Bab Tujuh Puluh Tiga: Bahaya Mengancam Luer!
Lü Er berjongkok, mencabuti rumput liar di bawah tanaman obat satu per satu dengan cangkul kecil. Rumput liar itu sangat bandel, setiap kali menyingkirkan satu, Lü Er harus mengerahkan tenaga besar.
Meski begitu, selama beberapa hari ini Lü Er sama sekali tidak mengeluh. Ia tidak ingin merepotkan Tuan Muda, apalagi mempermalukannya. Beberapa hari lalu, kecepatan Lü Er mencabuti rumput masih cukup cepat, namun dua hari terakhir kecepatannya menurun drastis karena tenaga dalam di tubuhnya sudah habis.
Setiap beberapa saat, Lü Er harus bermeditasi untuk memulihkan tenaga dalamnya, tetapi tenaga itu segera habis lagi. Akibatnya, kecepatan bekerja jadi semakin lambat. Dua hari yang lalu, ia sudah menyelesaikan hampir setengah pekerjaan, namun dalam dua hari ini baru mencapai tujuh puluh persen, dan semakin melambat.
Tenaga Lü Er sudah terkuras habis, kelopak matanya saling bertarung satu sama lain, hanya sedikit tekad yang membuatnya tetap bertahan.
Tiba-tiba, sepasang kaki muncul dalam pandangannya. Wajah Lü Er langsung berseri, ia tak kuasa menahan diri untuk mengangkat kepala. Namun, harapannya pupus seketika—orang yang datang bukan Tuan Muda, melainkan Kakak Senior Zhang yang menyebalkan itu!
Melihat tatapan kecewa Lü Er, Zhang Heng mengejek dengan suara dingin, “Kenapa? Tidak bertemu dengan orang yang kau harapkan?”
Lü Er diam saja.
Sikap Lü Er membuat Zhang Heng kesal, ia berkata dengan nada marah, “Huh! Kau diberi tugas mencabuti rumput, tapi sampai sekarang baru selesai tujuh puluh persen. Sisanya, apa kau mau aku yang kerjakan?”
Lü Er mengusap keringat di dahinya, menjawab lemah, “Aku… Aku sudah berusaha keras. Kakak Senior, beri aku waktu satu hari lagi, aku pasti bisa menyelesaikannya.”
“Satu hari? Kurasa kau diberi tiga hari pun tak akan selesai! Tugas sekecil ini saja kau kerjakan empat atau lima hari belum selesai, pasti kau malas-malasan!” Zhang Heng mendengus.
Lü Er menggeleng kuat-kuat, “Tidak, aku benar-benar sudah berusaha keras mencabuti rumput!”
“Heh, aku tahu jelas usahamu seperti apa. Membela diri pun tak ada gunanya! Untuk menghukummu karena bermalas-malasan, kau harus mencabuti rumput di satu ladang obat lagi!”
Tubuh Lü Er langsung gemetar mendengar itu, “Apa? Harus mencabuti satu ladang obat lagi? Aku… aku…”
“Apa kau? Tidak mau? Jika tidak mau, silakan bereskan barang-barangmu dan bersiap keluar dari Akademi!” Zhang Heng benar-benar tidak punya belas kasihan.
“Tapi… tapi aku sudah…”
“Kau sudah tidak sanggup lagi, bukan?” Zhang Heng tiba-tiba tertawa.
Lü Er mengangguk lemah.
“Kalau tidak mau, bisa saja, asalkan kau setuju dengan satu syaratku,” ujar Zhang Heng tiba-tiba mengubah nada bicara.
Lü Er tak menduga Zhang Heng tiba-tiba melunak, ia pun gembira tanpa curiga, “Benarkah? Kakak Senior Zhang, silakan katakan!”
Wajah Zhang Heng berubah menjadi licik, Lü Er langsung sadar ada yang tidak beres. Benar saja, Zhang Heng berkata, “Tak kusangka Nona Lü Er begitu pengertian! Syaratku sederhana, asal Nona Lü Er bersedia menemaniku satu malam saja. Bagaimana? Cukup menguntungkan bukan?”
Lü Er memang bukan gadis bodoh, hanya saja ia kurang pengalaman dan belum banyak tahu soal dunia luar. Semula ia kira Zhang Heng hanya orang yang tidak peka, tapi kini jelas, ia ternyata manusia bejat! Mungkin sejak awal ia memang punya niat jahat, makanya selalu mempersulit dirinya.
“Cih! Rupanya kau manusia hina seperti itu. Lihat saja, akan kulaporkan kau pada guru!” Lü Er berkata penuh kebencian.
“Hahaha, sungguh lucu! Kau cuma murid baru yang tidak mau diatur Kakak Senior, lalu menjelek-jelekkan aku karena dendam. Coba pikir, guru akan percaya padamu atau padaku?” Zhang Heng tertawa lantang, seolah sudah memperkirakan reaksi Lü Er.
