153 Wanita Dewa Jahat

Catatan Kekekalan Sang Dewa Yu Ruojie Chen 2268kata 2026-03-31 23:45:13

“Berhenti!” Yuyue mengulurkan tangan untuk mencengkeram bahu Ji Yao, lalu dengan satu sentakan menarik gadis itu ke hadapannya. Tangannya yang lain langsung menahan pergelangan tangan Ji Yao—tangan yang telapaknya terluka.

Merasa kesakitan, Ji Yao mengerahkan tenaga untuk menarik kembali tangannya, lalu mendorong Yuyue menjauh. Dengan nada dingin ia berkata, “Nona Besar, untuk apa kamu terus menggangguku? Aku benar-benar tidak tahu apa yang kamu maksud dengan makhluk suci itu.”

“Sebenarnya siapa kamu?” tanya Yuyue dengan tatapan tajam.

“Aku hanya manusia biasa.” Ji Yao ingin segera pergi dan melepaskan diri dari gangguan Yuyue.

“Manusia biasa? Hih! Kalau begitu, kita harus membuktikannya.” Usai berkata demikian, Yuyue tersenyum dingin. Seketika itu juga, sehelai benang perak muncul di telapak tangannya. Begitu ia melambaikan tangan, benang-benang halus itu meliuk-liuk di udara dan langsung meluncur ke arah Ji Yao.

Ji Yao baru menyadari saat benang-benang itu mendekat bahwa setiap utasnya dilengkapi dengan ujung jarum yang tajam. Jika jarum-jarum itu menancap di tubuh, rasanya pasti amat menyiksa. Ia buru-buru berbalik untuk lari, namun baru beberapa langkah berjalan, sebuah benang telah melilit kakinya. Jarum yang tajam menusuk kulitnya, membuatnya mengaduh tertahan.

Kini ia tidak bisa melarikan diri lagi. Benang demi benang kian erat melilit tubuhnya, sementara ujung-ujung jarum terus menusuk-nusuk kulitnya. Meskipun Ji Yao pernah belajar ilmu bela diri, ia sama sekali tak berdaya menghadapi benang-benang yang sangat tipis namun begitu kuat tersebut.

“Dewi Mulia, tindakan ini rasanya keterlaluan. Gadis ini tampak seperti manusia biasa,” ujar Raja Hantu yang berdiri di sisi lain, merasa tidak tega dan mencoba melerai.

“Raja Hantu, ini urusanku. Aku tidak pernah ikut campur dalam urusanmu, jadi urus saja orangmu sendiri,” balas Yuyue dingin.

Meskipun Raja Hantu tidak menyukai sifat Yuyue yang angkuh, ini memang bukan urusannya. Ia lantas berkata kepada Fang Ting, “Segera ikuti aku pergi.”

Fang Ting menunjukkan sikap sangat hormat kepada Raja Hantu. Ia membungkuk sedikit, lalu menggendong Mingming sambil melirik ke arah Ji Yao dengan tatapan penuh tanda tanya. Saat Mingming melihat Ji Yao disiksa, wajah kecilnya langsung merenggut. Sambil menangis ia berkata, “Ibu, tolong Kakak.”

Fang Ting merasa serba salah dan diliputi rasa bersalah. Ia sama sekali bukan tandingan wanita itu, terlebuh lagi Raja Hantu memilih untuk tidak ikut campur, sehingga ia semakin tidak memiliki kuasa untuk menolong.

Ji Yao disiksa dengan begitu kejam hingga sekujur tubuhnya dipenuhi luka. Gaun panjang katun putih miliknya bahkan telah ternoda oleh carah darah. Ia benar-benar bernasib sangat sial karena bertemu dengan seorang wanita tiran.

