qin Nan pergi.
Ji Yao mengangguk dan merenung. “Sedikit. Kata-katanya barusan membuatku agak cemas. Dewa Agung, jangan-jangan kita sedang diawasi seseorang?”
Apa yang dikatakan Ji Yao ternyata tidak berkaitan dengan pertanyaan Dewa Agung.
Xiu Yi masih merasa tidak senang karena melihat ekspresi Ji Yao yang melamun tadi. Namun, setelah mendengar perkataannya, sedikit pikiran aneh yang sempat muncul di benaknya pun lenyap.
Ji Yao tidak salah. Dunia manusia ini ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan Xiu Yi. Ada manusia yang menempuh jalan keabadian, dan ada pula para pembudidaya ilmu hitam.
“Lalu kenapa kalau kita sedang diawasi? Bukankah ada aku?” kata Xiu Yi dengan tenang.
Ji Yao merasa geli. Suara Dewa Agung tidak keras, tetapi perkataannya sungguh penuh wibawa. Setelah mengingat semua kejadian sebelumnya, Ji Yao tetap sangat menyetujuinya. Ia bahkan mengacungkan jempol.
“Dewa Agung, sungguh berwibawa!”
Di dalam Batu Langit Kosong, Xiu Yi merasa sedikit puas mendengar pujian Ji Yao. Tanpa sadar, sudut bibirnya melengkung.
Hari ujian masuk perguruan tinggi semakin dekat. Di waktu senggang, Ji Yao pergi ke sekolah untuk mengambil surat pemberitahuan dari wali kelas. Ia juga menerima hadiah yang diberikan sekolah, termasuk beasiswa.
Sebenarnya penghargaan itu hendak diserahkan dalam upacara besar di hadapan seluruh guru dan murid sekolah pada hari sebelumnya. Sayangnya, Ji Yao tidak datang ke sekolah hari itu. Maka, ketika datang kali ini, ia menerima semua penghargaan itu dengan sederhana dan santai, lalu mengemudikan mobilnya pulang.
Para siswa tingkat akhir sudah pulang untuk mempersiapkan ujian. Hanya siswa tingkat pertama dan kedua yang masih bersekolah. Setelah meletakkan hadiah-hadiahnya di dalam mobil, Ji Yao berpikir bahwa sebentar lagi ia benar-benar akan meninggalkan tempat ini. Ia pun memutuskan berjalan-jalan di sekitar sekolah untuk melihat pemandangan.
Selama tiga tahun di sekolah menengah, ia belum pernah benar-benar memperhatikan tempat belajarnya itu. Katanya, ada beberapa tempat yang sangat disukai pasangan kekasih di sekolah. Di sana juga terdapat banyak bunga langka. Batu Langit Kosong miliknya masih sangat kosong; menanam beberapa bunga di dalamnya tentu dapat memperindah rumah.
Ji Yao berjalan menuju taman sekolah. Sepanjang perjalanan, setiap kali melihat bunga yang indah, ia memetik sekuntum bunga atau sehelai daun. Di dalam Batu Langit Kosong, potongan kecil seperti itu sudah cukup untuk membuat tanaman tumbuh subur.
Di dalam Batu Langit Kosong, Xiu Yi melihat Ji Yao sesekali melemparkan bunga atau ranting ke dalam. Ia merasa heran—apa lagi yang hendak dilakukan gadis itu?
Tak lama kemudian, ia mencium aroma harum yang memenuhi udara. Betapa pekat dan melimpahnya energi spiritual dalam keharuman itu! Xiu Yi tidak tahan untuk tidak keluar dari Batu Langit Kosong.
Yang pertama kali terlihat olehnya adalah hamparan hijau yang rimbun, diselingi bunga-bunga beraneka warna yang bertumpuk indah. Banyak di antaranya belum pernah ia lihat sebelumnya.
“Dewa Agung, kau keluar juga. Ini taman paling indah di sekolah. Ada banyak tanaman langka di sini, jadi aku memetik beberapa untuk ditanam di dalam Batu Langit Kosong.” Ji Yao tersenyum kepada Xiu Yi.
Ini jauh lebih baik daripada menanam sayuran. Jarang-jarang Ji Yao menunjukkan sisi anggunnya. Xiu Yi menatap lautan bunga di hadapannya, lalu tanpa sadar berkata, “Saat bunga-bunga di pegunungan bermekaran, ia tersenyum di antara kerumunan bunga.”
Ia pernah mendengar kalimat itu dari orang-orang di televisi. Kini, kalimat tersebut terasa sangat cocok digunakan di tempat ini.
Mendengar Dewa Agung si anjing melantunkan puisi, Ji Yao merasa sangat geli. Ia pun tak kuasa menahan tawa.
“Dewa Agung, puisi itu memang sangat sesuai dengan suasana. Tetapi, siapa ‘ia’ yang kau maksud? Jangan-jangan kau menyukai anjing betina!”
Xiu Yi mengernyitkan dahi. Pemandangan yang begitu indah, mengapa perkataan Ji Yao malah terasa begitu merusak suasana? Anjing betina apanya? Ia adalah seorang dewa—mana mungkin seleranya serendah itu?