Kata-kata Zhang Heng membuat Lü Er terdiam. Zhang Heng sudah lama mengurus kebun obat, itu berarti ia sangat dipercaya guru. Meski ia melapor, dengan satu kalimat saja Zhang Heng bisa membalikkan keadaan, dan guru pasti akan menyangka Lü Er memfitnah karena dendam.
“Kau! Kau benar-benar manusia hina!” Lü Er gemetar penuh amarah, menuding hidung Zhang Heng.
Zhang Heng tak ambil pusing, malah mencibir, “Lü Er, coba pikirkan, kalau Tuan Mudamu selesai berlatih dan tahu bahwa pelayannya dikeluarkan dari Akademi, bagaimana perasaannya?”
Tubuh Lü Er bergetar hebat, tak bisa menahan guncangan itu.
Melihat ekspresi Lü Er, Zhang Heng merasa sangat puas, ia melanjutkan, “Tuan Mudamu kini sudah jadi orang penting di Akademi, tapi pelayannya malah diusir. Setelah itu, setiap kali ia muncul, orang-orang akan membicarakannya di belakang, menertawakannya karena tak bisa mengurus pelayannya sendiri.”
Saat Lü Er masih tertegun, Zhang Heng perlahan mendekat. Sambil mendekat, ia berkata, “Walau aku tak segenius Tuan Mudamu, di Akademi aku juga cukup disegani. Ikut denganku, kau tak akan rugi. Bagaimana? Hanya satu malam saja!”
Sambil berbicara, Zhang Heng hendak mengangkat dagu Lü Er dengan jarinya, tapi Lü Er mendadak tersadar dan segera melompat menjauh.
“Huh, buang saja keinginanmu! Lebih baik aku mati daripada mempermalukan Tuan Muda!” seru Lü Er.
Selesai bicara, Lü Er mengangkat telapak tangannya hendak memukul ubun-ubunnya sendiri. Jika pukulan itu tepat, ia pasti akan mati di tempat.
Zhang Heng tak menyangka Lü Er bisa seekstrem itu, bahkan rela bunuh diri daripada menuruti kehendaknya. Ia jadi sangat marah. Walaupun kemajuan Lü Er pesat, di hadapan Zhang Heng yang sudah mencapai tingkat sembilan tenaga dalam, ia tetap sangat lemah. Apalagi, tenaganya sudah habis—mana mungkin ia bisa bunuh diri dengan mudah?
“Plak!”
Entah sejak kapan, di tangan Zhang Heng sudah ada cambuk lentur yang melilit lengan Lü Er dan menghempaskannya ke udara.
Sekali sentak, tubuh Lü Er terlempar.
“Ugh…” Lü Er jatuh terhempas ke tanah, mengerang tertahan.
“Plak!”
Satu cambukan lagi!
Kali ini cambukan itu mendarat dengan keras di tubuh Lü Er, langsung menorehkan luka berdarah yang menembus bajunya.
“Anak bandel! Mau mati? Tidak semudah itu!”
Zhang Heng benar-benar marah. Jika Lü Er sampai benar-benar mati, ia juga akan terkena masalah—sebentar lagi ia akan lulus, tak mungkin ia mau menodai reputasinya di akhir masa belajar. Perbuatan Lü Er hanya membuatnya makin kesal.
“Ah!” Lü Er menjerit pilu, namun ia tak peduli pada rasa sakit, tetap berusaha merangkak ke depan untuk mengambil benda berwarna biru.
Saat tangannya hampir menyentuh benda itu, Zhang Heng sudah lebih dulu menginjaknya.
“Kembalikan lencana dadaku!” Lü Er berteriak menahan sakit.
Zhang Heng menyingkirkan kakinya, melirik pada benda biru di tanah—ternyata sebuah lencana dada dengan dua bintang, lencana Alkemis Tingkat Dasar.
“Oh, ternyata hanya lencana alkemis. Tak kusangka kau baru masuk Akademi beberapa hari, sudah berani mencuri barang berharga! Dengan ini saja, kau sudah cukup alasan untuk dikeluarkan!”
Setelah bicara, Zhang Heng menendang lencana itu jauh-jauh.
Ia sendiri belum tahu bahwa Ye Yuan sudah lulus ujian alkemis dan resmi menjadi Alkemis Tingkat Dasar. Kalau tahu, Zhang Heng mana berani semena-mena pada Lü Er.
Melihat Zhang Heng memperlakukan lencana Tuan Muda dengan sangat kasar, hati Lü Er terasa jauh lebih sakit daripada luka di tubuhnya. Akhirnya ia tak mampu menahan air mata yang mengalir deras.
Melihat Lü Er tampak begitu menyedihkan, Zhang Heng makin tak bisa menahan nafsunya. Ia menarik paksa baju Lü Er hingga robek sebagian.
Lalu ia menyeret Lü Er ke sudut, hendak berbuat keji di tengah terik siang tanpa rasa malu sedikit pun!