Melihat Ji Yao disiksa sedemikian rupa namun wujud aslinya tak kunjung muncul, Yuyue merasa semakin kesal. Entah mengapa, menyaksikan penderitaan gadis kecil itu justru memberinya kepuasan yang tidak masuk akal. Dengan sekejap lambaian tangan, ia menarik benang-benang perak itu semakin kencang.

“Lepaskan aku!” teriak Ji Yao kesakitan.

Chen Jiawei yang berlari dari lantai bawah tertegun melihat Ji Yao disiksa separuh mati, dan begitu melihat pelakunya adalah wanita cantik, ia semakin kebingungan. Sambil menghunus pedangnya, ia berteriak lantang, “Aku polisi! Cepat lepaskan dia!”

Yuyue melambaikan sebelah tangan dan langsung menerbangkan Chen Jiawei hingga terpental jauh. Dengan nada meremehkan ia berucap, “Tidak tahu diri!”

Ji Yao sudah kesakitan hingga tidak mampu bersuara. Ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk meronta dan melepaskan diri dari lilitan benang-benang tersebut, tetapi semakin ia meronta, lilitannya justru semakin erat. Benang-benang itu sangat liat dan tipis, hingga merasuk dan mengoyak dagingnya.

“Katakan, sebenarnya siapa kamu, dan mengapa tubuhmu memancarkan aroma buah suci!” Yuyue menarik benang-benang itu sambil mengawasi Ji Yao yang terus berdarah di bawah kendalinya. “Ini adalah Benang Awan Langit yang ditempa dari bulu phoenix dan awan pembawa berkah serta rumput abadi. Semakin keras kamu meronta, benang ini akan semakin mengerat.”

Benang apa yang sialan ini!

“Argh!” Ji Yao mengerang rendah. Samar-samar, seberkas cahaya keemasan terpancar keluar dari tubuhnya, disusul oleh gelombang hantaman energi yang begitu kuat hingga membuatnya jatuh pingsan karena tak kuasa menahan sakit. Yuyue merasakan gelombang panas yang dahsyat dan samar-samar ujung jarinya terasa nyeri. Benang-benang itu keluar dari ujung jarinya, dan akibat pantulan energi tersebut, ia terdorong mundur hingga beberapa langkah.

Tepat seperti duganya, gadis kecil ini tidaklah sembarang orang seperti kelihatannya.

Yuyue mendekati Ji Yao, berniat mencari tahu dari mana asal cahaya keemasan tersebut.

Namun, begitu ia mendekat, sebuah perisai berwarna biru pucat muncul dan menghalangi jarak antara dirinya dan Ji Yao. Xiuyi merasakan nyeri di dadanya tatkala melihat Ji Yao tergeletak lemas di tanah dalam kondisi bersimbah darah. Kemandangannya tersulut seketika. Tanpa buang waktu ia mengubah dirinya menjadi wujud manusia, lalu membungkuk untuk mendekap Ji Yao dalam gendongannya. Ia menarik kembali seluruh benang itu ke tangannya, lalu membalas menyerang Yuyue dengan mengerahkan seluruh tenaganya.

Yuyue tidak sempat menghindar dan tertusuk oleh tak terhitung banyaknya ujung jarum. Ia mengeluarkan erangan tertahan karena rasa sakit, tetapi betapa pun sakit tubuhnya, itu tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. Yuyue mengenali sosok dan profil wajah yang begitu familiar itu—seseorang yang telah ia rindukan selama ribuan tahun, seseorang yang ia nantikan kehadirannya selama ribuan tahun lamanya. Namun, pada pertemuan pertama mereka setelah sekian lama, pria itu justru memperlakukannya dengan begitu kejam.

“Penguasa Yi!”

Yuyue memanggil dengan suara lembut yang dipenuhi keterkejutan, kebahagiaan, serta sedikit nada keluhan.

Xiuyi bahkan tidak melirik Yuyue sedikit pun. Perhatiannya sepenuhnya tercurah kepada Ji Yao di dalam dekapannya; rambut gadis itu tergerai berantakan, matanya terpejam rapat, keningnya berkerut seolah tengah menahan siksaan yang luar biasa, sementara leher, wajah, dan lengannya dipenuhi luka goresan darah yang dalam maupun dangkal.

