Budi Besar
Begitu mendengar perkataan Xiao Gan, Xiao Hanqing langsung menegakkan tubuhnya, berdiri di hadapan Ji Yao, dan menatap Xiao Gan dengan mata memerah karena marah, lalu berkata, "Masalah ini tidak ada hubungannya dengan Ji Yao. Jika aku tidak lulus ujian, aku akan keluar dari keluarga Xiao."
"Kak! Kau sudah gila, ya!" seru Xiao Tong dengan wajah panik. Jika Xiao Hanqing sampai meninggalkan keluarga Xiao, apa yang harus ia lakukan?
Xiao Hanqing memandang Xiao Tong dengan dingin. Adik tiri seibu ini sama sekali tidak pernah sehati dengannya. Ia mengabaikan Xiao Tong dan hanya menatap Xiao Gan dengan tatapan menantang.
Xiao Gan tidak menyangka Xiao Hanqing akan berbicara seperti itu. Bisa mengusir keparat ini dari keluarga Xiao adalah salah satu impian terbesar di antara saudara-saudara mereka! Berkat kekayaan dan pengaruh yang dikumpulkan oleh ayahnya, meskipun pemuda ini dianggap remeh di dalam keluarga Xiao, kehidupannya jauh lebih baik daripada mereka yang memiliki pendukung kuat.
Begitu ia meninggalkan keluarga Xiao, apa yang dimilikinya sekarang akan jatuh ke tangan mereka, seperti pekarangan ini dan orang-orang ini.
"Bagus! Deal! Semua orang yang ada di sini hari ini menjadi saksinya," seru Xiao Gan sambil mengangkat tangan dengan gembira.
Kali ini ia pasti menang! Universitas Qin? Xiao Gan sendiri bahkan tidak lulus ujian masuk, apalagi pemuda ini, masih bermimpi ingin masuk Universitas Qin! Itu adalah hal mustahil yang tidak mungkin terjadi.
Xiao Mo yang sedari tadi menonton pertunjukan itu, kini berkata sambil tersenyum geli, "Xiao Gan, kalau aku tidak salah ingat, Xiao Hanqing sudah lulus ujian wawancara untuk salah satu jurusan. Kau harus berhati-hati."
Xiao Gan tidak peduli dan berkata, "Dengan nilai sampahnya itu, kalau dia sampai lulus ujian tertulis, itu sama saja arwah ayahnya sedang membawa berkah di kuburan!"
Xiao Gan tertawa terbahak-bahak. Sambil tertawa, ia menatap Ji Yao dengan pandangan penuh niat buruk.
Xiao Mo berkata lagi, "Di sini juga ada orang paling jenius se-negara. Dengan adanya orang jenius ini, aku khawatir kau benar-benar harus menggonggong seperti anjing."
Xiao Mo ini sengaja melakukannya, bukan? Ji Yao tidak mempedulikan Xiao Mo, tidak membenarkan juga tidak membantah. Tindakan Xiao Hanqing yang membela dirinya tadi cukup membuatnya terkejut.
"Hebat bagaimana pun juga, ingin berbuat curang di ruang ujian itu sama saja bermimpi," kata gadis bertato itu. Gadis ini tampak lebih tua dari mereka semua. Dari nadanya, sepertinya ia pernah mengikuti ujian itu dan bahkan pernah mencoba berbuat curang.
"Orang paling jenius se-negara, terlalu berlebihan, kan! Hanya karena gadis bernama Ji Yao ini, dia bisa membantunya masuk Universitas Qin? Lelucon!" kata Xiao Gan dengan senyum meremehkan.
Ji Yao tidak berbicara dan tidak memasukkan perkataan mereka ke dalam hati, ia hanya melirik sekilas ke arah Xiao Hanqing.
Melihat Ji Yao bersikap seperti seorang murid teladan, Xiao Gan merasa ingin mempermainkannya. Ia paling benci pada murid-murid teladan yang sok suci, terutama para gadis seperti ini. Di permukaan tampak begitu tinggi dan sulit digapai, tetapi pada hakikatnya mereka semua adalah wanita murahan yang tidak mampu menolak godaan.
"Kenapa tidak bicara lagi? Berapa banyak uang yang diberikan Xiao Hanqing padamu sampai kau begitu bersemangat membantunya!" Xiao Gan menatap Ji Yao dengan pandangan penuh prasangka kotor, kata-katanya sarat dengan makna merendahkan.
"Xiao Gan, jangan keterlaluan," kata Xiao Hanqing dengan geram.
Ji Yao tidak merasa marah. Ia hanya merasa fitnahan murahan semacam itu sama sekali tidak ada artinya, karena ia sudah terlalu sering mendengar kata-kata pedas. Ia tersenyum tipis dan berkata, "Uang memang tidak diberikan, tetapi dia berhutang budi besar padaku. Kau pikir segala hal bisa diselesaikan dengan uang? Aku, Ji Yao, sama sekali tidak kekurangan uang!"
Xiao Hanqing memandang Ji Yao dengan kebingungan. Di dalam hati ia berpikir, kapan ia berhutang budi besar padanya? Apakah wanita ini sedang mencari kesempatan untuk memanfaatkannya?
Xiao Mo merasa agak geli. Apakah Ji Yao ini benar-benar seperti apa yang dikabarkan dalam rumor? Rasanya ia sama sekali tidak seperti sosok penyendiri dan membosankan yang diceritakan orang-orang, justru jauh lebih menarik.