“Sungguh dewi yang keji!” geram Xiuyi penuh amarah.

“Penguasa Yi! Aku—” Yuyue sama sekali tidak menyangka Xiuyi akan berkata seperti itu kepadanya. Hatinya bagaikan berkeping-keping dan terluka parah. Namun, ia lantas berpikir bahwa pria itu mungkin tidak mengenali siapa dirinya.

Ia pun berinisiatif menjelaskan, “Aku Yuyue. Apakah Penguasa Yi masih mengingatku? Dulu sekali, saat kita pernah bertemu di bawah pohon buah suci—”

“Peduli amat siapa namamu, enyah dari hadapanku!” potong Xiuyi dingin tanpa pernah menoleh ke belakang sedikit pun.

Sambil satu tangannya membentuk mudra mantra, Xiuyi mulai menyalurkan kekuatan spiritualnya untuk memulihkan luka-luka di tubuh Ji Yao secara perlahan.

Melihat Xiuyi begitu peduli pada wanita fana tersebut hingga membuatnya sulit mempercayai pemandangan di depan matanya, Yuyue tidak terima diabaikan sedemikian rupa. Ia merapatkan kedua tangannya hingga ujung jemarinya memancarkan cahaya yang jauh lebih terang, lalu mengerahkan seluruh tenaga untuk menghancurkan perisai yang diciptakan oleh Xiuyi. Ia harus menghentikan tindakan pria itu yang hanya akan merugikan diri sendiri.

Sejak kecil ia tahu bahwa kondisi fisik Xiuyi sangat buruk. Apa yang dilakukan pria itu saat ini akan menguras tenaganya secara drastis. Xiuyi harus membagi konsentrasi antara mengobati Ji Yao dan menghadapi serangan Yuyue, membuat energi tubuhnya terkuras semakin cepat.

Dewi ini sungguh menjengkelkan. Dengan satu tangan mendekap Ji Yao, Xiuyi berbalik dan melancarkan serangan penuh kepada Yuyue, melemparkan wanita itu hingga terpental jauh sejauh ratusan langkah.

Yuyue menderita sedikit luka akibat hantaman tersebut. Sambil menyeka darah di sudut bibirnya, ia menatap dengan mata memerah saat Xiuyi membawa Ji Yao pergi meninggalkannya. “Kenapa! Kenapa harus begini!” gumam Yuyue pada dirinya sendiri. Digerogoti rasa penasaran dan kebencian yang mendalam, ia menghantamkan telapak tangannya ke tanah dan menghancurkan seluruh bunga serta rumput di belakangnya hingga tandus.

Raja Hantu yang menyaksikan segalanya dari balik pohon membatin dalam hati, Buah Suci! Penguasa Yi! Mungkinkah pria tadi adalah Dewa Suci dari Penglai? Dunia abadi telah mencarinya selama ribuan tahun, tak disangka ia justru bersembunyi di alam fana.

Yang lebih menarik lagi adalah wanita fana itu—tubuhnya ternyata memancarkan aroma buah suci. Sungguh menarik. Aroma yang tercium tadi adalah kali pertama ia merasakannya, dan itu benar-benar wangi buah suci.

Alam Bawah dan dunia abadi selalu tidak pernah saling mencampuri urusan masing-masing, sehingga ia belum pernah melihat buah suci sebelumnya, apalagi mencium aromanya. Hari ini, setelah merasakannya secara langsung, wangi itu terbukti sangat mampu memikat kesadaran seseorang.

Raja Hantu melirik ke arah Mingming. Hantu kecil itu kini telah pulih sepenuhnya setelah tidak sengaja terkontaminasi oleh ceceran darah dari wanita fana tersebut.