Hutang budi yang besar? Xiao Hanqing benar-benar akan berhutang budi yang sangat besar di masa depan!
Skakmat oleh ucapan Ji Yao, Xiao Gan ingin meluapkan amarahnya, namun amarahnya itu dikalahkan oleh rasa penasaran. "Apa hutang Xiao Hanqing padamu?"
Jika ia mengetahui hal ini, bukankah itu berarti ia bisa memegang kelemahan Xiao Hanqing?
"Bagaimana mungkin aku menceritakan hal ini kepadamu," ucap Ji Yao datar.
Xiao Gan terdiam seribu bahasa karena tidak bisa membantah. Ia melangkah maju, berniat memberi Ji Yao pelajaran. Ji Yao mundur beberapa langkah, menatap Xiao Gan dengan tatapan memperingatkan agar tidak bertindak sembarangan.
Xiuyi menyaksikan drama duniawi ini dan menilai secara objektif bahwa segerombolan bocah nakal ini memang bertindak keterlaluan. Jika boleh, ia sebenarnya ingin membantu Xiao Hanqing, itu pun tergantung pada apakah pemuda itu nantinya bersikap hormat kepada Ji Yao atau tidak.
Namun dari situasi yang terlihat di hadapannya, si pria berwajah masam itu sangat tidak menghormati Ji Yao. Tatapan pria itu pada Ji Yao membuatnya sangat tidak suka.
Xiuyi merapal sebuah mantra. Halaman yang tadinya tenang tiba-tiba disapu angin kencang. Angin bertiup seolah datang dari segala penjuru. Di pagi hari musim panas ini, hembusan angin yang tiba-tiba itu terasa begitu dingin. Kedua gadis yang mengenakan pakaian terbuka pun mau tak mau meringkuk karena kedinginan.
"Pagi-pagi begini, kenapa tiba-tiba ada angin kencang," maki Xiao Gan.
Xiao Hanqing merasa angin ini sedikit familiar, jadi ia sedikit menstabilkan posisinya.
Tiupan angin yang kencang mengangkat sebuah pot bunga berukuran sebesar wajah manusia dan menghantamkannya tepat ke muka Xiao Gan. Xiao Gan tidak sempat menghindar, hingga terdengar teriakan kaget dari Xiao Mo: "Awas!"
Sekeras apapun ia mencoba menghindar, pot itu tetap menghantamnya dengan telak. Xiao Gan menjerit-jerit kesakitan. Di kepalanya masih tersangkut sekumpulan daun hijau, sementara seluruh rambut dan wajahnya dipenuhi tanah yang bercampur dengan darah, mengalir menuruni pangkal hidungnya.
"Sakit sekali! Cuaca sial apa ini." Xiao Gan memegangi kepalanya dengan satu tangan sambil berteriak histeris.
Xiao Mo melirik dingin ke arah Ji Yao dan anak anjing di dalam pelukannya, lalu menyapu pandangannya ke arah Xiao Hanqing. Pemuda itu menatap Xiao Gan dengan senyum geli, ekspresinya seolah-olah sudah tahu sejak awal.
Ada apa ini? Angin ini datang secara misterius dan tidak tampak seperti perbuatan manusia, tetapi siapa yang mempermainkannya? Apakah Xiao Hanqing? Tidak mungkin! Pemuda tidak berguna ini, bagaimana mungkin bisa menggunakan cara yang begitu aneh? Namun di tempat ini, dialah yang paling mencurigakan.
Xiao Mo memikirkan banyak hal di dalam hatinya, namun wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ekspresi kebingungan. Sebaliknya, ia dengan tenang memerintahkan orang-orang untuk membawa Xiao Gan berobat.
Sebelum pergi, Xiao Mo menatap Ji Yao dan berkata, "Aku sangat ingin melihat kemampuan seperti apa yang kausediakan untuk membantunya."
Ji Yao tersenyum cerah. "Kita lihat saja nanti!"
Rombongan Xiao Mo pergi menemui Xiao Gan, dan angin kencang pun perlahan-lahan mereda. Xiuyi mengubah posisinya di dalam pelukan Ji Yao dan dengan nyaman meregangkan tubuhnya.
Xiao Hanqing masih berdiri mematung. Xiao Tong datang menghampirinya dengan perasaan marah bercampur cemas, "Xiao Hanqing, apa kau sudah gila? Jika kau meninggalkan keluarga Xiao, apa yang harus aku lakukan?"
"Pergi... Pergi sejauh mungkin," bentak Xiao Hanqing pada Xiao Tong.
Pada saat seperti ini, wanita itu hanya memikirkan dirinya sendiri! Xiao Hanqing merasa sangat marah, namun di lubuk hatinya yang paling dalam ia merasa begitu pilu. Ia melirik Ji Yao yang berdiri dengan tenang di sampingnya, menatapnya dengan acuh tak acuh dan menjaga jarak. Meskipun begitu, wanita ini masih jauh lebih hangat daripada Xiao Tong.
Ia meraih pergelangan tangan Ji Yao dan menariknya, melewati Xiao Tong, lalu melangkah masuk ke dalam vila.
Teriakan frustrasi Xiao Tong terdengar dari belakang!
Begitu mereka tiba di ruang kerjanya, ruangan itu tampak sangat berantakan. Lantai dipenuhi oleh berbagai macam potongan kertas dan buku-buku yang berserakan di mana-mana. Dengan kondisi seperti ini, masih ingin masuk Universitas Qin? Ji Yao sendiri bahkan merasa ciut.